Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Arka menuangkan lagi segelas air untukku. Aku pun meminumnya sampai habis.


"Sudah mandi?"


"Belum" Jawabku sambil meringis.


"Mandi dulu, aku sama mamah punya sesuatu buat kamu" Ucap Arka yang membuatku sangat penasaran.


"Apa itu?" Tanyaku.


"Rahasia" Jawabnya.


"Kok main rahasia-rahasiaan sih, mamah mana?" Tanyaku karna dari tadi aku memang nggak melihat mamah.


"Ada di luar"


"Aku mau ke mamah" Saat aku berdiri Arka menarik kembali bajuku, sehingga mau nggak mau aku kembali terduduk.


"eits, Mandi dulu, masa iya mau nemuin mertua kayak gini. Udah bangun siang, belum mandi lagi" Ledek Arka.


Benar juga sih yang di ucapkan Arka. Aku pun menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


"Baiklah, tapi gendong" Ucapku dengan malas.


"Ayo" jawab Arka penuh semangat.


Arka membungkukkan badannya di depanku. Aku pun langsung melompat ke punggungnya. Dengan sigap tangannya langsung menangkap kakiku yang aku kaitkan di pinggangnya.


"Sayang, tadi pagi siapa yang siapin salad but aku?" Tanyaku di saat Arka mulai menaiki anak tangga.


"Menurut kamu siapa?" Arka malah tanya balik.


"Kamu" Sambil memonyongkan bibirku di belakang kepalanya.


"Udah tau masih aja nanya?" Gerutunya.


"Iseng aja" Jawabku tak mau kalah. Aku pun tertawa cekikikan.


"Sayang"


"Hmm" aku menjawab dengan menggumam karena aku sibuk menciumi rambut pendeknya.


"Tadi Rani nitip salam buat kamu, tadi sebelum pulang dia mau bangunin kamu, tapi aku melarangnya. Karna aku nggak mau ganggu tidur kamu."


Aku tak menjawab ucapan Arka. Tanganku membuka handle pintu kamarku. Karena sekarang aku dan Arka sudah sampai di depan kamar. Pintu kamar terbuka lebar. Badanku masih menempel di balik punggungnya.


"Nanti aku akan kirim WhatsApp ke Rani. Kirimin aja nomernya." Ucapku. Akhirnya aku menemukan cara untuk mendapatkan kontak telepon Arka. Aku tersenyum tipis.


Arka menurunkanku di sisi ranjang. Dia mengambil handphone-nya. Lalu masuk notifikasi WhatsApp ke handphone ku. Tidak ada namanya hanya bertuliskan beberapa angka, dan isi pesan itu sebuah kontak telpon bertuliskan nama Rani. Aku perhatikan foto yang ada di kontak itu, ya ampun ... itu foto pernikahanku dengan Arka. Berarti ini nomor Arka.


Hah, aku tercengang beberapa saat. Bagaimana dia bisa menyimpan nomorku, sedangkan aku tidak pernah memberikan nomorku padanya. Darimana dia mendapatkan nomorku....


"Kenapa bengong sih, pasti bingung darimana aku dapat nomormu. Iya kan?" Goda Arka sambil menarik hidungku.


Seperti paranormal saja, seolah tau yang ada di otakku. Aku hanya menggumam seperti sedang baca mantera.


"Sudah nggak usah di pikirkan. Cepat mandi sana" Seru Arka.


Aku segera loncat dari ranjangku ke lantai, saat aku berjalan ke kamar mandi. Aku sempat melihat Arka membaringkan tubuhnya di sofa.


Aku menyelesaikan ritual mandiku. Nggak sampai satu jam aku sudah rapi, dengan memakai baju santai. Duduk di depan meja rias, tapi tidak untuk berdandan, kali ini tak ada riasan di wajahku. Hanya mengikat rambutku seperti ekor kuda.


"Sayang ayo kita turun" Ajakku pada Arka.

__ADS_1


Aku menoleh ke arahnya, aku melihatnya masih berbaring di sofa. "Sayang...." Sedikit aku naikkan nada suaraku. Tapi tetap tidak ada jawaban.


Aku mendengus kesal karena tidak ada jawaban darinya. Lalu aku berdiri dan menghampirinya.


