
Sebelum pulang ke rumah, Arka membawaku mampir ke baby shop yang pernah aku datangi sebelumnya.
Luna yang menyadari dimana mobil berhenti, langsung protes "Om, Luna kan sudah bilang nggak mau beli mainan lagi" Rengek Luna.
"Yakin nih, ini bukan mainan biasa lho. Ayo turun biar tahu" Ajak Arka.
"Baiklah" Dengan malas Luna menuruti kata-kata Arka. Dia keluar dari mobil dan berjalan di belakang Arka. Semua karyawan menyambut hangat kedatangan kami, sebagian karyawan masih mengingat kami. Dan dengan ramah mereka melayani yang kami mau.
Arka mengatakan pada karyawan itu untuk mencarikan barang yang Arka mau. Dengan cepat karyawan itu mencarikan barang itu dan menunjukkan pada Arka.
"Apa sih itu sayang?" Tanyaku
"Tenda buat camping" Jawab Arka sambil membaca tulisan yang ada di luar boxnya.
Luna melirik ke box yang di pegang Arka. "Wah rumah-rumahan. Luna mau" Teriak Luna dengan girang.
"Katanya nggak mau" Goda Arka pada Luna.
"Kalau ini Luna mau" Jawabnya dengan polos.
"Tapi ini hanya untuk dua orang saja sayang, kalau Luna ikut masuk ke dalam tenda, nanti tendanya rusak karena nggak muat" Arka menggodanya, Luna terdiam mendengar ucapan Arka. Aku perhatikan wajah Luna dan matanya mulai berkaca-kaca.
Aku cubit lengan Arka dan memberikan isyarat agar melihat Luna yang menundukkan kepalanya. "Tapi sayangnya aku nggak mau satu tenda sama kamu sayang , aku maunya sama Luna" Kataku.
"Baiklah-baiklah ini buat kalian. Nanti aku buat tenda dari sarung saja" Mendengar itu Luna langsung tertawa dan mengusap ujung matanya yang sudah siap meneteskan air mata. Kami pun tertawa termasuk karyawan toko yang melayani kami.
"Maaf ya mbak jadi lama, soalnya anaknya masih ngambek. Ini sih suka sekali jahilin anak kecil" Kataku sambil memukul lengan Arka. Karyawan itu tertawa lagi melihat tingkah konyol kami.
"Ini anaknya ya mbak?, lucu banget" Karyawan itu mencubit pipi Luna karena gemas. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan karyawan itu.
Setelah melakukan pembayaran di kasir, kami pun segera pulang karena waktunya sudah cukup malam. Dalam perjalanan pulang, Luna tertidur di kursi belakang.
"Sayang"
"Hmm" Jawabku dengan deheman tanpa menoleh karna aku sedang sibuk dengan handphoneku.
"Besok aku mau beli motor ya. Boleh?" Tanya Arka.
"Motor? Buat apa kan ada mobil dua. Buat apa beli motor sih?" Tanyaku heran.
"Bukan buat aku. Tapi buat ayah Luna, biar dia nggak naik angkot lagi. Tapi tenang aja, aku beli yang bekas kok." Ucap Arka dengan hati-hati karena mungkin dia takut menyinggung perasaanku.
"Ya ampun sayang ngomong dong dari tadi. Ya udah beli aja. Yang baru juga nggak apa-apa kok. Tapi kayaknya yang butuh motor bukan ayah Luna aja deh sayang. Di rumah juga butuh motor, siapa tau buk Mar atau yang lain mau pergi kemana gitu. Kalau ada motor kan enak" Aku juga memberi saran pada Arka.
"Iya kamu benar juga sayang, aku kira kamu bakal marah kalau aku beli motor buat orang lain." Ucap Arka sambil tertawa.
"Marah? Ya enggak lah sayang, masa gara-gara hal sepele aja aku marah. Lagipula mereka juga bekerja untuk kita. Aku malah seneng ternyata aku punya suami yang baik." Pujiku.
__ADS_1
"Kasih cium dong kalau gitu" Arka mendekatkan wajahnya ke sampingku. Dengan cepat aku memukul lengannya dan menoleh ke arah Luna. Takut kalau Luna bangun dan melihat tingkah konyol kami. Arka tertawa melihatku yang salah tingkah.
Arka kembali menghadap ke depan dan fokus dengan setirnya. Begitu juga denganku kembali menghadap lurus ke depan menyaksikan jalanan yang masih padat. Tidak sampai tiga puluh menit, kami pun sampai di rumah. Aku membawa barang bawaan, sedangkan Arka menggendong Luna yang masih tertidur pulas.
Mamah menyambut kedatangan kami di ruang tamu. "Luna tidur?" Tanya mamah.
