
"Ada apa kamu kesini?" Tanya Arka tanpa melihat Santi, matanya tetap fokus pada proposal yang di pegangnya.
"Maaf pak, saya hanya mau tanya, apakah pak Arka sudah memahami proposal yang saya buat?"
Santi berdiri di samping Arka, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, tujuannya agar Arka bisa melihat belahan dadanya yang menggoda.
"Silahkan duduk" Arka mempersilahkan Santi untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
Santi sedikit kesal, terpaksa dia harus duduk di depan Arka. Dia pun berjalan memutari meja dan menghempaskan bokongnya di kursi.
"Saya sudah memahami isi proposal ini. Cukup bagus, tapi menurut saya akan lebih baik kalau di tambahkan grafik penilaian. Bagaimana menurut kamu?"
Arka hanya sesekali melihat ke arah Santi. Lalu matanya kembali fokus menatap proposal.
"Baik pak, saya akan membuatnya. Boleh saya pinjam laptopnya. Biar saya kerjakan disini, supaya lebih cepat"
"Maaf Santi, Laptop ini milik pak Hendra, saya tidak bisa memberikan ijin untuk menggunakannya. Ini privasi pak Hendra, jadi jangan menggunakannya tanpa ijin dari pak Hendra sendiri" Arka berucap dengan tegas.
"I-iya pak, maaf. Kalau begitu biar saya ambil laptop saya sendiri. Tapi ijinkan saya mengerjakannya disini" Santi masih belum menyerah. Dia masih berusaha mencari kesempatan untuk menggoda Arka.
Arka yang sudah tidak nyaman dengan pertemuan di awal pagi ini, merasa jengah dengan sikap Santi.
"Saya minta maaf, biarkan saya sendiri di ruangan ini. Kamu bisa mengerjakan di meja kerja kamu. Dan nanti kalau sudah selesai, kamu bisa kirimkan via email. Biar saya bisa mengeceknya, jadi tidak perlu kamu datang kesini"
"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu"
Santi pun meninggalkan ruangan pak Hendra dengan penuh kekesalan. Baru kali ini dia gagal tebar pesona. Biasanya tanpa dia bersusah payah, para lelaki sudah bertekuk lutut di depannya.
'Sialan kamu Arka, susah sekali membuatmu takluk. Secantik apa sih istrimu. Sampai-sampai kamu menolak meskipun hanya sekedar melihatku' Batin Santi terus saja mengumpat.
Sebenarnya bukan soal istri yang cantik, tetapi bagaimana seharusnya lelaki bersikap apabila di hadapkan dengan wanita penggoda.
Harus kuat iman, karna tanpa iman semua akan sia-sia. Tanpa di goda pun lelaki akan merasa tergoda meskipun sekedar melihat rambutnya saja.
Secantik apapun istrinya, semulus apapun istrinya kalau suami tidak kuat iman, tentu dengan mudah dia akan melakukan zina, meskipun hanya sekedar zina mata.
Dan Arka tidak mau zina itu terjadi. Zina mata sama saja dengan melakukan dosa besar. Zina mata termasuk kemaksiatan. Karena hanya dengan melihat akan timbul pikiran, dari pikiran akan timbul ilusi, dari ilusi akan timbul nafsu. Sungguh mengerikan bukan. Nauzubillah.
Tringg...
Tak butuh waktu lama proposal yang di minta Arka, masuk via email. Arka segera mengecek, dan dia merasa puas dengan kerja Santi.
"Kerja yang bagus" Gumam Arka memuji hasil kerja Santi, Arka menyukai cara kerja Santi yang profesional, yang tidak di sukai dari Santi hanyalah sikapnya saja yang selalu tebar pesona. Padahal tanpa di pamerkan pun, orang lain juga tahu kalau dia memang cantik.
__ADS_1
Arka kembali melirik jam di tangannya. Sepuluh menit lagi meeting di mulai. Arka segera membereskan apa saja yang akan dia butuhkan untuk meeting nanti.
"San, tolong kamu print proposal yang baru ya. Saya tunggu di ruang meeting"
"Baik pak"
Arka meninggalkan Santi yang masih sibuk menyiapkan proposal. Setelah tercetak Santi segera menyusul Arka menuju ruang meeting.
Di ruang meeting Arka sudah siap melakukan tugasnya. Rasa gugup dan gelisah mendera dadanya. Sebelum meeting di mulai Arka berdoa di dalam hati supaya tidak melakukan kesalahan apapun.
Dengan sangat berhati-hati Arka membacakan proposal itu di hadapan klien. Klien yang baru pertama kali bertemu dengan Arka tampak kagum dengan cara penyampaian Arka yang mudah di pahami.
"Tidak salah pak Hendra mengutus pak Arka untuk mewakilinya. Selangkah lagi saya akan menandatangani kontrak ini. Meeting akan kita lanjutkan nanti setelah jam makan siang. Tapi tidak perlu membawa sekretaris. Cukup kita berdua saja. Kalau pak Arka tidak keberatan kita bisa makan siang bersama, biar kita bisa lebih mengenal lebih jauh lagi"
Klien wanita yang ada di hadapan Arka menutup proposal yang ada di depannya. Wanita cantik dengan postur tubuh yang tinggi dan berpakaian rapi. Memperlihatkan penampilannya yang elegan.
