Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Kejujuran


__ADS_3

Malam ini kami menikmati makan malam bersama. Momen seperti ini sangat jarang terjadi dalam keluargaku. Itu karena Kak Bayu jarang pulang ke rumah. Momen seperti ini terjadi setahun sekali atau bahkan mungkin dua tahun sekali. Untuk kali ini anggota keluarga bertambah satu, yaitu Arka sebagai suamiku.


Untuk beberapa saat suasana hening di meja makan. Papa mulai membuka suara memecah keheningan.


"Arka, bagaimana perkembangan mengenai ibumu? "


"Baik pa, karena rutin ceck up" Jawab Arka.


"Kapan kamu ajak ibumu kesini?" mama ikut bertanya.


"Nanti ma, kalau ibu sudah benar-benar membaik. Mudah-mudahan waktu acara syukuran rumah ibu bisa saya ajak kesini." Kata Arka.


"Terus siapa yang jagain kalau adikmu sekolah?" Tanya mama lagi.


"Sekarang kan ada bapak disana, jadi kalau siang atau sore bapak bisa pulang sebentar. Tapi kalau bapak repot, bapak minta bantuan sama Aisyah. " Kata Arka lagi.


"Aisyah ?? siapa dia ??" Tanya papa


"Itu pah, pacarnya Arka, masa papa nggak tahu " Kak Bayu berkata seperti itu sambil melirik ke arahku .


"Jangan bilang gitu bang, itu kan dulu. " Sambil tersenyum Arka menunduk, raut wajahnya tampak malu.


Setelah mengatakan itu Arka segera minum air yang ada di depannya , dia pun menyudahi makannya.


"Pa , ma, saya duluan ke atas ya. Soalnya saya mau pergi keluar sebentar. " Pamit Arka.


"Iya sudah." Jawab papa.


Aku pun menyudahi makanku. Aku menyusul Arka ke kamar.


Aku membuka pintu dan menutupnya kembali. Aku menatap Arka yang tengah sibuk memakai jam tangan, mengambil dompet dan memasukkannya ke kantong celananya.


"Kamu mau kemana?" Tanyaku sambil berdiri mendekatinya.


"Keluar" Jawabnya singkat tanpa memandang wajahku. Dia sibuk melipat sedikit lengan kemejanya.


"Aku mau bicara" Kataku dengan suara yang terdengar kaku.


"Nanti saja, aku mau pergi sekarang. " nada suara Arka terdengar dingin , bahkan tidak seperti biasanya. Dia mulai melangkahkan kakinya.


"Aku mau bicara sekarang" Kataku sambil memegang lengan kanannya. Langkah kakinya terhenti.


Perlahan dia melepaskan tanganku. Kembali melangkahkan kakinya pergi meninggalkanku. Dengan cepat aku pun berlari mengejarnya.


"Arka, tunggu" panggilku. Tapi Arka tetap berjalan menuruni tangga. Aku tetap mengejarnya.


"Arkaaa..." Aku pun sedikit meninggikan suaraku. Sehingga kak Bayu,mama, dan papa yang sedang berbincang di ruang tengah menoleh ke arahku. Tapi Arka tetap berjalan keluar rumah.


Aku masih berdiri di tangga mencengkeram sisi tangga. Mama menghampiriku.


"Ada apa dengan kalian? " Tanya mama.


"Arka ma, Arka mengabaikanku " Aku mencoba mengadu pada mama.


"Apa soal di meja makan tadi?" tanya mama


"Bukan itu ma"


"Lalu kenapa Arka sampai seperti itu sama kamu?" Tanya mama lagi.

__ADS_1


"Sepertinya dia sedang dekat dengan perempuan lain ma, sampai-sampai dia mengabaikanku" Rengekku


"Bagaimana rasa diabaikan? sakit kan? Begitulah yang dia rasakan selama ini." Aku kaget dengan apa yang di katakan mama, mama sama sekali tidak membelaku.


"Mama kok malah belain dia sih?"


"Mama nggak bela siapa-siapa, mama cuma mau menyadarkan kamu. selama ini sikap mu padanya itu sangatlah salah" Jelas mama.


"Nanti kalau dia pulang, cobalah untuk minta maaf. Tapi kalau malam ini dia nggak pulang, kamu harus lebih sadar diri."


