Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Draft


__ADS_3

POV Arka


Bahagia rasanya melihat istri bisa tersenyum dan tertawa. Sejak dia hamil seringkali dia mudah marah, apalagi kalau keinginannya tidak terpenuhi, dia langsung marah, berbicara tidak jelas bahkan sampai menangis.


Terkadang aku menjadi serba salah menghadapi sikapnya yang sering berubah. Awalnya aku mengira kalau dia seperti itu karena hamil lantaran terpaksa. Bagaimana pun juga aku dan dia menikah karena di jodohkan. Apalagi dia juga sempat menunda untuk punya anak terlebih dahulu.


Tetapi pikiran seperti itu terhempas saat aku berkonsultasi dengan dokter kandungan, browsing internet, kadang juga meminta pendapat pada mamah. Jawabannya hampir sama. Kemungkinan besar itu pengaruh hormon kehamilan yang membuat mood dan emosi menjadi tidak stabil.


Awalnya aku ragu saat akan bercerita dengan mamah. Takutnya mamah akan memberi jawaban yang tidak aku inginkan. Seperti yang di ceritakan Dino, salah satu karyawan di kantor. Istrinya juga sedang hamil muda dua bulan lebih dulu di bandingkan Caca. Semenjak istrinya hamil Dino sering makan di luar kadang mampir ke rumah ibunya untuk makan. Karena sejak hamil istrinya menjadi malas untuk masak. Tapi tanggapan Ibu Dino justru tidak seperti yang dia inginkan. Dia mengatakan kalau istri Dino terlalu berlebihan.


"Ah, emang dasarnya males aja,manja, terlalu lebay" Itu lah yang di katakan ibu dino. Tapi untungnya Dino bisa menyikapi dengan bijak. Dia bisa memaklumi keadaan istrinya dan mengabaikan pendapat buruk dari wanita yang sudah melahirkannya.


Beruntung sekali aku mempunyai mamah yang bisa mengerti keadaan anak dan menantunya. Apalagi saat tahu kalau Caca hamil, mamah menjadi overprotektif. Setiap hari mamah nelpon menanyakan kabar menantunya. Tak jarang aku sering kena omel kalau pulang terlambat. Intinya aku harus selalu mendahulukan kepentingan istriku.


Kemarin saja waktu mamah pulang kampung dan Rani sakit, mamah pingin buru-buru ke Jakarta. Ingin menemani Caca. Dalam kondisi Rani yang belum pulih, mamah memaksa Rani untuk ikut ke Jakarta. Supaya bisa mengawasi keduanya.


Kedatangan mamah dan Rani di sambut baik oleh Caca. Sampai-sampai dia menangis terharu dalam pelukan mamah.


"Sayang, banyakin makan sayur ya. Nanti selesai makan minum susu sama buahnya itu, sudah mamah kupas, tinggal makan aja" Mamah menyendokkan sayur ke dalam piring milik Caca.


"Iya mah, terima kasih mamah" Senyum manis mengembang di bibir istriku.


Dalam hal makan pun mamah selalu mengontrolnya. Kata mamah supaya anak dan ibunya tetap sehat.


Semenjak mamah datang kembali ke rumah ini Caca lebih sering tertawa daripada marah-marah. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang lebih banyak marahnya.


***


"Mah, Arka nitip Caca ya. Sepertinya nanti sore pulang terlambat, karena jadwal hari ini sangat padat dan selesai makan siang ada meeting dengan klien di Bandung. Tapi sebisa mungkin aku akan pulang tepat waktu" Ucapku kala di meja makan.


"Tanpa kamu minta, mamah selalu melakukannya Arka" Mamah berbicara tanpa menoleh ke arahku, karena mamah sedang sibuk memakan ceker ayam.


"Iya mah, Arka tahu itu kok. Arka ucapkan terima kasih karena saat Arka tidak ada, mamah menggantikan posisi Arka untuk menjaga Caca" Ucapku lagi.


"Kamu itu ngomong apa. Menjaga Caca itu juga tugas mamah. Mamah disini karena mamah tahu betapa sulitnya masa-masa kehamilan, makanya mamah menemaninya supaya Caca bisa melewati masa sulitnya dengan mudah" Mamah menghentikan makan cekernya dan tidak melanjutkannya lagi. Mungkin tidak enak makan sambil bicara seperti ini.


Mamah bangkit dari duduknya dan masuk ke dapur untuk mencuci tangan. Disaat yang bersamaan Caca terlihat menuruni tangga masih dengan baju tidurnya. Kemudian berjalan mendekatiku


"Kok aku nggak di bangunin sih?" Wajahnya sedikit di tekuk karena merasa kesal.

