
Aku lirik jam dinding yang ada di ruang tengah. Jarum pendeknya mendekat ke angka sepuluh, Itu artinya sudah waktunya istirahat malam.
"Sudahlah, kalau di ceritakan semua tidak akan habis malam ini. Sekarang kita istirahat." Mamah menepuk tanganku dan pamit untuk istirahat.
"Iya mah, besok ceritain lagi" Pintaku. Mamah mengangguk. Kemudian berlalu dari hadapanku.
"Seneng sekali liat orang di permalukan." Arka menggerutu dan itu membuatku tersenyum puas. Arka beranjak dari duduknya. Aku mengikutinya dari belakang.
"Sayang, gendong" Rengekku saat akan menaiki tangga.
"Nggak mau" Seperti anak kecil yang sedang ngambek dia terus berjalan menaiki anak tangga, meninggalkanku.
Aku pun tak mau kalah dengannya, aku pura-pura sedang ngambek dengan dia. Aku hentikan langkahku,dan duduk di ujung anak tangga. Dan benar, langkah kaki Arka berhenti saat dia tahu kalau aku duduk di ujung anak tangga dan dia kembali turun menghampiriku.
"Ayo" Arka membungkukkan punggungnya.
"Gitu dong" Ucapku puas.
"Jangan senang dulu, ini ada imbalannya" Ucapnya.
"Apa itu?" Tanyaku heran.
"Rahasia" Ucapnya.
"Huuhhh... dasar" gerutuku.
Aku sandarkan daguku di pundaknya. Entah mengapa hari ini sangat melelahkan. Apa mungkin karena habis pergi ke rumah mama. Atau mungkin memang badanku aja yang kurang fit.
"Sayang.."
"Hm" Jawabnya dengan deheman.
"Kamu nggak capek?" Tanyaku.
"Kalau aku bilang capek, emangnya kamu mau gendong aku?"
"Bukan itu maksudku"
"Hm... Terus apa?" Arka menghembuskan nafasnya kasar dan kembali bertanya.
"Aku merasa capek banget hari ini, kayak lemes gitu. Apa mungkin karna dari rumah mama ya? Kamu sendiri gimana capek nggak?" Gerutuku.
Begitu sampai di depan pintu kamar, aku meraih handel pintu dan membukanya.
"Baru segitu aja udah ngeluh, padahal di perjalanan juga kamu tidur terus" Omel Arka.
"Aku kan ngantuk, karena kurang tidur waktu jagain mama" Protesku.
"Sayang, dengerin ya, apapun yang kamu lakukan untuk orang tua, jangan pernah kamu mengeluh. Itu juga yang di lakukan mama, waktu kamu masih kecil. Saat kamu sakit pasti mama nggak bisa tidur bahkan nggak enak makan karena melihat anaknya sakit"
"Sok tau" Aku pun menyangkal ucapan Arka.
"Suatu saat kamu bakal tau jika sudah menjadi orang tua"
Tidak aku gubris kalimat terakhirnya.
__ADS_1
Setelah turun dari gendongannya, aku pun naik ke ranjang dan merebahkan tubuhku ke tengah ranjang. "Hmmm nyaman" Gerutuku sendiri sambil menatap langit-langit kamar.
Tak lama kemudian Arka juga ikut rebahan di sampingku. Aku menoleh kearahnya dan Oh my God, dia sudah telanjang dada. Seketika darahku seperti mendidih melihat dadanya yang bidang bergelombang karna ototnya, rasanya tangan ini terpanggil untuk memeluknya, tapi hasrat itu aku urungkan, karena aku sedang mempertahankan harga diriku. Berusaha untuk tetap jual mahal.
"Kenapa lihat-lihat?" Tegurnya menyadarkanku dari lamunan.
"GR... siapa yang lihat kamu, lagian ngapain juga nggak pake baju. Nggak dingin apa?" Sewotku karena terciduk sedang melihatnya.
"Panas" Jawabnya singkat.
"Panas apanya sih, dingin kayak gini kok di bilang panas. Tuh liat AC nya nyala" Bibirku mengerucut menunjuk ke arah AC.
"Kamu ngerasa dingin?" Tanya Arka sambil memiringkan tubuhnya, dan satu tangannya di jadikan sandaran kepalanya.
"Iya" Dengan cepat Arka langsung menarik tubuhku ke pelukannya, mendekapnya.
Tak ada penolakan dariku. Karna memang hal ini yang aku pikirkan daritadi. Benar saja aku tidak bisa mengontrol organ tubuhku, tanganku meraba punggungnya perlahan. Aku pun menenggelamkan wajahku ke dadanya. Menghirup aroma tubuhnya yang bisa membuat denyut jantungku berdetak lebih kencang. Pikiranku serasa melayang saat aroma tubuhnya menyeruak ke rongga hidungku.
