
Arsyad yang masih berada diruangan tersebut masih asik memainkan ponselnya. Sedangkan Arsyida juga melakukan hal yang sama. Bedanya Arsyda sedang memainkan game kesukaannya sedangkan Arsyida mendengarkan sholawat melalui headsetnya. Semua orang yang disana masih terdiam. Takut akan melakukan hal apa. Tiba-tiba Arsyad bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Iya mencari lift untuk turun. Begitu melihat lift, iya segera memencet tombol dan masuk. Keduanya berhenti di lantai bawah. Dua pengawal yang setia menemani mereka tetap mengikuti dari kejauhan. Mereka takut jika kedua bos kecil itu tidak nyaman jika mereka terlalu ketat mengawasi.
"Kita mau kemana Arsyad? " Tanya Arsyida.
"Cari tahu, kamu capek? " Jawab Arsyad sambil menoleh.
"Ngga sih... hehe" Arsyida nyengir kearah Arsyad. Lalu berjalan mendahului saudara kembarnya.
"Kamu mau kemana adikku yang cantik, panggil aku kakak ya" Arsyad mengejar Arsyida berjaan tak terlalu cepat. Selanjutnya iya meletakkan satu tangannya di pundak Arsyida. Arsyida yang mendengar perkataan kakak kembarnya memutar bola matanya.
"Iya kakak Arsyad yang terhormat" Jawab Arsyida sambil melepaskan tangan Arsyda di pundaknya.
Diruangan Daffa, Hana memantau kedua putranya melalui CCTV kantor. Sambil bekerja dia sesekali melirik kearah layar monitor. Tampak kedua bocah itu berjalan mengelilingi ruangan. Tiba-tiba Arsyad menghentikan langkahnya. iya mengeluarkan tabletnya lalu duduk disebuah kursi, diikuti oleh Arsyida yang duduk disampingnya.
"Ada apa? " Arsyida bertanya.
"Capek muter mulu" Jawab Arsyida singkat sambil mengotak-atik tablet di genggamannya. Arsyida diam memperhatikan saudara kembarnya.
"Kamu ngapain sih? " Tanya Arsyida penasaran.
"Nanti kamu juga tahu" Arsyad yang pada dasarnya tak banyak bicara hanya menjawab seadannya. Lama Arsyad fokus pada tabletnya, akhirnya dia tersenyum puas.
"Kita keruangan papa ya" Arsyad berkata sambil bangkit dari duduknya. Namun panggilan seseorang menghentikan langkah dua kembar itu.
"Bocah kecil, ngapain kalian disini? " Tanya orang laki-laki dengan penampilan rapi.
"Om siapa? " Tanya Arsyad.
"Apa penting kalian tahu siapa saya. Siapa orang tua kalian berani membawa anak saat bekerja? " Laki-laki itu bertanya dengan sombonya.
"Apa penting om tahu siapa orang tua kami? " Arsyad bertanya balik. Sedangkan Arsyida duduk kembali dikursi yang baru akan ditinggalkannya.
__ADS_1
"Pasti kaya tadi lagi" Gumam Arsyida.
"Kamu itu, kecil-kecil sudah pandai menjawab. Katakan siapa orang tua kalian? " Orang tersebut sedikit membentak.
"Om, lebih baik lanjutin aja kerjanya, jangan gangguin kita" Arsyida berkata dengan mata uang fokus pada ponselnya.
"Kamu juga, masih kecil ngga sopan sama orang tua" Orang tersebut emosi mendengar ucapan Arsyida.
"Om juga, udah tua tapi ngga bisa lemah lembut sama anak-anak" Arsyida menjawab dengan tenang.
"Panggil orang tua kalian, bilang manager departemen keuangan menunggu diruangannya. Biar aku pecat karena bekerja membawa anak" Orang tersebut segera pergi meninggalkan twin setelah seorang wanita berpakaian sexy menghampirinya.
"Sayang, kenapa sih. Ngapain ngurusin bocil-bocil ngga penting seperti mereka. Mending kita keruangan kamu. Aku kangen nih" Ucap wanita tersebut sambil menggandeng tangan lelaki hampir berkepala 4 itu. Selanjutnya mereka pergi keruangan manager departemen keuangan.
"Ini juga perlu diurus sepertinya" Gumam Arsyad.
"Kamu selesaikan masalah ini Arsyad. Aku males ketemu sama orang kaya dia. Ngga baik" Arsyida bangkit dari duduk.
"Katanya mau keruangan papa, ayo" Arsyida berjalan mendahului saudara kembarnya. Selanjutnya Arsyad berjalan setengah berlari mensejajarkan diri dengan saudaranya.
