Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Semua urusan di pabrik sudah selesai. Arka segera mengajakku pergi. Sebelum pergi pak Adam sempat memberikan sesuatu pada Arka, sebuah paper bag yang lumayan besar. Tapi aku tidak punya keinginan untuk bertanya apa yang ada di dalamnya.


Saat mobil mulai melaju aku menanyakan perihal perempuan yang aku temui di acara pak Adam. Karena daritadi sama sekali aku tidak melihat mereka. Arka menjelaskan kalau dua perempuan itu sudah dipindah tugaskan di bagian lain. Yaitu di bagian lapangan. Sedangkan posisinya di gantikan oleh karyawan lain. Aku pun juga menanyakan tentang perempuan yang tadi datang menemuiku untuk mengantar minuman. Arka menjelaskan kalau perempuan itu keponakan istri pak Adam. Dia bekerja di pabrik sebagai sekretaris.


"Oh pantas saja dandanannya cantik gitu" Ucapku sedikit ketus.


"Kamu cemburu? Sejak kapan kamu jadi cemburuan gini?" Arka mulai meledekku.


"Nggak usah kepedean, aku nggak cemburu, ngapain juga cemburu sama dia, nggak guna" Aku pun merasa kesal. Bukan karena ucapan Arka. Tapi karena mengetahui kalau perempuan cantik itu adalah sekretarisnya. Biarpun Arka tidak setiap hari mengunjungi pabrik, tapi tetap saja dia akan bekerja di dampingi perempuan itu. Pikiranku mulai berpikir yang tidak-tidak.


Terlalu berlebihan mungkin itu yang terjadi padaku. Tapi menurutku masih wajar kalau aku merasa cemburu jika ada perempuan yang dekat dengan suamiku. Walaupun itu sebatas pekerjaan. Tapi yang namanya perasaan bisa saja berubah karena seringnya pertemuan. Kacau, sungguh kacau pikiranku. Kenapa aku jadi curiga gini sama suamiku sendiri. Caca, sabar Caca suamimu adalah tipe suami setia yang tidak akan tergoda dengan wanita cantik manapun, batinku mencoba menenangkan pikiranku.


"Om kita mau kemana sih?" Tanya Luna.


"Sebentar lagi sampai kok" Jawab Arka.


Tidak lama kemudian mobil memasuki halaman parkir sebuah wahana air.


"Om, ini kolam renang kan?" Tanya Luna dengan polos.


"Iya sayang, hari ini kita akan berenang" Ucap Arka sambil menarik hand rem.


"Yeeee kita renang. Tapi Luna nggak bawa baju ganti. Nanti kalau bajunya basah gimana?"


"Tenang saja, Om sudah menyiapkan semuanya" Arka mengambil paper bag yang dia letakkan di kursi belakang.


"Ayo om kita let's go, Luna sudah nggak sabar mau renang." Luna pun segera keluar dari mobil. Sedangkan aku hanya diam saja. Membiarkan mereka keluar dari mobil.


Begitu menyadari kalau aku belum keluar dari mobil, Arka kembali membuka pintu dan kepalanya saja yang melongok ke dalam "Kok kamu nggak turun?" Tanya Arka. Aku tak menjawabnya. Karena masih merasa jengkel.


"Ayo dong sayang, udah nggak usah marah lagi. Kalau kamu nggak turun, kita nggak jadi ngajak Luna berenang. Lebih baik kita pulang" Ucapan Arka seperti sebuah ancaman bagiku. Karna kalau itu benar terjadi. Wajah ceria Luna akan berubah menjadi kecewa dan aku tidak menginginkan itu.


Dengan cepat aku langsung keluar dari mobil dan menyusul Luna. "Tante kok lama banget?" Tanya Luna yang merasa bosan karena sudah menungguku lama.


"Iya maaf, Tante masih mencari barang Tante yang terjatuh" Aku pun memberi alasan untuk berbohong.


Saat berjalan Arka meraih tanganku dan menggenggamnya. Jantungku berdenyut lebih cepat merasakan sentuhan tangan Arka. Genggamannya seolah melenyapkan pikiranku yang buruk tentangnya.


Luna yang berjalan mendahului kami, tiba-tiba berhenti dan membalikkan badan. "Om mana handphone om?" Tanya Luna.


"Mau apa?" Tanya Arka


"Sini deh, cepetan" Rengeknya.


Arka menyerahkan handphone nya ke tangan Luna. Luna kembali berjalan mendahului kami.


"Stop...stop.. di situ" Tangan Luna memberi isyarat agar kami menghentikan langkah. Kami pun menurutinya.


