
Pagi menjelang, setelah sholat subuh Hana bergegas menemui ayah dan ibunya. Iya bermaksud akan menyampaikan jawabannya. Setelah sholat istikharah sekali lagi, Hana memantapkan hati dengan pilihannya.
"Assalamualaikum, ibu ayah" Sapa Hana
"Wa'alaikumsalam wr wb, jawab ibu dan ayah Hana bersama.
"Hmmm anu yah bu, nanti malam Daffa akan kemari" ana menyampaikan dengan sedikit gugub
"Alhamdulillah, berarti kamu sudah siap memberikan jawaban kepada nak Daffa ? tanya ibu Hana.
"Insya Allah bu, Hana sudah siap" jawab Hana yakin.
"Baiklah, kalau seperti itu kita tidak usah ke warung hari ini. Dirumah saja bu" Kata ayah Hana.
Hana dan ibunya menyiapkan hidangan sederhana untuk menyambut kedatangan Daffa nanti malam. Entah mengapa Hana sedari tadi merasa gugup. Namun iya meyakinkan diri bahwa apa keputusan yang diambilnya adalah epat. Karena kesibukan menyiapkan hidangan, meskipun hanya sederhana. Tak terasa hari sudah sore. Hana dan keluarganya pun bergegas untuk bersiap menyambut kedatangan Daffa.
Pukul 07.30 terdengar deru mobil memasuki halaman. Hana mengintip dari jendela kamarnya. Ternyata Daffa dan Rey sudah datang. Hana terlalu gugup. Mempersiapkan diri untuk menemui Daffa.
Langkah kaki Daffa kian mantap untuk mendengar apapun jawaban Hana. Iya berjalan memasuki rumah Hana dengan perlahan.
"Assalamualaikum" ucap Daffa.
"Wa'alaikumsalam" terdengar suara ayah dan ibu hana menjawab salam daffa, diikuti bilal dan istrinya dari belakang.
"Silahkan masuk nak Daffa" suara pak Bahtiar mempersilahkan Daffa masuk.
"Iya pak, terimakasih" sahut Rey.
"Buk, tolong panggilkan Hana kesini" pinta pak Bahtiar kepada istrinya.
"Iya" sambil berlalu bu Sholihah berjalan memanggil Hana.
Terlihat Hana dan ibunya memasuki ruang tamu. Tampak daffa memandang Hana dengan takjub. Entah apa yang ada didalam fikiran Daffa. Yang pasti, semakin hari Hana semakin mengagumkan untuk Daffa. Tiba tiba suara pak Bahtiar memecah keheningan.
"Hmm hemmm"
__ADS_1
"Ehh.. maaf "
"Sini han" panggil ayahnya sambil menepuk kursi disebelahnya. Disana juga hadir Bilal, istri dan anaknya yang masih balita.
"Langsung saja ya" kata Daffa terasa tak sabar mendengar jawaban yang sudah di nanti selama bertahun tahun.
Hana bingung, entah harus memulai darimana Pembicaraan ini. Melihat Hana yang hanya diam menunduk, Rey segera angkat bicara.
"Mmm, maaf nona Hana, kedatangan kami kesini adalah untuk meminta nona menjawab tentang hal 4 tahun yang lalu" kata Rey membuka pembicaraan.
"Hana, jika kamu sudah siap untuk mengatakan semuanya, katakan sekarang" pinta ayah Hana
"Iya yah, maaf" jawab Hana sambil menunduk
Perlahan hana memberanikan diri menatap Daffa. Mencoba mencari ketulusan dimata Daffa. Hana menatap Haffa yang sepertinya sangat berharap padanya. Hingga beberapa detik netra mereka kembali bertemu. Mengingatkan tentang pertama kali bertemu didalam bus secara tidak sengaja itu. Hana tersadar dari lamunannya. Dan segera menetralkan gemuruh didalam hatinya.
"Sebelumnya saya mohon maaf untuk pak Daffa. Sebenarnya ini terlalu cepat untuk saya, tapi melihat kesabaran bapak menunggu saya selama ini. Saya yakin, jika bapak orang yang tulus" tutur Hana pelan
"Mungkin... (Hana terdiam beberapa saat) Mmmmm mungkinkah jika pak Daffa bisa menerima Hana apa ada nya? " tanya Hana
Tapi belum sempat Daffa berkata. Hana sudah melanjutkan ucapanya.
"Maksud saya, apa bapak bersedia menerima semua kekurangan dan kelebihan saya. Saya bukan orang seperti pak Daffa. Jujur saya tidak punya kecantikan untuk merayu, tidak punya ilmu untuk dikagumi, tidak punya harta yang bisa dibanggakan. Semua yang ada didiri saya sangat sederhana. Saya bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan pak Daffa" tutur Hana panjang lebar.
