KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Singkong Keju


__ADS_3

HPL atau Hari Perkiraan Lahir untuk bayi yang dikandung Hana semakin dekat. Hana semakin deg-deg an menanti hari itu. Baik mama Sarah maupun mbak Rani selalu mensupport Hana supaya tidak takut menghadapi kelahiran bayinya. Hana dan Daffa tak pernah lepas dari do'a.


Malam ini, Daffa terlalu larut pulang dari kantor. Pada pukul 11 iya baru sampai. Saat akan masuk ke rumah, tiba-tiba pintu dibuka dari dalam. Sosok istri yang melangkah keluar segera menyambut Daffa dengan senyumannya. Daffa tahu, pasti Hana sedang menginginkan sesuatu. Daffa segera mendekat dan memeluk istrinya.


"Sayang, belum tidur. Ini sudah malam lo. Lihat jam berapa" Ucap Daffa menggandeng Hana lalu mengajaknya masuk. Namun Hana menarik tangan Daffa dengan tetap berada di tempatnya tanpa melangkah. Daffa menoleh kebelakang.


"Sayang, mau apa? " Tanya Daffa dengan lemah lembut. Hana tersenyum.


"Mau singkong keju" Hana menjawab singkat.


"Baik, sekarang kamu masuk dulu ya. Biar mas carikan" Jawab Daffa sambil berjongkok menyamakan dengan tinggi perut Hana. Iya mengelus perut Hana lalu menciumnya.


"Anak papa, tunggu dulu ya. Biar papa yang nyari. Mama biar dirumah saja" Ucap Daffa berbicara kearah perut Hana. Tiba-tiba saja bayi dalam kandungan Hana menendang. Daffa sangat bahagia karena mendapat respon dari calon buah hatinya yang masih di dalam perut. Hana tersenyum melihat itu semua. Sedangkan Daffa segera pergi keluar rumah untuk mencari apa yang Hana inginkan. Hana mengantarkan Daffa sampai ke teras. Setelah Daffa keluar dari gerbang, Hana segera masuk.


Di dalam mobil, Daffa mengemudikan dengan pelan. Iya melihat lihat sisi kanan dan kiri jalan. Namun belum menemukan penjual singkong keju. Iya menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah restoran. Masuk lalu bertanya. Dan disana ternyata singkong keju telah habis terjual. Daffa mengemudikan mobilnya kembali lalu melihat penjual di pinggir jalan. Lampunya masih menyala dengan terang. Seorang lelaki tua yang menunggu dagangannya di belakang gerobak. Daffa segera menghentikan mobilnya dan menghampiri kakek penjual singkong keju tersebut.


"Permisi kek, apa singkong kejunya masih ada? " Tanya Daffa.

__ADS_1


"Masih tuan, berapa porsi? " Tanya kakek tersebut.


"Satu saja kek" Jawab Daffa sambil memperhatikan kakek penjual singkong keju tersebut. Daffa merasa iba terhadap kakek tersebut. Iya memberanikan diri menanyai.


"Maaf kek, sudah malam seperti ini dagangnnya masih lumayan banyak" Ucap Daffa bertanya.


"Iya nak, ini kakek tadi memang sengaja nunggu sampai malam. Siapa tahu bisa habis" Jawab kakek tersebut dengan tangannya sibuk membalikkan gorengan didalam minyak panas.


"Biasanya pulang jam berapa kek? " Daffa penasaran karena ini sudah tengah malam.


"Biasanya jam 10 kakek sudah pulang nak. Tapi karena kakek sedang butuh tambahan, terpaksa harus sampai malam" Jawab kakek Tersebut dengan raut wajah terlihat sedih. Daffa mengerti kenapa kakek ini berjualan hingga malam seperti ini.


"Istri kakek sakit nak, Biasanya dia juga ikut kakek berjualan, tapi karena sakit, harus menunggu dirumah sampai kakek pulang" Kakek tersebut berkata sambil meniriskan singkong dari wajan. Daffa menatap kakek dengan raut wajah sulit diartikan.


"Istri kakek dengan siapa dirumah? " Daffa terus bertanya.


"Sendirian, anak kakek meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan. Dia anak kedua kakek, anak satu-satunya yang kakek punya dirumah setelah kakaknya pergi merantau, tapi sekarang tak ada kabarnya. Allah lebih sayang kepada anak kakek yang dirumah, Kakek harus bisa mengikhlaskannya" Jawab kakek dengan sedih.

__ADS_1


"Maaf kek" Daffa merasa bersalah karena terus bertanya.


"Tidak apa-apa nak, kakek memang selalu ingat dengan anak laki-laki kakek. Sedangkan anak sulung, kami masih menunggunya" Kakek itu bercerita sambil menyeka air mata yang perlahan mengalir dari pelupuk matanya. Daffa bisa merasakan apa yang kakek ini rasakan.


"Ini nak, pesanannya sudah jadi" Ucap kakek tersebut sambil memberikan bungkusan singkong keju. Daffa menerima bungkusan tersebut. Lalu iya mengeluarkan dompetnya. Iya mengambil seluruh uang yang ada di dompetnya. Daffa jarang memiliki banyak uang di dompetnya. Dan sekarang hanya ada 7 juta dalam dompet serta di mobil. Daffa mengambil keseluruhan lalu memberikan kepada kakek tersebut.


"Nak, harganya hanya 15ribu" Ucap kakek tersebut menolak uang pemberian Daffa.


"Ini rejeki untuk kakek dan istri kakek. Saya hanya minta di do'akan semoga istri saya bisa lahiran dengan selamat dan sehat. Do'akan untuk keselamatan anak dan calon istri saya ya kek" Ucap Daffa. Iya langsung meninggalkan kakek tersebut. Terlihat kakek tersebut meneteskan air mata terharu. Iya bersyukur atas apa yang diberikan oleh pelanggannya tersebut. Namun Daffa yang sudah berada di mobil turun lagi, iya teringat dengan cerita anak sulung kakek itu.


"Kek, kakek punya nomor telepon yang bisa dihubungi? " Tanya Daffa. Kakek tersebut mengangguk dan merogoh sakunya. Terlihat ponsel butut yang ia pegang.


"Boleh saya minta nomornya? " Daffa berkata. Kakek tersebut memberikan ponselnya kepada Daffa. Daffa memencet nomornya di ponsel kakek tersebut. Sangat sulit. Keypad ponsel tersebut sangat keras. Setelah selesai, Daffa segera mengembalikannya.


"Kakek segera pulang ya, tidak baik angin malam untuk kesehatan kakek. Dan segera bawa istri kakek ke dokter. Semoga lekas diberi kesembuhan, saya pamit dulu" Ucap Daffa sambil melangkah. Iya mengemudikan mobilnya sedikit cepat karena takut sang istri menunggu. Sedangkan kakek penjual singkong keju itu segera berkemas untuk pulang. Iya sangat senang karena ada orang sebaik Daffa. Iya pulang dengan perasaan gembira.


Daffa menghentikan mobilnya tepat didepan pintu rumah. Iya segera turun dan mencari Hana. Terlihat istrinya telah tertidur di sofa ruang tamu. Daffa yang melihat segera membangunkannya. Namun Hana tak kunjung bangun. Akhirnya Daffa mengangkat tubuh Hana dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2