Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Pertama kalinya


__ADS_3

Arka menghentikan mobilnya begitu sampai di depan gerbang rumah baru kami, ya sebut saja itu sekarang rumah kami. Tanpa mematikan mesin Arka langsung turun dari mobil. Kemudian membuka gembok yang menggantung di pagar besi.


Setelah gembok terbuka, Arka mendorong pagar besi itu sampai terbuka lebar. Kemudian Arka kembali lagi masuk ke dalam mobil dan melajukannya melewati gerbang yang tadi di bukanya.


Arka menghentikan lagi mobilnya dan memasang handrem. Ketika dia akan turun dari mobil. Aku memegang bahunya.


"Biar aku saja yang turun. Kamu disini saja" Tanpa menunggu jawaban dari Arka, aku langsung membuka pintu mobil dan turun untuk menutup gerbangnya lagi.


Setelah menutupnya, aku menghampiri Arka yang masih berada di dalam mobil. Aku kembali duduk di samping Arka. Dan Arka kembali melajukan mobilnya memasuki garasi.


Kami pun turun dari mobil bersamaan. Aku melirik sedikit ke halaman depan rumah. Terlihat ada kolam kecil dengan air mancur di tengahnya.


"Mulai kapan ada kolam disitu?" Tanyaku menunjuk ke arah kolam


"Sudah dua hari yang lalu. Kakakmu yang memberi ide" Jawab Arka sambil menggandeng tanganku.


"Ada ikannya?" Tanyaku lagi.


"Nggak ada, itu cuma buat hiasan saja"


"Besok di isi ikan yang besar ya?" Pintaku pada Arka.


"Boleh, ikan koi kayaknya bagus deh " Jawab Arka. Aku pun tertawa senang mendengar persetujuan Arka.


"Makasih ya" Aku pun memeluk lengan kirinya dengan kedua lengan ku. Sedangkan kepalaku aku sandarkan menyamping di bahunya. Arka membalasnya dengan senyuman.


Sampai di depan pintu utama, Arka menghentikan langkah kakinya, dia merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci rumah.


"Bismillahirrahmanirrahim" Pintu pun terbuka. Arka menggandeng tanganku agar masuk.


"Waahhh... bagus banget . Siapa yang atur semua ini?" Kataku sangat kagum dengan apa yang aku lihat di ruang tamu. Semua tertata dengan rapi dan corak yang tidak mencolok tapi terlihat mewah.


"Yang atur ya desain interiornya. Yang pilih aku dan kakak kamu. Tapi justru kakak kamu yang paling banyak bertindak." Arka tertawa setelah mengatakan ucapan terakhirnya.


"Aku suka banget, makasih ya sayang" Aku meraih tangan Arka dan menggenggamnya.


"Ada kejutan buat kamu, tapi harus tutup mata dulu ya" Kata Arka yang membuatku penasaran.


"Apa sih bikin penasaran deh"


"Makanya tutup mata dulu biar tahu apa kejutannya." Ucap Arka lagi.


"Oke, aku merem nih" Aku pun memejamkan mata.


"Nggak gitu, tapi aku yang akan menutup mata kamu" Arka berjalan di belakangku. Kedua mataku di tutup menggunakan kedua telapak tangannya.


Aku berjalan di depan Arka, dan Arka di belakangku, menuntun langkahku agar tidak menabrak yang ada di sekitarku.


Beberapa saat melangkah Arka menghentikan langkahnya. Tapi tangannya masih menutup kedua mataku.


"Udah siap ya, aku hitung nih. Satu... Dua...Tiga" Dan Arka membuka kedua tangannya. Aku membelalakkan mataku saat melihat sebuah foto berbingkai di hadapanku.


Foto berukuran sangat besar, hampir memenuhi sisi tembok di ruang tengah ini. Foto pernikahanku dengan Arka. Arka tampak gagah dengan memakai celana hitam, kemeja putih dan jas hitam. Posisi Arka duduk di ujung sofa menatap ke depan dengan senyum khasnya yang menambah ketampanannya.


Sedangkan posisiku duduk di sofa mengenakan gaun putih panjang khas pengantin. Di foto itu juga terpampang wajahku dengan senyum yang menambah kecantikan wajahku. Tapi merasa aneh saja, karna aku merasa tidak pernah foto dengan senyuman cantik seperti itu.

__ADS_1


"Kok fotoku bisa seperti ini?" Tanyaku pada Arka.


"Maksudnya bisa senyum gitu?" Arka mencoba menebak yang aku maksud. Aku pun mengangguk.


"Sini deh, aku kasih tau kamu" Arka menggandeng tanganku dan menyuruhku duduk di sofa. Arka mengambil sesuatu dari laci dekat sofa.


"Apa itu?" Tanyaku penasaran.


"Ini kumpulan foto yang sudah di cetak, coba lihat foto-fotonya." Arka menyerahkannya padaku. Aku pun menerimanya.


