
Daffa dan keluarganya tiba disebuah rumah yang tak jauh dari rumah utama. Iya segera masuk dan segera menemui kelima orang yang menjadi tawanannya. Sebelum masuk ke rumah itu, beberapa penjaga menyapanya. Lalu mereka mengikuti Daffa menemui orang-orang yang mereka ikat itu.
"Kalian sudah memberi mereka makan? " Tanya Daffa dengan langkah terus maju menuju sebuah ruangan.
"Sudah tuan, sesuai aturan yang tuan berikan" Jawab salah satu penjaga dibelakang Daffa. Daffa tidak akan pernah menjadi seseorang yang kejam dengan tidak memberi makan sesama makhluk. Apalagi sesama manusia. Daffa tidak ingin menyiksa mereka walaupun mereka sudah hampir mencelakai Dirinya dan keluarganya. Daffa berfikir, walaupun iya tak mendapatkan balasan kebaikan dari manusia, Tuhan pasti akan membalasnya.
"Bagus. Jangan biarkan mereka kelaparan" Jawab Daffa. Seorang penjaga berjalan lebih cepat. Iya memegang handle pintu lalu membukakan pintu untuk Daffa dan keluarganya.
"Terimakasih om" Ucap Arsyida sambil tersenyum Semua yang mendengar mengulaskan senyum karena tingkah terpuji Arsyida. Daffa dan beberapa orang masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Papa, kita ikut" Ucap Arsyad dan Arsyida.
"Sayang, kita tunggu disini dulu. Biar papa menyelesaikan tugasnya" Ucap Daffa dan menarik kedua putrinya untuk duduk di sofa. Terlihat kedua bocah itu cemberut karena tidak diizinkan masuk. Daffa tersenyum melihat putra dan putrinya mendengarkan apa yang dibilang mamanya.
Setelah itu, seorang penjaga menunjukkan dimana tempat kelima orang itu berada. Bwgitu sampai dan masuk, Daffa mendapati kelima orang didepannya terikat dengan kencang. Daffa duduk di kursi yang sudah di sediakan disana. Terlihat kelima penjahat tersebut menatap Daffa dengan penuh ketakutan.
"Rey" Panggil Daffa.
"Iya tuan" Jawab Rey sambil mendekat.
"Lakukan tugasmu dengan baik" Ucap Daffa sambil mengeluarkan pinstol dari sakunya dan meletakkan di atas meja. Tak lama meletakkan senjata api itu, Daffa mengambilnya kembali dan mengarahkan pistol itu ke atas. Setelahnya 'Duoooorrrr' Sebuah tembakan melesat menembus langit-langit ruangan. Seketika wajah kelima penjahat tersebut pucat pasi. Mereka tak mampu berkata-kata dan hanya menelan ludah dengan susah payah. Mereka berfikir jika Daffa akan membunuh mereka.
__ADS_1
"Masih bisa digunakan. Dan masih banyak berisi peluru" Gumam Daffa keras dan bisa didengar oleh semua orang di ruangan itu. Kcuali orang yang berada diluar ruangan tak akan bisa mendengarnya, karena ruangan itu didesaign dan dilengkapi kedap suara.
"Buka mulutnya! " Daffa berkata kepada penjaga. Dan penjaga tersebut langsung membuka tali di masing-masing mulut tawanan itu.
Rey perlahan melangkah maju. Satu langkah iya berjalan, seakan meruntuhkan seluruh dunia kelima penjahat itu. Mereka merasa jika hidupnya akan segera berakhir. Belum sempat Rey benar-benar mendekat, seorang dari mereka membuka suara dengan terbata-bata dan gemetar.
"Tuan, saya mohon ampuni saya. Saya akan melakukan apa saja yang tuan inginkan. Tapi tolong jangan bunuh saya" Ucapnya dengan nada terputus-putus.
"Iya tuan, kami ini hanya disuruh olwh seseorang" Ucap seseorang disebelahnya lagi.
"Kalian kenapa buka suara? " Seseorang disampingnya protes karena kedua temannya sudah menyerah.
"Kalau kamu mau mati dengan menutup mulut silahkan, aku masih punya anak yang harus di hidupi. Nyesel aku ikut terima tawaran kamu" Jawabnya.
