Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Mertua yang baik


__ADS_3

Mempunyai mertua yang baik dan perhatian adalah impian seluruh kaum istri. Seandainya di dunia ini semua istri dan mertua perempuan bisa bersanding dan hidup damai. Maka di dunia ini tidak akan ada perang dunia ke empat, ke lima, ke enam dan seterusnya. Sungguh indah bukan... Tidak ada salahnya untuk sekedar berandai-andai.


Dulu seringkali aku mendengar curhatan dari teman-temanku. Ada yang tidak cocok dengan mertuanya dan ada juga yang tidak cocok dengan saudara iparnya. Ternyata dalam berumah tangga itu ada berbagai macam konflik yang bisa saja terjadi.


Bahkan karena rasa ketidakcocokan itulah bisa menyebabkan keretakan rumah tangga, dan akhirnya terjadi perpisahan. Sungguh miris bukan. Sempat terlintas jika menikah nanti mendapatkan suami yang sudah tidak mempunyai orang tua atau yatim piatu, bila perlu suami yang hidup sebatang kara. Karena sungguh tidak ingin apa yang menimpa temanku, aku bisa mengalaminya juga.


Tetapi setelah menikah, justru aku merasa sangat beruntung sekali. Karena aku mendapatkan mertua dan juga ipar yang baik dan juga perhatian.


Meskipun kehidupannya sederhana tapi mereka benar-benar orang yang baik dan terdidik. Bisa menghargai dan menghormati orang lain.


Suamiku juga orang baik, penyayang dan penuh perhatian. Hanya saja belakangan ini aku merasa dia berubah, suka sekali membuatku marah kadang sampai menangis. Tapi saat aku menceritakan ini semua kepada mertuaku, bisa saja ini hanya pengaruh hormon kehamilan atau bawaan bayi. Sehingga aku menganggap hal yang biasa saja menjadi yang sangat berlebihan.


Suamiku juga orang yang penuh rasa sabar. Tak jarang aku terbangun tengah malam membangunkannya. Meskipun matanya sulit untuk terbuka, dia tetap memaksanya supaya jangan terpejam. Seperti kala itu.


"Sayang, pijitin kakiku dong. Pegel semua" Aku bangunkan Arka yang baru saja tertidur. Dengan terpaksa dia kembali duduk dan memijit kakiku. Meskipun beberapa kali menguap dia tetap memijitnya. Kadang aku menyentakkan kakiku saat pijatannya terhenti.


"Iihh kamu ini mijitnya nggak bener. Malah tidur" Omelku saat aku melihatnya terpejam dan tiba-tiba tertunduk. Bukannya kasihan justru aku malah mengomelinya.


"Iya maaf sayang" Dengan sabar dia tetap melakukan permintaanku.


Tapi setelah aku mendengarkan nasihat dari mertuaku, ternyata aku sudah keterlaluan. Aku merasa bersikap semena-mena terhadap Arka.


'Sayang, maafkan istrimu yang tidak tahu diri ini.'


Aku hanya bisa membatin.


***


"Buk Mar, nanti minta tolong ya. Bantu saya antar ini semua ke tetangga sekitar sini." Ucap Mamah pada buk mar.


"Memangnya mamah kenal sama tetangga disini" Tanyaku heran.


"Kenal kok, memangnya kenapa?" Mamah balik bertanya.


"Wah mamah hebat, aku yang tinggal disini, malah nggak ada yang aku kenal sama sekali. Kecuali pak RT. Itu pun kenalnya karena ijin tinggal disini" Ucapku pada mamah yang tengah sibuk menghitung hasil panennya.


Hasil panen mamah sudah di bungkus di plastik berukuran sedang. Di dalamnya sudah di isi dengan berbagai hasil panen. Meskipun sedikit tapi merata kata mamah.


"Gimana mau kenal kalau cuma ngumpet di rumah. Nanti sekalian mamah mau bilang ke Umi Rahmi supaya kamu bisa ikut pengajian kompleks"


"Kok mamah tahu kalau aku mau ikut pengajian"


"Kemaren arka cerita sama mamah. Katanya kamu suka kalau ikut pengajian. Makanya nanti mamah mau bilang ke Umi Rahmi. Karena beliau yang mengurus pengajian di kompleks sini" Jelas mamah.


"Tapi aku malu mah"


"Kenapa mesti malu?" Mamah mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Nggak ada yang aku kenal sama sekali mah" Aku pun memberi alasan pada mamah.


"Tenang aja sayang besok mamah temani ya. Mau kan?"


"Beneran ya mah, kalau mamah beneran mau nemenin, aku mau mah" Aku pun merasa senang karena akan ikut pengajian di kompleks ini apalagi di temani oleh mamah.


"Iya sayang, mamah akan temani kamu" Aku pun memeluk mamah.


"Assalamualaikum" Terdengar suara salam dari seseorang yang selalu aku rindukan kepulangannya.