"Biar Luna foto dulu ya" Aku terkejut mendengar perkataan Luna. Kenapa anak ini tiba-tiba menyuruhku foto berdua dengan Arka. Berkali-kali Luna mengambil foto kami. Berganti-ganti gaya.


"Liat deh om, hasilnya bagus kan?" Luna pun menunjukkan hasil fotonya.

__ADS_1


"Wah iya bagus, Luna pinter. Kenapa tiba-tiba Luna menyuruh om dan Tante untuk foto. Mau buat apa?" Tanya Arka pada Luna.


"Biar suatu saat bisa dijadikan cerita buat anak-anaknya" Jawaban Luna mampu membuatku membelalakkan mata. Darimana dia mendapatkan kata-kata seperti ini.


"Dan sekarang Luna mau foto bertiga sama om dan Tante. Biar nanti kalau Luna sudah dewasa, Luna juga punya kenangan indah yang tak bisa di lupakan seperti Tante" Luna menoleh ke arahku.


Aku terpekik ternyata Luna mendapat kata-kata itu dari apa yang dia lihat dari diriku hari ini.


"Memangnya Tante punya kenangan indah apa?" Selidik Arka.


"Masa kecil yang bahagia dan sekarang merindukan disaat-saat itu, karna tidak bisa kembali ke masa dulu, akhirnya Tante nangis" Luna berceloteh dengan polosnya. Arka menoleh ke arahku, menatapku dengan sejuta pertanyaan.


Aku palingkan wajahku, merasa malu untuk menatap mata itu. Tiba-tiba saja Arka memeluk tubuhku membuatku terkejut. "Kenapa Luna lebih tahu daripada aku" Lirihnya di samping telingaku" Aku tidak menjawab ucapan Arka.


Aku terdiam bahkan tanganku pun enggan membalas pelukannya, hanya air mataku saja yang menetes di pundak Arka. Aroma tubuhnya mampu membuat pikiranku tenang.


"Om lihat ini" Teriakan Luna membuyarkan lamunanku. Arka melepas pelukannya.


"Kenapa sayang?" Tanya Arka mendekati Luna yang sedang asik bermain handphone. Senyum mengembang menghiasi bibir Arka saat dia melihat layar handphone yang di tunjukkan Luna.


"Sayang, coba lihat ini" Arka menunjukkan sebuah video padaku. Aku terkejut karena Luna merekam yang baru saja terjadi. Aku tertawa setelah melihatnya. Di dalam video itu terlihat aku sedang di peluk Arka.


"Jahil banget ya anak ini" Ucapku sambil menggelitikinya. Dia pun berlari ke belakang tubuh Arka. Mencoba untuk sembunyi dariku.


"Ayo kena" Dengan cepat Arka menggendong tubuh kecilnya. Kami tertawa layaknya sebuah keluarga yang berbahagia.


Saat di pintu masuk pun banyak pasang mata yang memperhatikan kami. Bahkan saat mataku beradu, dengan ramahnya mereka memberikan senyuman. Mungkin yang ada di pikiran mereka kami adalah keluarga kecil.


"Namanya juga kejutan" Jawab Arka.


"Darimana kamu tahu tempat ini? Ini kan tempat liburan keluarga" Aku pun mulai menanyainya. Karena nggak mungkin kan kalau dia pernah kesini sendirian atau kesini sama pacarnya.


"Pak Adam yang memberikan tiketnya. Sebenarnya dia berencana mau ngajak liburan keluarganya. Tapi berhubung anak sulungnya sedang sakit, jadi dia menundanya. Sedangkan masa berlaku tiketnya cuma sampai hari Minggu besok. Berhubung kalau hari Minggu rame banget, jadi hari ini saja aku ngajak kalian kesini. "


"Oh gitu... pinter banget sih suamiku" Aku pun mencubit pipi Arka dan Luna tertawa melihat tingkahku.


Aku dan Arka menuju gazebo yang sudah kami sewa, letaknya tidak jauh dari kolam renang. Disini banyak pilihan wahana bermain untuk anak-anak. Mungkin bagi yang sudah punya anak memang wajib kesini untuk liburan keluarga. Karena tempatnya bagus banget dan nyaman buat bersantai.


"Tante nggak ikut berenang?" Tanya Luna saat aku mengganti pakaian renangnya. Sedangkan Arka pergi ke ruang ganti baju.


"Enggak sayang, Tante nggak ikut renang. Sama om Arka aja ya renangnya" Ucapku.