"Kamu adalah ketua kelompok kami, jika kamu tidak ingin membuka mulut, kami akan membiarkanmu hidup dengan kondisi mengenaskan" Ancam seseorang karena geram. Ketua kelompok tindak kejahatan itu tak ingin buka suara. Daffa memandang dan mendengarkan setiap perkataan mereka dengan diam. Rey masih diam di tempat dengan memegang sebuah pistol. Entah itu pistol sungguhan atau hanya replica saja. Namun hal tersebut sudah membuat kelima penjahat itu diam tak bersuara.
"Kalau kamu masih sayang dengan uang itu silahkan saja diam. Kami akan menyerah saja asal tuan Daffa mengampuni dan membebaskan kami" Ucap seseorang lagi.
"Tapi mereka mengancam akan membunuh kita kalau sampai kita buka mulut" Pimpinan kelompok itu bingung harus berbuat bagaimana.
"Tuan, kami akan membuka mulut dan memberitahu siapa dalang dari semua ini. Tapi tolong selamatkan kami" Seseorang berbicara dengan nada ketakutan. Dari pihak Daffa belum ada yang berbicara menanggapi mereka. Masih diam sambil melihat betapa ketakutannya orang-orang tersebut.
__ADS_1
"Tuan, tolonglah kasihani kami. Kami berjanji akan membalas kebaikan anda" Ucap seorang lagi.
"Rey, lakukan tugasmu sebaik mungkin" Daffa berkata dengan nada dingin. Tiba-tiba seseorang dari 5 penjahat yang menyerang Daffa itu berteriak.
"Tuan tolong kasihani kami. Kami berjanji akan membalas kebaikan anda. Kami akan menuruti perintah anda tuan. Tapi tolonglah kasihani kami" Teriakan dari orang tersebut benar-benar terdengar putus asa.
"Rey..." Sekali lagi Daffa berkata memanggil Rey. Rey maju ke arah mereka. Melewati kelima orang yang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada mereka dan berdiri dibelakangnya.
"Tuan, sebenarnya ada beberapa orang yang menyuruh kami" Ucap seorang dari mereka mulai membuka mulut.
"Nona Alisa, Bela dan Yudha. Mereka menyuruh kami untuk mencelakai tuan Daffa dan keluarganya. Mereka tidak ingin melihat kebahagiaan tuan Daffa. Nona Alisa sangat ingin menyingkirkan nona Hana. Nona Bela merasa sudah putus asa mencari keberadaan Haidar, sedangkan Tuan Yudan ingin membalaskan sakit hatinya" Ucap seseorang dengan cepat.
"Sudah ku duga. Mereka tak akan tinggal diam" Gumam Daffa.
"Rey, biarkan mereka dulu" Ucap Daffa sambil berdiri.
"Kalian, jaga mereka jangan sampai lepas" Daffa berkata kepada para penjaga.
"Kalian ingin hidup dengan tenang atau ingin hidup dengan tanpa sesuatu di hidup kalian? " Tanya Daffa pelan namun terdengar menakutnya.
"Kami berjanji akan membantu anda untuk mengungkap semuanya tuan. Tapi tolong kasihani kami. Kami berjanji akan menjadi orang yang lebih baik lagi" Ucap pimpinan kelompok itu. Daffa hanya diam tanpa menjawab.
__ADS_1
"Katakan lebih detail tentang rencana mereka! " Kali ini Rey berkata penuh penekanan. Jangankan untuk menjawab perkataan Rey dan Daffa. Tenggorokan mereka terasa tercekat, bahkan hanya sekedar untuk menelan ludah saja terasa sulit. Saking takutnya mereka, bahkan ada yang sampai mengeluarkan air mata. Padahal disini tim Daffa hanyalah menggertak. Mereka tak bersungguh-sungguh untuk membunuh, mencelakakan ataupun menyakiti sesama manusia. Itulah prinsip Daffa. Sekuat apapun kekuasaan yang iya miliki, iya tetap akan menjadi seseorang yang memimpin dengan kira-kira. Tidak seenaknya sendiri mentang-mentang memiliki kekuasaan. Kecuali jika mereka sudah melampui batas. Maka Daffa akan bertindak lebih. Disitulah pentingnya belajar tentang kemanusiaan. Karena Daffa berfikir bahwa manusia adalah makhluk sosial, tak akan bisa hidup sendiri sekalipun memiliki kekuasaan yang kuat.
Akhirnya Mereka berlima menceritakan awal bagaimana bisa bertemu dengan Alisa dan anggotanya. Karena ini merupakan tindakan berencana, maka Daffa juga merencanakan sesuatu untuk membuat mereka jera.