
Terdengar suara dering handphoneku. Di layarnya tertulis nama my hubby. Itu artinya Arka yang menghubungiku. Dengan cepat aku geser tombol hijau untuk menerima panggilan darinya. Kakiku melangkah menuju balkon dan aku duduk bersandar di kursi santai.
Arka mengatakan kalau dia tidak bisa pulang untuk makan siang. Karna sedang ada meeting dengan rekan bisnisnya dan kebetulan papa juga ikut meeting. Karna papa masih menjadi pemegang saham terbesar di perusahaan. Papa masih belum vacum dari dunia bisnisnya. Karna papa masih belum menemukan penggantinya. Hanya saja papa mengurangi kegiatannya dengan cara menyuruh Arka memegang pabrik dan salah satu kantornya.
Sebenarnya papa sangat berharap kalau kak Bayu lah orang yang akan meneruskan bisnisnya. Tapi sayang sekali kak Bayu masih butuh waktu untuk melakukannya. Katanya sih nunggu dia menikah dan punya anak. Tapi entah kapan itu dilakukannya.
Maka dari itu papa tidak mau menunggu lebih lama lagi. Papa memilih Arka untuk mengelola sebagian bisnisnya dari kepemilikan pabriknya yang kecil. Nanti apabila Arka mampu melakukannya dengan baik, papa akan memberikan bagian lain lagi.
Papa lebih memahami tentang bisnisnya, aku tidak mau ikut campur dengan keputusan papa. Apapun yang dilakukan papa aku yakin bahwa itu yang terbaik.
Memikirkan tentang papa membuat mataku kembali mengantuk. Apalagi angin berhembus dengan santainya. Seolah membelai kepalaku agar tertidur. Tapi masih mencoba bertahan agar tidak tidur, nyatanya semakin aku menahannya semakin terasa berat kantuk yang menyerangku.
Aku putar mp3 dari handphone ku. Dan aku putar lagu yang slow agar bisa mengantarku tidur dengan cepat. Aku letakkan handphone di atas meja yang ada di sampingku. Lalu aku benarkan posisi dudukku agar terasa nyaman. Setelah itu aku pejamkan mataku dan tak lama kemudian aku terlelap.
<<<
Terasa ada tangan yang menggenggam tanganku dengan lembut. Mataku sedikit terbuka. Dan tampak bayangan wajah Arka berada di hadapanku. Aku tersenyum dengan mata yang menyipit. Aku balas menggenggam tangannya lalu aku cium jari jemarinya.
Dengan malas aku buka mataku, terasa berat rasa kantukku yang belum juga pergi.
"Maaf sayang, tadi siang aku tiduran disini. Aku nggak kuat nahan kantukku." Ucapku dengan perlahan.
"Jam berapa kamu tidur?" Tanya Arka.
"Sekitar jam dua?" Jawabku pelan tapi masih sanggup di dengar olehnya.
Raut wajah Arka tidak seperti biasanya, kali ini tampak lesu dan tidak ada senyuman di bibirnya. Aku merasa sedikit takut melihatnya seperti ini. Apa dia marah karena aku tidur sampai dia pulang kantor. Biasanya kalau dia pulang kantor, aku sudah dalam kondisi selesai mandi dan juga selesai merapikan kamar. Tapi kali ini dia sudah pulang sedangkan aku masih tidur dan merasa malas untuk bangun.
"Kalau masih ngantuk kan, tidurlah. Pantas saja kamu masih ngantuk. Ternyata kamu baru tidur" Ucapnya.
"Hah, memangnya sekarang jam berapa?" Tanyaku sedikit melongo.
"Setengah tiga" Jawabnya.
Merasa tidak percaya dengan ucapan Arka , aku ambil handphone ku yang aku letakkan di meja. Aku nyalakan powernya dan memang benar masih setengah tiga. Pantas saja mataku masih ngantuk berat. Ternyata aku tidur hanya sekejap saja.
Aku letakkan kembali handphone ku. Dan aku kembali duduk menghadap ke arah Arka. Wajahnya masih terlihat lesu. Tapi tidak nampak kalau dia sedang sakit. Apa dia ada masalah di kantor sampai dia harus pulang lebih awal.
Aku sentuh pipinya dengan telapak tanganku "Sayang, kenapa jam segini kamu sudah pulang, apa ada masalah di kantor. Atau kamu sakit?" Tanyaku penuh kekhawatiran.
