
Adzan subuh berkumandang. Hana membuka matanya pelan-pelan. Pinggang dan perutnya terasa berat seperti tertindih sesuatu. Iya melihat bahwa itu adalah tangan Daffa. Hana tak habis fikir dengan Daffa. Bagaimana mungkin iya menyusul Hana untuk tidur dibawah. Padahal Hana sudah mengalah. Hana membangunkan Daffa pelan.
"Mas, mas Daffa bangun" ucap Hana sambil menggoyangkan lengan Daffa. namun Daffa malah mengeratkan pelukannya. Dengan mata terpejam iya menjawab.
"Sebentar lagi sayang. Biarkan seperti ini dulu"
"Tapi sudah adzan subuh mas"
"Iya mas tahu. Tapi bolehkan sebentar lagi seperti ini?" tanya Daffa sedikit manja. Hana pun hanya menurut.
Tanpa sadar, Hana memejamkan matanya kembali. Hingga sayup-sayup Hana mendengar suara qiro'ah. Hana yang masih tertidur pun langsung membuka matanya. Iya kaget karena Daffa sudah mengenakan sarung dan kopiah, serta sudah menunggu disampingnya.
"Mas Daffa" Hana sedikit kaget
"Kenapa sayang, nyenyak banget ya tidurnya. Dibangunin sampai ngga dengar? " kata Daffa
"Mas Daffa bangunin Hana, kok Hana ngga denger ya?" ucap Hana.
"Kamu tidur pules banget sayang, apa karena di peluk sama mas ya. Jadi nyaman" goda Daffa
Hana yang mendengar pun menundukkan wajahnya, pipinya bersemu merah karena malu.
"Hana mau ambil wudhu dulu ya" Hana mengalihkan pembicaraan.
"Iya, mas tunggu ya" sahut Daffa.
Setelah Hana kembali dari mengambil wudhu, mereka sholat berjama'ah.
"Hana keluar dulu ya mas Daffa" tutur Hana lirih sambil melipat mukena.
"Iya, mas mau mandi dulu" jawab Hana sambil melayangkan kecupan kecil di pipi Hana. Hana yang terkejut pun langsung memegang pipinya.
"Jangan marah, masih pagi. Dan setiap saat kamu harus terbiasa dengan hal yang seperti ini sayang" kata Daffa
"Ehh... Iy Iya mas. Hana keluar dulu ya" berlalu sambil mengenakan hijab instannya.
Di Dapur, mbak Rani dan ibu Sholihah sudah berkutat dengan masakan. Mereka mempersiapkan sarapan untuk keluarga besarnya. Hana yang baru datang menyapa kakak ipar dan ibunya.
"Masak apa bu hari ini?" Tanya Hana basa basi
"Masak sarapan penuh cintaaa" sahut mbak Rani sengaja menggoda Hana.
"Cinta mana bisa dimasak mbak? " Hana menanggapi dengan cadaan pula.
__ADS_1
"Hahaha. Cie pengantin baru, baru bangun" mbak Rani tetap menggoda
"Rani, jangan goda adikmu terus, nanti ngambek repot lo" ibu Sholihah menimpali perkataan menantunya.
"Hehee, habis seneng aja bu godain adik ipar yang cantik ini" Rani memasang senyuman maut kepada Hana
"Bu, mbak Rani mah suka gitu sama Hana" Hana berpura-pura cemberut.
"Jangan marah, nanti cantiknya hilang. Ketinggalan di kamar" sahut mbak Rani lagi.
"Hahahha mana ada juga cantik ketinggalan di kamar. Yang ada ketinggalan di wajah kali mbak" jawab Hana sambil tertawa.
"Sudah sudah, jangan pada berantem di dapur. Sana pada antar kopi suami kalian, ini sekalian punya ayah! " kata bu Sholihah menengahi. Hana dan mbak Rani pun masing-masing mengantar kopi ke suaminya.
Ternyata Daffa, Bilal dan ayah Hana sudah duduk sambil mengobrol. Mbak Rani yang melihatpun memberikan kopi Bilal untuk diantar Hana. Dan hana segera berlalu pergi tak ingin mengganggu mereka.