"Tapi dia pergi menemui Alda, temanku sendiri." jelasku pada mama


"Koreksi diri kamu, apa yang salah dari diri kamu sehingga dia berani melakukan hal itu. Sudah sana, masuk kamar, pikirkan baik-baik ucapan mama" Ucapan mama tampak serius kali ini.


Papa dan Kak Bayu yang mendengar perdebatan ku dengan mama hanya diam saja. Mungkin kali ini memang aku yang salah.


Aku pun menuruti perintah mama, aku kembali memasuki kamarku. Berjalan perlahan menuju ranjang. Merebahkan tubuhku, mencoba memejamkan mata tapi aku masih belum bisa berpikir dengan baik.


Aku kembali duduk, aku tekuk lutut ku sampai menempel ke dada. Aku dekap kedua kakiku. Aku melihat ke sisi ranjang yang kosong. Ya seharusnya aku membiarkan dia tidur di sini bersamaku, melakukan hal selayaknya suami istri, berkomunikasi dengan kata-kata romantis layaknya pasangan yang di selimuti cinta, selalu bercanda,dan saling melengkapi.


Tidak satu pun hal itu aku lakukan pada suamiku, aku malah terus mencacinya, memandangnya dengan penuh kebencian. Bahkan aku tidak mau di sentuhnya meskipun itu hanya seujung kuku.


Aku mendekap kakiku lebih erat, menangis penuh dengan penyesalan. Aku benamkan wajahku pada tangan yang mendekap kakiku. Aku terus menyesali perbuatanku , istri macam apa aku ini.


Aku terus terisak dalam tangisku. Aku terkejut saat tiba-tiba aku merasakan ada tangan menyentuh dan mengusap kepalaku. Aku mengangkat kepalaku. Aku terbelalak ketika Arka muncul di depan mataku. Dia berdiri di sisi ranjang.


Dia mengusap air mata yang tersisa di pipiku dengan ujung jarinya. "Ada apa denganmu ?"


Tanpa berfikir lagi aku pun turun dari ranjang berdiri di hadapannya , aku langsung mendekap tubuhnya, menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Aku kembali terisak.


"Arka aku minta maaf , aku mohon maafkan aku." Dengan sisa suara yang begitu lirih terdengar. Tapi aku masih bisa mengucapkan kata maaf untuknya.


Setelah tangisku sedikit tenang, Arka menggenggam kedua lenganku, mendorongku perlahan untuk melepaskan pelukanku. Agar ada sedikit ruang untuk melihat wajahku.


Salah satu tangan Arka menyentuh daguku dan mengangkatnya agar bisa menengadah menghadap wajahnya yang jauh lebih tinggi denganku.


"Katakan, apa yang membuatmu seperti ini?" Suara Arga begitu lembut terdengar.


"Kesalahanku yang membuat kamu berpaling dariku." Jawabanku membuat dahi Arka berkerut.


"Berpaling ? apa maksudmu. ?" Tanya Arka dengan kebingungan.


"Aku tau kamu pergi menemui Alda, Dia suka sama kamu kan?" Tanyaku lebih dalam.


"Iya, dia memang suka sama aku dia bilang kalau aku mirip dengan pacarnya dulu."


"Terus, kamu juga suka sama Alda ?"


"Siap sih yang nggak suka dengan Alda, dia perempuan baik, enak di ajak komunikasi, mudah bergaul , dan lagi dia perempuan yang apa adanya . " Jawabannya seolah mencabik hatiku.


Aku tepis tangannya yang masih menempel di daguku, aku langsung duduk di sisi ranjang.


"Berarti benar kamu punya hubungan sama dia? " Air mataku kembali menetes.


"Iya, aku memang punya hubungan sama dia. Kami berteman dengan baik. Dia bercerita banyak hal tentang kamu karna aku yang memintanya, sehingga aku tau banyak hal tentang kamu."


"Hah... serius kalian hanya berteman?" Seolah aku tak percaya dengan yang aku dengar.


"Iya, kamu kenapa sih?" Tanya Arka merasa heran.

__ADS_1


"Kamu nggak selingkuh dengannya kan?" Tuduhku pada Arka. Arka menangkupkan kedua tangannya ke pipiku, Sedikit diangkatnya kepalaku agar wajahku terlihat olehnya.


"Selingkuh ???.... Aku masih belum bisa mencintaimu sepenuh hati, bagaimana mungkin aku bisa main hati dengan perempuan lain. Aku bukan laki-laki seperti itu. " Jelasnya.


