
"Sayang, aku duluan ya. Soalnya mau berangkat ke kantor. Mah Arka tinggal dulu ya" Arka meletakkan sendoknya di atas piring. Lalu meneguk air putih hingga tandas.
"Iya" Jawabku.
Usai sarapan aku menemani mamah membongkar oleh-oleh yang mamah bawa dari kampung. Sedangkan Rani pergi ke kamarnya untuk istirahat.
"Mamah bawa apa saja sih?" Tanyaku.
"Bisa kamu lihat mamah bawa apa saja ini. Ini ada rambutan, jambu kristal, ada terong, wortel, terus ini ada juga buah naga" Mamah mengeluarkan semua yang ada di keranjang. Kata mamah itu hasil panen dari kebun yang ada di belakang rumah.
"Mbak, kardusnya sudah di keluarin belum ya? Soalnya di situ ada belimbing sama kacang panjang" Mamah bertanya pada mbak Susi.
"Kardus? Kayaknya belum buk, soalnya tadi saya cuma bawa tas sama keranjang saja. Buk Mar juga kayaknya bawa tas yang isinya pakaian, ya kan buk mar?" Mbak Susi melemparkan pertanyaan pada buk mar.
"Biar saya lihat dulu buk, mumpung bapak belum berangkat. Nanti malah kebawa ke kantor lagi kardusnya" Buk Mar tertawa, lalu dia berjalan menuju garasi.
"Mamah buat apa sih mah bawa beginian. Disini juga kan banyak mah" Gerutuku.
"Banyak juga di pasar sayang,harus beli dulu. Ini kan hasil panen sendiri jadi nggak perlu beli" Mamah berucap sambil menata semua hasil panennya.
"Tapi kan berat mah, Kecuali bawa mobil sendiri sih nggak apa-apa. Lha ini mamah naik kereta. Berdua, perempuan semua nggak ada lelakinya" Aku masih saja menggerutu.
"Tapi kan mamah tidak mengangkatnya. Tinggal suruh kuli panggul, beres" Ucap mamah lagi.
Buk Mar kembali masuk dan di ikuti pak Hadi dengan kardus berukuran besar di pundaknya.
"Nah itu dia" Mamah menunjuk kedua yang di bawa pak Hadi.
"Astaghfirullah Al Adzim" Aku menggeleng dengan yang aku lihat. Di depanku saja sudah banyak sekali berbagai hasil panen, di tambah lagi yang baru datang ini.
__ADS_1
"Bawa sini pak" Pak Hadi menurunkan kardus itu di samping mamah " Makasih banyak ya pak" Pak Hadi mengangguk lalu berpamitan.
"Mamah, buat apa sebanyak ini mah. Nggak mungkin kita makan semua ini" Ujarku ketika mamah membuka isi kardus.
Ternyata di dalamnya ada belimbing yang berukuran besar, cabe, tomat dan juga kacang panjang.
"Tenang saja sayang, kita nggak makan semuanya kok. Mamah sengaja bawa banyak gini, mau mamah bagikan ke tetangga. Biar mereka juga ngerasain hasil panen di kampung" Ucap mamah dengan santainya.
"Ya ampun mamah, bawa barang segini banyaknya, nyampe sini cuman mau di bagiin?" Tanyaku heran.
"Ya nggak apa-apa sayang, biar rejeki kita terus mengalir seperti air.Aamiin" Ucap mamah.
Astaga mamah, daripada bawa berat-berat dari kampung kesini, kalau cuma mau di bagikan ke tetangga kan bisa beli di pasar. Batinku terus saja menggerutu.
"Sayang aku berangkat dulu ya" Arka berjalan mendekatiku. Pakaiannya sudah rapi dengan setelan jas warna hitam dan kemeja putih.
"Iya hati-hati" Ucapku kala mengalami tangannya. Dia pun berpamitan pada mamah. Lalu aku berjalan mengikutinya yang akan pergi bekerja.
"Nggak apa-apa. Cuma kasihan aja sama mamah. Bawa barang segitu banyaknya. Nyampe sini malah di bagi-bagikan" Aku pun mengadu kala kami sudah ada di teras.