Sedangkan diruangan Daffa, Hana yang sedari tadi bekerja sambil melirik layar monitor sedikit tidak fokus dengan pekerjannya. Iya melihat kedua anaknya berbicara dengan manager departemen keuangan. Iyapun memanggil Daffa.
"Mas, lihat deh. Bukannya itu manager departemen keuangan? " Hana menunjuk layar monitor. Daffa mendekat dan melihat.
"Iya sayang, kenapa mereka berbicara. Coba fokuskan CCTV di satu tempat itu dulu, aku coba dengerin apa yang mereka bicarakan" Daffa mengeraskan volume speaker dan mendengar percakapan antara kedua anak dan manager tersebut. Daffa mengepalkan tangannya mendengar apa yang dikatakan oleh manager keuangan. Selanjutnya emosinya tersulut oleh ucapan wanita yang baru datang.
"Kurang ajar, beraninya mereka" Gumam Daffa. Hana melihat suaminya dengan diam. Lalu iya menyuruh Daffa bersabar.
"Sabar dulu mas, kita tunggu hal selanjutnya. Apa yang akan dilakukan anak-anak" Hana berkata lalu memegang tangan suaminya. Daffa pun diam dan menatap layar monitor sambil mendengar percakapan anak-anaknya.
"Anak-anak akan menjadi orang yang sangat berguna kelak, Insya Allah" Ucap Daffa.
__ADS_1
"Aamiin" Sahut Hana. Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Dua anak kembar mereka masuk lalu duduk di sofa.
"Anak papa dari mana? " Tanya Daffa yang tangannya langsung mematikan speaker. Agar anak-anak tak mendengar. Hanapun segera menutup layar monitor
"Jalan-jalan pa. Papa sama mama tadi dipanggil sama... Emmm sama siapa tadi Arsyad? " Arsyida sedikit lupa bertanya pada Arsyad disampingya.
"Manager departemen keuangan, papa sama mama disuruh ke ruangannya" Arsyad berkata sambil berbaring disofa.
"Oke, kita kesana ya. Sayang kita suruh seseorang untuk ke ruangan manager keuangan dulu ya sama anak-anak. Aku ingin tahu bagaimana sikap sebenarnya manager keuangan kita" Ucap Daffa.
"Papa tenang aja, rekaman Cctv di ruangan itu sudah Arsyad retas pa. Ini" Arsyad menunjukkan sesuatu. Daffa tak sabar ingin menemui manager keuangan karena rekaman yang diberikan oleh putranya. Iya meminta Rey untuk menghubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian, Daffa dan Hana menunggu diluar ruangan manager keuangan. Sedangkan seorang staff dari departemen design datang mengetuk pintu. Saat masuk, staff tersebut mendapat ucapan yang tak enak didengar telinga.
"Oh, jadi mereka anak-anak kamu. Pantas saja kelakuannya tidak mencerminkan orang berpendidikan. Kamu dari staff apa? " Tanya Manager tersebut.
"Saya dari HRD pak" Jawab wanita terswbut dengan nada ketakutan
"Om sayang, pecat sajalah orang-orang kaya dia. Kaya waktu itu om mecat sekertaris om yang bodoh dan ngga nurut itu" Wanita disamping manager itu berkata dengan nada merendahkan.
"Kamu berani sekali membawa anak saat bekerja, dan mereka berkeliaran. Sangat mengganggu kenyamanan. Kamu tahu" Manager tersebut mulai berkata. "Aku kan menghubungi manager HRD untuk memecatmu" Tambah orang tersebut tak tahu jika Daffa dan Hana ada dibalik pintu mendengarkan semuanya.
"Lalu kenapa kamu membawa pelacur ke tempat kerja? " Daffa masuk tanpa mengetuk pintu. Hal tersebut sontak membuat manager keuangan kalang kabut. Arsyad dan Arsyida berlari kearah orang tuanya.
"Mama Papa" Mendengar ucapan kedua anak kecil itu, wajah manager keuangan menjadi pucat dan gemetar.
"Tuan Daffa, Nyonya Hana. Saya bisa jelaskan semuanya" Ucap Manager dengan ada ketakutan.
"Berarti kemarin sekertaris kami pecat karena dia. Dan kamu selalu memanipulasi laporan keuangan perusahaan untuk hal-hal yang tak penting? " Daffa berkata dengan dingin.
"Tuan, tidak seperti itu. Saya bisa jelaskan semuanya" Manager itu tetap bersikukuh menjelaskan.
__ADS_1
"Baik, saya tunggu diruangan saya penjelasanmu. Sayang ayo" Daffa segera keluar dari ruangan itu mengajak anak dan istrinya. Wanita dari staff HRD tersebut segera keluar juga.