
POV Caca
Setelah berbincang lama dengan kedua orang tua Haris, aku pun pulang bersama Arka. Tak lupa juga membelikan makanan buat mamah dan juga Rani di rumah. Kemarin Rani sudah pulang dari rumah sakit. Keadaannya sudah membaik, tinggal masa pemulihan saja.
"Beli brownies saja sayang, sekalian ke mini market di sebelahnya. Mau beli buah-buahan sama susu" Ucapku kala mobil melaju dan sudah dekat dengan mini market yang aku maksudkan.
"Susu? buat siapa?" Tanya Arka.
"Buat Rani, biar badannya pulih, kasihan dia kurus gitu. berat badannya turun empat kilo. Udah kurus malah sakit, tambah kurus saja kayak triplek." Aku pun menghela nafas mengingat keadaan Rani.
Arka menggenggam tanganku erat menggunakan tangan kirinya.
"Makasih ya sayang, kamu sangat perhatian sama Rani. Bahkan sama seluruh keluargaku" Ucap Arka dengan lembut.
"Apaan sih, adikmu ya adikku juga, keluargamu ya keluargaku juga"
Tanganku di angkat dan di ciuminya berulang kali. Seketika wajahku meremang dengan perlakuannya.
"Udah ah, fokus ke depan, nyetir yang bener biar aman" Biarpun dia suamiku, tapi aku merasa malu di perlakuan seperti ini.
"Iya iya" Arka meletakkan tanganku di atas pahaku.
Suasana hening sejenak.
"Nggak nyangka ya, ternyata kedua orang tua Haris mau menerima Firna. Padahal Firna punya sisi kehidupan yang buruk. Biasanya orang yang paham agama akan memilih pasangan yang mengerti agama juga" Ucapku memecah keheningan.
"Awalnya Abi sama Umi juga tidak setuju sayang. Bagaimana pun mereka juga manusia biasa. Mereka juga manusia yang mengharapkan kesempurnaan. Haris tidak pernah membangkang perkataan kedua orangtuanya. Dia anak penurut. Tapi semenjak dia mengenal Firna dan kedua orangtuanya melarang mendekati Firna. Haris berubah menjadi anak yang suka melawan. Dia tidak lagi mau menuruti keinginan orang tuanya. Mungkin Abi sama Umi akan merasa malu jika mereka mempunyai menantu yang seperti Firna. Apalagi Abi salah satu pengurus pondok pesantren. Abi dan Umi segera menyadari bahwa keegoisan telah membuat mereka kehilangan sosok anak lelaki satu-satunya " Arka berbicara panjang lebar.
"Hah ? kehilangan anak satu-satunya? apa maksudnya?" Aku pun terkejut mendengar cerita Arka
"Umi dan Abi kehilangan sosok Haris yang patuh dan penurut terhadap kedua orang tuanya. Tapi saat kedua orang tuanya menentang permintaannya untuk mendekati Firna, Haris tidak lagi mau mendengarkan apa pun yang di katakan kedua orang tuanya. Bahkan Haris juga pernah kabur dari rumahnya. Dari kejadian itulah Abi dan umi akhirnya mau mengalah dan membiarkan Haris mengejar cintanya."
"Kenapa Haris sampai segitunya ya terhadap Firna, dia sampai melawan kedua orang tuanya demi Firna padahal sudah jelas-jelas Firna menolaknya berulang kali. Mungkin karena Firna sakit saja makanya dia mau menerima Haris. Bisa saja kalau Firna tidak sakit, pasti dia nggak mau menerima Haris. Itu sih menurutku." Aku pun memberikan pendapat.
"Hush... tidak boleh berbicara seperti itu. Anggap saja ini ujian cinta mereka. Sekarang kita berdoa saja untuk kebaikan mereka berdua. Semoga mereka berjodoh hingga maut yang memisahkan"
__ADS_1
"Aamiin" Aku usap kedua tanganku di wajahku.
Tak lama kemudian mobil memasuki area parkir di depan mini market.
"Sayang, kamu yang beli brownies ya, aku mau belanja dulu, nanti kalau kamu sudah selesai, susulin aku ke dalam ya"
"Iya sayang"
Aku dan Arka pun keluar dari mobil. Arka berjalan ke arah toko brownies sedangkan aku ke arah mini market.
Tujuan utama adalah buah-buahan. Aku pilih berbagai macam buah-buahan segar, saking senangnya milih tanpa di sadari ternyata sudah hampir penuh satu troli belanja.
"Sayang, sudah?" Tiba-tiba Arka sudah berada di sampingku.
"Belum, masih milih kiwi" Ucapku sambil menciumi buah kiwi yang ada di genggamanku.
