Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam Arka datang. Dan itu sangat membuatku merasa kesal. Sampai-sampai aku malas bicara dengannya.


"Sayang, kamu udah makan?" Tanya Arka saat mendekatiku. Di tangannya membawa sebuah bungkusan. Entah apa itu.


Aku palingkan wajahku dan berjalan meninggalkannya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu marah sama aku. Apa karna aku nggak angkat telepon kamu?" Arka terus mendekatiku, dan berusaha memelukku. Tapi aku menolaknya.


"Kalau udah tau ngapain masih nanya? Kamu sengaja kan nggak angkat teleponku?" Gerutuku.


"Sayang, maafin aku. Tadi aku memang sengaja nggak angkat telepon kamu. Tadi aku silent karna ada rapat penting sama direksi dan juga manager keuangan. Maafin aku ya?" Arka mencium tanganku, tapi secepat kilat aku tarik tanganku.


"Kamu tuh bener-bener ya. Disini aku terus-terusan muntah karna kehamilanku sedangkan kamu nggak mau angkat teleponku, kamu nggak ngasih kabar juga ke aku." Nada suaraku mulai meninggi.


"Sayang maafin aku ya, aku bener-bener minta maaf. Jangan marah lagi ya, tadi keadaan di kantor benar-benar kacau. Makanya aku nggak bisa nerima panggilan dari siapapun. Saat aku akan ngasih kabar ke kamu handphoneku lowbatt jadi nggak bisa ngabarin kamu. Maafin aku ya. Kalau kamu nggak percaya nih lihat handphoneku mati" Arka mengeluarkan handphone nya dari kantong celananya dan memperlihatkannya padaku. Aku terdiam karena nggak tau harus bicara apalagi. Aku tau kalau keadaan kantor memang sedang kacau. Tapi aku juga merasa kesal dengannya.


"Kamu belum makan kan sayang? ini aku bawain brownies kesukaan kamu. Kamu makan dulu ya. Tadi pulang kerja aku melewatinya jadi aku beli buat kamu. Ayo makan dulu " Ajak Arka. Dia menuntunku agar duduk di sofa. Aku hanya menurutinya.


Arka membuka kotak brownies yang tadi dia bawa saat pulang kerja. Air liurku serasa mengalir di lidah saat melihat brownies kesukaanku.


"Aku suapin ya?" Ucap Arka.


"Nggak mau, makan aja sendiri" Aku berusaha jual mahal dan pasang wajah jutek.


"Kamu kan belum makan sayang. Ini kesukaanmu loh" Bujuk Arka.


"Biarin aja, makan aja sendiri. Aku nggak nafsu makan" Ucapku dengan ketus.


"Beneran nih nggak mau, jujur aja ya aku nggak pernah makan kayak gini sebelumnya. Waktu dulu aku lihat kamu makan kue beginian, sebenernya aku pingin. Tapi aku takut kamu marah kalau aku minta. Aku juga nggak mau ketagihan karena mungkin rasanya terlalu enak. Tapi kalau sekarang kamu nggak mau ya udah lah daripada mubadzir mending aku makan aja." Arka mengambil potongan brownies itu dan cokelatnya meleleh di dalam, aku hanya berani meliriknya.


Tapi saat tangan Arka akan memasukkan potongan brownies itu ke mulutnya dengan cepat tangannya aku arahin ke mulutku. Dan masuklah brownies itu ke mulutku.


"Loh, kok kamu yang makan sih sayang?" Arka keheranan.


"Emangnya kamu mau kalau anakmu nanti ileran gara-gara liat kamu makan brownies kesukaanku." Gerutuku.


"Katanya nggak mau"


"Nggak mau nolaklah. Lagian kamu juga nggak peka amat kalau istrinya ngambek. kenapa nggak terus berjuang untuk merayu sampai luluh" omelku.


"Hadeehhh... salah lagi. Tadi kan udah di tanyain jawabnya nggak mau. Harus berjuang gimana lagi coba. Bawa bambu runcing gitu kayak pejuang jaman dulu"


"Kamu ini nyebelin banget"


"Ya udah nih makan, habisin ya" Ucap Arka sambil tersenyum dengan manisnya.


"Kamu nggak minta?" Tanyaku


"Enggak, itu buat kamu" Jawab Arka.


