
Cahaya menyilaukan mengganggu mataku yang masih terpejam. Aku tarik selimut sampai menutupi wajahku.
"Sayang ayo bangun" Suara itu, ya suara Arka. Aku mengintip sedikit dari balik selimutku.
Benar saja memang Arka yang membuka tirai yang menutupi bilik kaca di kamarku. Kamarku memang mengarah ke timur, jadi begitu pagi datang cahaya matahari langsung menelusup ke kamar.
Aku diam tak bergeming. Beberapa saat kemudian aku merasakan tangan Arka menyentuh puncak kepalaku dan mengelusnya pelan.
"Sayang, sudah siang nih, ayo bangun" Bujuk Arka.
"hmm.. ngantuk" Ucapku.
"Ehh... ayo bangun. Di tunggu papa dan mama di bawah" Ucap Arka.
Aku pun membuka selimutku "Siapa?" Tanyaku sedikit heran.
"Papa sama Mama" Jawab Arka sambil membuka selimutku.
"Hah, papa sama Mama? ngapain pagi-pagi sudah ada disini?" Tanyaku lagi pada Arka.
"Lupa ya, hari ini kan acara syukuran rumah kita. Makanya cepat bangun, terus turun. Liat tuh di bawah semua pada sibuk mempersiapkan buat acara kita. Masa iya yang punya acara masih tidur" Jelas Arka sambil sibuk melipat selimut yang aku pakai.
"Kita kan cuma pindah rumah ngapain harus ribet banget sih" Gerutuku pada Arka.
"Udahlah nggak usah bawel saja, cepet bangun." Arka menarik tanganku dan berhasil membuatku terduduk.
Aku mendekat ke wajahnya "Tapi ada syaratnya" Goda ku padanya.
Arka menatapku "Mau mandi aja harus pakai syarat"
"Ya sudah kalau gitu. Aku mau tidur lagi" Aku memonyongkan bibirku. Dan kembali merebahkan tubuhku.
"Baiklah baiklah .... Aku mengalah. Katakan apa syaratnya" Arka mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku.
"Gendong ke kamar mandi" Kataku sambil tersenyum menggodanya.
Seketika Arka langsung mengangkat tubuhku.
Aku terkejut dan mencoba meronta. "Oohh... turunkan aku, aku hanya bercanda" Aku pukul-pukul dadanya berulang kali. Tapi Arka tidak menghiraukanku.
"Pegangan, nanti jatuh" Ucap Arka sambil tertawa.
Aku berhenti meronta. Aku kalungkan tanganku ke lehernya. Aku tatap matanya sehingga mata kami beradu.
Arka terus melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Arka terdiam sesaat, kemudian menurunkanku di samping bathup. Tanganku masih merangkul lehernya.
"Ayo lepaskan tanganmu, apa mau di mandiin sekalian" Goda Arka sambil menempelkan dahinya ke dahiku.
"Berani ya sekarang menggodaku seperti ini" Kataku.
Aku cengkeram tengkuk lehernya agar wajah kami bisa saling menempel dengan sempurna.
Arka mencengkeram bahuku pelan, memundurkan tubuhku. Sehingga ada sela di antara kami.
"Jangan menggodaku sekarang. Mandilah, aku tunggu di bawah" Arka mengecup keningku.
Lalu dia berjalan keluar dari kamar mandi. Sial, padahal aku masih ingin bermanja-manja dengannya. Oh Tuhan kenapa sekarang aku merasa seperti ABG yang kasmaran. Apa benar aku sedang jatuh cinta dengannya...
Aku tersenyum sendiri dengan pikiranku yang sedang kacau. Lalu aku segera menyelesaikan ritual mandiku.
Saat selesai mandi dan berdandan aku segera turun. Saat menuruni tangga suara riuh terdengar di telingaku. Benar saja suasana di rumahku ini begitu ramai.
"Rani, apa kamu lihat Arka?" Tanyaku saat bertemu Rani di ruang tengah. Dia sedang sibuk menata minuman botol di meja.
"oh , kayaknya Aa' lagi nemuin tamu deh. Katanya ada temennya datang" Jawab Rani.
"Temennya?" Tanyaku pada Rani. Dan dia mengangguk. Apa Arka mengundang temannya juga, batinku.
"Nah itu Aa" Seru Rani sambil menunjuk ke arah datangnya Arka. Aku pun menoleh ke arah yang ditunjuk Rani.
"Hayo lagi ngomongin aku ya?" Arka mendekatiku.
"Darimana?" Tanyaku.
"Dari depan" Jawab Arka.
