
Mobil perlahan berbelok ke rumah Rudi. Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk mereka. Mobil melaju perlahan ke dan berhenti tepat di depan pintu utama. Terlihat istri Rudi berjalan perlahan ke arah pintu sambil memegang pinggangnya. Hana dan Daffa berjalan menghampirinya.
"Mbak, ngga usah repot-repot, mbak kan lagi hamil besar, jangan kecapekan" Ucap Hana.
"Tidak repot nona. Mari masuk! " Jawabnya.
"Mari" Hana dan Daffa pun mengikuti dari belakang. Di meja makan Rudi dan Haidar sudah menunggu.
"Tuan, nona mari makan! " Ucap Rudi.
"Biarkan kami bersih-bersih dulu Rud? " Ucap Daffa.
"Iya sudah tuan, nona. Silahkan" Jawab Rudi.
Hana dan Daffa pun segera berlalu ke kamar mereka. Setelah selesai, mereka kembali ke meja makan. Belum sempat makanan dipiring Daffa Habis. Ponselnya bergetar. Ada nama Fariz dilayar. Daffa mengerutkan keningnya,
"Tumben telpon nih anak" Gumam Daffa namun masih dapat didengar oleh orang-orang di meja makan.
"Siapa mas? " Tanya Hana
"Fariz sayang, Sebentar ya aku angkat dulu" Ucap Daffa sambil menggeser layar ponsel pintarnya.
"Assalamualaikum" Ucap Daffa.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Fariz dari seberang telepon.
"Ada apa? " Tanya Daffa.
"Kamu belum pulang? " Fariz bertanya yang membuat Daffa semakin bingung.
"Besok Insya Allah. Ada apa? " Tanya Daffa lagi.
"Emm.. Ya sudah, besok saja aku mau bicara sama kamu" Sahut Fariz.
"Iya udah, cuma mau tanya itu aja? " Tanya Daffa.
"Iya, ada hal penting, dikit. Nanti weekend aku bakal ke Indonesia lagi" Ucap Fariz singkat. Daffa pun tak mengerti maksud Fariz. Tiba-tiba telepon dimatikan.
'Tut tut tut' Panggilan berakhir.
__ADS_1
"Ada apa mas? " Tanya Daffa.
"Si Fariz, ngga tahu kenapa" Ucap Daffa. Iya mengambil sendok lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ada yang penting mungkin" Tutur Hana lagi.
"Ngga tahu sayang, langsung dimatikan lagi tadi. Lanjut makan aja dulu ya, nanti kita bicara dikamar" Ucap Daffa.
Setelah makan malam selesai, Daffa menyempatkan diri memberikan pesan kepada Haidar. Mereka duduk disofa ruang tengah.
"Haidar, kamu baik-baik ya disini, jangan menyusahkan om Rudi dan tente" Ucap Daffa.
"Iya pa, Haidar janji bakal jadi anak ya baik" Jawab Haidar.
"Nurut ya nak sama Om Rudi, semua nasehatnya itu terbaik untuk kamu. Dan juga om Rudi adalah orang tua kamu juga disini. Jangan sungkan-sungkan minta tolong" Tambah Hana.
"Iya ma. Mama sama papa hati-hati ya pulang ke Indonesia, salam buat oma sama opak sahut Haidar.
"Pasti akan kami sampaikan" Jawab Daffa. "Sekarang kamu istirahat dikamar. Dan persiapkan semuanya untuk memulai sekolah yang baru" Perintah Daffa.
"Siap pa, Haidar pergi dulu" Jawab Haidar sambil berlalu ke kamarnya.
Pagi yang cerah sudah menyapa. Karena saat ini di London sedang musim panas. Pada bulan Juni hingga Agustus, London, Inggris memasuki musim panas dengan suhu udara berkisar 17 hingga 30 derajat celcius.
Pada saat-saat tersebut paling cocok untuk kita berkeliling kota London dengan mengunjungi beragam tempat mulai dari taman, Royal Park London, Sungai Thames, hingga Greenwich Park. Hana dan Daffa sudah jalan-jalan. Jadi mereka tidak akan menyesal saat nanti pulang ke Indonesia.
Daffa dan Hana sedang dalam perjalanan menuju ke Bandara dengan diantarkan oleh Rudi dan seorang sopir kepercayaan perusahaan. Untuk Daffa dan Hana, Rudi memilih seorang sopir yang sudah pasti dapat dipercaya. Karena keselamatan Daffa dan istrinya adalah yang utama.