"Sayang.. kamu tidur?" Masih sama, tidak ada jawaban.


Aku mengecup kilas bibirnya. Tidak ada reaksi. Aku beranikan lagi untuk mengecupnya, tapi sepertinya bukan kecupan, melainkan ciuman. Aku mainkan bibirnya dengan bibirku sampai Arka bereaksi dan membuka matanya.


Setelah dia terbangun aku berniat melepaskan ciumanku. Tapi aku kalah cepat dengannya. Dia lebih dulu mencengkeram tengkuk leherku, dan sedikit mendorong kepalaku agar aku lebih memperdalam ciumanku.


Tidak mau kehabisan akal aku gigit ujung lidahnya tapi tidak separah kemarin. Tapi gigitan itu mampu melepaskan bibirnya dari bibirku.


"Uuhh..." Rintihnya.


"Hahaha enak kan?" Ledekku.


"Nakal kamu sekarang ya"


"Salah sendiri di bangunin nggak mau bangun" Aku balikkan badanku membelakanginya. Aku duduk di lantai sambil menyandarkan kepalaku di dadanya.


Tangannya melingkar di leherku sambil mengusap-usap pipiku.


"Kenapa bangunin aku, aku ngantuk banget"


"Katanya punya sesuatu buat aku, kamu lupa" Nada ketus pun keluar dari mulutku.


"Oh iya aku lupa, maaf ya" Arka segera bangun dan mencium keningku kilas.


Arka menarik kedua tanganku agar aku bangun dari dudukku.


"Gendong lagi" Ucapku dengan manja.


"Ayo" Tanpa protes Arka menyetujuinya.


Memang sih kemarin-kemarin aku yang minta kalau mau naik tangga ataupun turun tangga Arka harus menggendongku. Bagi Arka mungkin bukan masalah. Karna dia punya otot yang cukup kuat untuk menggendongku.


"Sayang, apa kamu suka bunga?" Tanya Arka tiba-tiba saat aku membuka pintu kamar.


"Suka, emang kenapa?" Aku pun menanyakan balik padanya.


Aku langsung berpikir, Apa dia akan memberi buket bunga setiap pagi, atau mungkin besok kalau dia mulai kerja, dia akan membawakan bunga mawar setiap pulang kerja. Aaiisshh... mengahayalnya terlalu lebay. Aku sendiri tidak akan suka jika di perlakukan seperti itu. Aku lebih suka di pagi hari ada kiss morning, atau sebelum tidur selalu terucap Happy nice dream dengan ciuman di kening.


Menurutku itu lebih romantis di bandingkan buket bunga yang seabrek. Kalau sekali dua kali sih nggak masalah, atau untuk momen tertentu. Aku suka.


"Sayang" tegur dia.


"Hmm"


"Mikirin apa sih, di tanya kok bengong saja, aku turunin nih" Candaan dan juga ancaman bagiku.


"Kenapa sih sayang, kamu nanya apa?" Aku mencoba merayunya agar tidak di turunkan dari gendongannya.


"Kamu suka bunga apa?"


"Bunga mawar sama anggrek" Jawabku.


"Yes, tidak salah" Jawabnya girang.


"Kenapa sih, jangan bilang ya kalau kamu beli buket bunga buatku?" Mungkin perkataanku sedikit mengandung ancaman, yang menunjukkan rasa tidak suka ku kalau di beri buket bunga.


"Buket, maaf ya suamimu ini tidak se romantis itu" Tegasnya.


"Lalu..." Aku mengangkat bahuku, tanda menunggu jawaban darinya atas pertanyaan-pertanyaan nya.

__ADS_1


Arka tidak menjawab. Terus berjalan sampai di halaman rumah. Dan Arka menurunkanku.


"Lihat aja sendiri?" Sambil menunjuk dengan bibirnya.


Aku mengikuti arah mata dan bibirnya. Aku melihat mamah sedang sibuk menata pot-pot bunga. Aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Bukan terkejut karena melihat mamah. Tapi aku terkejut dengan pemandangan yang luar biasa. Mamah membuat taman bunga di halaman rumahku.


Taman kecil dengan berbagai warna-warni bunga. Di sebelah kiri ada berbagai jenis mawar dan di sebelah kanan berbagai jenis anggrek yang saling memadukan warna yang indah.