Tangan Arka meraba bagian tengkukku dan sedikit menariknya, sehingga wajahku Mengahadap ke arahnya. Perlahan wajahnya mendekat ke wajahku. Sangat dekat, sehingga wajah kami saling menempel. Dengan lembut bibirnya menyentuh bibirku, saling mencumbu dan bertukar lidah. Terdengar dengan jelas nafas Arka yang sedikit memburu.
Ciumannya berpindah menjelajahi seluruh wajahku, pipiku, keningku, bahkan hidungku tak terlewat dari sentuhan bibirnya. Aku sedikit mendesah saat bibirnya menyentuh telingaku dan menciuminya, sehingga membuat darahku semakin panas.
Puas bermain dengan telingaku, bibirnya berpindah menuruni leher jenjangku. Tak sampai di situ saja. Ciumannya terus berlanjut menuruni bagian dada. Di selipkan kedua tangannya ke dalam bajuku, meraba punggungku dan berhasil membuka kait bra yang menutupi bagian dadaku.
Tanpa melepas ciumannya dia berhasil membuka bra dan juga pakaianku, sehingga aku pun juga bertelanjang dada. Karena malu, kedua tanganku aku dekapkan ke dadaku.
Dia pun melepas ciumannya dan menatapku heran. "Kenapa di tutupi?" Tanya Arka.
"Aku malu"
"Tapi aku belum terbiasa" Lirihku.
"Mulai sekarang harus di biasakan"
"Lampunya di matiin ya" Pintaku.
"Oke" Arka turun dari ranjang menuju saklar dan menekannya. Lampu kamar pun mati, hanya ada sedikit cahaya dari luar kamar, yang menerobos melalui jendela kaca kamarku.
Sebelum naik ke ranjang Arka pun menarik celana yang aku kenakan. Seketika aku merasa malu, meskipun dalam gelap seperti ini. Mungkin jika keadaan terang aku akan terlihat seperti bayi baru lahir yang tanpa sehelai benang pun melilit di tubuh.
Arka kembali mendekatiku, tapi kali ini dia berada di atas tubuhku, kembali menciumiku dengan penuh gairah. Entah apa yang merasuki tubuhku. Aku pun tak mau kalah dengannya, aku pun berbuat hal yang sama. Membalas setiap perlakuannya padaku. Yang sama-sama bisa kami nikmati berdua. Rasa malu itu seolah hilang lenyap saat aku mendengar suara nafasnya yang terdengar menggairahkan.
Aku pejamkan mataku saat benda itu menerobos ke bagian terlarangku. Mencoba menikmati meskipun rasa nyeri masih terasa. Setelah melakukan pergulatan panjang akhirnya kami pun bisa menikmati puncak kepuasan bersama, yaitu kepuasan batin. Melepas semua hasrat dan nafsu.
Arka mengecup keningku "Makasih sayang" Lalu dia menjatuhkan tubuhnya di sampingku.
Aku tarik selimut agar menutupi tubuhku. Aku pejamkan mataku, tapi tidak untuk tidur, hanya melepas sedikit lelah. Suasana menjadi sunyi.
"Sayang" Ucapku memecah kesunyian.
"Hemm.."
"Apa pendapatmu tentang anak?" Aku pun membuka mataku dan menoleh ke arahnya.
Arka tidak langsung menjawabnya, dia menggerakkan tubuhnya menghadap ke arahku. Menatapku dengan matanya yang teduh. Tangannya menyentuh pipiku dan merapikan rambutku yang mungkin tampak berantakan.
__ADS_1
"Sama halnya dengan orang tua kita, aku sangat ingin mempunyai anak. Dan aku harap kamu juga berfikir sama denganku" Ucap Arka dengan senyum khasnya.
"Tapi aku masih belum siap" Lirihku.
"Ada aku di sampingmu, kamu nggak usah khawatir." Ucap Arka.
"Apa nggak sebaiknya kita menunda dulu satu atau dua tahun lagi, aku benar-benar belum siap" Ucapku.
Seketika raut wajah Arka berubah. Dan dia menyingkirkan tangannya dari wajahku. Kembali merebahkan tubuhnya di sampingku. Aku menoleh ke arahnya, dan memperhatikannya dalam gelap. Matanya menatap langit-langit kamar, tapi seolah menerawang jauh.
"Buat apa kita menunda?" Tanya dia lagi.
"Aku kan sudah bilang aku belum siap. Aku masih ingin kita seperti ini, menikmati waktu berdua. Aku masih belum siap untuk hamil, apalagi harus menghadapi sakitnya waktu melahirkan. Aku masih ingin kita bebas tanpa ada gangguan tangisan anak kecil, mau apa-apa repot sama anak, anak kecil itu merepotkan" Tolakku dengan nada suara yang sedikit kesal dan meninggi.
