KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Keberangkatan Amanda


__ADS_3

Amanda dan yang lain sudah tiba dibandara. Iya merasa berat untuk meninggalkan Indonesia. Namun iya harus tetap semangat karena perjalanan study nya tinggal beberapa langkah lagi.


"Amanda pengen disini aja deh kayanya" Ucap Amanda yang membuat semua menoleh ke arahnya.


"Kamu bilang apa tadi Man? " Tanya Hana.


"Kak, Manda pengen di Indonesia dulu" Ucap Amanda dengan nada sedikit manja. "Kalau disisi kak Hana, rasanya Manda semangat untuk terus memperbaiki diri" Ucap Amanda sambil tertunduk. Hana yang mengerti pun segera memegang pundak Amanda dan berbicara.


"Amanda, kalau kamu benar-benar serius untuk terus menjadi pribadi yang baik, tak peduli dimanapun kamu berada dan siapapun yang berada di sampingmu. Niat baikmu sudah dinilai dengan sebuah kemajuan. Jarang yang memiliki pemikiran sepertimu" Ucap Hana panjang lebar. Amanda pun mengerti dan melepaskan semua rasa berat dihatinya.


"Makasih ya kak, nanti Manda bakal sering-sering hubungi kakak" Balas Amanda. Hana pun tersenyum dan mengangguk.


Jam keberangkatan sudah tinggal beberapa menit lagi. Amanda bersiap untuk meninggalkan Indonesia.


"Kamu hati-hati ya disana. Jangan ceroboh. Dan ingat, jangan lepas lagi hijabnya" Ucap Daffa memberi nasehat.


"Iya kak, makasih ya" Jawab Amanda.


"Kak Hana, Manda berangkat dulu ya" Amanda berpamitan sambil memeluk Hana.


"Iya, hati-hati ya Manda" Balas Hana.


"Tante, hati-hati ya" Ucap Haidar.


"Iya Haidar, kamu juga harus hati-hati. Harus jadi anak baik ya" Balas Amanda.


"Iya tante, terimakasih" Haidar menjawab.


"Kak Rey, terimakasih" Amanda berkata didepan Rey sambil tertunduk. Rey yang menatap Amanda pun merasa sangat gemas dengan Amanda. Ingin rasanya iya memeluk Amanda. Namun tak mungkin iya tunjukkan itu di depan umum.


"Sama-sama nona, hati-hati ya" Jawab Rey pelan sambil memandang Amanda yang sedang menunduk. Iya tersenyum. Tiba-tiba panggilan untuk penumpang yang akan berangkat pun sudah di umumkan. Amanda segera masuk kedalam pesawat. Dia melambaikan tangan.


Begitu pesawat sudah lepas landas. Daffa, Hana, Haidar dan Rey kembali ke rumah. Dimobil, Daffa mencoba untuk menggoda Rey.


"Ehhm... Sayang, sepertinya ada yang merasa kehilangan ya" Ucap Daffa menyindir.


"Kehilangan apa mas" Tanya Hana masih belum mengerti.


"Kehilangan semangat" Jawab Daffa singkat. Hana pun mulai mengerti dengan maksud Daffa. Iya pun tersenyum.


"Rey, apa kamu tidak lapar? " Tanya Daffa.

__ADS_1


"Emmm... Iya tuan, saya lapar" Jawab Rey tergagap.


"Kita berhenti di mall sebentar ya, ada beberapa kebutuhan Haidar yang harus dibeli sambil makan siang" Tutur Daffa.


"Baik tuan" Sahut Rey sambil melajukan mobilnya menuju ke mall.


"Haidar, kamu pakai masker, topi dan kacamata ya, Papa ngga mau ada yang mengenalimu. Jangan lupa hoddienya.


"Iya pa" Jawab Haidar.


Begitu sampai di dalam mall. Mereka menuju food court. Mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing.


"Sudah selesai, ayo kita ke tempat lain untuk membeli kebutuhan Haidar! " Ajak Daffa. Dan mereka pun berjalan untuk mencari kebutuhan Haidar.


Disaat sedang memilih sesuatu. Haidar menabrak seseorang. Haidar segera meminta maaf dan berlalu. Iya segera mendekat ke arah Daffa, Rey dan Hana. Haidar memegang tangan Daffa erat. Daffa yang heran melihat Haidar seperti ketakutan.


"Ada apa Haidar? " Tanya Daffa pelan dan menunduk. Mengimbangi tinggi Haidar.


