
"Fir, coba jelaskan apa maksud semua ini?" Alda mulai mengeluarkan suara.
"A-apa maksud kamu?" Firna terlihat gugup dengan pertanyaan Alda.
"Fir, apa yang kamu sembunyikan dari kami? Coba kamu cerita. Kenapa kamu malah menghindari kami? Apa kami ada salah? Apa kamu sudah menganggap kami bukan sahabat lagi?" Ucapku dengan lembut.
Suasana hening untuk beberapa saat.
"A-aku minta maaf, aku nggak bermaksud menghindari kalian, kalian tidak salah apa-apa. Aku lah yang salah. Aku bukan sahabat yang baik buat kalian" Firna berkata sambil menundukkan wajahnya.
"Fir, sekarang kamu berubah. Kamu bukan Firna yang dulu. Mana Firna yang selalu antusias jika di ajak bertemu. Kali ini kedatangan kami seolah menjadi momok menakutkan buatmu. Semalam kamu mengatakan kalau kamu sedang di luar kota. Nyatanya apa? Sekarang jelaskan semuanya pada kami" Pintaku masih dengan nada lembut.
"Ada masalah hidup apa sih loe, sampai-sampai loe berubah kayak gini?" Alda yang daritadi hanya diam, kini membuka suara.
Firna masih diam menunduk. Lalu terdengar isakan tangis darinya.
Aku dan Alda saling pandang. Aku berdiri, dan berpindah duduk di samping Firna.
"Kamu kenapa Fir?" Tanyaku lagi.
"Fir, jangan bersikap seperti anak kecil. Asal loe tahu gue sama Caca kesini, itu karena peduli sama loe. Jadi please, sekarang loe bilang apa yang loe sembunyiin dari kami. Nggak usah loe tutup-tutupin lagi" Rahang Alda tampak mengeras karena sulit sekali memaksa Firna untuk berbicara.
Aku genggam tangan Firna dengan kedua tanganku.
"Fir, kita sudah saling kenal lama. Kita sudah tahu karakter masing-masing. Selama ini kita bersahabat, tidak ada yang kita tutupi. Kita saling terbuka. Jadi tolong, tolong cerita apa yang terjadi sama kamu. Kalau kamu ada masalah, aku sama Alda siap membantu kamu" Ucapku dengan lembut.
"Maafin aku ca, Al. Aku masih belum siap untuk mengatakan semuanya. Biar saja aku yang hadapi semua ini sendirian. Jadi aku minta jangan paksa aku untuk bicara"
Brakkk
Aku dan Firna terlonjak kaget. Alda menggebrak meja kayu yang ada di hadapan kami.
"Loe anggap apa persahabatan yang udah terjalin selama ini" Suara Alda meninggi.
Baru kali ini aku melihat Alda marah dan bersuara tinggi.
"Al, tahan emosi kamu" Ucapku lirih.
Alda berdiri dan menarik tanganku "Kita pulang sekarang Ca. Percuma kita kesini. Tidak di hargai sama sekali" Aku pun berdiri dengan terpaksa.
"Al, tunggu dulu. Kita bisa bicara baik-baik" Aku berusaha menahan Alda.
"Buat apa? Percuma kita peduli, tapi tak di hargai" Alda masih menarik tanganku.
__ADS_1
Aku sudah berdiri di ambang pintu, aku menoleh ke arah Firna. Dia hanya diam menunduk dan masih terisak.
"Lho, kalian mau kemana?" Haris sudah berdiri di teras dengan membawa bungkusan. Dia melongo melihat Alda yang menarik tanganku.
"Sorry Ris, gue mau balik" Sahut Alda masih penuh emosi.
"Ada apa ini, Apa yang terjadi?" Tanya Haris heran karena melihat kemarahan Alda.
Lalu Haris segera berjalan memasuki rumah. Sedangkan aku dan Alda sudah berjalan ke arah jalan.
"Al, tunggu" Aku berusaha menghentikan Alda yang sudah berjalan mendahuluiku "Alda" Teriakku. Tapi Alda sama sekali tidak menoleh ke arahku.
Segera aku susul Alda yang sudah memasuki mobil. Alda duduk bersandar dengan mata terpejam. Aku pun duduk di samping Alda.
"Kenapa Firna berubah Ca?" Kali ini suara Alda lirih. Sudah tidak ada lagi gurat emosi di wajahnya.