"Jadwal penerbangan pukul 09.00 tuan. Masih ada waktu sekitar dua jam setelah kita sampai di bandara nanti. Apa tuan ingin melakukan sesuatu, atau ingin apa? " Tanya Rudi dari kursi depan.
"Kamu mau apa sayang, atau kita beli oleh-oleh sambil menunggu Smith" Tanya Daffa ke Hana menanggapi ucapan Rudi.
"Emm.. Ngga usah beli oleh-oleh mas, Hana capek jalan-jalan terus hehe" Jawab Hana sambil tersenyum.
"Oke, kalau begitu kita mampir pusat oleh-oleh saja sebentar. Kita beli oleh-oleh untuk keluarga dirumah" Ucap Daffa.
"Tapi mas, Hana rasa ngga usah beli apa-apa deh" Jawab Hana.
"Sebentar saja sayang" Rayu Daffa.
__ADS_1
"Ya sudah, Hana nurut saja" Jawab Hana. Akhirnya mobil yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah swalayan yang menyediakan oleh-oleh beraneka macam. Hana dan Daffa turun dan terlihat memilih sesuatu. Hampir sejam mereka berkeliling. Mereka keluar dari swalayan dengan mendorong belanjaan di troly. Begitu sampai didekat mobil, Rudi dan sang Sopir turun membantu memindahkan belanjaan ke bagasi mobil. Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan.
Di bandara, Ponsel Hana bergetar, ada panggilan dari Smith. Hana segera mengangkatnya.
"Hallo Smith, kamu dimana? " Tanya Hana.
"Aku sudah di ruang tunggu Han, kamu kemarilah" Jawab Smith dari seberang telepon. Setelah itu panggilan berakhir.
"Dimana Smith" Tanya Daffa.
"Ada di ruang tunggu mas, kita kesana ya" Ucap Hana sambil menarik kopernya. Namun tiba-tiba suara pak sopir menghentikan langkah mereka.
"Biar saya yang bawakan kopernya nona" Ucapnya sopan.
"Iya, ini pak. Terimakasih ya pak" Ucap Hana sambil menyerahkan gagang koper kepada sopirnya.
"Sama-sama nona, ini sudah tugas saya" Jawab sopir tersebut. Mereka pun pergi ke ruang tunggu. Hana mengedarkan pandangan, terlihat Smith yang sedang sibuk dengan ponselnya. Iya terlihat mengetikkan sesuatu.
"Smith, sudah lama kah? " Tanya Hana.
"Belum sih. Tapi penerbangan sekitar setengah jam lagi" Jawab Smith.
"Iya, kita tunggu saja dulu" Daffa menyahut.
"Tuan Daffa, terimakasih untuk semuanya" Ucap Smith dengan tiba-tiba ketika Daffa sudah duduk disampingnya.
"Mr. Smith, bukan hal besar. Nanti anda akan belajar sendiri" Jawab Daffa. Hana yang berada disamping Daffa pun tersenyum. Hana kagum dengan sifat suaminya yang begitu baik.
"Terimakasih tuan Daffa nona Hana" Ucap Smith lagi. Dan dijawab tawa oleh Hana.
"Smith, sejak kapan kamu memanggilku nona? Tanya Hana.
"Mulai saat ini, karena kamu adalah seorang istri dari Tuan Daffa Utama. Seorang pengusaha besar dari Indonesia. Tuan Daffa, mohon maaf atas ketidak sopanan saya. Semalam setelah saya berbicara dengan Daddyku, ternyata anda adalah seorang yang sangat berpengaruh. Daddy pun sangat segan kepada anda" Ucap Smith sambil tersenyum dan menunduk.
"Bukan masalah besar Mr. Smith. Daddy mu juga orang yang sangat berpengaruh disini. Bahkan kita bekerja sama" Jawab Daffa sambil menepuk pundak Smith. Mereka berpandangan dan saling membalas senyum Hana pun ikut tersenyum melihat pemandangan ini. Tak lama suara dari mokrophone memanggil para penumpang pesawat. Hana, Daffa dan Smith pun segera beranjak. Mereka memasuki pesawat. Rudi yang melihat tuannya akan berangkat pun menunduk hormat.
"Hati-hati diperjalanan tuan, nona" Ucap Rudi.
"terimakasih Rudi, kami berangkat dulu" jawab Daffa. Merekapun berpisah karena Daffa dan yang lain sudah masuk kedalam pesawat.
__ADS_1
TBC.