Hana kembali ke dapur berniat untuk membantu ibu dan kakak iparnya memasak.
"Han, sana siap-siap, sudah setengah enam lo. Kamu ngga kerja? " tanya ibunya.
"Kerja bu" jawab Hana.
"Ya sudah sana siap siap, nanti Daffa nungguin lagi! " bu Sholihah menyuruh Hana.
"Iya deh" Hana beranjak dari dapur menuju ke kamar untuk bersiap siap.
Hana yang sudah selesai bersiap keluar kamar. Segera berlalu ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan. Setelah sarapan sudah siap di meja makan, ibu Sholihah memanggil suami, anak dan menantunya untuk segera sarapan. Mereka sarapan dalam satu meja dengan disertai obrolan obrolan ringan.
"Daffa, nanti kalau Hana merepotkan maaf ya" kata bu Sholihah.
"Insya Allah tidak bu" jawab Daffa disertai senyuman.
"Rencanamu mau tinggal disini dulu atau langsung ikut suamimu han? " Tanya ayah
"Kalau Hana masih ingin di sini tidak apa apa yah, kan ayah sama ibu masih kangen sama Hana. Hana baru pulang, dan sekarang sudah saya minta" tutur Daffa.
"Kalau sudah menikah, kan tanggung jawab suami, lebih baik ikut suamimu Han. Kan kalau mau kesini setiap waktu bisa. Dekat juga kan" tutur Bilal menasehati adiknya.
"Hana nurut bagaimana baiknya saja" jawab Hana singkat.
"Nanti mas Bilal sama mbak Rani juga mau pulang dulu, kasihan ayah dirumah sendirian" Bilal menjelaskan. Rani selama ini tinggal bersama ayahnya saja. Karena ibu Rani sudah meninggal saat Rani masih kecil.
"Iya kak, kasihan paman kalau ditinggal sendirian" sahut Hana
__ADS_1
"Iya, orang tua itu penting" sahut ayah
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya yah, bu. Insya Allah, Kapan kapan kita kesini lagi" Rani berbicara.
"Iya Ran, jaga ayah kamu baik-baik ya" tutur ibu.
"Iya bu" jawab Rani sambil meraih tangan ibu mertuanya dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati Bilal, Rani" ayah menambahkan
"Iya yah, Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam" jawab yang dirumah serempak.
setelah Bilal dan Rani pergi, Daffa pun juga berpamitan untuk berangkat. Hana mengikuti Daffa.
"Ayah, Ibu kami berangkat kerja dulu ya" kata Daffa sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Hati-hati ya Daffa, Hana" kata ibu.
"Iya bu, Assalamualaikum" pamit mereka berdua.
"Wa'alaikumsalam"
Hana dan Daffa berangkat dengan diantar oleh pak Andi, sopir keluarga Daffa. Sedangkang Bilal dan Rani serta Yusuf mengendarai mobil sendiri. Rumah Hana tampak sunyi kembali. Bu Sholihah dan pak Bahtiar masuk ke rumah.
Dimobil, Daffa memeriksa hpnya. Ada beberapa E-mail masuk. Daffa fokus dengan gawainya. Sementara Hana melihat keluar jendela.
"Sayang, sebentar ya. Aku ngecek e-mail dulu" Kata Daffa lembut
"Iya mas, tidak apa-apa" jawab Hana
Tak lama kemudian, Mobil akan memasuki kawasan kantor.
"Mas, nanti aku turun di gerbang saja ya" pinta Hana
"Kenapa sayang? " tanya Daffa heran dengan permintaan Hana
"Hana malu mas, belum terbiasa" tutur Hana lirih.
"Kalau begitu harus dibiasakan dari sekarang" balas Daffa sambil mencium pipi hana.
"Mas, kan ada orang lain disini" Hana melotot tak percaya dengan tingkah Daffa.
__ADS_1
"Tidak apa sayang" jawab Daffa santai. Padahal Hana sudah menahan malu. Akhirnya Daffa tak mengizinkan Hana turun di gerbang. Pak Andi menurunkan mereka di lobby. Daffa dengan santai menggandeng tangan Hana saat mereka berjalan. Tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
TBC...