__ADS_1


"Maaf sayang, aku memang sengaja tidak membangunkanmu. Tadi malam kan kamu kurang tidur. Makanya aku biarin saja kamu bangun kesiangan"


"Eh mantu mamah sudah bangun, mau sarapan sekarang?" Tanya mamah saat kembali dari mencuci tangan. Lalu duduk di kursi yang ada di samping Caca.


"Enggak mah, nanti saja. Caca masih malas buat sarapan" Jawabnya dengan suara manjanya.


"Mamah buatin susu saja ya. Tunggu sebentar" Tanpa menunggu jawaban dari Caca, Mamah kembali berdiri dan menyiapkan susu khusus ibu hamil.


Aku pun menyudahi sarapan pagiku. "Sayang, aku berangkat dulu ya" Pamitku.


"Nanti jadi ke Bandung?" Tadi pagi setelah sholat subuh aku sudah menceritakan tentang schedule hari ini pada Caca.


"Insya Allah jadi, kamu mau ikut?" Tanyaku.


"Enggak lah. Ngapain ikut kesana? Mending di rumah saja" Jawabnya tampak cuek.


"Siapa tahu saja mau jalan-jalan" Aku kembali menawarinya, siapa tahu saja dia berminat untuk ikut ke Bandung.


"Itu namanya bukan jalan-jalan. Tapi ngintilin" Aku pun tertawa mendengar kalimat terakhir Caca.


"Kok kamu pinter sih" Aku cubit hidungnya karena merasa gemas saja.


"Sayang, ini susunya di minum dulu" Mamah meletakkan susu itu di depan Caca.


"Makasih ya mah" Susu itu Langsung di teguknya sampai menyisakan seperempat saja.


"Kok nggak di habisin?" Tanyaku.


"Udah kenyang"


"Ya sudah jangan di paksain, nanti malah muntah" Ucap mamah.


"Kalau gitu, sekarang waktunya papa buat cari uang dulu ya. Anak papa baik-baik di rumah sama mama dan juga omah" Aku usap perut Caca yang masih rata lalu menciumnya berulang kali.


Caca tertawa melihat tingkahku yang konyol.


"Sudah sana pergi. Daritadi bilang mau pergi-pergi aja. Tapi nggak pergi-pergi" Gerutu Caca tapi kali ini di sertai senyuman.


"Iya sayang, ini pergi sekarang. Ya udah aku pamit ya. Assalamualaikum " Aku ulurkan tanganku dan diciumnya dengan takzim. Aku balas dengan mengecup keningnya. Lalu aku juga menyalami tangan mamah.

__ADS_1


***


Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena di jam kerja seperti ini, jalanan rawan macet.


Selama perjalanan mataku tetap saja fokus dengan laptop yang sedang menyala di pangkuanku. Sedangkan yang mengendarai mobil adalah pak Faisal.


Aku hanya berbicara sesekali saja dengannya supaya keadaan tidak canggung.


"Pak, minggu kemaren pak Faisal jadi pergi ke rumah sakit kan?" Tanyaku


"Sudah pak"


"Terus apa kata dokternya?" Tanyaku penasaran.


"Sama dokternya di sarankan untuk ikut terapi"


"Oohh, terus gimana? sudah di terapi?" Tanyaku lagi.


"Belum pak?"


"Kenapa?"


"Itu pak, anu... masih belum sempat" Jawabnya dengan sedikit gugup.


"Berapa biayanya sekali terapi pak?" Aku sudah tahu yang di khawatirkan oleh pak Faisal adalah soal biaya. Namun dia tidak berani untuk mengatakannya.


"Tidak usah terapi pak, kata dokternya bisa dengan tiap bangun tidur di gerak-gerakkan kakinya. Itu saja sudah cukup"


"Pak Faisal tidak perlu khawatir soal biaya. Nanti biar saya yang membiayainya" Kataku meyakinkannya.


"Tidak perlu pak, pak Arka sudah banyak membantu saya. Untuk kali ini biar saya sendiri yang akan mengatasinya."


"Pak, sudahlah jangan menolaknya. Ini perintah dari saya" Kembali aku tekankan kata-kataku supaya tidak ada penolakan.


"Terima kasih banyak pak Arka" Aku lirik sekilas pak Faisal yang ada di balik kemudi. Terlihat tangannya mengusap sudut matanya.


Aku kembali fokus dengan layar laptop. Kembali mempelajari berkas-berkas yang ada.


Saking fokusnya dengan layar laptop, aku tidak menyadari kalau mobil sudah memasuki area parkir pabrik.

__ADS_1


Setelah mengantarkan ku, aku meminta pak Faisal untuk pulang. Dan menjemput kembali saat jam pulang kerja, tentunya menunggu telepon dariku.


__ADS_2