"Iya mah, sudah daritadi tidurnya." Jawabku sambil mencium punggung tangan mamah.
"Tidurin di kamar mamah saja ya" Ucap mamah.
"Nggak apa-apa mah, biar tidur di kamar Caca saja". Sahutku.
"Mamah nggak ada teman tidur, mamah bosan tidur sendirian" Ucap mamah dengan nada merayu. Tumben mamah kayak gini. Biasanya juga mamah tidur sendiri. Bahkan ada Rani pun mamah nggak mau di temani.
Akhirnya aku menuruti kemauan mamah. Biarkan sajalah, mungkin saja mamah memang sedang kesepian. Arka membawa Luna ke kamar mamah, dan menidurkannya di ranjang mamah. Sedangkan aku kembali ke kamarku.
Aku mengganti pakaianku dengan baju tidur. Tapi sebelum tidur aku mau sholat isya dulu. Aku ambil mukenah yang aku simpan di lemari. Aku masih menunggu Arka, karna mungkin Arka masih berbincang dengan mamah.
Tidak lama kemudian Arka memasuki kamar dan menghampiriku. "Sayang, kamu mau sholat?" Tanya Arka yang melihatku membawa mukenah.
"Iya"
"Tunggu dulu ya, aku mau wudhu. Kita sholat berjamaah" Ucapnya. Aku pun mengangguk.
Setelah itu kami pun melakukan sholat berjamaah seperti biasanya. Hanya saja selesai sholat Arka masih mengajakku untuk membaca beberapa surat Alquran yang panjang sekali. Untuk tepatnya bukan aku yang membacanya tapi Arka sendiri dan aku hanya menyimak saja. Karena aku masih belum lancar membaca kitab suci itu.
Suara Arka begitu merdu sekali saat membaca Alquran ayat demi ayat . Hatiku merasa tenang, jiwaku begitu tenteram merasakan kedamaian yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Sedangkan Arka masih membuka laptopnya yang di letakkan di meja "Sayang ini udah malam" Ucapku.
"Iya sebentar, hanya ngecek email masuk aja" Jawab Arka tanpa menoleh ke arahku. Karena merasa di abaikan aku pun datang menghampirinya dan duduk di pangkuannya.
Perlahan tanganku menutup laptop itu "Weekend tidak ada kerja di rumah" Ucapku dengan tegas.
"Iya maaf, lagipula hanya ngecek saja" Ucap Arka.
"Tapi kamu mengabaikanku, aku bicara tapi mata kamu menatap layar laptop." Ucapku ketus.
"Sudah nggak usah ngambek gini. Kan sudah di tutup laptopnya." Ucap Arka.
"Ya sudah aku mau tidur, ngantuk" Aku pun berdiri dari pengakuannya.
Belum juga kakiku melangkah tiba-tiba Arka menarik tanganku, dan alhasil aku kembali duduk di pangkuannya. Arka melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku membiarkannya saja, malah aku menggenggam erat tangannya.
"Sayang, kalau kita punya anak. Kamu maunya anak cewek dulu atau anak cowok dulu?" Tanya Arka.
"Ehhmm.. aku maunya anak cewek. Kalau kamu? " Kataku balik tanya.
__ADS_1
"Kalau aku maunya anak cowok dulu, biar bisa ngelindungin adiknya. Kayak aku sama Rani, atau kamu sama Kak Bayu." Jawab Arka.
"Oh iyaya... Tapi anak cewek tuh lucu, kayak Luna bisa di dandanin, bajunya juga lucu-lucu. Kayak yang aku lihat di baby shop tadi. Pokoknya lucu sayang, mending cewek dulu"
"Tapi apapun jenis kelamin anak pertama kita, kita harus menyayanginya ya" Ucap Arka lirih.
"Iya sayang. Sudah pasti aku akan menyayangi anak kita. Apalagi aku yang melahirkannya. Rasanya sudah nggak sabar pingin cepat-cepat punya anak" Gerutuku.
Arka mengeratkan pelukannya. "Aku juga sayang, aku juga pingin kita segera punya anak agar keluarga kita semakin lengkap" Ucap Arka.
Aku angkat tanganku yang daritadi dalam pelukannya. Aku lingkarkan tanganku di lehernya, dan mengecup puncak kepalanya. Arka mendongakkan kepalanya, wajahnya menghadap ke arahku. Bibirnya tersenyum tipis tapi tetap terlihat menawan.
Perlahan aku kecup bibirnya kilas dan menatap wajahnya. Arka mengembangkan senyumnya. Aku kecup lagi lebih lama, Arka membalas kecupanku dan beberapa kali dia mengecap bibirku dengan lembut. Perlahan tangannya menyusup ke dalam pakaianku. Mengusap lembut punggungku.
