
Hana menggeser duduknya semakin mendekat ke Daffa. Begitupun Bilal dan Rey. Mereka berdua berada di belakang Daffa dan Hana dibelakang sofa. Memperhatikan Baik-baik apa yang terputar di laptop Smith. Daffa memperhatikan sekali lagi. Hampir satu jam video tersebut diputar.
"Smith, dari semua video ini, mobil hitam itu yang menjadi fokus utama. Apa benar itu pelakunya? " Tanya Daffa.
"Perkiraan saya iya benar Tuan Daffa. Saat mobil itu berhenti tepat di dekat Tuan Bahtiar dan Almarhumah keluar dari masjid tadi. Terus saat korban menyebrang, mereka harus putar balik karena sepeda motor tak bisa langsung kearah sebrang sana. Dan di lokasi kecelakaan sedikit jauh dari dari lampu merah. Namun pelaku tak sadar jika di jalan yang iya lewati ada banyak cctv dari teras toko-toko atau tempat yang lain. Dia beraksi tepat di detik ini. Lihat jalur yang dilewati mobil hitam ini dari awal" Jelas Smith melacak setiap langkah mobil itu.
"Apa bisa dibuktikan Smith? " Tanya Bilal.
"Sangat bisa mas Bilal. Setelah beberapa kali saya mengamati mobil itu, saya mengeceknya. Ternyata pemiliknya bernama Kurniawan" Ucap Smith.
"Atau, kita panggil saksi yang melihat kecelakaan waktu itu? " Ucap Smith kembali.
"Berarti kita harus memanggilnya. Apa mas Bilal ada kontak yang bisa dihubungi? Tanya Daffa.
"Ada. Kebetulan kemarin pas di kantor polisi mas minta, Mau dihubungi sekarang? " Tanya Bilal.
__ADS_1
"Iya mas, tanya saja alamatnya dimana, nanti biar dijemput" Tutur Daffa.
"Ya sudah, biar aku hubungi dulu" Jawab Bilal sambil menghubungi saksi tersebut. Setelah berhasil menghubungi orang tersebut. Smith meneruskan tentang pelacakannya.
"Lanjut ya, ini ada beberapa data tentang pemilik mobil tersebut. Ada alamat rumah serta nomor ponsel. Email yang digunakan. Semua sudah lengkap. Dan saya juga sudah mengecek satu persatu. Mobilnya pada hari itu melaju ke beberapa tempat dan saat jampir mahgrib dia berada ditempat yang saya sebutkan tadi, ponsel yang digunakan merk XYZA type 0101C5. Posisi berada di kota ini. Ini hasil pemeriksaan terhadap ponselnya" Smith menyerahkan semua data yang berada ditabletnya. Daffa dan Hana memeriksa.
"Ini semua ada data panggilan keluar masuk serta tak terjawab. Ini pesan yang masuk. Dan ini aplikasi hijau beserta semua chat, vc dan panggilan. Ini sharelok yang dia tuju" Smith menjelaskan dengan detail tentang semuanya. Daffa dan semua yang berada diruangan itu hanya tertegun melihat keahlian Smith. "Pantas saja nona Hana sepintar itu. Ternyata gurunya saja seperti ini" Batin Rey dibelakang Daffa.
"Boleh saya lihat semua data pesan dan panggilannya? " Tanya Daffa. Dan... 'Tok tok tok' Pintu diketuk dari luar. Mereka saling pandang. Sebelum akhirnya Rey melangkah menuju kearah pintu. Ternyata orang suruhan Rey sudah kembali dengan membawa seorang pemuda yang tak Rey kenal.
"Maaf tuan, kami menganggu. Ini orang yang tuan cari, Victor" Ucap seseorang diantara mereka.
"Kamu antarkan dia ke ruang kejujuran, dan kembalilah kesini lagi. Urusan kita disini belum selesai" Bisik Daffa. Rey mengangguk dan langsung berjalan keluar.
"Kita lanjutkan lagi Smith. Biar tamunya diurusi sama Rey" Ucap Daffa. Daffa mengambil tablet tersebut lalu memeriksanya.
__ADS_1
"Biasanya data penting pasti tidak dihapus. Kita periksa seluruh data chat dulu" Hana berucap. Lalu perlahan mereka membuka data chat. Belum ada yang mencurigakan. Hampir setengah jam memeriksa semua chat, Namun Daffa membaca salah satu nama kontak "Tuan Muda Yuda? Siapa ini? " Gumam Daffa sambil membuka chat tersebut. Melihat profil pemilik nomor bernama tuan muda Yuda. Setelah membaca seluruh pesan, Daffa menggeram kesal, menahan amarah. Iya tak pernah menyangka jika pesaing bisnisnya akan menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan lawan bisnisnya. Sedangkan Bilal terduduk lemah dilantai. Iya tak menyangka semua ini akan terjadi kepada keluarganya. Berurusan dengan orang kaya memang tak pernah lebut. Mereka yang memiliki hati kotor akan selalu menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan bisnisnya. Bilal ingin marah, namun iya menahannya.
"Setega itu dunia bisnis, terlalu kejam" Ucao Bilal. Daffa meminta maaf atas apa yang sudah menimpa. Iya berjanji akan memberikan balasan setimpal atas apa yang sudah Yuda lakukan terhadap keluarganya. Daffa menuntun Bilal untuk duduk disofa kembali.
"Apa kalian bisa meretas aplikasi hijau milik Yuda? Aku ingin tahu apakah ada diantara orang-orang yang bekerja kepadaku telah berkhianat" Ucap Daffa menahan amarah setelah mengetahui hal ini.
"Insya Allah jika hanya meretas nomor telepon, Hana bisa melakukan dengan mudah tuan" Ucap Smith. Daffa beralih memangdang ke arah istrinya. Terlihat wajah syok istri kecilnya. Iya segera memeluk Hana.
"Sayang, maafkan mas ya. Mas ngga tahu jika mereka mengincar keluarga kita" Ucap Daffa lembut sambil mengelus kepala Hana.
"Daffa, aku tahu membalas dendam bukanlah hal baik. Namun mereka sudah melakukan hal buruk. Mereka harus menerima akibatnya" Bilal berkata dengan serius.
"Itu pasti mas" Daffa berkata sambil menunduk. Iya menyesal tak sanggup melindungi keluarganya. Akhirnya Hana mengeluarkan tabletnya, iya melakukan hal yang diminta Daffa. Meretas seluruh data milik Yuda Bagaskara. Terlihat raut wajah kecewa Hana. Pintu kembali diketuk. Setelah mendapat jawaban, Nadia masuk dan memberitahu jika diluar ada 2 orang, salah satunya adalah sopir perusahaan.
"Tuan, diluar ada sopir perusahaan dan seseorang" Ucap Nadia.
__ADS_1
"Suruh masuk" Ucap Daffa. Dan masuklah mereka berdua.
TBC