"Banyak banget buahnya" Ucap Arka saat melihat buah-buahan di troli yang aku dorong.
"Iya biar sekalian saja belinya, lagian kan bukan buat aku saja buahnya. Nanti buat di bagi-bagi sama yang lain."
"Setelah ini cari apa lagi?" Tanya Arka.
"Biar aku yang cari susu" Lalu Arka pergi ke arah dekat kasir untuk mengambil satu troli lagi.
"Jangan lupa sama yogurt ya" Ucapku sedikit teriak, dan di balas anggukan oleh Arka.
Hampir dua jam berada di mini market, membuat kaki dan pinggangku terasa pegal sekali. Namun aku tidak memberitahukannya pada Arka, kalau sampai dia tahu bisa-bisa dia ngomel tak ada hentinya.
"Gini nih kalau perempuan yang hobi belanja, bilangnya beli susu sama buah. Nyatanya semua diambil. Kirain hanya beli buah satu kresek, nggak tahunya satu karung." Arka mendorong troli sambil menggerutu.
"Ya kan sekalian sayang" Aku buat nada suaraku sedikit memelas supaya Arka tidak menggerutu lagi.
"Sudahlah, sekarang kamu tunggu di mobil saja. Biar aku yang bawa semua belanjaan ini ke kasir" Aku pun mengangguk dan meninggalkannya.
Sampai di mobil, aku langsung duduk dan menyandarkan punggungku di kursi yang sudah aku turunkan tuasnya, sehingga aku bisa meluruskan pinggangku. Rasanya nikmat sekali.
__ADS_1
Aku ambil ponsel yang sedari tadi aku abaikan meskipun sesekali ada notif pesan dan juga panggilan yang masuk. Berapa terkejutnya saat melihat penanda waktu.
"Astaga, sudah jam delapan lewat" Aku tepuk keningku. "Berarti aku belanja selama dua jam di dalam" Aku pun mengguman sendirian.
"Pantas saja Arka menggerutu daritadi" lanjutku sambil melirik ke arah pintu keluar mini market, berharap Arka keluar dengan menenteng tas belanja. Namun sudah beberapa menit Arka tak kunjung keluar.
Aku lanjutkan scroll ponselku, ada beberapa panggilan tak terjawab dari mamah mertua dan juga Rani. Mungkin mereka khawatir karena sampai jam segini kami belum juga pulang. Mamah juga mengirim pesan di aplikasi WhatsApp. Benar saja mamah menanyakan keberadaan ku dan juga tidak lupa untuk makan. Aku hanya membacanya saja tanpa membalas.
Aku hembuskan nafas panjang dan memejamkan mata. Sedangkan ponsel masih dalam genggaman. Hari ini terasa sangat melelahkan. Padahal aku tidak melakukan aktivitas yang menguras tenaga.
Aku merasakan tubuhku seperti melayang, saat aku buka mataku perlahan. Aku sudah berada dalam gendongan Arka.
"Sayang..." gumamku lirih, karena mataku masih berat untuk terbuka sempurna.
"hemm... tidurlah kamu pasti lelah, biar aku gendong sampai kamar" Ucapnya lembut.
Ternyata aku sudah berada dirumah, berarti tadi waktu aku menunggu Arka di mobil, aku ketiduran. Bisa-bisanya aku tidak merasakan apa-apa sampai tiba di rumah.
Arka merebahkan tubuhku di atas ranjang, tidak hanya itu Arka juga mengusap pelan pipi ku dan membuka jilbab yang aku kenakan. Lalu merapikan rambut-rambut yang berantakan membuat rasa ngantukku hilang.
"Tidurlah" Ucapnya lembut. Tangannya mengusap lembut puncak kepalaku layaknya bayi yang akan di tidurkan oleh ibunya, ada-ada saja.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu kamar. Arka pun menoleh.
"Iya mah" Ternyata pintu kamar terbuka lebar. Ya ampun mamah mertuaku sopan sekali, padahal pintu terbuka lebar tapi tetap saja mengetuk pintu di kamar anaknya.
"Mamah masuk ya" Mamah melangkahkan kakinya setelah mendapatkan anggukan kepala dari Arka.
"Kalian sudah makan? Di bawah mamah sudah siapkan makan malam untuk kalian. Pasti kalian belum makan kan?"
"Iya mah, kami memang belum makan" Jawab Arka.
Mamah duduk di sisi ranjang, tepatnya di sebelah kakiku. Tangannya terulur menyentuh kakiku.
__ADS_1
Dengan cepat aku geser kakiku, sedikit menjauh dari mamah.
"Mamah ngapain?" Tanyaku.