"Waalaikumsalam" Jawabku serempak dengan mamah.


"Hmmm, ada apa ini kok pelukan? Sampai-sampai ada yang ngucap salam nggak ada yang jawab" Arka mengulurkan tangannya padaku, lalu dia juga menyalami mamah dengan takzim.


"Nggak usah kepo deh" Sahutku.


Arka meletakkan tasnya di atas meja, lalu duduk di sampingku.


"Gimana hari ini anak papa, rewel nggak ?" Arka mengusap perutku yang masih rata.


"Enggak dong" Jawabku.


"Pinternya" Arka kembali mengusap perutku, aku tersenyum melihatnya seperti ini. Perhatiannya cukup besar menurutku.


"Mah, itu mau di bagikan ke tetangga?" Tanya Arka ketika melihat mamah memasukkan bungkusan-bungkusan kresek itu ke dalam keranjang.


"Rani kemana mah, kok nggak kelihatan?" Tanya Arka saat menyadari adiknya tidak ada di ruangan ini.


"Ada di kamar, lagi istirahat. Tadi sehabis makan siang mendadak bilang pusing"


"Udah minum obat?" Tanya Arka lagi.


"Sudah, tadi sudah di minum juga"


"Ya sudah, aku mau lihat Rani dulu. Kasihan dia, suka nggak tega kalau lihat dia sakit gini" Lalu Arka berdiri dan berjalan menaiki tangga. Karena Rani menempati kamar yang ada di lantai atas.


"Sekalian mandi ya" Teriakku saat Arka susah menaiki tangga.


"Oke" Sahutnya.


Aku kembali fokus membantu mamah "Mah,nanti aku ikut ya kalau mau nganterin ini" Ucapku pada mamah.


"Nggak usah sayang, nanti kamu capek. Ini lumayan banyak lho, sampai rumah Bu Roni yang rumahnya samping masjid"


"Nggak apa-apa mamah, itung-itung olahraga. Lagian aku juga pengen tahu nama-nama tetangga beserta rumahnya" Jawabku.


"Ya sudah kalau gitu. Sekarang aja kesana" Mamah merapikan jilbabnya. Sedangkan buk Mar sudah siap mengangkat keranjang.

__ADS_1


"Lumayan berat buk" Buk mar terkekeh.


"Gini aja. Kurangin isinya. Nanti biar aku dan mamah sama-sama bawa juga. Masukin kantong kresek aja mah" Kembali aku keluarkan beberapa bungkus untuk mengurangi bebannya. Kasihan juga buk mar kalau harus ngangkat berat seperti ini.


"Segini cukup ya buk Mar?" Tanya mamah


"Cukup buk, lumayan lah nggak berat-berat amat" Buk mar kembali terkekeh.


"Buk mar bisa naik motor?" Tanyaku


"Bisa dong non"


"Ya udah, buk Mar pake motor aja. Nanti biar aku sama mamah nyusul" Ucapku.


"Wah ide bagus non. Kenapa nggak kepikiran ya" Kali ini bukan hanya buk mar yang tertawa. Aku dan mamah pun ikut tertawa.


"Mbak Susi kemana kok nggak kelihatan?" Tanyaku.


"Biasalah non, lagi kencan"


Hah, aku melotot mendengar jawaban buk mar.


"Kencan? kencan gimana?" Tanyaku merasa penasaran.


"Non belum tahu ya, kalau Susi lagi deket sama Udin, Tukang kebun tetangga sebelah"


"Masa sih? Terus kencannya dimana?" Tanyaku lagi.


"Di depan posnya pak Hadi"


"Tapi itu tukang kebunnya single kan?"


Aku merasa penasaran dengan Mbak Susi. Dia perempuan kalem. Janda beranak satu itu terlihat polos, kasihan saja kalau di permainkan sama lelaki yang baru dia kenal.


"Katanya sih single non, tapi menurut kabar yang beredar nih, Udin itu masih belum putus sama Murni, baby sitter Leo, anak Bu Agnes"


"Hmmm mudah-mudahan saja mbak susi tidak di permainkan sama si Udin"


"Eehh, sudah-sudah, ayo berangkat jangan gibahin Susi. Nanti jadi fitnah. Sudah biarkan mereka dengan drama cintanya, kita nggak boleh ikut campur." Mamah segera mengangkat kantong kresek yang sudah di persiapkan. Lalu mamah berjalan terlebih dulu.


"Buk mar, nanti ceritain lagi ya. Penasaran dengan kisah mereka" Bisikku pada buk mar, karena tidak mau mamah mendengarnya.


Aku pun berjalan menyusul mamah. Sedangkan buk mar bersiap berangkat menggunakan motor.


"Hati-hati ya buk Mar" Ucapku saat motor yang buk mar kendarai berjalan mendahuluiku.


"Siap non"

__ADS_1


__ADS_2