Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Mobil berhenti di area parkir hotel. Monika memarkir mobilnya dengan rapi. Sebelum turun Monika kembali bertanya "Kamu yakin nggak perlu ke dokter?" Tanya Monika lagi.


"Iya. Tenang aja. Ini udah mulai hilang rasa sakitnya kok" Jawabku.


"Ya udah kalau gitu. Tapi biarkan aku mengantarmu sampai depan kamar ya. Kalau terjadi apa-apa sama kamu. Aku orang pertama yang akan di terkam pak Arka" Seru Monika yang aku sambut dengan gelak tawa.


"Ya udah kita turun yuk" Ajakku.


Kami berdua turun dari mobil dan masuk ke hotel. Saat berjalan di loby, tanpa sengaja aku melihat seseorang yang begitu aku kenal. Dia adalah Farhan. Mati aku, batinku.


Aku berpindah posisi yang awalnya berjalan di sebelah kanan Monika, kini berada di sebelah kiri Monika agar Farhan tidak melihatku karena terhalang tubuh Monika. Untung saja Farhan juga sedang sibuk mengobrol lewat handphone nya. Jadi dia tidak akan memperhatikan orang yang sedang berlalu lalang di loby.


"Kamu kenapa?" Tegur Monika yang menyadari kegugupanku


"Nggak apa-apa" Jawabku. Aku langkahkan kakiku lebih cepat agar bisa segera memasuki lift dan juga biar Farhan tidak bisa melihatku.


Aku bernafas lega saat berhasil masuk ke dalam lift dan pintu lift kembali tertutup rapat.


"Ca, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Monika penuh kekhawatiran.


"I.. iya... aku nggak apa-apa kok" Jawabku gugup. Tenyata Monika memperhatikan tingkahku yang sedikit aneh menurutnya.


Kami saling diam sampai lift terbuka di lantai yang kami tuju.


"Aku langsung pamit ya ca, kamu langsung istirahat ya. Dan inget janji kita tadi ya" Monika mencoba mengingatkanku.


"Iya tenang aja. Btw, makasih banyak ya udah dianter sampai disini. Hati-hati di jalan ya. Sampaikan salamku buat ibu. Kalau ada waktu aku akan mengajak Arka main ke rumahmu"


"Oke, tapi kabarin dulu ya kalau mau ke rumah biar bisa aku siapin semuanya." Kami terkekeh setelah itu aku masuk ke kamarku.


"Assalamualaikum" Aku ucapkan salam setelah menutup pintu. Tapi Tidak ada jawaban dari Arka.


Ternyata Arka ada di dalam. Aku melihat Arka masih berkutat dengan pekerjaannya. Berkas-berkas berserakan di meja. Layar laptop masih menyala. Aku hampiri Arka yang tampaknya sudah mulai kelelahan. Dia mengurut pangkal hidungnya menggunakan ujung jari jempolnya.


"Assalamualaikum.." Ucapku lagi.


"Waalaikumsalam" Sahutnya dengan sedikit terkejut.


Aku dudukkan bokongku di sampingnya dan mengusap rambutnya yang masih tertata rapi.


"Kamu udah pulang? Monika mana?" Tanya Arka.


"Monika langsung pulang. Tadi dia ngantar sampai depan pintu."


"Hm"


"Sayang, kamu capek ya. Sini aku pijitin" Aku raih tangan Arka tanpa menunggu jawaban darinya. Arka tampak pasrah. Aku pijat tangan Arka. Dari bahu sampai ujung jarinya. Arka menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Matanya terpejam.


Wajah lelahnya mampu membuatku terharu. Dan air mataku terjun bebas begitu saja. Arka membuka mata dan memperhatikan tangannya yang ternyata air mataku menetes mengenai tangannya.


Arka menegakkan tubuhnya dan menatapku dengan tatapan sendu.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Arka penuh keheranan. "Apa kamu capek, perut kamu sakit, atau kamu mau makan sesuatu?"


Aku menggeleng "Aku nggak apa-apa, aku nggak tega lihat kamu kelelahan kayak gini. Sekarang istirahat ya" Ucapku lirih.


"Namanya kerja sudah pasti capek sayang. Kan sekarang kamu mijitin aku. Pasti bentar lagi capekku akan hilang." Arka masih bisa tersenyum dengan baik. Padahal di dalam pikirannya ada masalah besar yang menimpanya. Tapi dia berusaha menutupi dariku. Dan itu malah membuat tangisanku semakin menjadi-jadi.


