Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Bab 102


__ADS_3

"Bukannya kalian sudah tahu kalau Firna terkena kanker serviks?"


"Astaghfirullah hal adzim" Caca menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia sangat terkejut, begitu juga dengan Alda.


"Jadi kalian tidak tahu kalau Firna sedang sakit?" Tanya Haris.


"Sumpah Ris, gue ataupun Caca sama sekali tidak tahu apa-apa. Gue sama Caca datang ke rumah Firna itu karena Caca sudah curiga sama Firna. karena sekarang dia selalu menghindar" Jelas Alda.


"Iya Ris, semalam aku nelpon Firna karena mau menanyakan sedang apa dia di rumah sakit ini? Karena kemaren sore aku melihatnya keluar dari ruangan Dr. SpKK. Waktu aku telpon, aku ngajak ketemuan tapi dia bilang nggak bisa, karena sedang di luar kota. Makanya dia nggak bisa ketemuan. Tapi ternyata dia benar-benar membohongi kami. Bahkan tadi saat di desak untuk bicara. sama sekali dia tidak mau bercerita dengan apa yang sedang dia alami. Dia memilih tutup mulut." Caca menjelaskan kepada Haris apa yang terjadi kemarin.


Haris terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Pasti Firna punya alasan kenapa dia menyembunyikan semua ini dari kalian. Bisa jadi dia tidak mau membebani kalian berdua dengan sakitnya ini" Kini Arka ikut berkomentar.


"Terus gimana Firna sekarang? Dia masih bisa sembuh kan?" Tanya Alda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kankernya sudah menyebar, jadi jalan satu-satunya adalah operasi pengangkatan rahim"


"Astaghfirullah" Caca kembali menutup mulutnya karena terkejut dengan yang di dengar.


"Separah itukah?" Alda pun terkejut.


"Iya, sebenarnya dia sudah lama mengetahuinya. Hanya saja dia tidak mau berobat. Dia bilang nanti akan sembuh sendiri. Dan sekarang sudah parah, tapi dia tetap tidak mau melakukan operasi"


"Kenapa dia tidak mau melakukan operasi? Apa ada kaitannya sama biaya operasi? Kalau itu alasannya biar aku yang akan menanggung semuanya" caca sudah tidak bisa lagi menahan buliran bening dari kedua matanya.


"Bukan, bukan soal biaya. Aku sudah menyiapkan biayanya. Tapi Firna tetap menolak, dia tidak mau melakukan operasi karena dia takut tida bisa mempunyai anak. Karena setelah rahim di angkat, Firna tidak akan bisa punya anak" Haris menjelaskan ketakutan yang dialami Firna.


Firna berpikir kalau rahimnya diangkat, dia tidak bisa mempunyai anak dan itu akan menjadi masalah saat dia berumah tangga nanti. Firna tidak mau membuat suaminya kecewa. Maka dari itu Firna tidak mau melakukan pengangkatan rahim.


"Apa mungkin dia takut tidak ada lelaki yang mau menikahinya, setelah tahu kalau dia tidak bisa mempunyai anak?" Alda berucap dengan mata yang menerawang jauh.


"Aku sudah bilang padanya, aku tidak mempermasalahkan semua itu. Aku bisa menerima dia apa adanya" Jawaban Haris membuat Alda dan Caca menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Lalu mereka berdua saling pandang, ada tanda tanya besar di dalam pikiran mereka.


"Jadi, kalian sudah....." Caca menggantungkan ucapannya.


"Aku sudah melamarnya dan berniat untuk menikahinya. Tapi jawaban Firna tetap sama, dia menolakku. Apa aku harus menyerah saja?" Raut wajah Haris berubah menjadi sedih.


"Hei, jangan menyerah bro. Tetap semangat dan terus berjuang. Aku yakin suatu saat hatinya akan luluh dengan usahamu. Tunjukkan sikap lelakimu jangan loyo gitu" Arka memberikan semangat pada Haris, dan Haris pun tersenyum mendengar ucapan Arka.


"Daridulu, kamu selalu saja memberikan semangat di saat aku down" Harus meninju pelan lengan Arka.