"Oh itu. Nggak usah di pikirin. Kalau nggak di bawa nantinya busuk semua. Makanya sama mamah di bawa kesini. Lagian itu juga kan banyak. Lebih baik di bagikan ke tetangga sini juga. "
Ah, Arka dan mamah sepemikiran.
"Kenapa nggak di bagikan sama tetangga di kampung saja?" Tanyaku
"Sudah sayang. Disana masih banyak lagi kok. Ya udah, aku mau berangkat ya , Sudah siang soalnya"
Mobil Arka berlalu keluar gerbang, kali ini Arka berangkat bersama pak Faisal, ayah Luna. Karena kata Arka, hari ini pak Faisal mulai bekerja lagi. Kemaren dia masih ijin ada acara keluarga di kampung istrinya.
__ADS_1
***
"Sayang, kamu masih sering mual?" Tanya mamah saat kami sedang menonton TV di ruang tengah.
"Kadang-kadang mah, Kadang kalau habis minum susu tiba-tiba mual, terus muntah. Kadang habis makan nasi juga mual dan muntah. Tapi terkadang juga enggak" Jelasku
"Tapi Arka selalu jadi suami siaga kan?" tanya mamah lagi.
"Iya mah, Arka selalu panik kalau ada sesuatu yang menyangkut kehamilanku. Dia bilang, dia nggak mau terjadi apa-apa sama calon anak kami. Tapi belakangan ini Arka sering sekali membuatku marah mah, sering sekali memancing emosi. Arka juga lebih banyak bicara, pokoknya Arka sekarang sudah berubah. Kadang aku sering nangis karna ulah dia" Aku keluarkan semua yang ada di dalam pikiranku.
"Sayang, kamu yang sabar. Mamah rasa Arka berubah dan lebih banyak bicara, itu karena dia tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu dan juga calon anak kalian. Itu tandanya dia sayang sama kalian berdua. Dan kalau kamu merasa sering di buat marah, mudah emosi. Itu hal wajar sayang, bisa jadi itu perubahan hormon, kalau orang bilang bawaan bayi. Apalagi usia kandungannya masih muda, itu masih tahap rewel-rewelnya"
Mamah menjelaskan panjang lebar. Apa benar ya yang di katakan mamah. Apa hanya aku saja yang terlalu berlebihan menanggapi sikap Arka. Apa hanya aku saja yang mudah emosi meskipun penyebabnya hal sepele.
Kalau itu memang benar, kasihan sekali suamiku, dia selalu kena sasaran kemarahanku. Dan dia tidak pernah membalas kemarahanku sama sekali. Dia selalu menghadapiku dengan sabar.
'Suamiku, maafkan aku. Belum bisa menjadi istri yang baik....' Batinku
"Berarti selama ini aku terlalu berlebihan ya mah?" Tanyaku pada mamah.
"Kalau orang yang tidak paham, pasti akan bilang seperti itu. Tidak semua kehamilan itu sama bawaannya. Ada yang rewel, ada yang biasa aja, Bahkan ada juga yang bersikap masabodoh"
"Aku akan berusaha mengontrol emosi mah. Kasihan Arka kalau aku terus melampiaskan kemarahanku padanya. Kadang pemicunya hanya hal sepele. Tapi menjadikannya masalah besar. Ucapku
"Intinya kalian harus tetap saling melengkapi satu sama lain" Mamah mengusap lembut rambutku.
Tenang rasanya kalau sudah mendengar nasihat dari mamah seperti ini. Aku akan berusaha untuk bersikap baik pada suamiku. Bagaimanapun juga dia sudah memperlakukanku dengan sangat baik.
Mamah yang belum sempat istirahat sejak kedatangannya tadi pagi aku minta untuk mendengarkan segala keluh kesah ku. Dengan senang hati mamah mendengarkannya. Bahkan mamah memberikan nasihat-nasihat yang baik padaku.
__ADS_1
'Terima kasih mah, sudah menjadi mertua sekaligus menjadi sahabatku'
Bagitu bahagianya diriku, mempunyai mertua yang begitu baik. Beda dengan cerita sinetron, drama ataupun cerita lainnya. Kebanyakan mertua itu kejam pada menantu perempuannya atau mungkin sebaliknya menantu perempuan kejam terhadap mertuanya.