Arka meraih tanganku yang menyentuh pipinya. Di ciumnya berulang-ulang tanganku itu. Aku tampak seperti orang bingung yang melihat tingkahnya seperti ini.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanyaku
Arka melepas tanganku dan tangannya mengambil sebuah amplop putih dari dalam tas kerjanya. Lalu di serahkan padaku.
Aku menerimanya "Apa ini?"
""Buka dan bacalah" Perintah Arka.
Aku pun menurutinya. Aku buka amplop itu dan aku keluarkan selembar kertas putih. Aku baca dengan seksama. Ternyata itu adalah surat perintah kerja dari pusat. Yang mengharuskan Arka menyelesaikan pekerjaannya di kantor cabang lain. Karena di kantor cabang lain sedang ada masalah.
__ADS_1
Aku kembali melipatnya dan memasukkannya ke dalam amplop. Aku pandangi lagi wajah Arka yang tertunduk.
"Apa masalahnya?" Tanyaku.
"Aku nggak mau ninggalin kamu" Jawabnya tapi masih dengan wajah tertunduk.
"Kan hanya dua Minggu kamu disana?"
"Aku akan membawamu ikut denganku" Ucapnya.
"Aku mau ikut denganmu, tapi bagaimana dengan mamah. Mamah akan sendirian disini" Ucapku lagi.
"Aku akan bicara sama mamah. Atau aku akan bilang sama papa kalau aku nggak bisa melakukan perintah papa." Ucap Arka.
"Sayang, apa kamu akan menghilangkan rasa percaya papa sama kamu? Papa sudah sangat percaya sama kamu, bahwa kamu akan melanjutkan bisnis papa. Aku nggak apa-apa kok kalau di tinggal disini. Nanti akhir pekan aku akan pergi mengunjungimu disana." Ucapku berusaha menghiburnya.
"Tapi aku maunya kamu ikut denganku"
"Sayang, sejak kapan kamu jadi manja gini" Aku cubit pipinya karena merasa gemas dengannya.
Entahlah apa yang membuat Arka jadi seperti ini. Padahal dia pergi nggak lama. Sebenarnya aku juga sedih sih kalau harus jauh darinya. Mungkin saat ini rasa cinta antara aku dan Arka mulai tumbuh maka dari itu akan ada rasa nggak mau jauh satu sama lain.
"Kamu beneran nggak apa-apa kalau aku tinggal?" Tanya Arka lagi.
"Iya sayang. Aku nggak apa-apa. Ayo aku bantu siapin pakaian kamu" Ucapku sambil berdiri dan menarik tangannya.
Arka menurut meskipun dia tampak lesu. Dia berjalan mengikutiku, Aku gandeng tangannya sampai memasuki kamar. Sampai di kamar Arka terduduk lesu di sofa. Aku ambil koper yang di simpan di samping lemari pakaian.
"Sayang, segini cukup kan bajunya? Ini juga udah aku siapkan parfum, deodorant, sama perlengkapan mandinya. Kalau ada yang kurang bilang saja ya. Nanti biar aku siapkan" Arka mengabaikan perkataanku. Wajahnya masih saja lesu.
Perlahan aku dekati dia dan aku genggam tangannya "Sayang, kamu jangan kayak gini terus. Kalau kamu kayak gini nanti aku juga ikutan sedih" Ucapku.
"Kamu ikut saja ke Surabaya. Aku nggak akan tenang kalau ninggalin kamu disini. Nanti aku akan bicara sama mamah" Kali ini ucapan Arka terdengar sangat serius.
"Sudahlah sayang, kamu pergi aja, biar aku disini aja nemenin mamah. Sekarang cepat kamu mandi ya. Biar aku siapkan baju gantinya" Ucapku.
Dengan sedikit senyum yang dipaksakan Arka menganggukkan kepalanya. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi. Sementara Arka mandi aku membereskan tempat tidur.
Handphone Arka berdering. Aku lirik sekilas layar handphone nya yang dia letakkan di meja samping ranjang. Tidak ada nama di layarnya. Hanya deretan angka saja. Sampai sekian detik deringnya terhenti. Dua detik kemudian kembali berdering. Aku ambil handphone itu tapi tidak berniat untuk menerima panggilan.
Aku bawa handphone itu untuk aku berikan pada Arka yang masih mandi. Aku ketuk pintunya dari luar dan memanggilnya.
"Sayang, ada telepon nih" Teriakku.
Tidak lama pintu kamar mandi terbuka dan Arka bertelanjang dada hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya bagian bawah.