"Katanya ada teman kamu. Memangnya kamu mengundang teman-teman kamu juga?" Tanyaku padanya.
"Iya. Oh iya sayang. Sini deh, Aku punya kejutan buat kamu" Dengan cepat Arka menggandeng tanganku. Memintaku agar mengikuti langkah kakinya. Aku hanya menurut saja.
__ADS_1
Begitu sampai di ruang tamu.
"Surprise....." Suara itu terdengar serentak.
Aku masih melongo tidak percaya dengan yang aku lihat.
"Kalian kenapa bisa datang kesini?" Air mata haru pun tumpah. Alda beranjak dari duduknya, menghampiriku dan memberikan pelukan yang dulu selalu aku dapatkan darinya.
"Memangnya nggak boleh ya gue sama yang lain datang ke rumah lu?" Protes Alda di tengah pelukannya.
"Tentu saja boleh." Jawabku.
Aku melepas pelukanku, dan bergantian memeluk Firna.
"Hai ca, gimana kabar lu sekarang?" Bisik Firna si telingaku.
"Baik" Jawabku singkat.
"Hai Joy, kapan datang dari Singapore?" Aku memeluk Joy temanku juga, yang sekarang melanjutkan study di Singapore.
"Baru tiga hari" Jawabnya.
"Kangen banget" Aku kembali memeluknya .
"Udah dong, masa pelukan melulu, gue haus nih" Celetuk Alda. Dari dulu dia memang suka ceplas ceplos kalau bicara.
"Sebentar ya aku ambilin minum" Jawabku.
"Ca, lu sehat kan?" Seru Alda.
"Sehat, emang kenapa?" Tanyaku sambil meraba wajahku. Sepertinya tidak pucat, karna tadi waktu dandan aku juga sempat memoles bibirku dengan lipstik. Jadi nggak mungkin terlihat pucat.
Alda memperhatikan tingkahku.
"Bukan itu maksud gue, maksud gue tuh kemana kata-kata lu-gue yang biasa lu ucapin ke kita" Jelas Alda .
"Oh itu, sudahlah aku dah berubah sekarang" Ucapku.
"Hmmm... bagus lah kalau gitu, pasti gara-gara Abang nih" Ledek Firna. Semua pun tertawa, sedangkan aku malah tertunduk malu.
"Aku ambilkan minum dulu ya" Pamitku pada mereka untuk menghindari ledekan sahabat-sahabatku ini.
Sedangkan aku masuk ke dalam untuk mengambil minuman.
"Aisyah, minta nampannya dong" Kataku pada Aisyah yang posisinya dekat dengan tumpukan nampan di sebelahnya.
"Biar saya saja teh yang bawa keluar, teteh temuin aja teman-temannya" Tawar Aisyah
"Nggak apa-apa kok kan cuma bawa ini doang" Tolakku secara halus.
Aku mengambil beberapa minuman dan makanan kecil, aku tata di atas nampan yang aku pegang. Dengan sangat hati-hati aku berjalan menuju ruang tamu.
"Maaf ya jadi nunggu" Ucapku. Arka membantuku dengan mengambil nampan yang aku pegang.
Di letakkannya nampan itu di atas meja. Lalu minuman itu di bagikan di hadapan teman-temanku.
"Dari tadi aku mau nanya sama kalian sampai lupa" Aku mengambil posisi duduk di samping Arka.
"Nanya apa?" Tanya Firna
"Kalian kenapa bisa datang kesini sih. Dapat alamatku darimana ?" Tanya ku random.
"Tuh" Alda mengangkat kedua alisnya, dan melihat ke arah Arka.
Aku menoleh kearah Arka yang ada di sampingku.
"Jadi kamu yang ngasih tau mereka?" Tanyaku pada Arka.
"hhmm" Jawabnya dengan menggumam.
"Aku tau, kamu merindukan teman-teman kamu. Makanya aku undang mereka buat datang kesini. Biar acaranya lebih rame." Arka menempelkan telapak tangannya di pipiku. Aku raih tangan Arka dan mencium tangan itu.
"Makasih ya" Air mataku kembali menggenang di pelupuk mataku. Arka tersenyum dengan mengusap ujung kepalaku. Air mataku pun menetes. Arka mengusapnya perlahan.
"Ehemm.." Terdengar suara deheman. Aku terkejut, lupa jika ada teman-temanku disini. Begitu juga dengan Arka.
"Sepertinya kita salah tempat nih" Ledek Joy.
"Maaf" Ucapku dengan malu-malu.
