KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Ketahuan


__ADS_3

Daffa merasa ada yang aneh dengan kejadian pagi ini. Iya berfikir mungkin hanya kebetulan saja. Namun jika difikir-fikir, ada yang tidak masuk akal.


"Mas kenapa? " Tanya Hana yang melihat suaminya seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu ngerasa aneh ngga sih sayang dengan kejadian ini? " Tanya Daffa.


"Maksud mas? " Tanya Hana kembali.


"Coba kamu fikirin deh. Fariz tiba-tiba saja sudah berada di rumah sepagi ini. Lalu motor Nadia tiba-tiba mogok. Padahal semalam baik-baik saja" Ucap Daffa sambil mengingat sesuatu.


"Maksud mas, kejadian ini seperti disengaja? " Ucap Hana.


"Kayanya mogoknya motor Nadia karena ulah si Fariz deh" Lanjut Daffa.


"Mas, jangan su'udzon gitu. Kan Fariz baru saja datang. Mana mungkin dia bisa mengotak-atik motor" Hana menjawab.


"Kamu belum tahu Fariz sayang, dia itu bisa melakukan apa saja tanpa harus turun tangan sendiri" Tutur Daffa.


"Kenapa ngga ngecek CCTV sih mas. Daripada mas penasaran seperti ini" Hana memberi ide.


"Oh iya, ayo kita cek dulu" Ucap Daffa sambil berlalu ke dalam ruang dan menuju ke ruang kerjanya. Sesampainya di ruang kerja, iya segera menyalakan laptopnya. Mencari-cati sesuatu.


Lain halnya dengan Nadia dan Fariz yang berada di dalam mobil. Mereka berdua merasa canggung karena belum saling kenal. Fariz memberanikan diri menanyai Nadia.


"Nama kamu siapa? " Tanya Fariz.


"Saya Nadia tuan" Jawab Nadia.


"Kampus kamu dimana? " Tanya Fariz kembali.


"Di jalan XXX tuan" Jawab Nadia pelan. Fariz melirik ke arah Nadia. Iya menyunggingkan senyum. Saat sudah dekat dengan kampus. Nadia memberitahu. Namun siapa sangka Fariz malah meminta nomor ponsel Nadia.


"Kamu aku antarkan ke kampus dulu, aku mau jalan-jalan dulu. Sudah lama aku ngga jalan-jalan. Nanti kalau hampir selesai, kamu bisa menghubungiku" Ucap Fariz. Nadia hanya tertunduk dan terdiam disamping Fariz.


"Ini, kamu tulis nomor kamu, nanti biar aku mudah menghubungimu" Ucap Fariz lagi sambil menyodorkan ponselnya ke Nadia. Sedangkan Nadia ragu-ragu untuk mengambil ponsel mahal tersebut.


"Aku ngga berniat jahat ke kamu. Kamu percaya kan sama aku" Ucap Fariz. Lalu meletakkan ponselnya dipangkuan Nadia. Dengan terpaksa Nadia mengambil ponsel tersebut dan mengetikkan nomprnya.


"Ini tuan" Nadia mengembalikan ponsel mahal Fariz. Fariz pun menerima sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nanti kamu harus hubungi aku ya, jangan sampai kamu tidak menghubungiku saat pulang. Dan jangan kemana-mana kalau aku belum datang. Kalau kamu pergi sendirian, bisa habis aku sama Daffa" Ucap Fariz panjang lebar.


"Lebih baik tuan jalan-jalan saja dulu. Saya kuliah sampai sore. Nanti saya bisa pulang naik ojol saja" Jawab Nadia.


"Tidak, pokoknya kamu harus menghubungi aku. Aku ngga mau krna marah dari Daffa dan Hana" Ucap Fariz. Dan hanya dijawab anggukan oleh Nadia. Nadia pun keluar dari mobil Fariz dan berjalan menuju ke kampusnya. Fariz hanya memandang kepergian Nadia dengan senyuman. Tiba-tiba ponsel Fariz berdering. Ada panggilan dari Daffa.


'Tut tut tut' Suara ponsel Fariz.


"Haloo, Assalamualaikum" Ucap Fariz.


"Wa'alaikumsalam" Ucap Daffa dari seberang telepon.


"Ada apa Daffa? " Tanya Fariz yang bingung karena Daffa tiba-tiba menghubunginya.


"Kamu masih lama atau tidak, kalau tidak kamu pulang cepat. Ada yang akan aku bicarakan denganmu" Ucap Daffa dari seberang telepon.


"Baru mau jalan-jalan Fa, ada apa? " Tanya Fariz.


