
Di perjalanan menuju rumah Bilal. Arsyi bercerita tentang wanita yang ditabraknya tadi. Iya menceritakan kepada orang tuanya.
"Mama, papa, tadi Arsyi nabrak tante-tante, terus Arsyi minta maaf, tantenya maafin Arsyi ma" Arsyi bercerita dengan polos.
"Tapi Arsyi dengan tante itu ngga apa-apa kan? "Tanya Hana.
"Ngga ma, Arsyi baik-baik aja. Tantenya tadi juga lihatin mama sama papa" Arsyi memberitahukan.
"Ya sudah, yang penting Arsyi ngga apa-apa" Jawab Hana.
"Lain kali hati-hati Arsyi, jangan nabrak orang lagi kasihan" Arsyad berbicara. Mobil yang mereka kendarai udah memasuki perumahan di mana ayah Hana tinggal. Mereka segera turun saat mobil sudah berhenti di halaman depan rumah ayah Bahtiar. Terlihat Bilal dan Yusuf yang sedang latihan karate di samping rumah. Arsyad dan Arsyida langsung turun tanpa menunggu orangtuanya. Mereka menghampiri Bilal dan Yusuf.
"Assalamualaikum" Ucap Arsyad dan Aryida bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" Jawab Yusuf dan abinya. Si twin langsung berlari menyalami Bilal, tak lupa juga Yusuf.
"Kak, aku mau ikut latihan, biar hebat kaya om Bilal dan kak Yusuf" Ucap Arsyida. Da memang memiliki kepribadian yang pemberani. Selalu ingin tahu dan tak pernah menyerah.
"Arsyad ayo ikut latihan" Ucap Arsyi.
"Ngga ah, aku mau main sama kak Yusuf aja" Jawab Arsyad.
"Dasar pemalas, kalau nanti kamu besar dan ngga bisa karate kata mama dan papa, kamu bakal nyesel" Ucap Arsyida.
"Aku masih kecil, belum besar" Jawab Arsyad santai sambil duduk di atas batu.
__ADS_1
"Tapi Arsyad, kamu harus hebat. Kata mama laki-laki harus kuat" Ucap Arsyida lagi.
"Arsyi sini" Panggil Yusuf. Arsyipun segera mendekat kepada Yusuf dan Bilal.
"Kamu ngga mau ikut? " Tanya Yusuf.
"Males sih, tapi kayanya seru" Jawab Arsyad sambil melangkah mendekat ke arah Yusuf dan Bilal.
"Mas Bilal, apa kabar? " Tanya Daffa yang baru turun dari mobil sambil menenteng banyak kantong berisi oleh-oleh.
"Alhamdulillah baik Daf, kamu bagaimana? " Tanya Bilal balik.
"Ya, Alhamdulillah, seperti ini" Daffa masih berdiri di depan Bilal.
"Kamu masuk aja dulu, nanti kesini lagi" Tutur Bilal. Akhirnya Daffa pun melangkah masuk ke rumah beserta istrinya. Ayah pun sedang duduk di sofa ruang tamu saat Daffa datang. Perlahan kesehatan pak Bahtiar semakin membaik. Beliau sudah tak menggunakan kursi roda lagi. Hanya dibantu satu tongkat untuk menahan saat ia berjalan agar tak jatuh.
"Salim dulu sama kakek" Ucap Hana.
"Oh iya. lupa ma" Jawab Arsyi. Mereka berdua pun meraih tangan kakeknya dan mencium punggung tangannya. Pak Bahtiar terswnyum memandang cucu kembarnya. Tiba-tiba Rani datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi minuman.
"Ma, pa kita ke depan dulu ya, ayo om Bilal kak Yusuf" Ucap Arsyi sambil berjalan keluar rumah menuju halaman. Yusuf pun menyusul Arsyi. Bilal dan Arsyad pun menyusul.
Di balik pagar, seorang lelaki mengendarai sepeda motor melihat ke arah rumah pak Bahtiar. Dia mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh anak-anak yang berada dihalaman. Memotret dan mengambil video mereka. Lalu mengirimkan kepada seseorang yang menyuruhnya.
"Kamu tunggu di saat hingga mereka keluar. Tapi ingat jangan sampai ketahuan dan jangan sampai lengah" Ucap seseorang yang menghubungi lelaki di balik pagar terswbut setelah mendapatkan kiriman foto dan video.
__ADS_1
"Baik, akan saya lakukan dengan baik" Jawab lelaki tersebut. Panggilan berakhir ketika lelaki tersebut menatap ke layar ponselnya.
"Papa, tante Rani ngga ikut, perutnya besar ya tante" Ucap Arsyi kepada Daffa.
"Sebentar lagi aku punya adek, kamu ngga pengen punya adek? " Tanya Yusuf.
"Aku sudah punya adek, satu adek saja rewel terus, kalau dua bisa pusing kepalaku" Ucap Arsyad sambil memandang Arsyida.
"Aku ngga bikin pusing Arsyad" Jawab Arsyi tak mau mengalah.
"Panggil aku kakak, aku kakak kamu" Jawab Arsyad.
"Mama, Arsyi pengen punya adik seperti kak Yusuf, Arsyad nakal, katanya pusing sama Arsyi" Arsyi berlari dan mengadu kepada mamanya. Sontak hal tersebut membuat seisi ruangan tertawa.
"Arsyi pengen punya adek? " Tanya Daffa.
"Iya pa, kata kak Yusuf, adeknya sebentar lagi keluar. Dia bisa main sama adeknya. Arsyi nanti main sama siapa? " Ucap Arsyi dengan polosnya khas anak-anak.
"Nanti main sama adeknya kak Yusuf dong" Rani menenangkan Arsyi.
"Emang boleh ya tante? " Wajah Arsyi berubah sumringah.
"Boleh dong" Rani menjawab sambil tersenyum.
"Makasih tante" Arsyida mmeluk perut besar Rani sambil tersenyum pula.
__ADS_1
"Arsyi mau ke depan lagi. mau lihat kak Yusuf sama om Bilal" Arsyipun berlari keluar rumah. Mereka bermain sambil berlatih. Daffa dengan telaten mengajari jurus-jurus dasar kepada ke tiga anak di depannya itu. Dia berusaha sabar dan terus berlatih. Dan sepasang mata di balik pagar juga terus mengawasi kegiatan mereka. Dia tak pergi sebentar pun, agar apa yang di intainya tak lepas dari jangkuan.
TBC