
"Biar mamah pijit, pasti kamu kecapekan. Dan kakinya terasa pegal. Nanti kalau sudah di pijit pasti lebih enakan" Jawab mamah dengan suaranya yang lembut.
"Hah... nggak usah mah" Tolakku " Nggak pegal kok mah, ini tadi karna ngantuk saja, terus ketiduran di mobil, iya kan sayang?" Aku alihkan pandanganku ke arah Arka supaya mendapat persetujuan.
"Iya mah, tadi istriku ini ketiduran, karna habis belanja banyak banget. Alasan ketiduran ya karena kecapekan, belanja sampai dua jam gimana nggak capek." Mataku membola mendengar jawabannya, Apa-apaan Arka ini membenarkan ucapanku tapi menyinggungku juga.
"Besok-besok kalau mau belanja lebih baik nyuruh buk mar, atau mamah saja. Kamu nggak boleh kecapekan seperti ini. Harus banyak istirahat." Mamah kembali menarik kakiku dan mulai memijitnya.
Aku pun duduk dan meraih tangan mamah. "Mamah nggak perlu khawatir mah, Caca baik-baik saja. Jangan dengarkan ucapan Arka. Sekarang ini dia pandai berbohong mah. Sebaiknya kita ke bawah, Caca mau makan" Ajakku dengan begini kan mamah tidak akan memaksa untuk memijat kakiku.
"Kamu mau makan?" Tanya mamah padaku, dan aku pun mengangguk. "Arka, ambilkan makan buat istrimu, biar makan disini saja. Supaya mamah juga bisa memijat kakinya" Mamah berucap kepada Arka.
"Nggak usah mah, biar makan di bawah saja. Kalau disini nanti banyak semut" Tolakku lagi. Arka hanya tersenyum melihatku seperti mati kutu begini. Bukannya bantuin istrinya gimana caranya supaya mamah tidak memijat kakiku, ini malah senyum-senyum seperti menertawakanku.
"Nanti biar mamah yang bersihkan kalau selesai makan. Jadi nggak bakalan ada semut" Ya ampun mertuaku ini keras kepala juga ternyata.
"Arka, kenapa bengong saja. Cepat ambilkan makan dan bawa kesini"
"Siap mamah" Arka mengedipkan mata ke arahku dan berlalu keluar kamar.
"Sini kakinya, biar mamah pijat dulu"
"Mah, mamah tidak perlu melakukan ini. Biar Arka saja yang melakukannya. Lebih baik mamah istirahat aja di kamar, ini sudah malam juga mah." Ucapku pelan supaya mamah mau mengerti.
"Sayang, mamah tahu. Kamu merasa nggak enak kan sama sikap mamah. Mungkin kamu berpikir mamah terlalu berlebihan memperlakukanmu. Tapi menurut mamah, itu hal yang wajar. Kamu dan Arka sudah menikah, Arka itu anak mamah. Itu artinya kamu juga anak mamah. Mamah tidak ingin ada batasan antara menantu dan mertua. Mamah ingin memperlakukanmu selayaknya anak mamah sendiri. Mamah melakukan ini dengan rasa tulus ikhlas. Bukan karena kamu anak orang kaya dan mempunyai harta yang melimpah, sehingga mamah menjadikanmu ratu, bukan itu. Mamah seperti ini supaya kamu merasa nyaman dan bahagia hidup bersama Arka. Tidak merasa memiliki mertua, tapi kamu merasa memiliki orang tua sendiri" Tutur mamah panjang lebar, sehingga membuat mataku berkaca.
Aku pun memeluk mamah.
"Mah, terima kasih ya mah. Mamah mau menerima Caca yang serba kekurangan ini. Terima kasih mamah sudah tulus terhadap Caca, maafkan Caca yang masih belum bisa menjadi menantu yang baik buat mamah" tangisku tumpah dalam pelukan mamah.
Mamah mengusap lembut punggungku. Ya Allah terima kasih telah memberikan rezeki yang luar biasa ini, tidak hanya suami yang mau menerima tetapi juga mertua yang mau menerima dan tulus menyayangiku.
"Ekhem....." Arka berdehem dan berjalan mendekat.
Arka sudah berdiri mematung saat mamah masih berbicara panjang lebar. Mungkin Arka memberikan waktu dan tempat untuk mamah berbicara padaku.
Aku dan mamah mengurai pelukan. lalu saling tersenyum.
__ADS_1
"Ayo makan dulu" Ucap Arka.
"Ini masakan mamah kan?" Tanyaku, karena aku sudah hapal dengan aroma dan penampilan rendang buatan mamah.
