KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Musuh Tersembunyi


__ADS_3

Di belahan kota lain, seorang laki-laki sedang menahan amarah, iya menggebrak meja dan melemparkan semua barang-barang di atasnya. Sedangkan dua orang yang berada di belakangnya tak mampu berkata apa-apa. Atas kegagalan tugas yang mereka lakukan.


"Untuk apa aku membayar kalian mahal, kalau begini saja kalian tidak becus, hah? Hanya bikin susah saja, pergi kalian dari sini! " laki-laki tersebut marah. Kedua laki-laki yang dimarahi itupun segera pergi.


"Ah..., Sial. Kenapa aku harus berurusan dengan orang sebod*h mereka. Sungguh memuakkan" Ucapnya lagi.


"Lagi-lagi aku gagal menghancurkan kebahagiannmu, lihat saja, aku akan lebih dari ini" Ucanya terus dengan nada tinggi.


"Aku tidak boleh tinggal diam, aku harus mencari cara supaya mereka tak bisa mengetahui semua ini" Gumamnya.


Dirumah, keluarga bapak Bahtiar berkumpul. Setelah 2 minggu berada dirumah sakit, Pak Bahtiar merasa sekarang lebih baik. Namun, beliau masih harus duduk diatas kursi roda. Kakinya patah, dan akan membutuhkan proses yang lama untuk penyembuhan, itu karena usia pak Bahtiar yang sudah berumur. Entah apa yang membuat pak Bahtiar menjadi lebih pendiam setelah kecelakaan. Anak-anak memandang dengan rasa yang sesak didadanya.


"Ayah, kita makan dulu ya, dari pagi ayah belum makan nasi" Ucap Hana, sedangkan Rani berada di meja makan menata makan siang. Iya mendekati ayah, membujuk ayah supaya mau makan.


"Ayah, kita boleh bersedih, namun jangan berlebihan, Kita makan dulu ya yah, Rani sudah siapkan makanan kesukaan ayah" Rani berbicara dengan pelan. Mencoba membujuk ayah mertuanya.


"Terimakasi nak, kalian memang dididik dengan ilmu dan adab. Maafkan ayah masih merasa belum ikhlas atas kepergian ibu kalian" Jawab pak Bahtiar.


"Sekarang kita makan ya yah" Ucap Hana sambil mendorong kursi roda ayahnya menuju ruang makan. Disana Daffa, Bilal dan Yusuf sudah menunggu disana. Hana mengarahkan kursi roda ayah di paling pinggir. Hana dan Rani melayani ayah dengan baik. Bilal tersenyum memandang semuanya.


"Terimakasih nak" Ucap pak Bahtiar.


"Mari yah, dimakan" Jawab Rani. dan semua menikmati makanan dengan khidmat.

__ADS_1


Nara ponsel Daffa berdering, nama Rey tertera di layar. Daffa segera mengusap layar ponselnya takut ada yang penting.


"Assalamualaikum" Ucap Daffa.


"Wa'alaikumsalam, mohon maaf tuan saya menganggu. Tuan harus segera ke lantor sekarang juga. Ada beberapa masalah yang harus kita selesaikan" Ucap Rey tanpa jeda setelah Daffa mengangkat teleponnya.


"Ada apa Rey? " Daffa segera berdiri dan berlari kekamar mengambil dompet dan kunci mobil.


"Tuan kesini saja sekarang, saya mohon" Ucap Rey.


"Oke-oke, saya kesana sekarang" Daffa segera menutup panggilan teleponnya. Hana yang melihat suaminya terlihat buru-buru segera mengejarnya. Tanpa permisi Hana segera naik ke jok disamping kemudi.


"Mas, ada apa? " Tanya Hana panik.


"Sayang, coba kamu cek perusahaan lewat yltab kamu! " Ucap Daffa sambil menyetir. Hanapun mengeluarkan tabletnya dari tas. Iya memeriksa dengan teliti semua keadaan system di perusahaan.


"Semua system baik-baik saja mas" Ucap Hana.


"Ada apa ya, kenapa Rey menelpon. Sepertinya sesuatu telah terjadi" Daffa berkata tanpa menoleh.


"Kita ke kantor saja dulu mas, semoga tidak ada sesuatu yang sangat serius" Hana mencoba menenangkan suaminya. Daffa mengangguk lalu fokus pada setirnya. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai dikantor. Daffa langsung menuju ke ruangannya dengan setengah berlari. Tak menghiraukan sapaan dari para karyawan.


"Tumben tuan Daffa begitu, biasanya juga ramah" Ucap seorang karyawan yang keheranan.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, tanpa permisi Daffa langsung masuk.


"Rey, ada apa? " Tanya Daffa tanpa basa-basi.


"Tuan, coba perhatikan ini baik-baik" Ucap Rey sambil menunjukkan sesuatu di layar monitor.


Daffa memperhatikan dengan seksana apa yang tertera di layar monitor.


"Apa ini Rey, bagaimana mungkin seperti itu? "Tanya Daffa merasa tak percaya.


"Itu adalah salah satu pesaing kita tuan" Rey menjawab.


"Siapa yang sudah membocorkan semua ini? " Daffa mengepal, terlihat raut wajah amarah menyelimutinya. Wajahnya memerah menahan emosi.


"Kami belum tahu tuan, ini masih dalam penyelidikan" Rey menjawab dengan sedikit takut.


"pelakunya harus ketemu. Kita sudah bersusah payah bekerja keras selama ini membuat design. Namun dengan seenaknya mereka mengambil, kita harus lebih bekerja keras lagi" Daffa berbicara dengan menahan marah. Sedangkan Hana hanya menjadi penonton, iya takut melihat Daffa yang marah. Rey segera bertindak lebih dari ini.


"Kita butuh bantuan nona Hana tuan. System retas saya tak sebanding jika disandingkan dengan nona. Kami Butuh seseorang untuk melihat sesuatu" Rey meminta tolong. Hana yang mendengar pun mencoba.


"Akan saya coba mas" Ucap Hana menyanggupi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2