KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Bahagia bersamamu


__ADS_3

Daffa tak tega melihat istrinya yang benar-benar mabuk karena kehamilan ini. Sebenarnya naik sepeda motor bukan pilihan. Tapi karena Hana menginginkan itu, Daffa tak mampu menolak. Daffa memilih sepeda motor matic milik salah seorang pegawainya. Menyalakan mesin lalu menyuruh Hana untuk naik. Sebelumnya Daffa sudah memakaikan helm untuk Hana. Demi menjaga keselamatan istri dan calon anaknya, Daffa menyetir sepeda motor itu sendiri menuju ke rumah sakit yang sudah direkomendasikan oleh dokter Gilang. Benar-benar tak terlihat jika itu adalah Daffa. Daffa yang setiap hari pulang dan pergi kemanapun selalu diantarkan oleh sopir dan menaiki mobil. Hari ini iya tak malu berpenampilan low profil. Demi sang istri dan calon buah hati.


Dijalan, Daffa sangat hati-hati dalam mengemudikan sepeda motor matic tersebut. Hari ini Daffa merasakan matahari sangat menyengat tubuhnya. Cuaca bisa dibilang sangat panas. Saat mereka berhenti tepat di lampu merah, Daffa bertanya kepada Hana.


"Sayang, panas" Ucap Daffa.


"Ngga apa-apa mas. Hana kan sudah biasa naik motor sebelum nikah sama mas" Jawab Hana sambil tersenyum. Daffa memegang dan mengelus betis Hana saat lampu merah dirasa sangat lama.


"Ayo mas" Ucap Hana saat lampu sudah berubah kuning. Daffa bersiap-siap untuk menjalankan motornya.


Hampir 20 menit didalam perjalanan. Daffa dan Hana telah sampai dirumah sakit. Saat Daffa sedang memarkirkan motornya, Hana berusaha melepas helmnya. Tapi sedikit kesulitan. Daffa yang melihat pun segera mendekati Hana dan membantu melepaskan helm dikepala Hana. Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit. Tanpa mengantri, Daffa dan Hana segera masuk ke ruang praktik karena mereka mendapatkan nomor antrian 1. Dokter kandungan yang menangani Hana segera bangkit begitu mengetahui Daffa dan Hana datang. Ia menyambut dengan penuh hormat. Iya menyapa Daffa dan Hana.


"Selamat pagi tuan, nona. Selamat datang" Ucapnya sambil membungkukkan badan


"Mari nona, biar saya periksa, silahkan berbaring" Ucap dokter yang diketahui namanya adalah Anisa.


"Baik dok" Jawab Hana. Daffa berdiri disamping Hana. Iya melihat dengan detail apa yang diperiksa. Ketika dokter Anisa menempelkan alat, dan sesudah itu terdengar detak jantung janin. Daffa meneteskan air mata haru mendengar itu. Iya berjalan perlahan lebih dekat dengan Hana.


"Jadi, usia kehamilan nona Hana sudah mencapai 6 minggu ya tuan Daffa. Dan ini adalah janinnya" Ucap dokter Anisa sambil menunjuk ke layar hasil USG. Daffa terus menatap layar tersebut. Namun iya tak paham.


"Jelaskan sekali lagi dok, dan tunjukkan dimana letak janinnya! "Ucap Daffa ingin tahu secara detail. Maka dokter Anisa mengulangi penjelasannya kembali. Setelah tak ada pertanyaan dari Daffa, dokter Anisa menyudahi pemeriksaannya. Iya menulis resep untuk diberikan kepada Daffa.


"Tuan, ini resep vitamin yang harus di tebus" Ucap dokter Anisa sambil mengulurkan tangan memberikan selembar kertas bertuliskan resep.


"Berikan vitamin yang terbaik dok! Ucap Daffa.