"Tapi katanya kamu pingin nyobain, kita makan berdua ya" ucapku sambil makan brownies itu dengan lahapnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan sayang makannya, sampai belepotan gitu"


Arka menghadapkan wajahku ke arahnya. Bibirnya mengecup ujung bibirku, dan lidahnya menjilatinya dengan perlahan. Terasa hangat sampai merinding di buatnya. Aku terhanyut di buatnya, tangannya mulai menyusup ke leherku sampai ke belakang telinga. Aku mengecup bibirnya perlahan, tapi Arka membalasnya dengan penuh nafsu. Jujur saja aku sangat menikmatinya.


Perlahan Arka mengangkat tubuhku agar berada diatas pangkuannya. Dengan bibir yang tak terlepas Arka berhasil mengangkat tubuhku ke atas pangkuannya. Sekarang posisiku berhadapan dengannya. Bibir kami saling berpagut. Tangan Arka menyusup ke dalam piyamaku. Meraba bagian punggungku dan melepaskan kancing bra ku. Perlahan tangannya merayap ke bagian dadaku yang mulai mengeras.


Arka melepas ciumannya, piyamaku di singkapnya sehingga menyembul dua bukit kembar yang sudah mengeras di ujungnya. Arka menenggelamkan wajahnya diantara kedua bukit itu. Kedua tangannya memainkan ujung bukit itu. Aku hanya bisa melenguh dengan meremas rambutnya. Salah satu tangannya mulai berhenti dan digantikan dengan mulutnya lalu menghisapnya dengan perlahan. Aku semakin melenguh, dan Arka semakin bergairah mendengar desahanku.


Aku merasakan ada yang mengeras saat aku duduk di pangkuan Arka. Sedikit aku tarik rambut Arka agar dia menghadap ke arahku.


"Sayang, boleh nggak kalau lagi hamil kita melakukan hubungan intim?" Tanyaku.


"Astaga... Aku bener-bener lupa kalau kamu sedang hamil. Maafkan aku sayang. Aku nggak tau boleh atau enggaknya. nanti kita tanyakan sama dokter dulu ya. Aku juga nggak mau terjadi apa-apa sama kamu." Ucap Arka.


"Tapi aku malu kalau harus tanya sama dokter." Ucapku.


"Terus mau tanya sama siapa? Nggak apa-apa kok besok kita tanya sama dokter ya" Bujuk Arka.


"Kita lakukan aja sekarang, tapi pelan-pelan aja" Ucapku.


"Nggak aku nggak mau. Aku nggak mau membahayakan kamu ataupun calon anak kita. Sebelum kita konsultasi aku nggak mau melakukannya" Ucap Arka dengan tegas.


"Ya udah terserah kamu aja" Aku pun turun dari pangkuannya dengan kesal. Lalu melanjutkan makan brownies.


"Kamu makan aja dulu ya. Aku mau mandi habis gitu mau sholat isya' dulu. Kamu udah sholat belum?" Tanya Arka.


"Udah" Jawabku ketus.


"Udah, jangan ngambek aja. Aku mandi dulu ya" Lalu Arka meninggalkanku yang masih merasa kesal.


Karena kesal tidak terasa brownies yang ada di hadapanku sudah lenyap tidak tersisa. Hanya tinggal lelehan cokelatnya yang belepotan di wadahnya. Karna merasa masih kurang aku pun menjilatinya dengan ujung jariku. Seperti kesurupan saja aku ini. Satu kotak brownies yang biasanya aku makan sampai tiga kali, tapi kali ini habis dalam sekejap. Apa karena aku lapar ya.


Tidak tau apa yang akan aku perbuat lagi. Mau makan lagi tapi takut mual dan muntah. Karena bingung Aku memilih merebahkan tubuhku di ranjang. Menghadap ke langit-langit kamar memikirkan sesuatu yang nggak jelas. Otakku seperti berpikir tapi aku sendiri nggak tau apa yang aku pikirkan.


"Hayo mikirin apa?" Tiba-tiba Arka melompat ke tengah ranjang dan mendekatiku.


"Apaan sih?"


"Nggak baik loh kalau lagi hamil banyak pikiran. Mending di omongin aja langsung biar pikirannya bebas." Ucap Arka.


"Aku nggak mikirin apa-apa sayang. Aku cuma mau ngelamun aja" Jawabku.


"Ngelamunin apa sih?"


"Entahlah" Jawabku.


"Daripada ngelamun nggak jelas gini, mending sini deh tidur di pelukanku" Arka mengatur posisinya agar lebih nyaman. Dan aku pun menuruti kemauannya. Aku tidur di sampingnya dengan tangannya sebagai bantalan kepalaku.


