KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Musibah orang tua Hana


__ADS_3

Daffa bersiap untuk melakukan meeting dengan susemi Grub. Iya meninggalkan Hana diruangannya sendiri.


"Sayang, kalau ada apa-apa segera telpon mas ya. Jangan nunggu mas balik" Ucap Daffa berpesan sebelum meninggalkan istrinya.


"Iya mas" Jawab Hana. Daffa mendekat lalu mencium Hana singkat. Hana tetap merasa malu meskipun Daffa sering menciumnya didepan orang lain. Pipi Hana memerah.


"Mas, ada Rey" Ucap Hana pelan menahan malu.


"Ngga apa sayang, biar jomblo itu iri" Ucap Daffa asal sambil melirik ke arah Rey. Rey yang merasa pun hanya berpura-pura tak mendengar. Daffa berjalan dengan santai saat melewati Rey. Tak merasa bersalah sedikitpun selalu mengejek Rey dengan sebutan jomblo. Tiba-tiba...


"Mas, nanti kalau Fariz balik kesini tanpa Nadia, Hana tunggu diluar saja boleh. Ngga enak kalau cuma berdua sama Fariz" Hana berdiri dari kursinya. Iy lupa jika Fariz sedang keluar.


"Iya sayang, tapi kalau sama Nadia, kamu tetap disini aja ya, jangan kemana-mana" Ucap Daffa.


"Oke" Hana tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapapun iya bekerja. Hampir satu jam lamanya, Hana sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Iya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Melelahkan sekali" Hana bersandar di kursi kerjanya sambil memejamkan mata. Tiba-tiba tab nya berbunyi. Sepertinya notifikasi penting. Iya segera mengambilnya dan memeriksa notifikasi apa yang masuk. Saat membuka notifikasi tersebut, Hana memeriksa dengan detail. Sebuah email dari seseorang tak dikenalnya. Victor Abigail.


"Siapa ini? " Tanya Hana penasaran. Iya segera membuka profilnya. Mengecek dengan detail keseluruhan. Setelah tahu, itu adalah email sebuah tawaran untuk bekerja sama. Hana membiarkan email tersebut tanpa membalas. Hanya membaca lalu menutupnya kembali.


"Siapa Victor Abigail ini. Perasaan, email yang aku gunakan ini hanya beberapa orang yang tahu. Seperti Orang-orang yang tahu tentang system IT. dan hanya seorang peretas yang bisa mengetahui Email ini tanpa ada yang memberitahu. Apa mungkin Victor ini... " Ucapan Hana terhenti memikirkan sesuatu. Iya mengira ada seorang peretas yang mengetahui email rahasianya. Iya segera beralih ke system di tabletnya, Dicarinya nama Victor Abigail dalam sebuah system peretas canggih dalam tabletnya. Diketahui, Victor tinggal disebuah perumahan elit di kota ini dan beberapa informasi lain. Hana terdiam Mencoba mengingat-ingat sesuatu. Namun saat otaknya bekerja keras untuk mengingat, pintu terbuka dari luar. Daffa dan Rey sudah kembali dari meeting.


"Sayang, apa terjadi sesuatu? " Tanya Daffa yang heran karena Hana membuka tabletnya.


"Emm, ngga mas, ini ada notif email masuk dari Victor Abigail. Tapi Hana ngga kenal sama dia" Ucap Hana menunjukkan email di ponselnya. Daffa memeriksa email tersebut.


"Memangnya kenapa sayang, kan hanya email masuk. Apa ada yang mencurigakan? " Tanya Daffa belum mengerti.

__ADS_1


"Emmm, mas tau dunia peretas kan. Email yang digunakan oleh seorang peretas tidak diketahui oleh banyak orang. Hanya orang-orang tertentu yang tahu. Yaitu sesama peretas. Tapi ini Hana ngga kenal sama pemilik acount email itu" Hana menjelaskan.


"Mungkin itu teman nona, coba diingat-ingat lagi" Tutur Rey yang mendengar perkataan Hana.


"Emm, mungkin saja" Hana tak ambil pusing dengan itu semua. Iya menutup tabletnya.


"Pekerjaan kamu sudah selesai sayang? " Tanya Daffa.


"Alhamdulillah sudah mas. Baru saja sekitar setengah jam yang lalu" Jawab Hana.


"Fariz belum juga kembali? " Tanya Daffa. Dan dijawab gelengan oleh Hana.


