
Hana membuka laptopnya. Iya mulai menelusuri sebuah program. Dengan fokus dan terus melihat ke layar monitor, Hana mencoba menelusuri sesuatu. Disana ada sebuah petunjuk.
"Mas kenal sama Victor Abigail? " Tanya Hana. Daffa menggeleng.
"Hmm, rekan bisnis atau client misalnya? " Hana membantu mengingatkan.
"Victor Abigail... Bukannya itu orang yang mengirimi nona Hana email waktu itu? " Tanya Rey teringat beberapa minggu lalu.
"Ah iya, Email. Coba Hana cek lagi" Hana segera membuka pesan masuk di Emailnya.
"Ah sebentar, biar aku coba dulu" Hana seperti menemukan sebuah petunjuk. Iya kembali sibuk dengan benda yang menyala di depannya.
Menelisik sebuah email. Menelusuri kemana saja email tersebut terhubung. Mencoba meretasnya. Setelah memeriksa seluruh isinya. Kini Hana paham, mengapa design yang dibuat oleh perusahaan Daffa bisa sampai bocor, dan ada pihak lain yang mempublikasikan design produk terlebih dahulu dengan design yang sama persis dengan milik perusahaan yang belum sempat di sah kan.
"Mas, apa email mas masih bisa dibuka saat ini? " Tanya Hana. Daffa mengerutkan Dahi. Pasalnya semalam iya baru saja membuka emailnya.
"Semalam masih baik-baik saja sayang" Jawab Daffa.
"Coba mas periksa lagi! " Tutur Hana. Daffa pun segera mengecek emailnya. Dan ternyata ada banyak notifikasi masuk.
"Sayang, ini maksudnya apa? " Daffa sedikit bingung.
"Itu sudah beberapa waktu email mas Daffa diretas. Aku rasa peretasnya lupa menghapus jejak. Kita bisa dengan mudah menemukannya. Sekarang, semua data sudah ada di tangan kita" Ucap Hana.
"Maksud kamu apa sayang? " Tanya Daffa.
"Maksud kamu, semua ini ada hubungannya dengan orang yang mengirimi kamu email waktu itu? " Tanya Daffa. Hana mengangguk.
"Dia itu siapa sayang, mas ngga ngerasa pernah kenal sama dia atau pun bagaimana. Kenapa dia berbuat seperti itu" Ucap Daffa.
__ADS_1
"Atau mungkin Victor ini seorang peretas suruhan nona? " Rey lebih paham.
"Sepertinya seperti itu pak Rey" Jawab Hana masih sibuk dengan layar laptopnya.
"Siapa yang menyuruhnya? " Tanya Daffa.
"Itu dia, kita akan menyelidiki lagi" Ayo pak Rey, bantu saya" Daffa tak berbicara apa-apa. Dia hanya memperhatikan Hana dan Rey bekerja, sambil mengurusi masalah ini.
Di lain gedung yang menjulang tinggi, sosok laki-laki tertawa dengan penuh kepuasan.
"Aku akan terus mengalihkan perhatianmu, supaya kamu tak sempat menyelidiki semuanya" Ucap laki-laki tersebut.
'Tuuut, tuuut, tuuut' ponselnya tiba-tiba berdering.
"Halo" Jawabnya.
"Bagaimana? Apa kamu sudah tahu hasilnya? " Tanya si penelpon.
"Bisa kita bertemu? " Tanya si penelpon lagi.
"Oke, kamu atur semuanya, dimana dan kapan kita akan bertemu lagi. Aku tunggu" Laki-laki itu memutuskan sambungan telepon.
"Sepertinya kamu memang bisa aku manfaatkan" Gumamnya setelah mematikan telepon. "Seperti yang ku inginkan, perlahan kalian akan menyesal sudah berani terhadapku, Dan setelah aku bisa menghancurkanmu, aku akan membuang wanita bodoh itu" Lelaki itu tersenyum puas.
Setelah berkutat dengan banyak masalah hari ini. Hana berhasil meretas kembali email Victor Abigail. Iya menyimpan data-data yang iya peroleh, termasuk sebuah nomor ponsel.
"Peretas baru ternyata pak Rey " Ucap Hana.
"Berani sekali ya nona. Heran saya. Padahal Utama grub adalah sebuah perusahaan besar, namun seorang pemula yang baru belajar meretas sudah berani berbuat macam-macam" Ucap Rey.
__ADS_1
"Kita harus bertindak saat ini juga atau bagaimana tuan? " Tanya Rey kepada Daffa.
"Secepatnya, kita harus mendatangi anak itu" Ucap Daffa. Semua mengangguk.
"Apa sekarang saja kita kesana tuan? " Tanya Rey.
"Apa sudah tak ada pekerjaan? " Tanya Daffa.
"Masih ada beberapa yang belum selesai tuan" Jawab Rey.
"Kita selesaikan dulu pekerjaannya" Tutir Daffa. Akhirnya Rey menyelesaikan pekerjaannya.
"Mas, Hana keluar dulu ya, nemuin Nadia" Izin Hana saat hendak keluar ruangan.
"Iya sayang" Jawab Daffa. Hana berjalan keluar ruangan. Menemui Nadia.
"Nona" Sapa Nadia sambil menunduk saat tahu Hana keluar. Hana pun berjalan menghampiri Nadia.
"Nad, apa kabar? " Tanya Hana.
"Alhamdulillah baik nona, nona sendiri bagaimana? " Tanya balik Nadia.
"Alhamdulillah baik Nad" Hana tersenyum. Perlahan iya mulai bisa melupakan kesedihannya. Mengikhlaskan kepergian sang ibu.
"Kamu lagi banyak pekerjaan? " Tanya Hana.
"Lumayan nona" Nadia masih berdiri dan menunduk saat Hana duduk disampingnya sambil memeriksa tabletnya. "Kamu mau berdiri terus Nad, duduklah! Ngga usah sungkan sama saya. Biasa saja, terus jangan panggil nona ya, biar lebih akbrab" Ucap Hana menyuruh Nadia duduk. Nadia pun duduk sambil tersenyum. Iya melanjutkan pekerjaan.
"Aku lagi bosan didalam. Makanya pengen ngecek sesuatu disini" Ucap Hana sambil terus memainkan tabletnya. Tak lama berselang, iya berhasil meretas sebuah system. Iya langsung lari ke dalam ruangan Daffa.
__ADS_1
TBC