KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Kesedihan


__ADS_3

Setelah kembali dari pemakaman, Daffa mengajak Hana menuju kamar. Daffa mendudukkan Hana di ranjang yang kini sudah dirubah ukuran menjadi king size beberapa hari sejak Hana menikah. Daffa mendekatkan diri ke Hana yang terdiam. Segera memeluknya untuk mengurangi rasa sakit dihati istrinya. Dengan perlahan Daffa mengecup pucuk kepala Hana.


"Sayang, kita bersihin badan dulu ya, ini sudah malam. Setelah itu kamu bisa istirahat" Ucap Daffa. Hana menurut dengan perkataan suaminya. Iya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Daffa mengikuti dari belakang. Mereka mandi bersama karena Daffa masih terlalu khawatir dengan keadaan Hana. Begitu selesai bebersih, mereka naik ke atas ranjang untuk istirahat. Sebelum bisa memejamkan mata, mata Hana kembali berkaca-kaca. Daffa dengan erat memeluk istrinya.


"Sayang, semua sudah Kehendak Allah. Kita harus ikhlas. Hanya do'a yang diinginkan ibu dari kita semua. Kamu harus kuat, masih ada mas, ayah, mas Bilal, mama pada dan yang lain" Daffa menasehati istrinya. Iya hanya bisa menenangkan istrinya lewat kata-kata. Padahal suasane duka masih menyelimuti hatinya. Entah apa mungkin karena kelelahan, Dalam derai air mata yang masih terlihat disudut mata Hana, Hana perlahan terpejam. Daffa memandang wajah Hana yang sembab karena banyak menangis. Setelah dipastikan Hana benar-benar tidur, Daffa merangkak turun dari ranjang. Iya membuka pintu dengan pelan. Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Daffa menengok kebawah. Masih ada beberapa orang yang belum tidur. Ternyata Fariz masih ada di sini. Dan Bilal terlihat meluruskan punggungnya di sofa. Daffa berjalan menuruni tangga dan bergabung dengan mereka. Bilal terlihat melamun.


"Fariz, kamu belum pulang? " Tanya Daffa pelan menghampiri sepupunya.


"Belum Daf, Nadia masih nemenin mbak Rani" Jawab Fariz.


"Kamu istirahatlah Fariz, disana ada kamar tamu" Ucap Bilal setelah menyadari kedatangan Daffa.


"Kamu istirahat saja. Aku mau bicara sama Mas Bilal" Ucap Daffa. Karena saking ngantuknya, Fariz pun menurut. Iya tidur di kamar tamu.


"Ada apa Daf? " Tanya Bilal sambil membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"Bagaimana semua ini bisa terjadi mas? " Tanya Daffa kepada kakak iparnya. Bilal pun terdiam, iya menitikkan air mata lagi namun segera dihapusnya sebelum bercerita.


"Aku juga ngga tahu Daffa, sebelum mahgrib tadi, ada seseorang dengan nomor tak dikenal menghubungiku. Tadi aku masih di tempat latihan. Dia mengabarkan jika ayah sama ibu kecelakaan dan sudah dibawa ke rumah sakit. Saat itu pun aku segera pergi dengan buru-buru menuju rumah sakit. Ternyata ibu sudah tak bisa diselamatkan karena kehilangan banyak darah. Sedangkan ayah dalam keadaan kritis. Ayahpun sama juga kehilangan banyak darah. Namun masih bisa bertahan. Begitu sampai dirumah sakit alhamdulillah masih ada stok beberapa kantong darah yang cocok dengan golongan ayah, makanya ayah selamat. Sedangkan ibu meninggal saat dalam perjalanan ke sini" Ucap Bilal menceritakan sambil menahan air matanya, hatinya terasa kebas.


"Lalu yang menabrak bagaimana kak? " Tanya Daffa lagi.


"menurut seseorang di sekitar yang melihat kejadian itu, penabrak menggunakan mobil berwarna hitam. Tapi dia tidak memperhatikan plat mobilnya karena keburu tancap gas, kebetulan saat itu sedang sepi. Kemungkinan kita akan sulit untuk mengetahuinya" Jawab Bilal.