Arka menangkupkan kedua tangannya di pipiku dan menatap wajahku dengan lekat. "Kamu kenapa sayang, ada masalah apa? Ceritakan sama aku" Pinta Arka dengan tulus.

__ADS_1


'bukan aku yang punya masalah sayang, tapi kamu. Aku nggak tega lihat kamu harus menanggung semuanya' - batinku.


"Sayang..." Arka menggoyangkan sedikit tangannya yang masih menempel dipipiku sehingga aku tersadar dari lamunanku. Aku lengsung memeluknya dengan erat. Arka membalas pelukanku bahkan lebih erat seolah tidak ingin terlepas. Meskipun pelukanku tidak dapat menyelesaikan masalahnya tapi aku ingin pelukanku memberi ketenangan di hatinya.


"Aku kangen sama Luna" Bisikku di tengah pelukanku, padahal bukan itu yang membuatku nangis. Itu hanya alasanku saja agar Arka tidak berpikiran macam-macam tentangku. Padahal aku juga ingin menceritakan kalau aku melihat Farhan lagi. Tapi aku ingat dengan pesan Monika, jangan menambah beban pikiran Arka.


Arka melepas pelukanku dan terkekeh mendengar ucapanku. "Sayang, kamu kangen sama Luna sampai nangis kayak gini" Aku mengangguk mendengar pertanyaan yang bernada sedikit mengejekku. Tapi nggak apa-apa ternyata kebohonganku mampu membuat dia sedikit tertawa.


"Kita video call dia ya" Arka mengambil laptopnya dan melakukan video call dengan mamah.


"Kok dengan mamah?" Tanyaku.


"Malam ini Luna nginap di rumah mamah" Jawab Arka.


Beberapa saat menunggu, akhirnya tersambung juga.


"Assalamualaikum mah" Sapaku.


"Waalaikumsalam sayang, kenapa belum tidur. Ini udah malam sayang" Wajah ceria mamah terlihat jelas.


"Nggak bisa tidur mah"


"Sayang, kamu habis nangis ya. Arka, kamu apakan menantu mamah hah" wajah ceria mamah berubah marah ketika mamah menyadari kalau mataku memerah dan sedikit bengkak.


"Tanya aja sama menantu mamah ini, kenapa nangis" Arka melirik ke arahku.


"Luna nginap disitu mah?" Tanyaku


"Iya sayang, tadi dia datang kesini katanya kangen sama kalian. Mamah nelpon Arka katanya kamu lagi keluar. Luna nangis karena nggak bisa nelpon kamu. Nih lihat, dia baru saja tidur. Liat tuh matanya, sembab kan" Mamah mendekatkan kameranya ke wajah Luna. Dan benar mata Luna sembab, dan dia juga masih sesenggukan. Terlihat jelas sekali.


"Aku juga kangen mah sama Luna. Pingin cepat-cepat pulang. Dua hari lalu aku coba hubungi ayah Luna. Tapi di luar jangkauan terus". Ucapku.


"Harus hati-hati mah. Nanti aku transfer uangnya biar bisa beli yang baru lagi. Apa aja yang hilang mah?" Tanya Arka.


"Semuanya hilang Arka. STNK motornya, ATM, KTP, SIMnya juga. penting semua kan itu. Tadi dia langsung urus semua. Tapi masih belum selesai. Baru urus KTP dulu karena itu yang lebih penting" Jelas mamah.


"Pantesan aja nggak bisa di hubungi" Sahutku.


"Kalian harus hati-hati juga disana ya" Pesan mamah.


"Iya mah" Jawab kami kompak.


"Oma bicara sama siapa?" Terdengar suara mungil Luna.


"Coba lihat Oma lagi bicara sama siapa?" Mamah mengarahkan kamera menghadap Luna yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Tante.....hiks..hiks.." Tangisan Luna pecah begitu melihat wajahku.


"Kenapa sayang? Kok nangis?" Tanyaku khawatir.


"Tante... kapan... pulang?..Luna... Luna... Kangen" Luna sesenggukan menjawab pertanyaanku.


"Iya sayang, Tante juga kangen. Nanti kalau urusan sudah selesai Tante langsung pulang kok." Jawabku.


