
"Rani, gimana keadaan kamu?" Tanyaku saat melihat dia sedang duduk di sisi ranjangnya.
"Udah enakan teh" Jawabnya dengan senyum. Aku pun berjalan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Tapi kamu masih pucat gini. Aku antar ke dokter ya?" Tanyaku padanya. Karena tidak tega melihat dia yang masih pucat dan terlihat lemas seperti ini.
"Nggak usah teh, Rani udah sehat kok. Hanya tinggal lemesnya aja. Nanti minum madu hangat juga segar lagi"
"Waktu di rumah sudah periksa kan? Terus apa kata dokternya?" Tanyaku lagi
"Sudah teh, bidannya bilang Rani hanya demam mungkin karena kecapekan sama sering kehujanan"
"Lho kok bidan?" Tanyaku heran, atau jangan-jangan Rani.....
"Iya teh, kalau di kampung nggak ada dokter, adanya bidan. Kalau mau periksa ke dokter harus ke kota dulu. Orang-orang di kampung kalau sakit apapun, periksanya ya ke bidan kadang Ke Puskesmas juga" Rani yang memahami rasa heranku berusaha menjelaskan. Dan ternyata itu jawabannya.
Astaghfirullah,,aku sempat memikirkan yang tidak-tidak tentang Rani. Kalau Rani tahu aku berpikir negatif terhadapnya, pasti dia akan marah lantaran tersinggung. Tapi aku yakin kalau Rani adalah gadis baik-baik.
"Sekarang kita periksa ke dokter ya. Biar tahu jelas kamu sakit apa, jadi biar nggak salah minum obat" Ucapku.
"Tapi teh, ke dokter kan bayarnya mahal nanti..." Rani menghentikan ucapannya saat aku kembali berbicara
"Jangan khawatirkan soal biaya. Yang penting kamu cepat sehat. Teteh nggak mau kamu kenapa-napa. Kasihan mamah Rani kalau kamu sakit kayak gini. Mau kan periksa ke dokter?" Aku kembali berbicara supaya dia tidak menolak lagi untuk berobat ke dokter.
"Iya teh, Rani mau" Jawabannya terdengar terpaksa, tapi itu lebih baik daripada dia tidak mau pergi.
"Ya sudah teteh mau bilang ke pak Faisal dulu. Sekalian hubungi dokter nya jam berapa bisa kesana" Rani mengangguk memberi jawaban.
Sebelum menghubungi dokter, aku kirimkan pesan kepada Arka untuk meminta ijin keluar rumah. Bagaimana pun juga aku harus tetap ijin padanya, meskipun tujuanku keluar rumah adalah baik. Tapi harus tetap dengan ijin suami.
Mungkin Arka masih sibuk sampai sepuluh menit belum juga di bacanya pesan dariku. Sambil menunggu balasan darinya, aku hubungi pihak dokter yang biasa melayani keluargaku. Kebetulan sekali hari ini dia sedang ada di rumah sakit. Jadi bisa melakukan tes darah dan cek laboratorium bila di perlukan.
Sampai setengah jam aku menunggu balasan pesanku, tetapi jangankan membalasnya, di baca saja tidak. Berarti Arka benar-benar sibuk. Aku berusaha untuk selalu berpikir positif tentang suamiku. Aku letakkan ponselku di atas nakas. Tapi saat beberapa langkah aku meninggalkannya ponselku berdering menyanyikan lagu favoritku.
Panggilan video call dari Arka, senyuman mengulas di bibirku. Segera aku geser tombol hijau. Dan terlihatlah wajah suamiku yang tampan. Pantas saja banyak perempuan yang tergila-gila dengannya. Dalam keadaan lelah pun, ketampanannya tidak luntur sama sekali.
"Assalamualaikum" Sapanya.
"Waalaikumsalam, lagi sibuk ya?" Tanyaku.
"Iya sayang, maaf ya. Tadi masih meeting, hpnya di silent jadi ya nggak tahu kalau ada chat masuk"
"Iya sayang nggak apa-apa. Terus gimana boleh kan aku bawa Rani ke dokter?" Tanyaku
"Boleh sayang, tapi biar di antar pak Faisal ya. Jangan menyetir sendiri" Ucapnya
"Iya sayang, tenang aja. Aku sudah bilang kok sama pak Faisal. Tapi aku belum cerita ke mamah kalau mau bawa Rani ke dokter, takut mamah panik"
__ADS_1
"Bilangnya waktu pamit saja. Tapi sebisa mungkin kamu harus bujuk mamah supaya nggak ikut, karena mamah mudah sekali down pikirannya. Takut mamah kenapa-napa"
"Iya sayang"
"Gimana hari ini anak papa, rewel nggak ya?" Arka berucap seolah sedang berhadapan dengan anaknya. Lalu aku arahkan kamera ponselku di depan perutku.
"Enggak papa, hari ini anaknya pintar sekali." Aku pun menanggapinya seolah anaknya yang menjawab pertanyaannya.
"Uuhh pinter anak papa. Anak papa nggak boleh rewel ya. Kasihan mamah kalau rewel"
"Iya papa"
"Sayang, sudah dulu ya aku mau siap-siap meeting lagi. Sekalian mau siap-siap ke Bandung. Kamu hati-hati ya kalau keluar rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku"
"Iya sayang. Semoga berjalan lancar pekerjaanmu hari ini ya"
Panggilan pun berakhir. Kembali aku letakkan ponselku di atas nakas.
