
Arka memberikan tas kecil itu padaku. Aku pun menerimanya. Kemudian Arka segera duduk di sampingku.
"Papa mana ma..?" Tanya Arka pada mama.
"Papa di ruang kerja , masih nerima telepon dari klien,Arka sarapan dulu sana" Jawab mama.
"Nanti saja ma, lagi males mau sarapan" Jawab Arka.
"Ya sudah terserah kamu saja, oh itu papa sudah selesai." Tunjuk mama ketika melihat papa keluar dari ruang kerja.
"Sudah siap semua nih?" Tanya papa ketika bergabung dengan kami.
"Sudah dong pa"Jawab kami kompak.
"Sepertinya ada yang beda, tapi apa ya?" Papa mulai menyindirku. Arka hanya tersenyum.
"Ide siapa sih beli baju samaan kayak gini?" Tanya kakakku.
"Suamiku dong kak" Jawabku sambil memeluk lengan Arka.
"Bagus juga lho, kita juga perlu baju gini biar samaan satu keluarga. Jadi kalau acara santai atau mau kemana gitu, biar sama bajunya" Mama mengeluarkan ide.
"Boleh juga " Jawab papa.
"Tapi masih kurang lengkap nih pa" Ucapku.
"Apanya?" Tanya papa sedikit bingung.
"Pasangan kakak belum ada" Jawabku dan langsung saja membuat semu tertawa, dan kak Bayu menyenggol lenganku dengan sikunya.
"Tunggu saja tanggal mainnya" Jawab kak Bayu nggak mau kalah.
"Ya sudah ,ayo kita berangkat, takut nanti macet di jalan" Ajak papa sambil melirik jam tangannya.
Kami pun segera berdiri dan berjalan keluar rumah.
"Pa, aku sama Arka bawa mobil sendiri ya. Soalnya nanti mau mampir ke rumah baru"
"Oke, nggak masalah. " Jawab papa
Kak Bayu ikut bersama papa dan mama. Sedangkan aku berdua sama Arka.
Aku memperhatikan Arka yang tampak serius mengemudi dan mengabaikanku yang berada di sampingnya. Suasana hening tanpa suara.
"Sayang, kok diam saja sih ?" Kataku memecah keheningan.
"Ada apa?" Tanya Arka tanpa menoleh ke arahku.
"Huuhh.. kamu nih ya kalau nyetir tuh kepalanya lempeng aja ke depan. Nggak mau noleh sama sekali" Aku pun sedikit ngambek padanya.
Arka mengurangi kecepatan, dan menoleh ke arahku karna dia tau aku sedang kesal.
"Kenapa sih sekarang jadi manja banget?" Arka menoleh ke arahku meski kadang sesekali kembali fokus ke depan. Tangannya pun mengusap pipiku.
"Emang nggak boleh" Jawabku kesal .
"Bukan gitu, aku kan lagi nyetir masa iya harus memperhatikan kamu. Kalau nabrak gimana" Tanya Arka mencoba memberi pengertian.
"Ya udah lihat aja ke depan" Aku masih sedikit kesal.
"Ya sudah kita pulang saja kalau gitu, biar nanti di rumah aku memperhatikan kamu terus, daripada di jalan kayak gini" Kata Arka mencoba memberi pilihan.
__ADS_1
"Iihhh bikin sebel. Iya iya aku salah. Ya sudah fokus aja nyetir. Aku nggak akan minta di perhatiin. "
"Jangan marah dong. Ya sudah kamu mau ngomong apa , ayo biar aku jawab" Arka masih bicara dengan suara lembutnya meskipun tahu kalau aku sedang marah sama dia. Aku pun mencoba untuk mengerti dia. Aku tarik nafas dalam dalam dan menghembuskan dengan perlahan.
Setelah merasa sedikit rileks ,barulah aku mengajak Arka bicara dengan suara yang biasa.
"Sayang, lusa kan kita mau ngadain syukuran, emang orang tua kamu nggak datang?" Tanyaku pada Arka.
"Sebenarnya ibuku juga pingin datang tapi kesehatannya belum cukup baik. " Kata Arka.
"Kenapa kamu nggak pernah nengokin ibumu?" Tanyaku lagi.
"Kamu kan tahu kita masih banyak urusan disini. Kalau besok waktu acara syukuran ibu nggak bisa datang, kita yang akan kesana ya, jengukin ibuku?"
"Kita?" Tanyaku seketika pada Arka
"Iya, kita. Kenapa, kamu nggak mau?" Tanya Arka lagi.
"Bukan, bukan gitu. Tapi aku malu ketemu ibu dan keluargamu yang lainnya. " Jawabku.