"iya, ini mamah yang masak. Ayo cepat habiskan. Setelah ini langsung istirahat" Mamah berucap sambil memijat kakiku. Kali ini aku tidak lagi menolaknya.
"Sayang, aku kerjain proposal dulu ya?" Ucap Arka.
"Kamu nggak makan dulu?" Tanyaku.
"Nanti saja kalau ini sudah selesai, kalau aku makan dulu yang ada nanti ngahoway terus, malah nggak fokus bikin proposalnya"
"Hah.. kamu bilang apa tadi, melehoy...on the way... ih apaan sih tadi, coba ulangi" Pintaku karna mendengar bahasa baru darinya .
"in the Hoy...." Jawab Arka sekenanya.
"Iihh bukan...bukan deh, bukan itu, apaan sih tadi kamu bilang?"
"Ngahoway" Jawab mamah.
"Hah... apa sih itu mah?" Tanyaku pada mamah.
"oohhh... iya iya ngerti sekarang. Kok lucu ya bahasanya" Aku terkekeh mendengarnya.
Arka sudah berada di depan laptop nya. Sedangkan aku masih melanjutkan makan sambil di pijat kakinya. Benar-benar merasa jadi ratu. Ternyata ini yang dinamakan wanita akan menjadi ratu jika bersama lelaki yang tepat. Tidak hanya lelaki ku yang menjadikan aku sebagai ratu tapi juga mamah mertua.
"Mah, gimana keadaan Rani hari ini?" Tanyaku
"Alhamdulillah, sekarang sudah berangsur pulih. Makannya juga sudah normal. Sudah seperti biasanya"
"Alhamdulillah kalau gitu. Tadi Caca beli susu sama vitamin buat Rani. Supaya tubuhnya berisi lagi, dan juga daya tahan tubuhnya lebih kuat lagi. Mamah juga bisa minum itu kok. Bagus juga itu mah, biar tidak mudah sakit"
"Makasih ya sayang kamu begitu perhatian sama Rani, kamu memanjakannya. Mamah sangat bahagia, semua kebutuhan Rani terpenuhi" Mata mamah mulai berkaca, hati mamah begitu lembut. Jadi nya mudah sekali mewek.
Aku letakkan piring nasiku di atas nakas. Tidak terasa makan di temani sambil ngobrol, sepiring nasi sudah tandas. Lali aku teguk segelas air yang sudah disediakan oleh Arka.
"Mah, sudah ya. Mamah istirahat saja" Ucapku lembut.
__ADS_1
"hmm .. baiklah. Kamu juga istirahat ya sayang. Jangan begadang, biar nggak mudah pusing. Kamu cuci muka saja dulu. Biar mamah bereskan ini bekas makannya"
"Nggak usah mah, biar Arka saja"
"Arka lagi sibuk sayang, usah nggak apa-apa biar mamah saja. Ayo sana ke kamar mandi" Aku pun mengangguk.
Setelah selesai mengganti pakaian dengan pakaian tidur. Aku pun kembali memasuki kamar. Arka dan mamah sudah tidak terlihat di kamar, laptop juga sudah di tutup, berkas yang tadi berserakan sudah tidak lagi terlihat, ranjang pun sudah kembali rapi.
Aku duduk menghadap cermin membersihkan sisa-sisa make up, tak lupa juga memakai krim malam. Meskipun sedang hamil, aku harus tetap merawat diri supaya tidak terlihat kusam. Tentunya memakai kosmetik yang aman buat kandungan dan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kulit dan juga dokter spesialis kandungan.
ceklek
Pintu kamar terbuka menampilkan lelaki yang begitu tampan dan sempurna di mataku.
"Darimana sayang?" Tanyaku.
"Dari bawah, makan" Jawabnya yang sudah berdiri tepat di belakangku. Kini kami berdua sama-sama menghadap ke cermin.
"Ya sudah sana gosok gigi, terus istirahat"
Arka masih saja menatapku di cermin.
"Kok malah bengong sih, udah sana iihh" Aku tarik tangannya supaya berjalan ke kamar mandi.
"Gendoonggg" Ucapnya manja
"Ih apaan sih, gendong-gendong. Harusnya aku yang di gendong" Aku berjalan meninggalkannya. Namun tiba-tiba tubuhku melayang.
"turunin" ucapku
"katanya minta gendong, udah di gendong kok minta di turunin" Arka kembali merebahkan tubuhku di atas kasur dan menutup tubuhku dengan selimut.
"sayang..." panggilku
"hemm.. kenapa ?" Arka mendekatkan wajahnya.
"Kamu kan sering gendong aku, kamu merasa nggak kalau tubuhku semakin hari semakin berat?" Arka mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan ku.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa ini?"