"Siapa?" Tanya Arka. Aku hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahuku. Aku berikan handphone nya dan Arka langsung menerimanya.
"Hallo... Oh ada apa Monika... Besok pagi? Kamu siapkan saja berkasnya... Baiklah" Arka menutup panggilan.
"Siapa sayang?" Tanyaku. Padahal aku juga sudah mendengar kalau dia menyebut nama Monika. Hanya saja aku pura-pura tidak mendengar.
__ADS_1
"Monika, sekretaris papa. Dia bilang besok pagi ada meeting di Surabaya. Dan papa menyerahkan padaku. Karna papa tidak bisa hadir. Papa harus ke Jogja." Jawab Arka.
"Terus kamu sama Monika kesana?" Tanyaku.
"Iya sayang. Nggak mungkin dong kalau meeting tanpa sekretaris. Sedangkan Aku nggak paham kondisi disana. Monika lebih tau daripada aku." Jelasnya.
"Kalau gitu, aku ikut kamu ke Surabaya." Ucapku.
Arka menatapku heran, karna tadi aku sudah membujuknya kalau aku nggak mau ikut. Tapi sekarang justru aku yang memintanya.
"Kenapa tiba-tiba pingin ikut?" Tanya Arka.
"Aku nggak mau bohong sama kamu, kalau aku cemburu. Aku nggak mau kamu pergi sama perempuan lain. Aku harus ikut" Ucapku lagi.
Arka tersenyum melihatku yang merasa cemburu. Dia berjalan mendekatiku dan memelukku. "Aku hanya minta rasa percaya darimu. Aku nggak akan berbuat macam-macam meskipun di luaran sana banyak perempuan cantik. Tapi bagiku kamu lebih dari segalanya." Bisik Arka saat memelukku.
"Tapi aku nggak bisa nahan rasa cemburuku." Jawabku.
"Itu wajar sayang, itu artinya kamu sayang sama aku. Asalkan cemburunya jangan berlebihan ya" Ucap Arka. Aku pun mengangguk.
"Ya sudah pake baju sana. Aku mau buatkan minuman buat kamu" Ucap ku
"Nggak usah sayang. Kamu siapkan aja pakaian dan kebutuhan kamu. Malam ini kita akan berangkat ke Surabaya. Sekarang aku mau bicara dulu sama mamah." Ucap Arka dengan raut wajah yang sudah mulai berubah.
Sementara Arka berpakaian aku langsung buka lemari pakaianku. Aku keluarkan pakaian-pakaian yang akan aku bawa kesana. Hanya beberapa pasang pakaian saja. Tidak sebanyak punya Arka. Karna mungkin saat di Surabaya nanti aku akan membeli pakaian baru lagi.
"Sayang, kamu beres-beres dulu ya. Biar aku bicara dulu sama mamah" Ucapnya sambil menyisir rambutnya. Aku mengangguk mengiyakan.
Lalu Arka berjalan keluar kamar. Aku kembali melanjutkan berkemas. Belum juga selesai berkemas terdengar dering dari handphone ku. Dengan cepat aku berlari kecil untuk mengambil handphoneku. Alda yang menghubungiku tapi kali ini dia melakukan video call. Segera aku geser tombol warna hijau untuk menerima panggilannya.
"Hai Ca, ngapain lu" Sapa Alda
"Liat aja sendiri" Aku letakkan handphone agak menjauh agar dia melihat kalau aku sedang berkemas.
"Lu mau kemana, honeymoon?" Tanya Alda.
"Aku mau ke Surabaya sama Arka, Karna Arka ada pekerjaan yang harus di selesaikan disana." Jawabku.
"Mertua lu ikut juga?" Tanya Alda.
"Enggak kok. Mamah nggak ikut. Aku berdua aja sama Arka" Jawabku.
"Berarti mertua lu sendirian dong?"
"Iya, lagipula kalau di ajak pun mamah pasti bakal nolak. Sebenarnya aku juga nggak mau pergi karna nggak tega kalau harus ninggalin mamah. Tapi mau gimana lagi Arka yang minta agar aku ikut" Jawabku.
"Kalau gitu, biar gue sama Firna nginep disana ya nemenin mertua lu"
"Kamu serius?" Tanyaku seolah tak percaya.
"Iya gue serius. Sekarang juga gue ma Firna meluncur kesana." Alda langsung mematikan video call nya.
__ADS_1
Aku tidak bisa menolak kemauan Alda. Mungkin dengan adanya Alda dan Firna di rumahku, aku dan Arka akan pergi dengan tenang.