Tidak lama kemudian Arka sudah kembali hanya menggunakan celana renangnya. Dada bidangnya terlihat dengan jelas. Darahku seperti mendidih melihatnya seperti ini. Otot tubuh dan otot lengannya terlihat dengan jelas. Tapi bukan berarti seperti binaraga, hanya saja tubuhnya itu cukup sempurna bagiku, perutnya rata tidak ada gundukan lemak disana. Aku palingkan wajahku agar tidak terlalu lama menatapnya. Seperti orang gila saja jika aku terus memandangnya. Ya ampun kenapa aku menjadi selemah ini berhadapan dengan Arka. Tubuh polosnya begitu menggoda.


Untung saja ini bukan tempat umum yang banyak di kunjungi banyak gadis ataupun wanita single. Bisa-bisa aku adu mulut ataupun mungkin bisa saja main cakar mencakar dengan mereka karena tergoda dengan tampilan Arka.


"Ayo om cepetan, Luna sudah tidak sabar mandi busa" Teriak Luna begitu menyadari kedatangan Arka.


"Iya sayang sebentar" Arka memberikan dompet dan juga handphone-nya padaku.


"Bajunya mana?" Tanyaku.

__ADS_1


"Aku simpan di loker" Jawabnya.


Diapun pergi menggandeng tangan Luna, tapi baru saja beberapa langkah aku memanggilnya kembali.


"Ada apa?" Tanya Arka begitu mendekatiku.


Aku dekatkan bibirku di telinganya, dan aku bisikkan "Aku nggak mau ya kalau ada perempuan yang memperhatikanmu"


"Hah?? Kalau mereka memperhatikanku ya biarkan saja, yang penting kan aku nggak memperhatikan mereka. Lagipula apa kamu nggak lihat, disini kan yang ada cuma emak-emak sama anaknya"


"Iya sih" Aku pun merasa malu karena secara tidak langsung aku sudah menunjukkan rasa cemburuku.


Kenapa aku jadi kayak gini sih, apa-apaan ini kenapa aku begitu cemburuan, wajar saja kalau banyak yang memperhatikan suamiku. Suamiku cakep, tinggi, tubuhnya bagus belum lagi cara bicaranya yang selalu dengan senyuman. Semua itu mampu menghipnotis semua mata yang melihatnya.


Mataku tak berhenti memperhatikan mereka, Luna dan Arka. Suara tawa Luna terdengar di telingaku. Tawa itu menunjukkan betapa bahagianya Luna saat ini.


Aku memesan beberapa makanan dan minuman yang tersedia disini. Sambil menunggu pesananku disiapkan aku menghampiri Arka dan Luna.


"Luna, ayo makan dulu sayang. Nanti lanjutin lagi bermainnya" Ucapku setengah berteriak.


"Nanti dulu" Jawab Luna.


"Jangan lama-lama ya" Teriakku lagi, dan Luna menjawab dengan menunjukkan jari jempolnya.


Tidak lama kemudian mereka datang menghampiriku. "Mana makanannya?" Tanya Arka.


"Sebentar lagi juga datang, aku sudah memesannya" Jawabku.


Tak lama kemudian datang pramusaji membawa semua pesananku. Luna bersorak gembira karena ada makanan kesukaan dia.


"Wauw... ada udang goreng. Ini punya Luna kan" Luna langsung mengambil sepiring udang goreng.


"Iya sayang makanlah" Ucapku.


"Nanti kalau kurang nambah lagi ya" Arka turut menimpali.


Luna makan dengan lahapnya. Mungkin dia sudah lapar, karna ini juga sudah waktunya makan siang. Aku ambil handphone ku dan beberapa kali aku mengambil foto Luna yang sedang makan dengan lahap.


Setelah puas makan, mereka berdua kembali ke kolam renang. Mencoba wahana yang lainnya. Tawa bahagia tak henti-hentinya keluar dari mulut mungil Luna. Melihat Luna tertawa seperti ini, sungguh membuatku merasa ikut bahagia.



😊


Hai readers yang selalu setia menunggu up. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kalian harus menunggu up yang cukup lama. Bukan tanpa alasan, itu semua karena keadaanku kurang baik.


Aku butuh masukan dari kalian, menurut kalian bagusan mana cerita 18+ atau 21+. Tolong berikan masukannya ya... supaya kedepannya aku bisa menyediakan yang kalian mau.


Kalau kalian suka 18+ berarti salam otak santuyyyy


Kalau kalian suka 21+ berarti salam otak ngeres.

__ADS_1


Terima kasih ya guys, buat kalian yang berkenan memberikan masukan...


__ADS_2