KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Musibah tak terduga


__ADS_3

Kini Daffa sedang menyusun rencana untuk menjebak Alisa. Iya bisa memanfaatkan ketiga orang suruhan Alisa. Namun iya tak jadi menyuruh Hana untuk berpura-pura. Terlalu beresiko pikir Daffa.


"Kalian pergilah ke tempat dimana Alisa menyuruh kalian. Hubungi dia. Bilang jika kalian sudah menculik Hana" Perintah Daffa.


"Dan kamu Victor, apa yang disuruh Alisa kepadamu, kamu balik lakukan ke dia" Ucap Daffa.


"Baik tuan" Ketiga orang suruhan Alisa mengangguk sanggup dengan rencana Daffa. Mereka segera keluar dengan mengajak seorang gadis suruhan Daffa. Mengikatnya lalu membawanya ke tempat yang di tentukan oleh Alisa. Sedangkan Victor masih terdiam. Dia terlihat memikirkan sesuatu.


"Bagaimana Victor? Apa kamu sanggup? " Tanya Daffa. Victor menatap Daffa. Iya tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba ide licik muncul di pikirannya.


"Baiklah. Saya akan menuruti kemauan anda tuan. Tapi izinkan saya mengambil alat saya dulu" Ucap Victor.


"Kamu bisa gunakan PC yang disebelah sana! Ucap Daffa lalu menunjuk ke sebuah PC. Victor terdiam. Memikirkan sesuatu. Tiba-tiba iya melayangkan vas bunga keramik yang cukup besar ke kepala Daffa. Hana yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mencurigakan Victor. Iya berteriak. Namun teriakan itu terlambat. Vas bunga telah menyentuh kepala samping Daffa. Seketika darah segar mengucur deras. Hana segera bangkit dan mendekat ke arah Daffa. Dengan cepat iya menelpon Rey. Belum sempat telepon diangkat, Victor sudah mendekat dan akan menyentuh Hana. Hana melirik ponselnya. Panggilan sudah dijawab oleh Rey. "Cepat ke sini Rey" Ucap Hana sambil mengibaskan tangan Victor yang hampir menyentuhnya. Tak ada pilihan lain. Iya harus menghadapi Victor.


"Apa maumu? " Tanya Hana dengan khawatir karena Rey tak kunjung datang.


"Apalagi nona, cuma mau bebas lah" Ucap Victor merendahkan Hana.


"Kalau suamimu mati, otomatis aku bisa bebas, iya kan? " Ucap Victor lagi. Hana sudah tak sabar. iya mendaratkan tendangan ke arah Victor. Victor yang belum siap menerima serangan mendadak dari Hana terkejut langsung jatuh. Hana tak membuang kesempatan, iya langsung mendaratkan pukulan ke arah Victor. Dengan gesit Hana terus melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Victor hingga babak belur. Menghajar Victor dengan pukuan dan tendangan yang brutal dan membabi buta.

__ADS_1


"Berani sekali kamu" Ucap Hana sambil menendang Victor yang sudah tak berdaya. Wajahnya terdapat banyak luka. Hana tetap melayangkan tinjunya ke perut, dada dan wajah Victor. Saat sedang melayangkan pukulan, Tiba-tiba pintu terbuka, Rey masuk dengan tergesa-gesa. Iya melihat Daffa menyandarkan kepalanya ke meja, sedangkan Victor tergeletak tak berdaya di lantai.


"Nona, apa yang terjadi" Tanya Rey.


"Cepat bawa Daffa ke rumah sakit. Kepalanya terluka" Ucap Hana sambil berlari ke arah Daffa. Rey segera membopong Daffa dan membawanya ke rumah sakit. Sebelum keluar dari halaman rumah, Hana memberitahu satpam.


"Kalian, cepat ke ruang tengah, urus Victor. Jangan sampai terlepas" Ucap Hana. Setelah selesai berbicara, Rey melajukan mobilnya menuju pusat kesehatan terdekat. Ada sebuah klinik tak jauh dari rumah utama.


"Kita bawa ke klinik dulu pak Rey. Takut jika nanti kehilangan banyak darah" Ucap Hana sambil memegangi Daffa yang tak sadarkan diri. Hana merasa cemas dengan keadaan Daffa.


"Baik nona" Jawab Rey. Setibanya di klinik, beberapa perawat segera membawanya ke ruang UGD. Daffa mendapatkan perawatan terbaik disana. Hana dan Rey menunggu di luar.


"Victor melemparkan vas bunga keramik yang dimeja itu ke kepala Daffa. Mungkin dia berniat untuk kabur setelah Daffa tak sadarkan diri" Jawab Hana singkat.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Daffa, aku tak akan memaafkannya" Gumam Hana. Rey hanya tak habis fikir dengan Hana. Wanita yang biasanya lemah lembut saat berada dalam bahaya akan berubah menjadi seseorang yang menakutkan. Sama seperti karakter Daffa.


Hampir 2 jam Hana dan Rey menunggu. Saat dokter keluar, Hana segera berlari menghampirinya.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? " Tanya Hana cemas.

__ADS_1


"Tenang nona, suami anda sudah terselamatkan. Untung cepat dibawa kesini. Jika tidak suami anda akan kehilangan banyak darah. Kami sudah menjahit semua lukanya. Tinggal memindahkan keruang rawat lalu menunggu sadar" Tutur Dokter.


"Alhamdulillah, terimakasih dok" Ucap Hana.


"Apa sudah boleh menemuinya dok? " Tanya Hana saat dokter akan melangkah pergi.


"Silahkan nona, tapi satu orang saja ya. Pasien butuh istirahat" Ucap Dokter. Hana pun mengangguk dan dengan cepat menemui suaminya. Iya menatap suaminya yang terbaring tak sadarkan diri diatas brankar klinik. Iya menggeser kursi lalu duduk disamping Daffa.


"Mas, bangun" Ucap Hana, tak terasa air matanya menetes. Tangannya tak mampu diangkat walau sekedar menyeka air mata yang mengalir. Hana terisak di samping Daffa sambil memeluk tangan Daffa. Tiba-tiba pintu bangsal terbuka. Mertua Hana masuk dan mendapati putranya yang tak sadarkan diri. Diikuti Rey yang melangkah dibelakangnya.


"Sayang, Daffa pasti ngga akan kenapa-kenapa" Ucap mama mertua Hana.


"Tapi ma, dari tadi mas Daffa ngga sadar-sadar. Hana takut ma, Hana takut" Ucap Hana sambil memeluk mamanya.


"Kamu tenang ya, Daffa pasti bisa melewati semuanya" Hibur papa mertua Hana, Iya merasa menantunya membutuhkan banyak dukungan.


"Rey, pindahkan Daffa ke rumah sakit yang lebih bagus" Ucap tuan Aji.


"Baik tuan besar, saya akan mengurus semuanya terlebih dahulu" Ucap Rey lalu melangkah meninggalkan ruangan dimana Daffa di rawat. Tak lama setelahnya, iya kembali bersama beberapa perawat. kemudian perawat itu mendorong brankar Daffa dan membawanya keluar. Mengantarkan Daffa ke rumah sakit yang ditunjuk oleh tuan Aji.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2