Aku sentuh pundak Alda "Al, mungkin saat ini kita harus membiarkan Firna sendiri. Mungkin dia butuh ketenangan. Dan dia belum siap untuk berbagi cerita. Suatu saat dia pasti akan menceritakan semuanya pada kita" Ucapku tak kalah lirih.
"Kita pulang sekarang ya" Ajakku. Alda pun mengangguk.
Alda memutar kunci dan bersiap menginjak pedal gas. Namun....
dok dok dok
"Ada apa Ris?" Tanyaku.
"Firna, tolongin Firna" Haris sangat gugup.
"Firna kenapa?" Tanyaku lagi. Tapi saking paniknya sehingga Haris sulit berkata-kata.
Tak ingin menunggu lama lagi Alda segera keluar dan kembali memasuki rumah Firna. Aku pun mengikutinya dari belakang.
"Astaghfirullah hal adzim" Betapa terkejutnya aku melihat Firna yang tengah pingsan, wajahnya memucat.
"Kita bawa Firna ke rumah sakit sekarang" Alda begitu panik melihat keadaan Firna yang sudah tak berdaya.
***
Di lorong rumah sakit, Alda dan Caca duduk berdampingan di bangku tunggu. Sedangkan Haris, dia berdiri bersandarkan pada tiang yang tak jauh dari Alda.
Ketiganya saling diam dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Firna masih berada di ruangan UGD untuk menjalani pemeriksaan.
"Sayang" Arka menghampiri Caca yang masih diam termenung.
__ADS_1
Caca mendongak, melihat suaminya datang dia segera menghambur ke dalam pelukan Arka.
"Firna...." Caca tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Dia menangis tergugu dalam pelukan Arka.
"Ada apa dengan Firna?" Tanya Arka.
"Firna pingsan" Caca kembali terisak.
Siang ini Arka memang datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan adiknya dan sekalian membawakan makanan untuk mamahnya. Kebetulan juga Firna di bawa ke rumah sakit yang sama dengan tempat Rani di rawat. Karena hanya rumah sakit ini yang terdekat dari tempat tinggalnya.
"Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Firna semoga dia baik-baik saja" Arka mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Arka" Haris menyebut nama Arka.
Arka melepas pelukan istrinya dan menoleh ke sumber suara.
"Haris? Kamu disini juga?" Tanya Arka.
Caca dan Alda saling pandang, menyiratkan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan. Dan Arka pun menyadarinya.
"Jadi ini istri kamu?" Tanya Haris.
"Iya, ini istriku" Pandangan Arka pun beralih ke istrinya " Sayang kenalin, ini Haris, temanku waktu di pesantren dulu. Sudah lama sekali nggak pernah bertemu. Sekalinya bertemu di rumah sakit, sama-sama ngantar orang sakit" Arka pun mengenalkan Caca pada Haris. Arka terkekeh di akhir kalimatnya.
Caca dan Alda masih diam, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan, tapi dia sendiri bingung harus mulai dari pertanyaan yang mana dulu.
"Siapa yang sakit?" Tanya Caca ingin memastikan.
"Jadi gini, kemaren sore waktu mau jenguk rani. Nggak sengaja aku bertemu sama Haris di depan apotek. Dia lagi Nebus obat buat calon istrinya. Kata Haris juga calon istrinya itu sering check up disini. Iya kan Ris?" Arka menjelaskan pada Caca. Haris pun mengangguk.
"Apa yang kalian maksud Firna?" Caca merasa bingung dengan penjelasan Arka.
"Firna siapa? teman kamu?" Tanya Arka.
"Iya" jawab caca. sekarang giliran Arka yang kebingungan.
Kini Alda ikut berdiri diantara mereka, daritadi dia hanya diam menyimak pembicaraan tiga orang di hadapannya ini.
"Sebentar, daritadi gue cuman nyimak doang, sekarang gue mau tanya. Yang loe sebut calon istri itu, Firna?" Haris mengangguk dengan ragu. "Terus, yang sakit juga Firna?" Haris mengangguk lagi.
"Firna sakit apa?" Caca bertanya dengan cepat.
"Bukannya kalian sudah tahu kalau Firna terkena kanker serviks?"
__ADS_1
"Astaghfirullah hal adzim" Caca menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia sangat terkejut, begitu juga dengan Alda.