"Kalau Luna mau, Luna yang nyusul kesini mau nggak?" Seru Arka.


"Mau" Wajah Luna seketika berbinar bahagia.


"Sekarang Luna bobok dulu ya" Ucapku lembut. Arka menyudahi video call dengan mamah.

__ADS_1


"Sayang, kamu serius mau bawa Luna kesini?" Tanyaku.


"Iya sayang, biar kamu ada temannya juga disini. Biar nggak kesepian" Jawab Arka yang berhasil membuat rona bahagia di wajahku.


"Makasih ya sayang" Aku peluk tubuh Arka erat sebagai ucapan terima kasihku. Aku juga merindukan Luna, tapi gara-gara aku terlalu banyak fikiran aku melupakan Luna.


"Sayang, nggak apa-apa kan kalau kamu tidur duluan, aku akan lanjutkan ini dulu" Arka melepas pelukanku.


"Iya sayang, tapi jangan terlalu malam ya. Jam dua belas harus sudah selesai dan istirahat." pesanku.


"Iya sayang, nggak sampai satu jam kok" Ucap Arka.


Aku meninggalkan Arka yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan aku berbaring di kasur karena mataku sudah sangat mengantuk. Aku pandangi langit-langit kamar sampai akhirnya mataku terlelap.


//*//


pagi hari


"Sayang, kamu nggak ke kantor?" Tanyaku yang melihat Arka kembali berbaring di ranjang. Biasanya setelah sholat subuh Arka sudah sibuk merapikan diri. Tapi kali ini dia kembali tiduran.


"Hari ini aku ijin nggak kerja dulu. Aku mau istirahat." Ucap Arka.


"Oohh... ya udah kalau gitu. Tapi kamu sudah bilang sama Monika kan?"


"He em"


"Istirahatlah. Biar aku pesan makanan dari sini aja ya, biar kamu bisa sarapan dulu." Arka tidak membalas ucapanku sepertinya dia sudah terlelap. Pasti dia sangat kelelahan. Tidak hanya tubuhnya tapi juga hati dan pikirannya.


Aku nggak tau harus berbuat apa untuk membantu Arka. Apa aku harus bilang sama papa dan mama agar mereka membantu Arka?. Ya, itu lah jalan satu-satunya agar Arka keluar dari masalah ini. Meskipun aku tau Arka bakal menolak bantuan dari papa. Tapi aku harus melakukannya secara diam-diam.


Aku berjalan agak menjauh dari tempat Arka tidur agar dia tidak terbangun dan mendengar percakapanku dengan papa.


"Hallo pa, apa kabar?" Sapaku dengan ragu.


"Papa baik-baik saja. Kamu gimana, nggak ada masalah kan dengan calon cucu papa?"


"Aku baik pa. Kandunganku baik-baik saja. Meskipun terkadang masih mual dan malas makan" Aku diam sejenak setelah mendengar ucapan papa.


"Kamu jangan banyak pikiran, masalah Arka biar papa yang mengatasi" Aku terkejut mendengar ucapan papa, ternyata papa sudah tau permasalahan Arka.


"Jadi papa sudah tau?"


"Jelas papa tau, kamu lupa ya siapa pemilik perusahaan itu. Kan papa. Jadi papa tau setiap masalah yang ada, masalah kecil aja papa tau bagaimana dengan masalah besar. Monika selalu memberi laporan pada papa" Papa terkekeh, seperti menertawakanku.


"Papa nggak marah sama Arka ?" Tanyaku lagi.


"Jangankan marah, bahkan papa akan membunuh suamimu itu kalau sampai dia menerima tawaran pribadi Aira." Papa kembali terkekeh.


"Jadi papa..."


"Sudahlah sayang, jangan pikirkan masalah itu. Papa bangga sama Arka. Arka mampu menunjukkan kesetiaannya meskipun harus menerima resiko yang cukup besar. Papa sudah menemukan investor baru, jadi kamu nggak perlu khawatir. Dan jaga rahasia ini jangan sampai suamimu tau"


"Iya pa"


"Baiklah kalau gitu, papa akan melanjutkan meeting. Jaga dirimu baik-baik disana."


"Papa juga jaga kesehatan ya."


"Iya sayang" Papa menutup panggilannya. Aku bisa bernafas lega setelah berbicara dengan papa. Ternyata papa lebih mengutamakan kebahagiaanku.

__ADS_1


__ADS_2