
Senyumku melebar saat membayangkan jika suatu hari nanti perut rataku akan mulai membuncit seiring dengan pertumbuhan calon anakku. Aku juga membayangkan jika suatu hari nanti akan ada gerakan-gerakan menggemaskan di perutku. Sudah tidak sabar akan datang di masa itu. Betapa bodohnya diriku yang sempat ingin menunda kehadiran nyawa di dalam rahimku. Tapi kini aku benar-benar menantikan kehadirannya.
Ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan. "Sayang, masih lama?" Terdengar suara Arka dari balik pintu.
"Sebentar" Teriakku menjawab panggilannya.
Dan tidak menunggu lama, terdengar pintu terbuka. Arka memasuki kamar mandi, menutup kembali pintunya dan mengunci nya dari dalam. Aku sedikit gugup saat dia menatapku dengan tatapan nakalnya.
"Kok masuk, sebentar lagi aku udah selesai kok" Ucapku.
Arka hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Dia juga melepas kaos polosnya dan memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor. Lalu dia berjalan menghampiriku. Kini wajahku bersemu merah yang di sebabkan rasa malu dan gugup.
Aku mengalihkan pandanganku dan lebih memilih masuk ke dalam bath up agar Arka tidak melihat tubuhku yang hanya tertutup busa sabun di beberapa bagian yang mulai kehabisan gelembungnya. Mungkin karena tadi aku terlalu lama melamun.
Aku terkejut saat Arka ikut masuk ke dalam bath up. Dan lebih terkejut lagi saat melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
"Sayang, kamu mau ngapain?" Protesku. Dan dengan santainya Arka duduk di hadapanku. kakinya menjulur ke arahku.
Arka terkekeh "Aku hanya mau mandi bersamamu. Karena aku juga mau minta tolong agar di gosokkan punggungku." Arka memberikan alasan padaku.
"Kamu nggak minta lebih kan?" Tanyaku penuh selidik.
"Tenang aja, aku nggak akan meminta lebih. Tapi kalau kamu memberikannya, dengan senang hati aku akan menerimanya" Kata-katanya benar-benar menggodaku.
Arka menggeser duduknya membelakangi ku. Karena dia minta agar punggungnya di gosok. Dengan perlahan aku menggosok punggungnya dan juga melakukan pijatan-pijatan kecil disana.
"Sayang, Luna sedang apa?" Tanyaku
"Tadi saat dia mau ganti baju, dia menyuruhku keluar dari kamar. Makanya aku kesini aja. Dan mungkin sekarang sedang melakukan video call dengan ibunya. Katanya kangen. Dia bilang jangan ganggu dulu"
"Pinter banget ya kamu cari alasan buat berlama-lama disini"
"Beneran sayang, tadi Luna bilang gitu. Kalau nggak percaya nanti tanyakan sendiri sama Luna" Arka bicara dengan nada serius. Aku milih diam dan melanjutkan memijat punggungnya.
"Iya iya, aku percaya. Udah ya gosoknya, tanganku pegal" Aku letakkan alat gosok di samping bath up.
"Sekarang giliranmu yang aku gosok" Tangan Arka mencoba memutar tubuhku agar membelakanginya.
"Nggak usah, aku mau bilas badanku aja" Aku singkirkan tangan Arka dari pundakku.
Arka tak menyerah dia terus memaksa untuk memutar tubuhku. Aku hanya menurut saja. Aku balikkan tubuhku hingga membelakanginya. Dengan lembut Arka mengusap punggungku. Sampai sekian detik, bahkan sekian menit kami saling diam sampai akhirnya Arka lah yang membuka suara.
"Sayang, tadi sewaktu aku ngetuk pintu dan manggil kamu, kamu lagi melamun ya. Soalnya sudah cukup lama aku berdiri di depan pintu tapi tak ada jawaban" Ucap Arka.
__ADS_1
"Eh tadi. eh aku lagi ... nggak ngapa-ngapain. Aku juga nggak melamun kok" Elakku.
"Jangan bohong. Kamu lagi mikirin apa, coba cerita"
Entah sejak kapan Arka menyandarkan kepalanya di pundakku, aku merasakan deru nafasnya di ceruk leherku yang membuatku sedikit gelisah.
Kedua tangan Arka aku tuntun agar keduanya menyentuh perutku "Karena ini" Sedikit aku miringkan kepalaku agar sedikit menoleh ke arahnya. "aku sedang membayangkan saat dia mulai tumbuh dan bergerak dengan aktif, momen seperti itulah yang sangat aku tunggu"
Mataku terpejam saat merasakan usapan lembut dari kedua tangan Arka di permukaan perutku.