__ADS_1
"Dan sepertinya juga kita kurang update berita terkini, bahwa sang ratu telah jatuh cinta pada sang pangeran" Ucap Alda ikut menimpali. Kami pun tertawa semua.
"Sayang, aku mau keluar dulu ya. Mau ngobrol sama papa" Arka berbisik di telingaku. Aku pun mengangguk mengijinkannya.
"Kalian ngobrol saja dulu ya, aku tinggal ke depan" Pamit Arka pada teman-temanku.
"Siap Abang" Jawab mereka dengan kompak bersamaan.
Setelah Arka pergi. Alda berdiri, dan memilih duduk di sebelahku.
"Jadi gimana" Tanya Alda tiba-tiba.
"Apanya?" Aku pun balik tanya karna nggak tau apa yang di maksudnya.
"Itu"
"Apanya sih, gimana- itu. Ngomong yang jelas" Gerutuku.
"Maksud Alda itu, Jadi sekarang lu udah jatuh cinta nih ma laki lu?" Firna menjelaskan maksud Alda.
"Oh itu" Jawabku dengan malu-malu.
"Jadi gimana?" Alda menyikut lenganku.
"Ya nggak gimana-gimana"
"Mulai kapan lu malu-malu cerita ma kita" Alda mulai sewot padaku.
"Sudahlah, kapan-kapan aku pasti cerita sama kalian. oke. Jangan ngambek lagi dong" Aku cubit pipi Alda. Dia menatapku dan kemudian tersenyum. Aku pun memeluknya.
Pelukan seorang sahabat yang aku rindukan. Aku lepaskan pelukanku. Aku genggam kedua tangannya.
"Maafkan aku ya, aku egois." Ucapku lirih.
"Its oke, no problem dear" Jawab Alda diiringi dengan senyuman khasnya.
"Assalamualaikum" Kami menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berdiri di ambang pintu. Lelaki dengan badan sedikit gemuk, rambut yang mulai putih, tapi masih terlihat gagah.
"Waalaikumsalam" Jawab kami serempak.
"Ada apa pak?" Aku pun berdiri dan menghampirinya.
"Maaf saya kesini mau mencari bapak Arka, ada sedikit keperluan"
"Ohh iya. Masuk saja pak, duduk dulu. Biar saya panggilkan dulu ya. Mari" Aku pun mempersilahkan bapak itu duduk.
Aku berbisik di telinga Alda. "Ayo masuk ke dalam saja" Alda mengajak yang lainnya agar mengikutinya.
Aku pergi keluar rumah, ternyata di halaman rumah sudah terpasang tenda dan juga kursi-kursi yang tertata rapi. Sudah seperti rumah yang sedang hajatan.
Aku mengedarkan pandanganku, mencari Arka. Pandanganku terhenti saat menemukan sosok yang berbadan tinggi, tegap dan menawan. Dan tentu saja sosok suamiku. Aku berlari mendekatinya.
"Sayang, ada yang mencarimu" Ucapku.
"Siapa?" Tanya Arka.
"Nggak tau, orangnya nunggu di ruang tamu"
"Ya sudah aku mau menemui orangnya dulu" Pamit Arka.
Aku kembali masuk ke rumah melalui pintu samping yang tembus dengan kolam renang.
Aku melihat Alda, Firna dan Joy duduk di gazebo.
"Eh kalian ngapain disini?" Aku pun menghampiri mereka.
"Mau renang" Jawab Joy.
"Jangan sekarang ya, masih banyak orang nih di sini." Kataku menegaskan.
"Ya elah, bercanda kali. Lagian siapa juga yang mau renang beneran. Kita nggak bawa baju renang. Yang ada malah ini" Jawab Joy sambil melempar sebuah kain ke mukaku.
Aku menangkap kain itu, kain berwarna coklat muda. Aku tertawa melihatnya, ternyata itu sebuah jilbab. "Eh Joy, sejak kapan kamu pergi bawa barang beginian?" Aku lempar kembali ke arah Joy.
"Eh Ca, kalau bukan karena lu. Gue sama yang lain nggak mungkin kesini bawa beginian" Celetuk Firna seakan membela ucapan Joy.
"Kenapa nyalahin aku?" protesku.
"Ya iyalah elu, coba nih lihat apa yang gue bawa. Nih" Alda menyodorkan paper bag ke hadapanku. Aku menerimanya dan mengambil isinya yang ternyata ada tiga kemeja lengan panjang dengan motif yang berbeda.
__ADS_1
"Ini baju kalian?" Mereka mengangguk dengan kompak. "Maksud kalian apaan sih, beneran aku nggak ngerti" Aku masukkan kembali baju-baju itu kedalam paper bag.