Sedikit aku dorong tubuhnya sampai menempel di sandaran kursi. Bibirku terus memberi tekanan pada bibirnya yang membuat Arka lebih bergairah. Masih dengan posisi di atas pangkuannya. Aku rubah posisi dudukku, yang tadinya menyamping sekarang duduk menghadap ke arahnya. Pahanya berada diantara kedua pahaku.
Bibir kami masih saling bertaut. Tanganku perlahan membuka kancing kemejanya sampai dua titik. Aku raba dadanya yang keras itu. Dada yang begitu mempesona di mataku, bahkan di mata perempuan lain yang melihatnya.
Arka melepaskan bibirnya, tangannya mengangkat pakaian tidurku. Sehingga hanya bra saja yang menutupi dadaku bagian depan. Arka kembali menciumi bibirku, tapi kali ini ciumannya bergerak menuruni leherku, melakukan gigitan-gigitan kecil disana. Berpindah menciumi telingaku dengan lembut, hembusan nafasnya yang menerpa telingaku, mampu membuat tengkukku bergidik karena geli.
Bibirnya terus menjalar menuruni leher dan dadaku. Tangannya meraba kait bra yang di belakang punggungku. Dan gunung kembarku menyembul saat bra ku sudah terbuka. Arka melakukan permainan di daerah sensitifku ini, sehingga aku melenguh menikmati setiap sentuhannya. Mendengar desahanku Arka semakin gencar melakukan sentuhan-sentuhan yang merangsang nafsuku. Darahku berdesir dan jantungku berdegup tidak teratur.
Arka mengangkat tubuhku dan berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan tubuhku disana. Satu persatu Arka melepas pakaian yang menempel di tubuhnya. Begitu juga dengan pakaian yang tersisa di tubuhku. Arka juga melucutinya. Sehingga tak ada lagi sehelai benangpun menempel di tubuh kami.
Aku meminta Arka untuk mematikan lampu, karna bagaimanapun juga aku merasa malu kalau telanjang di depan mata Arka. Dia menurutinya, aku tarik selimut agar menutupi semua bagian tubuhku dari kalau sampai batas dada atas.
"Kenapa di tutup sayang?" Ucap Arka yang menyadari aku memakai selimut.
"Aku malu" Jawabku.
"Aku suamimu, nggak perlu malu. Lagipula lampu juga sudah di matiin" Ucap Arka yang sudah berbaring di sampingku.
Aku tak menjawab lagi. Kemudian Arka ikut masuk dalam selimut yang aku pakai. Arka kembali menggerayangi tubuhku mulai dari ujung kepala sampai ke pahaku. Semua sentuhannya membuatku semakin bergairah.
Aku pejamkan mataku untuk lebih menikmati sentuhannya, hanya suara desahan lirih yang keluar dari mulutku. Lalu Arka menindih tubuhku. Ada sesuatu yang cukup keras menyentuh bagian bawah tubuhku. Mengetahui itu, masing-masing kakiku langsung bergerak menyamping. Arka terus melakukan gerakan-gerakan yang membuatku terus mendesah kenikmatan.
Kami bergumul di dalam selimut cukup lama. Dan pada akhirnya kami mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Arka langsung merebahkan tubuhnya disampingku untuk melepas lelahnya. Sesaat kemudian aku menoleh ke arahnya, matanya terpejam dan keringat terus mengucur di wajahnya. Aku menyekanya dengan selimut yang aku pakai menutupi tubuhku. Arka menoleh dan memiringkan tubuhnya menghadap arahku.
"Makasih sayang untuk malam ini" Ucapnya lalu mencium keningku dengan lembut. Aku hanya tersenyum padanya.
"Panas ya, keringatnya sampai banyak gini" Ucapku
"Iya, kok tumben AC nya nggak berasa."
"Bukan nggak berasa tapi memang belum aku nyalain. Lupa" Ucapku terkekeh.
"Uuuhhh, pantas saja panas. Aku mau mandi aja kalau gitu" Arka pun segera beranjak dari ranjang.
__ADS_1
"Ikut, aku juga pingin mandi. Tapi gendong ya" Ucapku dengan manja. Arka langsung membopong tubuhku yang tertutup selimut.
Di dalam kamar mandi kami tidak hanya sekedar mandi tapi kami masih melakukannya sekali lagi. Itu kami lakukan karena Arka terus menggodaku dengan sentuhan-sentuhan lembut di tubuhku saat mandi. Jadi bukan salahku kalau aku meminta untuk melakukannya lagi. Biarpun hanya sebentar kami melakukannya tapi kami sama-sama menikmatinya.