
Daffa dan yang lain tiba dirumah sudah tengah malam. Mereka segera membantu putra dan putrinya membersihkan diri. Setelahnya Daffa dan Hana membersihkan dirinya sendiri. Mereka menuju kamar setelah selesai semuanya. Hana membaringkan tubuhnya dengan memandang langit-langit kamar. Iya terlihat memikirkan sesuatu. Tiba-tiba Daffa datang dan ikut berbaring disampingnya.
"Sayang" Panggil Daffa. Namun tak ada sahutan dari Anna. Daffa pun menoleh dan melihat istrinya melamun. Terlihat Hana sdang memikirkan sesuatu, entah apa itu.
"Sayaang, kenapa melamun? " Tanya Daffa pelan. Dan panggilan itu berhasil membuyarkan lamunan Hana.
"Maaf mas. Hana masih memikirkan kejadian tadi. Kenapa ada orang yang selalu ingin berbuat jahat kepada keluarga kita" Ucap Hana sambil matanya terus menatap langit-langit kamar.
"Sayang, dengarkan aku. Sebaik apapun seseorang. Iya tak akan pernah terlepas dari kebencian orang lain. Kita belum baik dan kita selalu berusaha untuk baik kepada setiap makhluk_Nya. Hati orang yang menggerakkan adalah Allah. Entah ini adalah teguran, peringatan/hukuman, atau malah ini adalah ujian untuk kita. Dan didalam dunia bisnis, akan selalu ada pesaing yang menggunakan cara licik untuk menjatuhkan lawan bisnisnya. Insya Allah, kita akan selalu dalam lindungan_Nya. Kamu jangan khawatir" Ucap Daffa panjang lebar menasehati istrinya.
"Mas tahu kamu mengkhawatirkan semuanya. Percayalah Allah akan melindungi kita. Kamu juga harus percaya sama suamimu ini. Karena mas akan berusaha selalu melindungi kalian semua" Daffa masih berbicara. Sedangkan Hana mendengarkan disampingnya.
"Tapi aku sangat khawatir dengan anak-anak mas" Hana berbicara.
"Aku takut anak-anak yang menjadi incaran mereka. Dan disaat kita lengah mereka beraksi" Hana masih terlihat khawatir.
"Sayang, percaya sama mas ya. Kita pasti bisa melindungi mereka" Daffa meyakinkan istrinya. Setelahnya Daffa mengajak istrinya untuk tidur.
Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, Arsyad berkata kepada orang tuanya.
"Ma, pa, orang-orang yang semalam mau diapakan? " Arsyad bertanya dengan pelan saat dia berjalan menuju balkon kamar Daffa. Daffa dan Hana pun menoleh ke arah putranya. Disusul oleh Arsyida yang mengikuti dari belakang. lalu duduk di sofa bersama Hana dan Daffa.
__ADS_1
"Arsyad, Arsyi kalian ngga usah mikirin tentang mereka ya. Biar mama sama papa yang mengurus mereka" Jawab Hana lemah lembut.
"Tapi Arsyad juga ingin tahu. Bagaimana dong ma? " Arsyad berkata dengan polos. Fikirannya sudah diatas batas normal anak seusianya. Otaknya selalu dapat mengeluarkan ide-ide yang bahkan Daffa diusia mereka saat ini, bisanya masih bermain. Namun Arsyad dan Arsyida adalah sosok anak yang sangat bisa diandalkan walaupun mereka masih anak-anak.
"Kita kesana bersama pa, ma. Sekarang juga" Ucap Arsyad.
"Tapi kalian harus bersekolah sayang" Hana menengahi.
"Kita selalu bisa mengear ketertinggalan kita ma" Arsyida berkata dengan percaya diri.
"Iya tapi kalian harus tetap belajar" Daffa kali ini turun tangan membujuk anak-anaknya.
"Kita setiap hari belajar pa" Arsyad menyahut. Kalau sudah seperti ini, Daffa dan Hana harus bagaimana? Akhirnya mereka mengizinkan putra-putrinya untuk ikut.
"Tidak pa. Nanti kita ditinggal" Arsyad tetap pada pendiriannya.
"Pagi ini papa ada meeting sayang. Ngga akan ditinggal" Ucap Hana lembut. Arsyad dan Arsyida menurut. Mereka segera berlari keluar dan bersiap untuk sekolah.
"Sayang, kamu hari ini tunggu anak-anak disekolah ya. Tetap ada pengawalan. Mas akan menambah 2 orang. Oh iya, Dina juga masih harus ikut" Ucap Daffa sambil menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan.
"Mas, kebanyakan orang. Cukup 2 saja sama Dina, Hana akan menunggu mereka juga" Hana berkata.
__ADS_1
"Dua orang lagi berjaga di luar sekolah sayang, yang 2 berada di dekat kamu dan anak-anak" Hana mengerti maksud suaminya. Semua juga demi keamanannya dan anak-anak.
Mereka sarapan dengan tenang pagi ini. Setelah semua selesai, Daffa mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. 3 pengawal berada beda mobil dengannya dan 1 sebagai sopir sekaligus pengawal. Setelah sampai di sekolah, Hana turun bersama anak-anak dan pengasuhnya.
"Sayang, hati-hati" Ucap Daffa sebelum mobil berjalan.
"Iya mas" Hana mengangguk sambil mejawab suaminya. Hana masuk ke sekolah. 3 pengawal yang menjaga juga sudah datang. 2 orang berada di luar gerbang sekolah. Sedangkan yang 1 menjaga tidak jauh dari Hana dan Dina duduk. Begitu anak-anak sudah masuk, Hana menunggu diluar dan duduk dikursi yang sudah disediakan.
"Din, sini duduk disini" Hana memanggil Dina.
"Iya nyonya, ada apa? " Tanya Dina yang langsung duduk disamping Hana.
"Apa selama ini ada yang selalu menyapa anak-anak. Orang asing yang kamu tidak mengenalnya? " Hana bertanya.
"Tidak ada nyonya. Tapi beberapa hari ini memang ada seseorang, sepertinya bukan wali murid sini. Dia juga tidak masuk hanya di depan gerbang nyonya. Saya juga tidak tahu dia sedang melihat siapa disini" Ucap Dina menjelaskan.
"Kamu harus lebih berhati-hati. Jangan lengah menjaga anak-anak. Ada saja cara orang untuk mengelabui kita supaya lengah dan akhirnya mereka menculik anak-anak" Jelas Hana.
"Iya nyonya, saya paham" Dina mengangguk. Dan mereka mengobrolkan semua hal. Termasuk tentang kehidupan mereka. Mereka saling bertukar cerita.
.
__ADS_1
Bunyi klakson terdengar di telinga Hana dan anak-anaknya. Mereka segera naik ke mobil dan pergi menuju ke tempat para penjahat yang semalam menyerang mereka. Banyak pengawal yang mengikuti mereka. Daffa sengaja tidak menyerahkan mereka ke pihak berwajib karena iya ingin mengintrogasi sendiri. Siapa sebenarnya mereka dan apa tujuan mereka menyerang keluarga Daffa.