***
"Mah, Rani mau aku bawa ke dokter ya. Biar Rani cepat pulih dan sehat lagi" Ucapku dengan lembut.
"Apa sakitnya tambah parah?" Mata mamah sudah berkaca-kaca.
"Enggak mah, dia kan cuma Demam biasa, Ini kesana mau minta vitamin biar nggak lemes aja" Ucapku lagi.
"Mamah ikut ya" Ucap mamah kala aku dan Rani bersiap berangkat.
" Tidak usah mah, Mamah di rumah saja, biar Caca saja yang menemani. Lagipula cuma minta vitamin aja kok" Terpaksa aku membohongi mamah agar mamah tidak khawatir.
"Mamah nggak bisa membiarkan kalian pergi tanpa ada yang menjaga. Jadi biar mamah ikut ya"
"Mah, kan ada pak Faisal. Jadi mamah nggak perlu khawatir. Mamah di rumah aja, Takutnya nanti waktu Arka pulang, di rumah nggak ada orang. Kan kasihan Arka mah. Capek-capek kerja pulang ke rumah malah nggak ada yang menyambutnya"
Aku masih membujuk mamah supaya tidak ikut.
"Ya sudah kalau gitu, mamah di rumah saja. Kalian hati-hati ya di jalan."
Dengan terpaksa mamah menuruti permintaanku. Setelah berpamitan dengan mamah aku dan Rani segera berangkat ke rumah sakit karena hari ini dokternya ada jadwal di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju ke ruangan dokter. Kebetulan saat ini dokter sedang tidak melayani pasien jadi aku bisa langsung masuk.
"Sore dok" Sapaku setelah membuka pintu.
"Sore Natasya. Apa kabar?" Dokter cantik berkacamata itu menyalamiku, Namanya dokter Vilia.
"Alhamdulillah baik dok"
__ADS_1
"Hmm, siapa yang sakit? kamu?" Tanya Dokter Vilia.
"Bukan dok, tapi adikku ini yang sakit"
"Adik?" Dokter Vilia mengernyitkan alisnya, karena dia sudah tahu betul siapa saja yang ada di dalam keluargaku.
"Iya dia adikku, adik ipar?" Jawabku.
"oohh pantas saja saya tidak mengenalinya" Senyum manis terukir di bibirnya yang tipis.
"Ini Rani, adik dari suamiku" Aku memperkenalkan Rani pada dokter Vilia. Dokter Vilia tersenyum dan mengangguk pada Rani.
"Kalau begitu silahkan berbaring dulu disana" Dokter Vilia menunjuk brankar yang ada di ruangannya ini. Rani mengikuti perintah Dokter Vilia.
"Saya periksa dulu ya"
Setelah melakukan pemeriksaan dan memberikan beberapa pertanyaan, Rani kembali duduk di sampingku berhadapan dengan dokter Vilia.
"Jadi gimana dok?" Tanyaku
"Menurut catatan medis, gejalanya menyerupai tipes. Tapi lebih baik dilakukan tes darah ya. Supaya memastikan ini tipes atau demam berdarah. Karena dua penyakit ini gejalanya hampir sama" Jelas dokter Vilia.
"Iya dok, gimana baiknya saja" Ucapku.
Dokter Vilia menekan telepon yang ada di mejanya, dia memanggil perawat yang akan menemani Rani melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Seorang perawat yang masih muda memasuki ruangan. "Permisi dok, mana pasien yang akan melakukan tes darah?"
"Ini sus, tolong temani pasien ya. Ada yang mau saya bicarakan dulu dengan kakak pasien. Lagipula ini jam istirahat saya kan" Dokter Vilia menyerahkan beberapa lembar hasil pemeriksaan Rani kepada perawat itu.
"Baik dok" Mereka pun pergi meninggalkan ruangan dokter Vilia.
"Boleh kita bicara sebentar?" Tanya Dokter Vilia.
"Oh boleh dok"
"Sambil menunggu hasilnya keluar bagaimana kalau kita duduk di kantin, soalnya disini tidak ada yang bisa di sajikan" Ucapnya sedikit tertawa.
"Boleh juga"
Kami berdua berjalan menuju kantin rumah sakit yang ada di lantai dasar. Memesan minuman sesuai selera masing-masing.
"Maaf Natasya, apa kamu tidak keberatan jika saya membicarakan soal pribadi" Ucapnya terdengar seperti memohon. Persoalan pribadi apa yang mau dia bicarakan.
"Oh" Aku melongo sejenak karena aku dan Dokter Vilia belum pernah berbicara secara pribadi "Tentu saja boleh" Jawabku sedikit canggung.
"Terima kasih sebelumnya" Senyum pun kembali mengulas di bibirnya. Dia terdiam sejenak, seperti memikirkan kata-kata untuk memulai berbicara.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kakakmu Bayu? Apa dia tidak pernah pulang?" Dokter Vilia mulai bertanya.
Aku sedikit tercengang dengan pertanyaan dokter Vilia.