
Saat sedang berkutat dengan pekerjaannya, Daffa tiba-tiba teringat dengan kakek tua penjual singkong keju semalam. Iya segera mengambil ponselnya lalu mencari nomor kakek tersebut.
"Halo, assalamualaikum" Ucap kakek tersebut setelah panggilan terhubung.
"Kek, ini saya yang semalam membeli singkong keju ditempat kakek" Ucap Daffa sopan.
"Oh, iya nak. Ini kakek sendiri. Ada yang bisa kakek bantu nak? " Tanya Kakek tersebut.
"Kakek ada dirumah? " Tanya Daffa, sambil menandatangani dokumen di depannya.
"Kakek sedang ada di tempat praktik dokter nak, ada apa? Apa ada yang bisa kakek bantu? " Tanya Kakek itu.
"Emm, iya kek, nanti kalau sudah pulang, kakek hubungi saya kembali ya. Ada yang ingin saya bicarakan dengan kakek, kakek kirimkan alamat rumah kakek ya" Ucap Daffa. Setelah kakek menjawab dari seberang telepon. Daffa mengakhiri panggilan. Daffa kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Daffa telah menyelesaikan pekerjaannya sore hari. Iya berniat ingin mengunjungi rumah kakek penjual singkong keju itu. Dengan menggandeng Hana keluar dari kantor, Daffa menaiki mobil dan menuju rumah kakek tersebut. Mencari-cari alamat yang sudah kakek tersebut berikan. Namun, ditengah jalan tiba-tiba Hana merasakan sakit yang luar biasa.
"Astaghfirullahaladzim. Perutku" Ucap Hana ambil memegangi perutnya dan terlihat ekspresi kesakitan diwajahnya. Daffa yang melihat pun segera bertanya karena panik.
"Sayang, kenapa? " Tanya Daffa dengan nada suara yang panik.
"Ngga tahu mas, perut aku aku dari tadi pagi rasanya sakit. Kadang hilang kadang muncul. Tapi kali ini rasanya sakit banget" Ucap Hana sambil menahan sakit.
"Sayang... Pak kita ke rumah sakit sekarang! " Perintah Daffa karena tak tahu apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
"Baik tuan" Ucap sopir yang meng3mudikan mobil. Iya menambah kecepatan karena melihat Hana yang semakin kesakitan. Tak sampai 30 menit, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai dirumah sakit. Daffa segera turun untuk meminta bantuan.
"Suster cepat, istriku mau melahirkan" Teriak Daffa di depan lobby" Teriak Daffa. Namun seorang suster berkata jika tempat persalinan berbeda arah dari ICU.
"Daffa segera menyuruh sopirnya untuk melaju dan sekarang telah tiba di lobby tempat persalinan. Daffa k3mbali berteriak. Para suster langsung berlari sambil mendorong brankar rumah sakit begitu mengetahui siapa yang berteriak. Namun sebelum mereka datang seorang suster sudah datang terlebih dahulu dengan mendorong kursi roda.
"Nona, mari" Seorang suster membantu Hana turun dari mobil sambil. Setelah Hana duduk di atas kursi rroda Suster tersebut mendorong Hana ke ruang persalinan. Daffa berlari sambil memegangi tangan Hana. Tak lama dokter pun menyusul ke ruangan tersebut.
"Dimana dokter Anisa? " Tanya Daffa.
"Masih dalam perjalanan kemari Tuan" Jawab Dokter Gilang.
"Suruh cepat, kasihan istriku kesakitan" Ucap Daffa karena merasa dokter Anisa begitu lama tak datang.
"Seb..." Ucapan dokter Gilang terpotong saat dokter Anisa datang.
"Sudah bukaan 8 Nona, sebentar lagi. Kita tunggu nanti jika bukaannya sudah genap, kita akan membantu persalinannya" Ucap Dokter Anisa sambil menerima jarum, sedangkan suster disampingnya membantu memasang selang infus.