"Ris, gue yakin kok suatu saat pasti Firna bakal Nerima loe. Karena cuma loe satu-satunya lelaki yang peduli dengan keadaannya" Kini Alda ikut berkomentar dan memberikan semangat pada Haris juga.


***


POV Alda


Setelah tersadar dari pingsannya, sekarang Firna di pindahkan ke ruang perawatan. Hanya gue yang menemani Firna. Karena Caca sekarang sudah di bawa sama lakinya buat nengokin Rani, adik iparnya. Sedangkan Haris sedang keluar membeli makanan.


"Al, makasih ya kamu sudah nemenin aku" Ucap Firna yang masih terbaring lemas.


Tak ada jawaban,hening sesaat lalu, keluarlah buliran bening yang mengalir tanpa aba-aba. Kini Firna menangis tergugu di depan gue.


"Tapi aku takut Al" Ucapnya di tengah tangis.


"Fir, loe jangan takut, ada gue disini, ada Caca, ada Haris juga. Loe jangan merasa sendiri. Gue bakal temani loe sampai loe sembuh. Gue tahu ini berat, tapi loe harus tetap hadapi"


"Maafin aku Al, aku tidak mau penyakitku ini membebani kalian"


Gue pun berdiri dan memeluk Firna yang masih terbaring "Jangan bersikap sok mampu, gue nggak suka" Gue berucap tapi air mata yang sedari tadi gue tahan, akhirnya tumpah juga. Kami pun menangis bersama.


"Loe punya hutang penjelasan tentang Haris? Kabar apa yang gue lewatkan" Gue lepas pelukan dan kembali berdiri di sampingnya.


"Penjelasan apa?" Alis Firna bertaut.

__ADS_1


"Apa benar Haris udah ngelamar loe?"


"Jadi, Haris sudah cerita sama kamu?" Firna tampak terkejut.


"Iya, dia sudah cerita sama gue, Caca, bahkan di depan bang Arka juga. Dia bilang sudah melamar loe dan bersedia menikahi. Tapi loe menolaknya. Apa benar begitu?"


Firna terdiam, matanya memandang langit-langit.


"Aku nggak bisa menerimanya Al" Suara Firna terdengar lirih.


"Kenapa? Dia lelaki baik Fir, dia bisa Nerima masa lalu loe, dia mau berkorban saat loe sakit, bahkan dia juga mau Nerima keadaan loe jika suatu saat loe tidak bisa punya anak"


"Justru itu Al, justru karna dia baik. Aku tidak mau menjadi benalu dalam hidupnya. Dia bisa mendapatkan perempuan baik-baik, dan juga perempuan yang bisa melahirkan anak. Bukan perempuan hina dan tidak sempurna sepertiku"


"Fir, please. Loe jangan berkata seperti itu. Loe tunjukin kalau loe bisa berubah. Berubah menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Tidak selamanya kita akan hidup menjadi manusia yang buruk kan"


"Iya Al, kamu benar. Aku janji setelah ini akan menjadi perempuan baik-baik. Aku tahu ini karma supaya aku bertobat."


"Terus Haris gimana?"


Kening Firna mengernyit " Gimana apanya?"


"Loe terima lamaran dia nggak?" Gue pun menanyakan kepastian Firna terhadap Haris.


Kasihan Haris bertahun-tahun dia mengharapakan cinta Firna, namun di abaikan. Bahkan dia rela berkorban demi kesembuhan Firna.


"Aku nggak tahu Al" Jawabnya enteng.


"Loe itu emang nggak punya otak buat berpikir. Loe sia-siain lelaki sebaik Haris. Dia itu punya sifat dan sikap yang tak jauh beda dengan bang Raka. Bukannya loe pengen lelaki seperti itu?"


Gue sekedar mengingatkan karena gue dan firna pernah berharap, suatu saat jika menikah bisa mendapatkan lelaki seperti bang Arka.


"Nanti aku pikirkan lagi"

__ADS_1


"Kebanyakan mikir loe, entar Haris kabur dan di ambil orang baru tahu rasa loe. Kalau udah begitu gue yakin loe bakalan nyesel seumur hidup"


Firna terdiam, sepertinya dia memikirkan ucapan gue. Biarin sajalah biar dia berpikir yang jernih dulu. Dan mau menerima lelaki sebaik Haris.


__ADS_2