"Terimakasih Bu Sarah atas tawaran makan siangnya. Tapi saya minta maaf, saya tidak bisa menerima tawaran Bu Sarah"
Arka menolak tawaran Sarah secara halus.
"Oh oke, tidak masalah. Mungkin lain waktu kita bisa makan siang atau mungkin dinner tanpa membahas masalah pekerjaan"
Tersirat rasa kecewa karena penolakan Arka. Tapi dengan sigap Sarah bersikap biasa saja.
Arka merasa ada yang janggal dengan sikap Sarah. Namun dia segera menepis praduga negatif tentang klien nya ini. Wanita yang bernama Sarah ini Usianya terpaut lima tahun lebih tua dari Arka.
Santi yang sedari tadi memperhatikan Sarah, merasa geram karena merasa tersaingi. Santi merasa tatapan mata Sarah tampak berbeda saat menatap Arka. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah Arka tidak memalingkan wajah saat berhadapan dengan Sarah, berbeda saat berhadapan dengan dirinya.
Mereka semua meninggalkan ruang meeting. Arka kembali menuju ruangan pak Hendra. Tapi sebelum Aek memasuki ruangan, Santi memanggilnya.
"Pak, pak Arka mau makan siang?"
"Iya" Jawab Arka singkat.
"Biar saya temani pak. Kebetulan saya juga mau makan siang di kantin" Santi berharap tawarannya kali ini berhasil.
"Oh, tidak perlu repot-repot San. Sudah ada istri saya yang menemani makan siang. Permisi ya"
Arka berlalu menuju ruangan pak Hendra, meninggalkan Santi yang merasa kecewa.
Di dalam ruangan, Arka membuka Lunchbox yang di bawanya dari rumah. Lalu dia melakukan video call dengan istrinya.
"Assalamualaikum" Sapa Arka.
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
"Lagi apa?" Tanya Arka.
"Mau tidur siang" Caca yang sudah berbaring menunjukkan kalau dia sedang memeluk guling kesayangannya.
"Sudah makan?" Caca menggeleng menjawab pertanyaan Arka.
"Kenapa belum makan, ayo makan biar aku temani, ini aku juga mau makan. Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak mau makan. Aku bawa pulang lagi makanannya" Arka terlihat akan menutup kembali Lunchbox yang sudah terbuka.
"Eh jangan, kamu harus tetap makan sayang. Biar lebih semangat kerjanya. Kalau aku kan hanya di rumah jadi kalau nggak makan juga nggak apa-apa"
"Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak makan" Arka masih berupaya supaya istrinya ikut makan juga.
"Iya iya. Ini aku akan turun. Aku juga mau makan tapi dikit aja ya. Aku lagi malas makan" Caca menampakkan wajah malasnya.
"Iya, yang penting makan ya. Kasihan Dede bayinya nanti kelaparan" Arka berucap sangat lembut.
Mereka pun makan siang bersama secara virtual.
Setelah makan siang Arka kembali menemui Sarah di ruang meeting. Dan memang benar kali ini hanya mereka berdua saja.
"Pak Arka saya akan menandatangani surat perjanjian kontrak ini sekarang juga, tapi dengan satu syarat "
"Syarat? Bukankah semua sudah tertulis di dalam proposal?" Tanya Arka merasa heran.
Sarah berdiri lalu mendekati Arka. Sarah mencoba meraih tangan Arka. Namun dengan sigap Aek menarik tangannya.
"Saya juga punya syarat yang tidak tertulis. Saya hanya mau kamu mau menemani saya malam ini. Maka saya akan menandatangani surat perjanjian ini sekarang juga. Tapi kamu jangan coba-coba untuk menipuku. Jangan lari setelah saya menanda tanganinya. Bagaimana?"
Sarah mencoba untuk memeluk Arka. Tapi Arka segera berdiri.
"Saya tidak pernah menipu siapa pun. Tapi sebelumnya saya minta maaf. Saya rasa, saya tidak memerlukan Bu Sarah untuk menandatangani surat perjanjian ini" Arka berucap dengan tegas.
"Apa maksud kamu?"
Sarah mulai tersulut emosi, sudah tidak ada lagi panggilan hormat untuk Arka.
"Menurut saya, kita tidak perlu lagi melakukan kerja sama" Arka berucap dengan hati-hati. Dia tahu apa yang di lakukannya ini akan berdampak buruk pada perusahan milik mertuanya ini.
"Jangan sombong kamu, kamu pikir kamu itu siapa. Kamu itu hanya anak kemaren sore yang tidak paham tentang bisnis. Kamu akan terima akibatnya karena menolak kerjasama denganku. Aku akan melaporkan pada pak Hendra, kalau kamu hanya bawahan yang kurang ajar. Dan tunggu surat pemecatan darinya"
Sarah mengambil tas dan berlalu pergi meninggalkan ruangan meeting. Arka terduduk dengan lemas. Dia bingung harus mengatakan apa kepada mertuanya nanti. Karna dia tahu, mertuanya sangat mengharapkan kerja sama ini berhasil.
__ADS_1
"Aku harus mengatakan dengan sejujurnya agar tidak terjadi salah paham. Kalau memang kerja sama ini gagal. Berarti Allah memberikan jalan rejeki di tempat lain, jangan menyerah Arka... Tetap semangat demi istri dan calon anak kamu" Arka mensugesti diri sendiri agar tidak terlihat lemah.