KEKASIH HALAL CEO TAMPAN

KEKASIH HALAL CEO TAMPAN
Berkunjung Ke Makam


__ADS_3

Oprasi berjalan selama kurang lebih 3 jam. Diluar, semua menunggu dengan cemas. Begitu dokter keluar, Bilal dan Hana adalah orang pertama yang menghampiri.


"Dok bagaimana? " Tanya Hana.


"Alhamdulillah, oprasinya berjalan dengan lancar" Jawab Dokter.


"Alhamdulillah" Jawab semua yang menunggu.


Mereka melihat pak Bahtiar yang masih belum sadarkan diri dibawa oleh petugas diatas brankar menuju ruang rawat. Hana dan Daffa mengikuti dari belakang. Bilal pun juga melangkahkan kakinya mendekati sang ayah.


"Semoga ayah cepat sembuh ya yah" Ucap Hana. Mereka bertiga menunggu ayah dirumah sakit. Saat sudah menjelang sore, Bilal menyuruh adiknya untuk pulang. Hana dan Daffa pun pulang.

__ADS_1


Sesampainya dirumah saat hampir mahgrib. Daffa dan Hana segera membersihkan diri. Karena setelah isya' akan ada acara kirim do'a selama 7 hari. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban, Mereka keluar untuk bergabung dengan yang lain. Terlihat warga jama'ah yasin yang mulai berdatangan. Dan dari pesantren Kyai mustofa juga diundang untuk mengirim do'a kepada almarhumah sang ibu. Terlihat Kyai mustofa beserta para santri. Terlihat juga Smith yang ikut mengaji.


"Alhamdulillah, banyak yang datang untuk mendoakan ibu" Gumam Hana. Karena sudah banyak jama'ah yang berkumpul, Acara pun dimulai.


Dua minggu kemudian...


Saat ini, pagi yang cerah untuk suasana hari yang menenangkan. Angin bertiup sepoi menerpa semua yang dilaluinya. Termasuk keluarga Hana yang kini berada dintara makam. Mereka sedang berada dimakam ibu almarhumah ibu Sholihah.


"Ibu, ayah yang bersalah dalam hal ini. Maafkan ayah" Ucap Pak Bahtiar diatas pusara istrinya. Air matanya kembali menetes karena tak sanggup menanggung seluruh kesedihan ini. Anak-anak mendekati, menepuk pundak pak Bahtiar pelan. Mencoba menenangkan ayahnya. Namun iya belum bisa merelakan kepergian sang istri. Walaupun sudah tampak senyum dibibirnya, namun hatinya masih terlalu rapuh untuk menerima semua kenyataan ini.


"Ayah, ini semua bukan salah ayah, ini semua sudah takdir. Allah lebih menyayangi ibu daripada kita" Ucap Daffa.

__ADS_1


"Ayah, kita semua tahu, sangat berat kehilangan sosok ibu dalam hidup kita. Tapi kita bisa apa selain do'a yang berbicara" Hana mengimbuhi.


"Tapi ayah yang salah dalam hal ini nak" Ayah tetap menyalahkan diri sendiri akan kepergian istrinya.


"Jangan menyalahkan diri ayah sendiri, kepergian ibu bukanlah suatu hal yang harus kita tangisi terus menerus. kita harus ikhlas yah. Supaya Ibu juga tenang meninggalkan kita" Bilal mengimbuhi. Terlihat raut wajah kesedihan terpancar.


"Kalian benar, anak-anak ayah ternyata jauh lebih kuat dibandingkan dengan ayah. Maafkan ayah yang lemah ini nak" Pak Bahtiar berkata dengan mengusap air mata yang terjatuh.


"Istriku, pergilah dengan tenang. Engkau yang pernah menghadirkan syurga diantara keluarga kecil kita. Engkau yang selalu menjadi penyejuk hati untuk kita semua. Beristirahatlah dengan tenang. Aku akan mengikhlaskan kepergianmu. Terimakasih atas semua pengabdianmu, atas semua perjuangan dan kesabaranmu selama ini. Hingga kita mampu mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang baik. Engkau adalah syurga dalam rumah tangga kita, engkau adalah bunga yang selalu merekah. Menghangatkan setiap suasana. Kini engkau sudah pergi. Pergilah dengan tenang. Anak-anak kita sudah ada yang menjaga dan dijaga. Aku hanya bisa menyaksikan semua kebahagiaan mereka. Semoga Allah memberimu tempat terindah disisinya, hingga nanti kita akan dipertemukan di syurga-Nya" Pak Bahtiar berkata dengan panjang lebar, mengungkapkan segala kesedihannya. Semua anak dan cucu yang mendengar menitikkan air mata. Seakan sakit itu mereka juga merasakan. Kepergian Ibu adalah sebuah kesedihan. Sebuah syurga yang selalu dirindukan, sebuah kenangan yang tak mungkin terlupakan.


"Kita akan kembali dulu, nanti aku akan sering kesini menjengukmu" Pak Bahtiar mengusap air matanya. Hana Dan Bilal yang berada disisi kanan dan kiri menangis menahan sesak didadanya. Mereka menepuk pundak sang ayah, sekali lagi mereka saling menguatkan. Saling melempar senyum dalam tangis.

__ADS_1


"Mari kita pulang! "Ucap pak Bahtiar. Dan semua mengangguk. Bilal mendorong kursi roda ayahnya, Rani berjalan disampingny, sedangkan Daffa dan Hana berjalan dibelakangnya. Mereka melepas kepergian sang ibu dengan keihlasan. Sesampainya di mobil, Daffa segera membuka pintu mobil. Mengangkat pak Bahtiar dari kursi roda, dan mendudukkan di jok belakang. Bilal segera mengambil alih kemudi yang tadi dipegang Daffa. Rani dan Yusuf naik disamping Bilal, sedangkang Hana dan Daffa menemani ayah di belakang. Bilal mengemudikan mobilnya dengan Hati-hati. Dan disaat yang sama. Sepasang mata memperhatikan mereka dari kejauhan.


TBC


__ADS_2