"Tapi saya tidak tahu mengapa saya sangat mencintaimu Han. Saya sudah memikirkan hal itu. Saya akan menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Begitupun sebaliknya. Hana juga harus bisa menerima semua tentang saya. Jika suatu hari nanti kamu tahu sisi buruk saya, kamu akan tetap bertahan disisi saya. Sayapun juga akan seperti itu" jelas Daffa.
"Baik, jika bapak bisa menerima saya lahir batin, lalu apakah orang orang disekitar bapak bisa menerima saya. ayah dan ibu anda misalnya? " Hana bertanya dengan sedikit ragu.
"Karena pernikahan itu bukan hanya menyatukan 2 orang, tapi menikah itu menyatukan 2 keluarga. Jika salah satu dari orang terdekat anda tidak bisa menerima saya dan keluarga saya, mungkin itu yang akan menjadi kendala, dan Hana hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Karena pernikahan bukanlah suatu yang yang bisa dibuat main main" sambung Hana lagi.
Sekarang Daffa memahami kemana arah pembicaraan Hana. Daffa terlalu bersemangat untuk hal ini.
"Apa bapak sudah bertanya kepada orang tua saya saat itu? " tanya Hana.
"Sudah" jawab Daffa "dan mereka menyerahkan keputusan ini kepada kamu" tutur Daffa lagi.
__ADS_1
"Itu artinya, ayah sama ibu merestui kami? " tanya Hana kepada orang tuanya.
"Apa mas Bilal juga seperti itu? " Hana ganti bertanya kepada kakaknya.
"Tentu Han, mas hanya ingin yang terbaik untukmu, jika kamu sudah memutuskan setelah kamu mencari petunjuk, mungkin Daffa adalah yang terbaik untukmu. Jika kamu merasa bahagia dengan pilihan kamu, mas Bilal juga akan bahagia" tutur Bilal.
"Baiklah, sekarang sudah jelas. Tapi ada satu persoalan lagi. Saya ingin pak Daffa kesini melamar saya dengan Sah. Mempertemukan antara orang tua dengan orang tua. Baru Hana akan memberi jawaban dengan pasti" Hana berkata masih dengan menundukkan kepalanya.
"Baik, saya akan segera kesini dengan orang tua saya " jawab Daffa dengan mantap.
"Terimakasih pak Daffa" sahut Hana malu-malu. Sekarang semua orang memandang ke arah Hana yang tersenyum, dan mereka menyadari jika pipi Hana telah merah merona seperti tomat. Itu tandanya Hana sedang menahan malu.
"Oh iya, saya mohon maaf sebelumnya. Hana kamu jangan memanggil saya bapak lagi ya. Saya belum setua itu. Panggil saja saya mas. Seperti saat kita bertemu di bus itu" Daffa meminta
Semua orang diruangan itu terkejut. Ternyata pertemuan Hana dengan Daffa adalah di bus.
melihat keterkejutan itu Daffa menjelaskan, bagaimana iya dan Hana bisa bertemu.
"Dan saya langsung jatuh cinta kepada Hana ketika mengetahui dia terus menundukkan pandangan. Entah apa yang membuat saya seperti itu" Daffa menjelaskan.
Semua orang diruangan itu telah mengetahui seluk beluk bagaimana Hana dan Daffa bisa bertemu. Mereka semua lega karena bisa mengutarakan uneg-uneg nya. Begitupun dengan Daffa. Diakui oleh ayah Hana, bahwa Daffa adalah seorang yang pemberani. Meminang putri orang dengan mendatangi orang tuanya. Bukan malah mengajaknya berpacaran seperti kebanyakan remaja pada zaman sekarang. Itu artinya Daffa mengetahui batasan-batasan kepada yang bukan muhrim. Pak Bahtiar semakin yakin melepas putrinya untuk Daffa.
"Mari dimakan, ini hanya hidangan sederhana. dan hanya itu yang ada! " ayah Hana memecah keheningan. Dan mereka pun memulai makan malam sambil mengobrol ngobrol ringan. Hanya Daffa yang sering mencuri curi pandang dari Hana. Dan setelah selesai, Daffa dan Rey pamit untuk pulang.
"Terimakasih pak Bahtiar sekeluarga, atas jamuannya. Dan saya akan segera membawa orang tua saya kesini" ucap Daffa dengan sopan.
"Sama-sama nak Daffa, terimakasih juga sudah mau berkunjung ke gubuk kami." Jawab pak Bahtiar merendah.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawab Hana sekeluarga
Setelah Daffa dan Rey pergi merekapun membereskan meja. Lalu beristirahat.
TBC
__ADS_1