"Aku juga menantikannya" Lalu Arka mencium tengkuk leherku secara berulang-ulang. Sehingga membuat tubuhku sedikit menggeliat. Merasakan tubuhku yang merespon kecupannya Arka tidak berhenti sampai di situ saja. Kini bibirnya menjelajah ke pundakku. Tubuhku semakin menggeliat karena merasa geli. Dan ada sesuatu yang mendorong di belakang pantatku. Sesuatu yang mengeras, dan itu adalah kejantanan Arka.
Ciuman Arka berpindah ke pipiku dan mencoba meraih bibirku. Namun dia sedikit kesulitan. Aku mengerti dan aku geser posisi dudukku agak miring, agar bibir Arka dengan mudah bisa menjangkau bibirku.
Ciuman itu begitu lembut, tidak menuntut juga tidak agresif. Tapi mampu membuatku seperti hilang akal. Aku balas ciuman bibirnya. Kami berdua sama-sama menikmati ciuman itu. Sampai tak sadar sekarang posisi dudukku sudah berhadapan dengannya.
Salah satu tangan Arka menekan tengkuk leherku agar lebih memperdalam ciumanku. Seolah menuruti maunya. Aku semakin agresif membalas ciumannya. Bahkan dengan mudah lidahku mampu memasuki rongga mulutnya dan menjelajah disana.
Arka melepas ciumannya karena merasa kehabisan oksigen. Mata kami saling menatap dan senyum tipis sama-sama menghiasi bibir kami. Kedua tanganku menyentuh wajahnya dan kedua jari jempolku mengusap ujung bibirnya. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi aku mencium bibirnya lagi. Bibir kami saling berpagut. Tapi tak berselang lama Arka melepas ciumannya dan ciumannya berpindah ke ceruk leherku.
Setelah puas menjelajah di area leher bibir Arka turun tepat di belahan dadaku. Tidak hanya menciumi bahkan Arka menghisap dadaku dan mungkin sudah meninggalkan bercak merah disana. Aku tidak melakukan protes toh tidak akan kelihatan karena akan tertutup pakaianku.
Kedua tangan kokohnya mengarahkan ku agar sedikit mengangkat tubuhku. Seolah tahu yang dia inginkan aku pun mengikuti arahannya. Dengan sekali gerakan kini posisi berada di atas pangkuannya. Kejantanan Arka yang semakin mengeras begitu terasa saat menyentuh selangkanganku.
Bibir Arka tidak berhenti menciumi dadaku dan juga bukit kembarku. Salah satu tangannya meremas pantatku dan satu tangannya lagi meremas lembut gundukan di dadaku. Dan mulutnya juga menghisap lembut ujung bukit kembarku yang sudah mengencang dengan sempurna. Semua Arka lakukan dengan sangat lembut. Tapi meskipun begitu gairahku semakin meningkat di buatnya.
"Sayang..."
"I want it" Ucapku memotong perkataannya.
Perlahan aku masukkan kejantanannya sampai memasuki lubang kenikmatanku. Mata Arka terpejam sepertinya dia sedang menahan gairah yang sudah memuncak. Aku gerakkan tubuhku naik turun secara perlahan. Arka hanya mendekap tubuhku dengan penuh rasa khawatir.
Sebenarnya aku begitu malu melakukan semua ini. Aku jatuhkan harga diriku karena aku yang menginginkannya. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Aku yakin kalau sebenarnya Arka juga ingin melakukan hal yang sama. Hanya saja dia tidak mau aku tersakiti seperti pesan dari dokter kandunganku.
Arka menenggelamkan wajahnya diantara kedua bukit kembarku. Aku tambah ritme tubuhku agar berpacu sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Meskipun ada sedikit rasa sakit di bagian bawah perutku, tapi aku abaikan rasa sakit itu. Tubuhku sedikit bergetar karena sebentar lagi akan mencapai puncaknya.
Arka mengangkat wajahnya "Kita lakukan bersama ya" Aku mengangguk dan pada akhirnya kami sama-sama mencapai klimaks. Kami saling memeluk dengan erat. Arka mencium keningku lebih lama.
"Makasih sayang" Ucapnya saat mengakhiri ciuman di keningku. Hanya anggukan yang aku berikan sebagai jawaban.
Aku turun dari pangkuannya memberi tempat agar dia segera keluar dari bath up.
"Biar aku yang menggosok badanmu" Ucap Arka.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Kalau kamu yang menggosok badanku, nanti kita nggak akan selesai mandinya" Arka terkekeh mendengar perkataanku.