Tak ada jawaban lagi dari Arka. Dia bangun dan pergi menuju kamar mandi tanpa sepatah kata pun. Apa perkataanku menyakiti hatinya..
Setelah berfikir, aku pun melilitkan selimut ke tubuh polosku dan menyusulnya ke kamar mandi.
Tanpa mengetuk pintu aku langsung membuka pintu kamar mandi dan memasukinya. Aku mendapatinya sedang mandi di bawah guyuran shower. Aku dekati dia dan memeluknya dari belakang.
"Sayang maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyakiti hatimu" Ucapku dari balik punggungnya. Selimut yang aku kenakan pun seketika basah.
"Apa kamu akan terus menganggap bahwa kehadiran seorang anak itu sebuah beban untuk kamu. Apa kamu tidak berfikir bahwa kehadiran anak itu adalah bukti cinta kita. Kehadiran anak itu juga merupakan sebuah rezeki yang di percayakan Tuhan untuk kita. Titipan yang harus kita jaga dan kita rawat dengan baik. Aku harap kamu berfikir lagi dengan keputusanmu, buang semua pikiran negatifmu" Nada suara Arka terdengar sangat kesal.
Perlahan Arka melepas tanganku yang mendekap tubuhnya dari belakang. Aku masih tercengang dengan ucapan dan sikapnya. Yang aku lihat sekarang bukanlah Arka yang aku kenal selama ini.
Mataku terus menatapnya sampai dia menghilang di balik pintu kamar mandi. Aku terduduk lemas di pinggiran bathtub. Kenapa sulit sekali untuk menjelaskan padanya.
Setelah berjam-jam di kamar mandi aku keluar untuk berganti pakaian. Saat memasuki kamar aku melihat Arka sedang berbaring di sofa, entah dia sudah tidur atau belum aku nggak tau. Karena dia menghadap ke sandaran sofa.
Aku mendekatinya, dan duduk di belakang punggungnya. Aku sentuh lengannya "Sayang, kamu sudah tidur?"
Tak ada jawaban darinya. Mungkin dia sudah tidur, atau mungkin dia benar-benar marah, pikirku. Dengan rasa kecewa aku kembali ke ranjang dan membaringkan tubuhku.
Hanya sekedar berbaring, tidak ingin tidur karena rasa kantuk sudah menjauhiku. Pikiranku terus melayang jauh dengan sikap Arka.
Aku bangun dan mengambil rokok mentolku yang ada di laci samping ranjangku. Sekilas aku melirik Arka saat aku melewatinya. Mungkin dia sudah tidur kali ini. Karena posisinya tidak berubah dari tadi saat aku menyentuhnya.
Perlahan aku geser pintu kaca pemisah antara kamar dan balkon. Saat pintu terbuk angin berhembus menerpa wajahku. Terasa dingin melebihi dinginnya AC kamarku. Kembali aku tutup pintu kaca itu. Untung saja tadi aku sempat membawa selimut untuk membungkus tubuhku. Sehingga aku tidak terlalu kedinginan.
Aku hempaskan bokongku di kursi rotan yang ada di sampingku. Aku keluarkan rokokku sebatang dari bungkusnya. Dan menyulut ujung rokokku, kemudian menghisapnya dengan kuat. Aku lakukan berulang-ulang. Tapi rasa hangat rokokku tidak bisa menghangatkan tubuhku. Udara terasa semakin dingin.
Terdengar suara pintu sedikit berderit. Aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Arka, dia berjalan menghampiriku.
"Kenapa kamu masih di luar, anginnya sangat kencang nanti kamu masuk angin. Ayo masuk" Ajaknya dengan lembut. Aku terus menatapnya saat dia mengambil rokok yang ada di tanganku dan menekannya di asbak. Kemudian dia juga menggandeng tanganku agar masuk lagi ke kamar. Pintu kembali di tutup.
" Kamu sudah nggak marah kan sayang?" Tanyaku sambil terus menatap kearahnya.
Arka terus menggandeng tanganku dan mendudukkan ku di sisi ranjang.
"Tidurlah, sudah malam" Kata-katanya tetap lembut, tapi terkesan dingin. Seperti masih tersimpan marah di dalam kalimat itu. Kemudian dia kembali berjalan menuju sofa tempatnya dia tidur.
"Sayang... sayang...." Berulang kali aku menyebut namanya, tapi tidak ada jawaban, sekedar menoleh pun tidak di lakukannya.
Aku ambil handphone ku untuk melihat jam. Sudah pukul empat dini hari. Aku letakkan kembali handphone ku ke tempat asalnya. Aku rebahkan tubuhku dan memaksa mataku untuk tidur.
__ADS_1