"Sayang" ucapku


"Hmm"

__ADS_1


"Maafin aku ya tadi marah-marah sama kamu" Ucapku dengan lirih.


"Udah aku maafin sayang. Aku tau kamu marah pasti punya alasan juga. Aku juga minta maaf ya kalau mengabaikanmu" Ucap Arka.


"Iya sayang. Terus gimana urusan kantor apa masih kacau?" Tanyaku.


"Tadi udah di lakukan penyelidikan di bagian keuangan, sepertinya terjadi penyalahgunaan uang perusahaan sehingga perusahaan mengalami kerugian sekitar tiga milyar lebih. Dan itu terjadi hanya dalam waktu kurang dari sebulan saja. Tadi setelah melakukan meeting, penyalahgunaan itu di duga di lakukan oleh pihak kontraktor. Yang akan melakukan pembangunan di cabang baru."


"Terus kalau nanti ketahuan orangnya gimana?" Tanyaku.


"Tadi sudah melapor ke pihak berwajib. Supaya di proses sesuai hukum. Tapi nanti juga akan meminta agar di kembalikan uang yang bukan haknya. Tapi masih di selidiki nih, kurang satu langkah lagi. Besok akan di lakukan meeting dan pemeriksaan lagi. Mungkin besok aku akan sangat sibuk. Dan kamu jangan marah lagi seandainya telepon kamu nggak aku angkat, dan aku juga nggak ngabarin kamu. Tapi sebisa mungkin aku akan kasih kabar kalau ada waktu ya" Ucap Arka.


"Iya sayang. Kalau kamu udah ngasih tau gini kan aku juga tenang." Ucapku.


"Makasih ya" Kecupan kilas aku rasakan di keningku. Lalu Arka mengusap permukaan perutku "Jangan rewel ya sayang, kasihan mama sendirian disini, besok papa akan sangat sibuk kerja jadi jangan rewel ya, kasihan mama"


Aku tersenyum melihat Arka berusaha komunikasi dengan calon anak kami. "Makasih ya sayang kamu udah rela mengandung buah hati bukti cinta kita. Kamu yang sabar ya aku tau memang sulit melewati masa hamil muda, tapi kamu harus tetap melewatinya." Ucap Arka, dan kecupan kembali aku dapatkan.


"Iya sayang" Aku rapatkan pelukan tanganku di pinggangnya.


"Sekarang kamu tidur ya, kamu pasti lelah menghadapi hari ini sendirian" Ucap Arka.


"Iya aku mau tidur. Tapi tangannya di angkat dikit dong biar aku bisa enak tidurnya" Ucapku.


"Di angkat gimana?"


"Gini loh" Aku angkat tangan Arka yang aku jadikan bantal jadi lebih terbuka di bagian keteknya. Aku pun tidur di sela tangannya. Tepatnya sambil nyium keteknya.


"Kok gini sih tidurnya?" Tanya Arka.


"Udah ah diem. Aku mau tidur. Jangan berisik jangan banyak omong" Ucapku.


Aku pun tidur dengan posisi miring menghadap ketek Arka, sedangkan Arka sendiri dengan posisi telentang. Tidak lama aku pun terlelap melewati dunia mimpi.


//**//


Keesokan paginya


Arka menyiapkan sarapan buatku, selain makanan hotel Arka juga menyiapakan segelas susu dan juga buah-buahan.


"Sayang, aku nggak mau minum susu itu. Kemarin habis minum susu itu aku langsung mual dan muntah." Tolakku.


"Kok bisa, ya udah nggak usah di minum. Kamu sarapan ini aja ya. Nanti susunya biar aku yang minum" Ucap Arka.


"Itu kan buat ibu hamil sayang. Bukan buat bapak-bapak" Ucapku.


"Aku mewakili kamu sayang."


"Kamu ini ada-ada saja" Kami pun tertawa.


"Oh iya sayang, nanti kalau aku bisa pulang cepat kita konsultasi ke dokter langsung ya. Tapi kalau nggak sempat kita akan hubungi dokter via WhatsApp aja"

__ADS_1


"Terserah kamu aja" Jawabku.


"Ya udah kalau gitu, aku berangkat kerja dulu ya." Arka berpamitan dan tak lupa juga dia pamit sama calon anak kami.


__ADS_2