Arka segera bangkit dari dan melangkahkan kakinya keluar dari bath up. Dan mandi di bawah siraman shower.
Aku buka tempat pembuangan air di bath up. Dan dengan cepat airnya sudah terkuras habis.
Saat akan keluar dari bath up Arka melontarkan perkataan yang membuatku terkejut "Sayang, jangan perlihatkan tubuh polosmu di hadapanku, karena aku akan tergoda lagi." Mendengar perkataan Arka seketika aku duduk kembali ke dalam bath up, dan kedua tanganku menyilang di depan dada menutup area bukit kembarku.
"Kenapa di tutupi, aku kan sudah tahu setiap inci tubuhmu seperti apa" Mungkin saat ini wajahku seperti udang rebus karena malu. Bagaimanapun juga hanya Arka lah yang tahu tubuhku. Karena hanya dia lelaki satu-satunya yang telah menyentuh tubuhku.
Arka berjalan menghampiri ku dengan handuk putih yang terlilit di pinggangnya. Sedangkan aku masih dengan posisi yang sama. Duduk di dalam bath up dengan kedua tangan menyilang di depan dada. "Aku keluar dulu ya, jangan melamun lagi. Dan cepatlah pasti Luna sudah menunggu kita" Sebelum keluar Arka masih sempat mencium keningku. Aku tak berkata apa-apa lagi, aku hanya menatapnya yang berjalan meninggalkan ku, sampai bayangan tubuhnya tak terlihat lagi.
Saat akan bangun dan keluar dari bath up, perutku terasa sakit sekali. Seperti nyeri saat datang bulan. Aku kan sedang hamil, nggak mungkin aku merasakan nyeri haid.
Mengingat kata hamil, aku kembali teringat pesan dokter kandungan kalau aku belum boleh melakukan hubungan suami istri, karena kandunganku sangat lemah. Tapi aku tidak bisa menahan hasrat ku, aku juga tidak mau membuat Arka kecewa dengan menolaknya. Meskipun aku sendiri yang menginginkannya. Kembali ke rasa sakitku, aku merasa takut sekarang, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan calon anakku.
Segera aku tepis semua pikiran burukku. Dengan cepat aku mengambil handuk dan melilitkannya di tubuhku. Dengan menahan rasa sakit aku berjalan secara perlahan keluar dari kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Arka penuh khawatir saat melihatku berjalan dengan kedua tanganku yang mendekap perut.
"Aku.. aku nggak apa-apa" Jawabku gugup.
Arka berjalan menghampiriku dan menatapku dengan tatapan cemas.
"Aku merasa kamu sedang tidak baik-baik saja. Mana yang sakit?" Arka mencoba menyingkirkan tanganku.
Aku menunjuk bagian perutku yang sakit "Disini"
"Bagaimana rasanya?" Tanya Arka lagi.
"Sakit sekali" Keningku mengernyit menahan sakit.
Arka menuntunku agar duduk di sofa. "Kamu duduk dulu disini. Biar aku yang ambil baju" Dengan cepat Arka melangkahkan kakinya dan membuka lemari pakaianku.
"Pakai ini saja ya, Aku akan menghubungi dokter dulu, biar dia datang kesini" Ucap Arka.
"Jangan, jangan hubungi dokter. Nanti juga sakitnya akan hilang" Dengan cepat aku mencegahnya saat Arka mengambil ponsel di atas meja.Aku mencegahnya karena aku akan merasa malu kalau sampai dokter tahu penyebab sakit di perutku.
"Sayang, aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Biar dokter yang memeriksanya." Bujuk Arka.
Dengan pelan aku menggelengkan kepalaku "Aku malu, nggak usah ya. Mending sekarang ambilkan air hangat buat ngompres perutku. Sekalian aku minta tolong ambilkan vitamin dari dokter. Aku lupa untuk meminumnya" aku membujuk Arka agar menurutiku.
"Hmmm... baiklah kalau gitu" Arka pasrah dengan keputusanku. Dan dia beranjak mengambil botol kaca. Untung saja ada botol kaca bekas tempat minuman yang di beli Arka kemarin.
__ADS_1
Sementara aku memakai baju, Arka menyiapkan air hangat di dalam botol kaca. Dan sesekali tangannya menyentuh bagian luar botol untuk merasakan suhu panasnya. Saat dirasa sudah cukup, Arka memberikannya padaku.
"Makasih sayang" Ucapku dengan senyum yang tidak aku buat-buat. Dan tentunya Arka juga membalas dengan senyumannya yang begitu menggoda.