
Fajar menyongsong, kumandang adzan terdengar menggema diseluruh penjuru kota. Hana terbangun dari tidurnya. Dalam pelukan Daffa yang erat, iya merasakan sebuah ketenangan. Namun sesaat iya teringat akan almarhum ibunya. Perlahan air matanya menetes. Iya terisak tanpa mengeluarkan suara. Hanya isakan yang iya tahan Alhasil suara sesenggukan perlahan didengar oleh Daffa. Iya terbangun mendapati sang istri yang terdengar pilu dalam tangisnya.
"Sayang, sudah bangun" Ucap Daffa dengan suara khas bangun tidur. Iya segera bangkit dan menggenggam tangan Hana.
"Mas" Hana kembali terisak, iya memeluk Daffa dengan erat.
"Sayang, ayo bangun, kita wudhu dan sholat subuh" Ajak Daffa. Segera Hana mengikuti Daffa menuju kamar mandi. Setelah selesai, mereka keluar dan melaksanakan sholat berjamaah. Saat sudah selesai, Hana terdiam. Rasa sesak didadanya membuancah. Daffa yang tahu akan hal itu segera menarik Hana dalam pelukan. Hana memandang Daffa penuh makna. Daffa membalas tatapan Hana dengan ciuman di kepalanya.
"Sayang, dengerin mas ya, dengerin mas. Kita ini hidup ada yang menghidupkan. Dan ketika yang menghidupkan kita meminta kita untuk kembali, kita bisa apa. Ibarat kita dipinjami mobil, saat mobil itu diambil oleh yang punya, kita harus merelakan" Nasehat Daffa.
"Sekarang ibu sudah tenang. Allah lebih mengasihi ibu daripada kita. Kita harus rela. Kita harus ikhlas atas semua kehendak Allah. Lihat mas Bilal. Dia terlihat kuat menghadapi semua ini. Lihat ayah. Dia berjuang untuk sembuh demi kita semua. Kamu ngga sendirian. Masih ada mas disamping kamu. Ada keluarga yang mendukung kita. Kita semua sedang berduka. Mas tahu perasaan kamu sayang. Tapi tolong, jaga diri kamu juga. Demi diri kamu sendiri atau paling tidak juga demi mas, suami kamu" Ucap Daffa pelan. Iya selalu menemani Hana. Tak ingin melepaskan atau meninggalkan sebentar saja. Iya tahu saat ini istrinya sedang membutuhkannya.
"Makasih ya mas, mas pengertian ke Hana" Ucap Hana sedikit tenang dengan penuturan Daffa. Iya melepaskan pelukan Daffa.
"Kita turun ya" Ucap Daffa. Hana mengangguk setuju.
Saat menuruni tangga, terlihat Bilal yang berjalan dari kamar masih menggunakan sarungnya. Sepertinya baru selesai melaksanakan sholat. Iya menoleh ke arah tangga saat mendengar langkah kaki.
"Hana, Daffa. Kalian ngga istirahat lagi. Ini masih pagi. Tidurlah istirahat lagi. Kalian pasti capek" Ucap Bilal.
"Sudah cukup mas istirahatnya" Jawab Hana.
"Kita duduk disana ya" Ucap Bilal sambil menunjuk sofa. Dan merekapun berjalan menuju sofa dan duduk bersama.
"Hana, mas tahu semua ini berat, tapi tolong ya ikhlasin kepergian ibu, semua sudah Allah rencanakan. Jodoh, rezeki dan maut semua sudah ditangan-Nya. Kapan, dimana dan dengan cara apa kita akan menemui semua itu tak ada yang tahu. Kita boleh bersedih, tapi sepantasnya saja" Ucap Bilal menasehati adiknya.
"Iya mas, maafin Hana" Ucap Hana menunduk. Daffa tersenyum melihat istrinya.
"Tapi Hana bakal nyari pelakunya mas. Sudah ada petunjuk dari kantor polisi? " Tanya Hana.
"belum dek. Nanti setelah 7 hari ibu, kita bakal ngurusin ini. Tidak pantas jika kita sibuk mengurusi hal ini sementara makam ibu masih basah" Bilal berkata menuturi adiknya.
"Iya mas, Hana ngerti" Jawab Hana.
"Mas mau kerumah sakit. Rey harus kerja kan? " Tanya Bilal.
"Iya mas, biar Daffa yang disini" Jawab Daffa.
__ADS_1
"Mas Daffa ngga kerja? " Tanya Daffa.
"Nanti saja, kalau Rey mengabari ada yang penting mas akan berangkat" jawab Daffa. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Hana, Daffa dan Bilal menoleh. Ternyata Nadia keluar, disusul oleh Fariz dari arah berlawanan. Mereka berjalan menuju ke sofa.