"Aku akan terus berusaha untuk mencintaimu, meskipun kamu mengabaikan semua perasaanku" Tegasnya.


" Maafkan aku Arka, aku nggak bisa jadi istri yang baik buatmu" Ucapku dengan suara yang masih terisak .


"Bukannya nggak bisa, tapi masih belum bisa. Kamu mau kan berusaha bersamaku ? Agar kita menjadi keluarga yang bahagia. " Aku pun langsung mengangguk mendengar kata - kata Arka.


Arka kembali memelukku. Mendekapku dan mencium keningku. Untuk kali ini aku tidak menolaknya. Aku semakin mengeratkan pelukannya. Seolah tak ingin melepas pelukan ini.


"Ehemm..." Aku mendengar suara deheman.


Arka melepaskan pelukannya. Begitu pula denganku. Aku mengusap wajahku dengan telapak tanganku. Kami berdua salah tingkah seolah kami pasangan muda mudi yang tertangkap karena berbuat mesum. Lupa dengan status kami yang sah. Dalam hati aku hanya tertawa.


"Di panggil-panggil nggak ada yang nyahut. Ternyata sedang bermesraan. " Ledek kak Bayu.


"Kakak, ada apa sih kak. Ganggu aja" gerutuku dengan sedikit kesal karena malu.


"Tuh di bawa ada teman kamu, namanya Alda" Jawab kak Bayu.


"Alda ?? Mau ngapain dia" Tanyaku.


"Mana ku tahu, sana temuin dulu." perintah kak Bayu.


"Suruh nunggu dulu kak, aku mau ke toilet dulu. " Kak Bayu menunjukkan jempolnya lalu berlalu dari hadapanku .


"Kamu saja yang temuin Alda ya, aku malu mataku sembab kayak gini." pintaku pada Arka.


"Kok aku, enggak ah kamu aja sana, nanti ada yang cemburu. Cuci muka dulu sana biar sedikit fresh." Goda Arka.


Tanpa menjawab godaan Arka, aku langsung berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahku.


Segera aku temui Alda di ruang tamu.


" Hai " Sapaku pada Alda. Aku merasa canggung berhadapan dengannya.


Bagaimana tidak, dia sahabatku sendiri, aku curigai ada main sama suamiku. Bahkan saat terakhir ketemu, aku sedang marah sama dia. Tapi sekarang dia sendiri datang ke rumahku tanpa ada dendam.


"Gue kesini mau nganter ini, ini punya Arka tadi ketinggalan disana. Tadi gue udah nelpon ke Arka,tapi nggak di angkat. Makanya gue kesini aja. Nganter langsung." sambil menyerahkan sebuah paper bag padaku. Aku langsung menerimanya dan mengintip isinya, yang ternyata seperti baju.


"Oh makasih ya sudah di anter. " Ucapku benar-benar canggung.


"Ya sudah kalau gitu, gue langsung balik aja" Alda pun tampak canggung denganku. Aku mengangguk saat dia berpamitan. Tapi saat dia akan melangkahkan kakinya di ambang pintu aku memanggilnya.


" Alda tunggu." Aku pun menghampirinya dan memeluknya dengan erat.


"Maafin gue ya, gue udah berprasangka buruk sama lu. Gue kira lu sama laki gue saling suka. Ternyata gue salah. Lu emang teman baik gue." Aku pun menangis dalam pelukannya.


"Lu nggak salah, gue yang seharusnya minta maaf, gue emang suka sama laki lu. Tapi laki lu emang laki-laki setia. Laki lu tidak pernah lupa dengan statusnya. Laki lu nganggap gue seperti adiknya, tapi gue malah beranggapan lebih. Gue minta jangan pernah lu sakiti perasaan dia. Laki lu punya hak mencintai dan di cintai." Alda pun ikut menangis , dia merasa menyesal dengan perasaannya.


"Makasih ya, lu udah mau jujur sama gue. " Ucapku pada Alda. Alda hanya mengangguk.


Perlahan kami saling melepaskan pelukan. Sama-sama mengusap sisa-sisa air mata. Kami saling pandang dan tertawa dengan apa yang baru saja terjadi.


" Ya udah, sekarang gue pamit pulang. Salam sama Arka. " Alda berpamitan dan berlalu dari hadapanku.


Aku melambaikan tangan saat dia menurunkan kaca mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2