"Pah, ada tante Bela disini" Bisik Haidar.


"Dimana? " Tanya Daffa.


"Itu pah, yang pakai baju merah" Ucap Haidar sambil menunjuk ke suatu arah. Daffa pun mengikuti arah tangan Haidar menunjuk. Iya mengenali Bela, Tante Haidar yang juga menjadi rekan bisnisnya.


"Tuan Daffa" Ucap Bela dengan penuh percaya diri. Iya sedikit menunduk kan badannya untuk menghormati rekan bisnisnya. Iya mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Daffa.


"Nyonya Bela. Tak ku sangka kita akan bertemu disini" Jawab Daffa sambil membalas uluran tangan Bela.


"Iya tuan Daffa. Bagaimana keadaan anda? " Tanya Bela basa-basi.


"Baik nyonya" Jawab Daffa.


"Kalau begitu saya ingin menemani istri saya belanja dulu. Silahkan dilanjut nyonya" Ucap Daffa sambil berjalan kearah Hana.


"Ayo sayang" Iya memegang pinggang ramping Hana. Sedangkan Haidar sudah berjalan di depan bersama Rey. Daffa segera berjalan cepat untuk menyusul Rey dan Haidar.


"Pah, tante Bela sudah pergi? " Tanya Haidar.


"Ayo nak, kita harus segera pergi" Jawab Daffa. Haidar terlihat sangat ketakutan. Mereka berjalan menuju ke parkiran.


Begitu sampai di mobil, Haidar memegang tangan Rey semakin erat. Tak mau melepaskan.

__ADS_1


"Haidar, kamu jangan takut. Disini ada kita semua yang akan melindungi kamu" Ucap Rey menenangkan.


"Iya om. tapi Haidar takut kalau mereka tahu Haidar sama kalian. Pasti mama Hana sama papa Daffa akan terkena imbasnya. Haidar takut mereka mengapa-apakan kalian dan keluarga ini" Ucap Haidar yang sangat terlihat jelas ketakutan di wajahnya.


"Kamu tenang saja, mereka tak akan berani macam-macam dengan kita" Sahut Daffa dari kursi belakang.


"Iya pah, Haidar ngga mau kembali ke rumah itu lagi" Jawab Haidar.


"Ya sudah, sekarang kita pulang dulu. Biar semua keperluan kamu nanti kita yang belikan. Jadi kamu tidak akan takut Haidar" Ucap Hana dengan lembut.


Mereka pun telah tiba di rumah utama. Daffa segera menyuruh Haidar untuk masuk. Haidar pun menurut.


"Sayang, kita harus segera mengirim Haidar untuk sekolah di luar negeri sesuai rencana awal kita" Ucap Daffa.


"Iya mas, aku rasa lebih cepat lebih baik, daripada disini Haidar kelihatan ngga tenang" Jawab Hana.


"Rey, kamu urus semuanya ya, biar dia ikut Rudi di London. Aku yakin Disana pasti akan aman. Oh iya satu lagi kita rubah panggilan Haidar menjadi Satya" Ucap Daffa kembali.


"Baik tuan" Rey menjawab dengan sopan.


"Sayang, kita harus membeli keperluan Haidar" Ucap Daffa kepada Hana sambil berdiri.


"Iya mas, ayuk kita pergi" Hana pun ikut berdiri.


"Rey, kamu antar kita ya! "Perintah Daffa.


Akhirnya setelah mengantarkan Haidar pulang, mereka bertiga kembali keluar. Rey melajukan mobilnya dengan tenang. Namun di tengah jalan Daffa iseng menggoda Rey.


"Rey, menurut kamu Amanda bagaimana? " Tanya Daffa tanpa menoleh ke arah Rey.


"Bagaimana apanya tuan? " JawabRey menyembunyikan keterkejutan nya.


"Dia sudah banyak berubah lo, apa kamu ngga ingin melamarnya? " Tanya Daffa to the point. Sontak pertanyaan tersebut membuat Rey menginjak pedal rem secara mendadak.


"Kamu mau mati Rey? " Daffa pun bertanya dengan tenang namun dalam.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja" Ucap Rey sambil menjalankan mobilnya kembali.


"Rey, Tinggalkan atau Halalkan. Kalau belum siap, istikharah dulu, daripada jadi angan-angan" Ucap Daffa menasehati.


"Ah iya tuan Daffa. Terimakasih nasehatnya" Jawab Rey cuek. Lalu iya fokus ke kemudinya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2