__ADS_1


"Iya tuan, saya sudah menuliskan resep terbaik untuk istri dan calon buah hati anda" Ucap Dokter Anisa. Daffa pun menerima resep tersebut dan segera meninggalkan ruangan praktik dokter Anisa. Iya menggandeng Hana dan segera mengajaknya keluar. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya nama mama tertera dilayar ponsel. Ia segera menggeser layar smartphonenya dan berbicara.


"Assalamualaikum mas. Iya ada apa? " Tanya Daffa.


"Bagaimana, sudah sampai di rumah sakit atau belum? " Tanya mama Sarah yang gagal ikut karena Hana meminta naik sepeda motor.


"Alhamdulillah ma, ini malah sudah selesai pemeriksaannya" Jawab Hana. Terdengar suara mama mengucap Hamdalah. Iya segera mengakhiri teleponnya. Daffa melanjutkan jalan dan menuju parkiran. Dan pulang ke rumah utama.


Di balkon kamar, Daffa menghubungi Rey setelah Hana berbaring di ranjang. Beberapa hari tak dapat ke kantor membuatnya berfikir. Setelah sambungan telepon terhubung dan Rey menjawab. Daffa segera memberitahu maksudnya.


"Rey, bagimana keadaan kantor? " Tanya Daffa sambil menatap Hana yang tertidur dari luar.


"Alhamdulillah, aman terkendali tuan. Tapi ada beberapa berkas yang tidak bisa saya tanda tangani. Harus dengan persetujuan anda" Jawab Rey dari seberang telepon.


"Oh nona Hana hamil, selamat ya tuan Daffa. Anda akan menjadi seorang ayah" Rey memberi selamat kepada Daffa.


"Iya, terimakasih. Kamu kesini atau suruh siapa gitu ya" Ucap Daffa.


"Baik tuan. Akan segera saya antarkan" Rey pun menjawab dengan sopan. Lalu panggilan berakhir.


Daffa membaringkan tubuhnya disebelah Hana. Iya meletakkan tangannya diatas tubuh Hana yang berbaring ke kiri. Hana yang merasa tidurnya terusik membuka matanya.


"Mas Daffa? " Tanya Hana.


"Iya sayang, ada apa? " Jawab Daffa yang berbaring dibelakang Hana memeluk tubuh ramping Hana sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Mas mau kerja? " Tanya Hana sambil mengelus lengan Daffa di perutnya.


"Ngga sayang, mas mau nememin kamu dan calon anak kita" Jawab Daffa sambil mengeratkan pelukannya.


"Jangan kenceng-kenceng mas" Cegah Hana.


"Maaf sayang. Mas ngga tahu kalau itu terlalu erat" Jawab Daffa. Hanapun terdiam merasakan hangat pelukan Daffa.


"Sayang" Panggil Daffa kepada Hana.


"Iya mas, kenapa? " Tanya Hana.


"Makasih ya, kamu sudah memberikan banyak kebahagiaan dalam hidup mas" Ucap daffa tak ingin melepaskan pelukannya.


"Sama-sama mas, Hana yang seharusnya berterimakasih kepada mas. Mas sudah sangat sempurna dalam mencintai Hana" Jawab Hana.


"Itu semua karena kamu sayang... " Ucapan Daffa terpotong karena pintu diketuk dari luar.


'Tok tok tok' "Sebentar" Sahut Daffa dari dalam. Iya pun turun dari ranjang dan membuka pintu. Terlihat seorang pelayan membawakan nampan. Berisi beberapa makanan dan minuman. Serta satu kantong obat.


"Maaf tuan, ini saya disuruh nyonya besar untuk mengantarkan ini, untuk nona Hana" Ucap pelayan tersebut. Daffa pun mempersilahkan masuk.


"Masuklah, taruh di meja! " Kata Daffa sambil menunjuk meja di sebelah tempat tidur. Setelah itu, pelayan itu keluar dan menutup pintu. Belum sempat pintu tertutup dengan sempurna. Mama Sarah sudah datang. Iya ingin melihat keadaan menantunya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2