"Kemana anak itu. Dan si Nadia juga belum kesini? " Daffa bertanya dengan heran. "Ya sudahlah, biarin aja. mungkin belum selesai interviewnya" Daffa berkata sendiri. Iya melepas jas dan meletakkannya di meja. Melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena meetingnya.


Tepat setelah sholat mahgrib, pekerjaan Daffa sudah selesai, Daffa, Rey dan Hana pulang. Dalam perjalanan, Saat itu juga ponsel Hana berdering, pangilan dari kakaknya, Bilal.


"Halo assalamualaikum mas" Jawab Hana.


"Hana, kamu sedang sibuk atau tidak? " Jawab Bilal terdengar cemas.


"Ngga mas, Hana sudah selesai bekerja, ini baru dalam perjalanan mau pulang. Ada apa mas? " Tanya Hana sedikit penasaran karena suara Bilal yang cemas.


"Kamu segera ke rumah sakit Harapan Sehat ya dek! " Ucap Bilal pelan.


"Kenapa mas, siapa yang sakit? Mas Bilal baik-baik saja kan? " Tanya Hana yang juga panik disuruh ke rumah sakit.


"Mas baik-baik saja. Tapi ayah dan ibu dek. Mereka kecelakaan. Kamu cepat kesini ya! " Ucap Bilal menjelaskan.

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un" Ucap Hana cemas. "Bagaiana bisa terjadi mas. Lalu keadaan ayah sama ibu gimana mas? " Hana sangat mengkhawatirkan orang tuanya.


"Kamu cepat kesini ya, nanti mas jelasin disini" Bilal berkata.


"Iya, Hana segera kesana" Hana langsung mematikan panggilan. Daffa yang mendengar sejak tadi membawa Hana dalam pelukannya.


"Sayang, kita kesana sekarang. Mas yakin ayah sama ibu baik-baik saja. Kamu tenang ya" Ucap Daffa menenangkan. Sedangkan Hana tak dapat berkata apa-apa. Iya mengkhawatirkan keadaan orang tuanya.


"Cepat sedikit ya pak. Kita kerumah sakit Harapan sehat" Ucap Daffa denga perasaan yang tak karuan. Iya hanya bisa menenangkan Hana yang menangis dengan memeluknya. Perjalanan sedikit macet. Hana tak sabar untuk cepat sampai. Jarak tak jauh lagi dari Rumah sakit. Tinggal putar balik lalu akan sampai. Namun kemacetan tak bisa di hindari. Hana melihat-lihat keluar dengan perasaan campur aduk.


"Lama sekali sih" Ucap Hana sambil menitikkan air mata.


"Sabar sayang, ini macet" Daffa berusaha menenangkan. "Tenang ya" Daffa menyurih Hana untuk tenang, namun Hana tak bisa setenang itu.


"Mas, itu rumah sakitnya, tinggal nyebrang aja. Hana keluar ya" Hana membuka pintu mobil yang terhenti dalam kemacetan. Tanpa menunggu persetujuan dari Daffa iya langsung keluar dari mobil. Daffa yang tahu Hana turun segera menyusulnya.


"Sayang" Sambil berlari kecil mengejar Hana dan meraih tangannya. Jalanan begitu padat dengan kemacetan yang mengular.


"Tenang sayang, kita kesana bersama. Ayo. Hati-hati" Daffa menggengam tangan Hana dan berjalan bersama menyebrang jalan menuju rumah sakit. Setelah tiba di lobby tumah sakit, Daffa segera menemui petugas resepsionis. Menanyakan tempat ayah dan ibu mertuanya.


"Permisi mbak, bapak Bahtiar permana dan ibu Sholihah ada diruang mana ya? " Tanya Daffa.


"Apa pak bahtiar dan istrinya yang kecelakaan ya pak? " Tanya petugas tersebut. "Benar mbak, dimana"


"Sebentar ya" Petugas tersebut menekan telepon. Menghubungi seseorang.


"Untuk bapak Bahtiar dan ibu Sholihah masih berada di ruang IGD tuan, Itu ruangannya" Ucap petugas tersebut sambil menunjuk sebuah ruangan IGD. Hana pun langsung berlari kesana.Sesampainya di depan IGD, Hana mencari keberadaan orang tuanya. Belum sampai bertemu. Bilal datang menghampiri.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2