KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Extra Part 11. Penghianat dan Pendendam


__ADS_3

Seorang manager departemen keuangan tengah berdiri di hadapan Daffa dengan wajah tertunduk malu. Badannya bergetar namun iya berusaha untuk biasa saja. Sambil sesekali tangannya menyeka keringat yang terus menetes dari dahinya. Raut wajah ketakutan terlihat jelas di hadapan Daffa. Daffa masih terdiam belum berkata ataupun melakukan sesuatu. Dia menunggu orang yang berdiri didepannya memulai pembicaraan. Tiba-tiba ponsel orang didepan Daffa berdering. Iya tak berani mengangkatnya.


"Jawab dulu panggilannya, setelah itu mulailah menjelaskan apa yang ingin kamu jelaskan sesuai ucapan kamu tadi" Daffa berkata sambil mengerjakan pekerjaan yang tertumpuk di depannya.


"Nanti saja tuan, saya akan menghubungi balik" Jawab orang tersebut.


"Angkatlah, siapa tahu penting" Daffa berbicara tanpa memandang orang didepannya. Iya masih sibuk dengan pekerjaannya. Orang didepannya mundur sedikit dan mengangkat telepon. Daffa memandang dengan senyum smirk. Iya tahu orang tersebut dihubungi oleh seseorang yang penting. Daffa bisa tahu karena iya telah meretas ponsel orang tersebut. Namun berpura-pura tidak tahu. Manager keuangan adalah seorang penghianat yang masih Daffa biarkan karena Daffa masih mencari bukti untuk menyeretnya ke penjara. Salah satu koruptor di perusahaan Daffa yang terlalu banyak beralibi. Daffa awalnya tak percaya dengan semuanya. Namun dirinya salah karena tak mengetahui semua tentang manager keuangan.


"Sudah selesai? " Daffa bertanya sambil menutup dokumen didepannya. Orang tersebut mengangguk. Daffa berfikir inilah saat yang tepat untuk menyeret manager keuangan dalam masalahnya sendiri.


"Sekarang duduklah, dan jelaskan apa yang ingin anda jelaskan" Daffa berkata dengan dingin. Namun hal tersebut mempu membuat manager keuangan tergagap.


"Silahkan!" Daffa mempersilahkan.


"Anu tuan, sebenarnya masalah keuangan memang sudah benar dan sesuai dengan laporan yang setiap hari saya laporkan" Ucap Manager keuangan.

__ADS_1


"Kamu benar-benar sudah menyerahkan semua laporan keuangan dengan benar? " Daffa bertanya.


"Benar tuan, saya sudah mengeceknya sebelum menyerahkan kepada tuan" Jawabnya dengan nada gemetar.


"Lalu ini apa? " Daffa berkata sambil menyerahkan seluruh bukti yang iya kumpulkan beberapa hari terakhir. Manager keuangan menerima semua lalu wajahnya menjadi pucat pasi. Seluruh kebusukkannya telah teruangkap.


"Anda tahu pintu keluar ada disebelah sana. Silahkan keluar lewat sana" Daffa menunjuk sebuah pintu keluar dari ruangannya. Tanpa berkata apapun, manager keuangan tersebut keluar dengan langkah gontai. Saat membuka pintu, dia disambut oleh beberapa anggota kepolisian. Manager keuangan langsung lemas tak berdaya. Namun iya masih sanggup untuk memberontak. Mencoba untuk melarikan diri. Namun polisi dengan sigap segera menangkapnya. Terdengar langkah kaki yang mendekat.


"Bawa dia pak, seluruh bukti sudah ada disini. Berikan hukuman yang sepantasnya untuk penghianat semacam dia" Ucap dia kepada anggota polisi.


"Tuan Daffa, saya mohon tuan. Janngan penjarakan saya. Saya berjanji akan mengembalikan semua uang yang sudah saya ambil" Manager keuangan itu mmeohon sambil bersimpuh didepan Daffa. Namun Daffa tak akan pernah mentolerir seorang penghianat. "Bawa dia" Ucap Daffa selanjutnya iya masuk keruangan kembali. Manager keuangan berteriak namun Daffa tak peduli. Setelahnya anggota polisi yang hadir tersebut membawa manager keuangan pergi.


"Arsyad, bukannya kamu dikamar dari tadi sama mama dan Arsyida. Arsyad tahu apa kok bilang papa hebat" Tanya Daffa. Iya lupa jika putranya adalah seorang anak genius yang mampu meretas.


"Dari ini" Arsyad menunjukkan tabletnya. Daffa memandang dengan menepuk dahinya.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa lupa jika putraku ini bukan anak biasa" Batin Daffa sambil tersenyum ke arah Arsyad. Arsyad mendekat dan mengangkat tangannya. Dia ingin digendong ppapanya Begitu Arsyad sudah berada di gendongan Daffa. Iya berbisik.


"Aku ingin menjadi seperti papa yang hebat" Bisik Arsyad pelan. Daffa yang akan duduk di kursi kebesarannya tersenyum.


"Kamu akan menjadi lebih hebat daripada papa di masa depan sayang. Kalian berdua adalah dua jagoan yang bisa diandalkan. Terimakasih sudah membantu papa menyelesaikan masalah" Ucap Daffa kepada putranya.


"Papa yang menyelesaikan sendiri. Arsyad hanya membantu sedikit saja" Jawab Arsyad.


"Sepertinya masih ada beberapa penghianat di perusahaan papa. Kita lihat nanti lagi" Ucap Arsyad. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Hana dan Arsyida keluar dari kamar. Karena hati sudah semakin sore. Daffa dan Hana segera mengajak anak-anak mereka untuk pulang.


Dijalan, Arsyad dan Arsyida meminta berhenti disebuah mall. Daffa yang memang jarang ada waktu untuk putra putrinya menuruti. Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan terbesar.


"Pa, kita makan dulu boleh. Arsyi laper" Atsyida berkata sambil memegangi perutnya.


"Makan mulu. Ngga ada kenyangnya tu perut" Sahut Arsyad tiba-tiba.

__ADS_1


"Arsyad, kamu ingat tidak. Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Kamu itu cerdas tapi pelupa" Jawab Arsyida.


"Iya deh. Aku juga laper kalau gitu" Arsyad mengalah dan meneruskan berjalan. Sedangkan Daffa dan Hana yang melihat kedua anaknya hanya menggelengkan kepala. Selalu ada saja yang membuat mereka berdebat. Akhirnya mereka masuk dan menuju tempat makan. Namun disatu sisi ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Dengan dendam dan sakit hati yang membara, iya menghentakkan kaki. Menatap tak suka kepada Daffa dan keluarga kecilnya. Iya yang sudah menyusun rencana menghubungi seseorang. Untuk mempersiapkan semuanya dengan sebaik-baiknya.


__ADS_2