Aku langsung membukanya satu persatu. Ternyata foto-fotoku yang bersama Arka tak ada satu pun dengan senyum tulus. semua senyuman itu begitu terlihat terpaksa. Hanya ada beberapa foto saja yang tampak dengan senyum bahagia, yaitu saat foto bersama teman-temanku.


"Kok disini nggak ada foto kayak yang itu" Tanyaku sambil menunjuk foto yang di pajang di dinding.


"Tentu saja nggak ada, ini fotonya di edit biar kamu terlihat cantik" Kata Arka sambil mengelus sebelah pipiku.


"Kamu tahu apa maksudku membuat foto yang besar ini dan memajangnya?" Tanya Arka kemudian. Aku pun menggelengkan kepala perlahan.


"Sebagus atau semahal apapun makeup yang kamu pakai, dan semahal apapun pakaian yang kamu kenakan, itu tidak akan membuatmu cantik bila tidak ada senyum yang menghiasi wajahmu. Biarpun kamu tanpa makeup, tapi bila kamu mampu tersenyum dengan tulus, itu akan membuatmu cantik secara alami." Arka menjelaskan padaku. Dan aku pun memahami maksud Arka.


"Jadi aku harus selalu tersenyum, itu kan maksudmu?"


"Iya, selalu tersenyumlah menghadapi orang. Baik yang sudah kamu kenal ataupun yang belum kamu kenal" Arka menangkupkan kedua tangannya di pipiku.


Perlahan Arka mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bibirnya mulai menyentuh bibirku. Aku pejamkan mataku, pasrah dengan apa yang akan di lakukan Arka terhadapku. Bibirnya mulai melumat bibirku. Aku pun menikmati ciuman pertamaku darinya. Tiba-tiba Arka melepaskan ciumannya. Mataku pun terbuka.


"Maafkan aku" Itu yang di ucapkan Arka. Dia berdiri dan berjalan menghindariku. Aku pun berdiri dan menarik tangannya. Arka menghentikan langkah kakinya. Masih membelakangiku.


Aku langsung mendekap tubuhnya dari belakang. Aku lingkarkan kedua tanganku ke depan dadanya. Wajahku aku sandarkan dibelakang punggungnya.


"Kenapa berhenti"? Tanyaku


Aku melepaskan pelukanku dan memutar tubuhnya agar menghadap ke arahku.


"Buat apa minta maaf, aku istrimu. Tidak hanya bibir ini, tapi tubuh ini adalah milik kamu" Ucapku. Aku mengalungkan kedua tanganku ke lehernya.


Sedikit aku tundukkan kepalanya menggunakan tanganku. Agar wajahnya mendekat ke wajahku. Karena tubuhku lebih pendek daripada tubuhnya. Aku jinjitkan kakiku agar lebih dekat lagi ke wajahnya.


Aku dekatkan bibirku dengan bibirnya. Aku kecup bibirnya, aku berusaha membuka bibirnya menggunakan lidahku. Dan berhasil, Arka membuka bibirnya, dan sekarang lidahnya bermain di dalam mulutku. Kedua mataku terpejam berusaha menikmati ciuman ini lebih dalam. Aku terus mencumbunya.


Perlahan tangan kirinya bergerak melingkar ke pinggangku. Dan tangan kanannya memegang tengkuk leherku. Menarik tubuhku agar lebih mendekat dengan tubuhnya. Bibir kami masih terus saling melumat satu sama lain. Sesekali aku membuka mataku. Aku tatap wajah Arka, Dia memejamkan matanya juga.


Aku lepaskan ciumanku, berusaha mengambil nafas yang mulai tersengal.


"Kita ke kamar atas ya" Pinta Arka. Aku hanya mengangguk.


Dan aku terkejut saat Arka mengangkat tubuhku, seperti di film-film Bollywood ataupun Hollywood. Aku kalungkan kedua tanganku ke lehernya.


"Turunkan saja, aku takut jatuh" Ucapku.


"Aku nggak akan melukaimu." Ucap Arka saat mulai menaiki anak tangga. Jujur saja aku sangat takut saat menaiki anak tangga.


Tapi Arka tampak tenang saat berjalan menaiki anak tangga. Semakin aku eratkan kedua tanganku.


Tanpa menurunkan tubuhku, Arka berhasil menggapai gagang pintu kamar utama. Arka membawaku masuk ke kamar. Cahaya di kamar sangat minim karena jendela kamar masih tertutup tirai, dan lampu tidak di nyalakan.

__ADS_1


Arka membaringkan ku di atas ranjang. Ranjang yang cukup besar, sudah terpasang lengkap dengan spreinya yang tertata rapi.


Tanganku masih melingkar di lehernya. Dan berusaha melepaskan tanganku. Tapi aku tidak mau melepaskannya. Aku malah sedikit menekan kepalanya agar menunduk ke wajahku.