"Aku tahu kalau kamu belum siap untuk itu, selain itu aku juga takut kalau kamu pasti nggak nyaman berada di rumahku, rumah ku kecil, tidak ber AC, jauh berbeda dengan rumah kamu. Bahkan di bandingkan gudang di rumah kamu saja , masih jauh berbeda." Aku melihat rasa kecewa di mata Arka, Arka kembali fokus menyetir.
Oh Tuhan apa yang aku katakan pada suamiku. Aku membuatnya kecewa. Aku mencoba meraih tangan kirinya.
"Maafkan aku ya, bukan itu maksudku. Aku siap kok ketemu ibu kamu dan juga keluarga kamu. Soal rumah kamu, itu bukan masalah bagiku. Aku bisa nerima keadaan rumah kamu bagaimana pun itu? " Kataku mencoba meyakinkan Arka agar tidak kecewa.
Arka menoleh ke arahku dan tersenyum. Aku pun membalas senyumannya.
"Terima kasih ya.. kamu mau nerima kekuranganku" Ucap Arka. Aku pun mengangguk dengan bibir yang tetap tersenyum.
Tanpa terasa, mobil sudah memasuki area parkiran di bandara. Arka memarkir mobil dengan rapi. Kami pun segera keluar setelah Arka mematikan mesin mobil.
"Pak Sam ikut saja di dalam, mau ngopi atau makan juga boleh" Kata papa pada sopirnya.
"Iya pak terima kasih, saya nunggu di situ saja sambil merokok soalnya" Tunjuk pak Sam pada cafe kecil yang menyediakan area khusus perokok.
"Oh ya sudah kalau gitu, ini uangnya pakai bayar kopi ya, dan ingat ya pak Sam jangan banyak-banyak kalau merokok jaga kesehatan" Papa menasihati pak Sam sambil memberikan selembar uang seratus ribuan pada pak Sam.
"Iya pak. Terima kasih" Pak Sam pun menerima uang dari papa. Papa menjawab dengan anggukan kepala.
"Ayo kita masuk saja. " Ajak papa pada kami. Kami pun berjalan beriringan menuju ruang tunggu. Arka menggenggam tanganku. Aku pun berjalan lebih dekat dengannya.
"Ma, sekarang aku benar-benar di abaikan sebagai seorang kakak. Itu karna dia sudah punya penggantiku." Kak Bayu berbicara dengan mama dengan maksud menyindirku.
"Kakak, bukannya kakak sendiri yang minta, katanya sudah punya suami nggak boleh lagi manja-manja sama kakak sekarang malah bilang di abaikan" Kataku berusaha menang.
"Ih kamu ini selalu saja menggoda adikmu" mama pun memukul lengan kak Bayu.
Arka dan papa hanya tersenyum melihat candaan kami. Aku melepaskan genggaman Arka. Dan berpindah bergelayut di lengan kak Bayu.
"Kakak nggak akan pernah tergantikan, sekalipun itu suami ku sendiri. Kakak tetap kakakku, tempatku bermanja" Kataku setengah berbisik dan menatap wajahnya.
Kak Bayu menghentikan langkahnya. Sebelah tangannya lagi mengusap pipiku. Dan kemudian kak Bayu memelukku.
"Kakak sayang sama kamu, kamu satu-satunya adik kakak,satu-satunya saudara kakak. Kakak sangat bahagia melihat kamu bahagia. Kebahagiaan kakak adalah melihat kamu hidup bahagia" Kak Bayu melepas pelukannya dan mengecup keningku berulang kali. Kemudian Kak Bayu meraih pundak Arka.
"Arka, aku percaya sama kamu, aku yakin kamu bisa bahagiakan adikku. Jangan pernah membuatnya menangis sedih. Bimbing dia agar bisa menjadi yang terbaik" Kak Bayu pun memeluk Arka.
"Iya bang, saya janji akan membahagiakan adik Abang." Aku melihat bulir-bulir air mata kak Bayu keluar membasahi pipinya.
Papa menepuk punggung kak Bayu.
__ADS_1
"Sudah Bayu, kita percayakan semuanya pada Arka. Sekarang Arka yang akan bertanggung jawab atas kehidupan adik kamu." Kak Bayu melepas pelukannya dengan Arka. Mama mengusap pipi kak Bayu yang basah oleh air mata.
"Kita duduk disana yuk" Ajakku. Kami pun kembali berjalan menuju bangku yang aku tunjuk tadi.
Kami pun lanjut berbincang membahas rumah baruku, calon istri kak Bayu dan juga hal-hal lainnya. Sampai tak terasa terdengar informasi bahwa pesawat yang akan di tumpangi kak Bayu akan segera lepas landas.