"Kamu pulang saja dulu"Ucap Daffa. Dan 'Tut tut tut' sambungan terputus.


"Dasar Daffa, ngga bisa apa lihat orang seneng" Fariz menggerutu. Iya langsung mengemudikan mobilnya kembali.


"Lihat deh mas, ada yang mengotak-atik motor Nadia" Ucap Hana kepada Daffa sambil menunjuk layar monitor.


"Bukannya ini salah satu pekerja dirumah ini" Ucap Daffa sambil terus memperhatikan layar monitor.


"Kenapa dia membuat motor Nadia mogok mas? " Tanya Hana.


"Kita tanya langsung saja ke orangnya" Ucap Daffa sambil mengambil ponsel untuk memanggil pekerja di rumah ini. Begitu selesai iya meneruskan melihat rekaman CCTV.


Tak lama, suara pintu diketuk dari luar. Menampilkan sosok seroang laki-laki.


"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu? " Tanya orang tersebut.


"Kemarilah! " panggil Daffa melambaikan tangan. Laki-laki tersebut mendekat.


"Kamu perhatikan ini! Apa benar orang di dalam rekaman CCTV itu kamu? " Ucap Daffa sambil menunjuk layar monitor. Orang yang berdiri disampingnya sudah berkeringat dingin dan bergetar.


"Iya tuan, saya mohon maaf atas semuanya. Tapi saya hanya disuruh oleh tuan Fariz untuk melakukannya, saya hanya melaksanakan perintah tuan Fariz Tuan muda" Ucap orang tersebut sambil menunduk.

__ADS_1


"Apa Fariz memberitahu sesuatu, atau bertanya sesuatu tentang pemilik motor? " Tanya Daffa seoalah-olah mengintrogasi.


"Tuan Fariz hanya bertanya, naik apa Nadia kesini, lalu saya jawab naik motor. setelah itu tuan Fariz menyuruh saya untuk membuat motornya mogok tuan" Ucapnya kembali. Daffa paham dengan pembicaraan pekerjanya itu. Iya berfikir kenapa Fariz menyuruhnya. Iya tak bisa menyalahkan pekerjanya yang hanya disuruh oleh saudaranya.


"Ya sudah, kamu boleh keluar" Ucap Daffa.


"Baik tuan, permisi" Jawabnya dan iya segera keluar dari ruang kerja Daffa.


"Mas, sepertinya Fariz menyukai Nadia" Ucap Hana tiba-tiba.


"Tapi mereka belum pernh bertemu sama sekali sayang" Balas Daffa.


"Lebih baik mas hubungi Fariz dan kita tanya langsung saja ke dia" Tutur Hana. Dan Daffa pun langsung menghubungi Fariz.


Flashback off.


Dijalan, Fariz medikit mempercepat laju mobilnya. Begitu sampai didepan gerbang, iya segera menekan klakson kuat-kuat. Hingga seorang penjaga membukakan pintu. Fariz masuk ke halaman rumah. Dan memarkirkan mobilnya di halaman. Iya bergegas turun.


"Pasti Daffa tahu rencana ku" Gumam Fariz. Iya memasuki rumah dan mencari keberadaan Daffa. Namun iya tak melihat Daffa.


"Kemana si Daffa, tadi nyuruh pulang. Sekarang dicari ngga ada" Ucapnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Daffa memanggil.


"Kamu dimana Daff, aku sudah di bawah" Ucap Fariz tanpa Ba bi bu.


"Keruangan kerja ku, sekarang juga" Ucap Daffa. 'tut tut tut' panggilan terputus.


"Selalu seperti itu" Gumam Fariz sambil berjalan ke ruangan Daffa. Begitu sampai, iya mengetuk pintu.


'tok tok tok' Suara ketukan dari luar.


"Masuk" Sahut Daffa dari luar. Dan tampaklah Fariz yang berjalan mendekati Daffa dan istrinya.


"Ada apa? " Tanya Fariz.


"Kamu perhatikan ini baik-baik. Dan jelaskan kepadaku, apa maksud kamu melakukan ini" Ucap Daffa tenang sambil bersandar di kursi kerjanya. Fariz pun menuruti kemauan Daffa. Iya melihat layar monitor dengan seksama. Lama-lama iya paham maksud Daffa. Fariz meneguk salivanya denn kesulitan.


"Bagaimana kamu tahu Daffa? " Tanya Fariz.


"Kenapa kamu menyuruh seorang pekerja rumah ini untuk mengerjai Nadia. Bahkan kamu belum pernah sekalipun bertemu dengan Nadia. Mengenalpun tidak" Ucap Daffa meminta penjelasan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2