Tak ada lagi penolakan, Arka menuruti mauku. Dengan posisi tubuh setengah membungkuk, dia mulai mengecup bibirku lagi. Di cumbunya perlahan, dan semakin lama ciuman ini terasa sedikit liar daripada di awal.


Aku pun tak mau kalah. Aku membalas ciumannya, aku mainkan lidahku ke rongga mulutnya. Kedua tanganku bergerak mengarahkan tubuhnya agar menaiki ranjang.


Arka melangkahkan kaki kanannya melewati tubuhku. Dan sekarang posisi tubuhku ada di bawah tubuh Arka. Ciuman ini masih terus berlanjut.


Tanganku mulai bergerak turun menyusuri punggungnya sampai di batas ujung kaos yang dia pakai. Perlahan aku mengangkatnya agar Arka membuka kaos yang dia pakai. Arka melepas ciuman di bibirku.


Kedua tangannya menyingkap kaos yang dia pakai. Sehingga terlihat jelas dada bidangnya di hadapanku. Aku merabanya, tubuhnya begitu kekar. Lengannya terasa keras, terlihat sekali jika lengannya benar-benar berotot.


"Apa kamu siap melakukannya denganku?" Tanya Arka di tengah cumbuannya. Aku mengangguk mengiyakan.


Tanpa pikir panjang lagi kami pun saling melepaskan pakaian yang menempel di tubuh kami. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami.


Aku mencoba menutupi dadaku dengan sebelah tanganku. Arka menatapku dengan wajah yang sedikit heran.


"Kenapa di tutupi?" Tanya Arka


"Malu" Jawabku dengan pelan.


Arka mengangkat tangan yang menutupi dadaku. Dan sekarang dadaku terlihat jelas di hadapannya.


"Kenapa harus malu?" Tanya Arka lagi


"Karena ini yang pertama" Jawabku


"Oh ya, apa kamu belum pernah melakukannya dengan lelaki lain?"


"Belum" Jawabku singkat.


"Aku juga baru pertama kali" Ucap Arka.


Tangan Arka mulai meraba dadaku. meremasnya perlahan. Aku menikmatinya, aku mendesah perlahan, sehingga membuatnya lebih berani bertindak lebih.


Arka berusaha memasukkan benda miliknya ke gerbang keperawananku. Tampak kesulitan saat akan memasukkannya, karna aku memang masih perawan. Meskipun aku gadis malam, suka merokok, mabuk, tapi aku masih bisa menjaga keperawananku. Itulah alasan kenapa Farhan meninggalkanku demi wanita lain yang mau di tidurinya, karena aku selalu menolak untuk melayani nafsu bejatnya.


"Pelan-pelan ya biar nggak sakit " Pintaku pada Arka. Arka hanya mengangguk tersenyum.


Setelah berusaha beberapa saat, Akhirnya benda milik Arka berhasil menembus gerbang keperawananku. Aku mencengkeram kuat lengan Arka, saat benda itu berhasil menembusnya. Begitu terasa sakit yang tak tertahankan, sampai tak terasa ada bulir air menetes dari sudut kedua mataku. Arka menyadarinya, dan mengecup kedua mataku secara bergantian.


Kami terus bergelut sampai akhirnya sama-sama merasakan kenikmatan. Aku merasakan ada cairan yang mengalir dari liang kenikmatanku. Aku tak tau apa itu. Aku tak mempedulikannya, karna rasa sakit dan rasa nikmat bercampur menjadi satu, sampai terasa lemas seluruh tubuhku. Saat menyudahi pergulatan Arka melihat ke arah organ intimku, dan dia tampak terkejut.


"Sayang, kamu benar-benar masih perawan?" Tanya Arka seperti tidak percaya.


"Aku kan sudah bilang ini baru pertama kali, dan aku akan menyerahkannya pada orang yang aku cintai, yaitu suamiku" Ucapku dengan suara lirih.


Arka merebahkan tubuhnya di sebelahku. Menggenggam tanganku, dan mengecupnya.


"Terima kasih kamu telah memberikannya padaku" Arka mengecup keningku, dan aku melihat mata Arka yang berkaca-kaca.


"Tidurlah, kamu pasti lelah kan" Ucap Arka di dekat telingaku. Aku menoleh ke arahnya sekilas. Kemudian Arka menarik selimut agar menutupi tubuh kami berdua.

__ADS_1


Aku terdiam tak bergeming sama sekali. Kembali aku tatap langit-langit kamar. Lalu aku pejamkan kedua mataku. Aku tak menghiraukan lagi apa yang dilakukan Arka. Aku hanya merasakan tangannya tetap menggenggam tanganku.


"Terima kasih sayang, kamu telah melaksanakan salah satu kewajibanmu sebagai seorang istri." Ucapan Arka masih terdengar jelas di telingaku. Tapi mataku sudah tak sanggup lagi untuk membukanya. Terasa kantuk yang sangat berat sekali.


__ADS_2