Kak Bayu pun segera berpamitan pada papa,mama, Arka dan juga padaku. Kami larut dalam kesedihan.
Papa yang biasanya tidak pernah sedih melihat keberangkatan kak Bayu, tapi kali ini papa tampak menangis sedih saat memeluk kak Bayu. Entah apa yang dirasakan papa saat ini.
Mungkin sekarang papa merasa benar-benar membutuhkan Kak Bayu sebagai sosok anak lelaki yang akan menjadi penerusnya.
Dari dulu papa selalu berharap kak Bayu yang mengurus perusahaan papa. Tapi kak Bayu selalu menolaknya. Kak Bayu lebih memilih mengejar cita-citanya. Kak Bayu tidak mau kesuksesannya di raih karena ada bayang-bayang papa di belakangnya. Kak Bayu ingin sukses karena prestasinya sendiri.
Mungkin saat ini kak Bayu mulai menyadari bahwa papa benar-benar membutuhkannya. Papa sudah merasa tidak sanggup lagi mengurus semua perusahaan. Papa ingin menikmati masa tuanya.
Dulu kak Bayu sudah berjanji pada papa, akan mengurus perusahaan papa, apabila kak Bayu sudah beristri. Papa selalu memaksa kak Bayu untuk menikah, tapi selalu di tolaknya, dengan alasan nunggu aku menikah dulu, karena aku adalah tanggung jawab kak Bayu juga.
Sekarang aku sudah menikah, dan mungkin tidak lama lagi kak Bayu juga akan menikah. Disaat itulah kak Bayu akan melanjutkan bisnis papa di perusahaan.
Kak Bayu melambaikan tangannya pada kami. Aku pun tak kuasa menahan tangisku. Aku menangis tersedu. Karna tak tahu kapan lagi aku akan bertemu dengan kak Bayu.
Arka langsung memelukku saat tahu aku menangis. Aku pun menenggelamkan wajahku di dada bidangnya.
"Sudah nggak usah sedih lagi, kita berdoa saja semoga kita masih di pertemukan lagi dalam keadaan sehat" Kata-kata sederhana Arka mampu membuatku menghentikan tangisanku. Aku pun mengangguk. Dan melepaskan pelukanku.
"yaaa... jadi basah bajunya, padahal baju baru nih ma" Arka berkata pada mama dan menunjuk dadanya yang basah karena air mataku. Seketika mama dan papa tertawa. Aku pun ikut tertawa meskipun merasa malu.
Aku mencubit lengan Arka karena telah di buat tertawa setelah menangis. Ternyata Arka bisa menghibur kesedihan kami.
"Ya sudah ayo kita pulang, masa iya mau diam disini terus. Nanti di usir lho sama security nya." Ucap Arka.
Arka melingkarkan tangannya ke pundakku. Kami pun berjalan beriringan dengan papa dan juga mama. Aku melingkarkan tanganku ke pinggang Arka.
"Kalian tahu nggak, mama tuh seneng banget liat kalian kayak gini. Gimana rasanya pacaran setelah menikah?" Tanya mama melihat ke arahku.
"Ya tentu saja enak ma, pasti banyak kejutan tak terduga, entah itu sifat ataupun sikap yang belum kita ketahui sebelumnya, karena memang tidak saling kenal" Tiba-tiba papa menjawab pertanyaan mama.
"Iihh papa.. sok tahu ah" Kataku.
"Emang iya kan, kalian pikir mama dan papa nggak tahu. Papa dan mama udah pengalaman , kami tuh nikah karena di jodohkan. Jadi pacarannya setelah nikah."
"Waahh... papa buka rahasia nih" Ledek Arka.
"papa, kan jadinya di ledekin nih sama mantu kita." Ucap mama tampak malu.
"Ya nggak apa-apa kan biar mereka tahu dan bisa mencontoh hal-hal baik dari kita, yang buruk jangan ya" Ucap Papa sambil menyenggol lengan Arka.
"Siap pa" Sahut Arka.
"Pa, habis ini aku dan Arka langsung ke rumah baru ya, mama dan papa nggak ikut?" Tanyaku.
"Nggak usah, papa mau honeymoon sama mama" papa memang orang yang suka bercanda meskipun kadang tegas dalam bersikap.
"Cieee...." Godaku
"Sudah ..sudah... kalian ini sama aja sama papa. kalau mau ke rumah baru, hati-hati ya jangan malam-malam pulangnya." Kata mama.
"Iya ma" jawabku dan Arka serempak.
Kami pun berpisah saat sampai di tempat parkir. Aku dan Arka menuju rumah baru, papa dan mama entah mau kemana aku nggak tahu.
__ADS_1