"Jangan pergi, tetaplah disini" Ucap Daffa kepada dokter dan suster diruangan itu. Iya tak tahu apa yang harus dilakukan. Melihat istrinya yang kesakitan membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
"Tuan harus tenang. Nona Hana butuh suport dari anda. Buat nona semangat tuan dan jangan hanya diam, dan jangan panik" Ucap dokter Anisa. Hana terlihat menahan sakit. Daffa tak mendengarkan apa yang dikatakan dokter tersebut. Iya memegang tangan Hana, sedangkan Hana yang merasakan sakitnya kontraksi menggenggam erat tangan Daffa. Iya menahan sakit sambil membaca do'a-do'a Tak lain dengan Daffa, iya merasakan seluruh tubuhnya lemah melihat istrinya berjuang. Sudah hampir 2 jam iya menunggu. Namun anaknya belum keluar juga.
"Mas, saaa...kit" Ucap Hana terengah-engah.
__ADS_1
"Sayang, kalau bisa sakitnya dibagi sama aku, aku akan menanggung sakitnya. Tapi mas bisa apa?" Ucap Daffa juga terlihat panik dan sangat khawatir.
"Mas bantu do'a, ini benar-benar sakit mas... huh huh huh" Hana mengambil nafas saat kontraksi itu semakin lama semakin cepat datangnya dan semakin sakit. Dokter serta perawat dan seluruh yang ada disana menggelengkan kepala, karena justru malah Hana yang menenangkan Daffa. Bukannya Daffa. Dokter Anisa melangkah mendekati Hana untuk memeriksanya.
"Dokter ini bagaimana, kenapa sakitnya selalu bertambah. Kapan bayinya akan lahir. Kasihan Hana kesakitan" Daffa berteriak karena panik melihat istrinya kesakitan.
"Maaf tuan, biarkan saya memeriksa nona Hana lagi" Ucapnya sambil melangkah. Iya memeriksa Hana.
"Bukaannya sudah lengkap, Insya Allah sudah waktunya lahiran" Ucap dokter. "Nona bersiap ya, jika bayi mengajak untuk mengejan, nona langsung mengejan. Jangan mengejan jika bayinya diam" Ucap dokter memberi arahan. Hana mengangguk mengerti, dan saat itu Hana merasakan sakit yang sangat luar biasa. Iya segera mengejan sesuai arahan dari dokter.
"Baik, ayo nona" Dokter mulai mengarahkan lagi. Hana mengejan lagi.
"Aaaaaaaaaaa... Aaaaaaallaaaaah...hu Akbaaaaaaar" Ucap Hana sambil mengejan. Tapi bayi belum keluar, hanya terlihat rambutnya. Hana beristirahat sebentar. Tak lama kemudian bayi diperutnya mulai akan keluar lagi.
"Iya nona, ayo mengejan lebih kuat lagi. Kepalanya hampir keluar" teriak dokter. Hana pun mengejan lagi.
"Aaaaa, Alllaaaaaahu Akbaaaaaaaaaaaarrrr"
"Oooeek oeeek oeeekk oeeek" Bayipun telah keluar dengan selamat. "Alhamdulillah" ucap semua yang hadir disana. Tiba-tiba perut Hana merasakan sakit kembali.
"Berjuang sekali lagi nona, yang kedua ini sudah terlihat kepalanya"Ucap Dokter. Hanapin menurut, iya segera mengejan.
"Allahu Akbaaaarrr"
__ADS_1
"oek oek oek oek" Ruangan itu dipenuhi dengan tangisan 2 bayi dan ucapan syukur. Daffa menitikkan air mata. Sedangkan Hana yang merasakan lelah terbaring lemah di atas tempat tidur. Iya tersenyum memandang ke dua bayi yang baru iya lahirkan.
"Selamat nona Hana dan Tuan Daffa... Junior telah lahir dengan selamat dan sehat. Setelah dibersihkan langsung bisa di adzani" Ucap Dokter Anisa sambil menunjukkan kedua bayi tersebut.