"Sudah bangun kalian" Ucap Daffa.
"Maaf aku bangun terakhir" Ucap Fariz.
"Eemm, kalian lanjut dulu ya, aku harus kerumah sakit" Ucap Bilal. Disaat yang bersamaan, Rani datang dari arah dapur membawa bungkusan. Sepertinya bekal makanan.
"Mas ini bekalnya" Ucap Rani.
"Taruh di mobil ya dek, mas mau ganti baju dulu" Jawab Bilal. Rani mengangguk dan berjalan ke arah garasi mobil di luar pintu. Bilal juga pergi ke kamar untuk ganti baju.
Di sofa, Daffa dan yang lain membicarakan sesuatu.
"Hana, kamu kan bisa meretas, coba kamu retas cctv di sekitar tempat kecelakaan. Siapa tahu ada petunjuk" Ucap Fariz.
"Tapi kita tidak tahu detail tempatnya. Aku semalam juga berfikiran seperti itu. Disekitar sana pasti banyak cctv. Tapi kita perlu mengadakan survei terlebih dahulu. Aku tidaj hafal secara keseluruhan" Jawab Hana.
"Kalau begitu kita kesana saja" Fariz mengimbuhi. Tiba-tiba Bilal dan Rani datang.
"Begitu juga boleh" Daffa menimpali.
"Itu dibahas nanti dulu, sekarang ayo kita sarapan dulu" Ucap Rani. Semua mengangguk dan berjalan ke meja makan untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, Bilal segera meluncur ke rumah sakit.
"Mas Bilal, hati-hati ya" Ucap Rani sambil mencium punggung tangan suaminya.
"Kamu baik-baik ya dirumah" Balas bilal mengelus pucuk kepala Rani. "Iya mas" Rani mengangguk. "Abi! " Yusuf berlari dari dalam memanggil Bilal, dari belakang terlihat Daffa dan yang lain mengikuti.
"Jagoan abi, sini" Bilal memanggil Yusuf dan mengangkat Yusuf dalam gendongannya
"Iya abi. Abi hati-hati ya" Ucap Yusuf.
"Siap" Ucap Yusuf.
__ADS_1
"Abi berangkat dulu ya nak, Assalamualaikum" Pamit Bilal.
"Wa'alaikumsalam wr wb" Ucap semua yang hadir disana.
Setelah Bilal berangkat. Semua kembali ke dalam.
"Mas ngga berangkat beneran? " tanya Hana.
"Mas mau nemenin istri mas yang cantik ini" Daffa berkata sambil duduk di sofa kembali. Samar-samar terdengar Yusuf bertanya pada umminya.
"Ummi, kakek dimana. Katana mau ajak yusuf jalan-jalan. Kok ngga ada" Tanya Yusuf pada umminya.
"Sayang, kakek sedang ada urusan sebentar. Nanti kalau sudah pulang bisa jalan-jalan sama Yusuf" Ucap Rani. Hana yang mendengar pun segera menemui keponakannya.
"Tante Hana" Yusuf pun berlari kearahnya.
"Iya sayang, ada apa? " Tanya Hana.
"Nanti tolong bilang sama kakek ya, Yusuf mau jalan-jalan" Ucap Yusuf.
"Iya sayang, pasti. Nanti tante bilang sama kakek ya" Jawab Hana.
"Kalau nenek biar masak sama ummi. Kakek jalan-jalan" Yusuf masih trus berceloteh dengan kepolosannya. Membuat Hana merasa terharu. Iya memeluk Yusuf.
"Hana, kamu kedepan aja ya. Biar aku yang ngajak yusuf" Ucap Rani. Hana mengangguk dan segera berjalan menemui suaminya didepan.
"Nadia, bagaimana interview nya? " Tanya Jana basa-basi.
"Kata pak Dio suruh nunggu panggilan nona" Jawab Nadia.
"Ya ampun, HRD kamu gitu amat Daffa" Sela Fariz.
"Itu memang prosedurnya" Jawab Daffa. "Kalau gitu, selama kamu disini, dan aku sam Hana ngga kekantor, kamu ajak saja Nadia ke kantor dan kamu ajari, bagaimana? " Usul Daffa.
"Setuju, ayok Nad, kita ke kantor" Ucap Fariz sambil berdiri dan melangkah.
"Bantuin juga kerjaan Rey" Ucap Daffa lagi.
__ADS_1
"Beres" Fariz terus berlalu. Daffa menggelengkan kepala melihat keanehan saudara sepupunya itu.
TBC.