"Kita pasti bisa menemukan orang tersebut mas. Nanti kita akan mengurus semuanya. Orang itu harus membayar semuanya" Jawab Daffa. "Sekarang mas istirahat dulu ya. Mas Bilal bersihkan badan. Besok akan ada penyelidikan. Boleh bersedih, tapi harus memikirkan kondisi mas Bilal sendiri" tutur Daffa. Bilal tersenyum di dalam kegetiran hatinya. Iya bangkit dari duduknya lalu menuju kamar mandi. Membersihkan diri. Setelah selesai ita melaksanakan sholat isya. Bilal keluar masih dengan mata sembabnya. Dan ternyata Daffa masih ada disana.


"Kamu ngga tidur? " Tanya Bilal.


"Tidak apa-apa kah Rey yang menunggu ayah? " Tanya Bilal merasa sungkan.


"Mas tenang saja. Yang penting ayah ada yang menemani, sekarang kita istirahat dulu. Besok pagi kita kerumah sakit" Tutur Daffa.

__ADS_1


"Tapi aku mau kerumah sakit Daffa. Aku takut ayah semakin sedih" Bilal mengatakan kekhawatirannya.


"Mas, sudah ada Rey disana. Ayah juga sudah diberi obat penenang oleh dokter. karena tadi kata Rey ayah diam saja dan terus menangis, makanya dokter takut ayah akan semakin parah. Dokter memberikan obat penenang agar ayah bisa istirahat, dan sekarang ayah sudah tidur mas. Mas perlu istirahat supaya tidak sakit. Insya Allah ayah akan baik-baik saja" Ucap Daffa. Akhirnya Bilal setuju. Iya kembali ke kamar. Disana Rani ternyata belum tidur dengan ditemani oleh Nadia. Sedangkan Daffa kenbali ke kamar.


"Emm, Nadia kamu tidur disini saja. Saya akan tidur diluar. Sudah malam. Tolong temani istri saya ya" Ucap Bilal.


"Mas tidur dimana? " Tanya Rani.


"Dikamar sebelah" Jawab Daffa.


"Emm, biar saya saja yang tidur disebelah. Sepertinya mbak sama mas saling membutuhkan" Ucap Nadia. Dan dia langsung beranjak dan masuk ke kamar sebelah.


"Istirahatlah mas" Ucap Rani. Bilal merangkak naik keatas ranjang. Menyandarkan kepalanya di paha Rani.


"Mas yang sabar ya. Kita semua telah kehilangan ibu" Ucap Rani sambil terisak, air matanya menetes membasahi pipi dan jatuh ke wajah Bilal. "Semua sudah kehendak, sudah takdir dari Allah Ran, kita harus bisa merelakan kepergian ibu. Supaya ibu bisa tenang. Hanya do'a yang diharapkan ibu dari anak-anaknya. Bukan air mata. Bersedih boleh, tapi jangan berlebihan. Semua yang bernyawa memang merasakan mati. Tinggal menunggu waktu saja. Kita harus mendo'akan yang terbaik untuk ibu" Ucap Bilal. Iya sebenarnya juga menahan gejolak kesedihan dalam hatinya. Namun sekuat hati pula ya menahan. Rani memeluk suaminya. Berbaring disamping suaminya. tak lama merekapun terlelap. Bilal memeluk Rani dan mendekat kepada Yusuf.

__ADS_1


Sedangkan di rumah sakit, Rey menunggu pak Bahtiar. Iya menemani pak Bahtiar disampingnya. Menguatkan hati mertua dari tuan sekaligus saudaranya. Sekitar pukul 11 tadi, dokter memberikan obat penenang kepada pak Bahtiar yang tak henti menangis. Dokter takut jika kesedihannya akan menghambat penyembuhan. Makanya dokter segera bertindak supaya pak Bahtiar bisa istirahat. Rey pun berbaring di sofa, iya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena seharian ini dia tak beristirahat. Hingga kini pukul 1 lwbih iya baru bisa beristirahat. Sebelum tidur, Rey membuka ponselnya. Mencari-cari sesuatu. Rey meretas cctv dimana ayah dan ibu mertua Daffa kecelakaan. Namun hasilnya nihil. kejadian itu jauh dari jauh jari jangkauan cctv. Rey belum bisa berbuat apa-apa karena belum da informasi masuk. Iya menutup ponselnya dan meletakkan di atas meja. Iya mulai memejamkan matanya untuk istirahat.


TBC.


__ADS_2