Aku mendekati mamah yang berada di antara bunga-bunga itu.


"Mamah.... mamah yang buat ini?" Seruku dengan kegirangan.


"iya, sayang. Ini buat kamu. Mamah yakin kamu pasti suka" Ucap mamah sambil tangannya menata bunga-bunga itu supaya terlihat menarik.


"Iya mah, Caca suka. Suka banget. Makasih ya mah" Aku langsung memeluk tubuh kurus mamah. Rasanya seperti ingin melonjak kegirangan, untung saja aku mampu mengontrol diriku.


"Ini ide Arka lho. Kamu harus berterima kasih sama Arka" Bisik mamah, sambil melirik ke arah Arka. Aku pun menatap Arka yang sepertinya dari tadi memperhatikan tingkahku.


Aku berjalan mendekatinya. "Kok kamu tahu kalau aku suka bunga-bunga ini? Jadi yang kata kamu kejutan itu taman ini?" Aku kalungkan tanganku di lehernya, menatap matanya.


Arka mengangguk. "Suka?" Tanya dia lagi.


"Aku suka banget. Makasih ya sayang" Aku pun mengecup bibirnya. Hanya sekilas, karna aku sadar ada mamah di belakangku.


"Jadi besok, kalau aku mulai kerja. Biar kamu nggak bosan, kamu bisa menyibukkan diri dengan merawat bunga-bunga ini. Terus aku juga sudah mendapatkan dua asisten rumah tangga, dan juga dua security. Jadi nanti ada yang membantu kamu di rumah" Arka mencoba menjelaskan.


"Nggak perlu lah sayang, aku nggak perlu lagi asisten rumah tangga. Aku bisa kok membersihkan rumah, memasak, biarpun belum bisa, tapi aku akan belajar masak kok" Ucapku.


"Rumah sebesar ini nggak mungkin kamu yang akan membersihkannya sendirian. Aku nggak mau kamu kecapekan. Makanya aku sudah menyiapkan asisten rumah tangga." Arka mencoba membujukku.


"Iya sayang, kamu nurut saja sama Arka. Jangan kecapekan biar cepat punya momongan. Karna kesehatan itu pengaruh sekali dengan kehamilan." Mamah ikut menimpali. Saat aku menoleh ke arah mamah, tangan mamah masih sibuk memotong batang bunga mawar.


"Ya sudah terserah kamu aja" Akhirny aku mengalah.


"Nah, gitu dong" Arka pun mengecup keningku.


"Tapi mamah masih tinggal disini kan mah?" Tanyaku sama mamah. Dan mamah pun mengangguk.


"Yess"


"Mamah akan tinggal disini untuk beberapa waktu lagi" Mamah menambhakan lagi.


"Sayang gaimana dengan kuliahku?" Tanyaku pada Arka yang sekarang berdiri agak jauh dariku.


"Besok aku akan ke kampus, untuk mendaftar ulang. Besok kamu ikut ya" Arka menawariku. Dengan cepat aku anggukkan kepalaku.


Aku melanjutkan pekerjaan mamah menata bunga anggrek. Sepertinya mamah sudah kecapekan, mamah duduk di bangku dekat Arka berdiri.


"Aku masih belum cerita ke mama sama papa kalau aku mau balik kuliah lagi. Mungkin besok malam kita bisa undang mama kesini untuk makan malam. Sekalian aku akan cerita sama mamaku. " Ucapku.


"Mama sama papa sudah tahu. Aku yang minta ijin dari mereka. Karna aku juga nggak mau ambil keputusan sepihak tanpa sepengetahuan orang tuamu." Ucap Arka.


Ternyata suamiku ini benar-benar orang yang bertanggung jawab terhadap istrinya. Benar-benar bahagia memiliki suami seperti dia. Cinta ini semakin tumbuh dengan cepat.


Setelah semua tertata dengan rapi Mamah pamit buat istirahat ke kamarnya. Sedangkan aku dan Arka duduk di bangku sisi taman. Sama-sama memandang bunga yang ada di depan mata.


Aku meraih tangan Arka dan aku letakkan di atas pahaku. Aku genggam tangan itu.


"Sayang, makasih banyak ya, kamu selalu ada buatku. Kamu selalu memperhatikanku, bahkan kamu memberikan sesuatu yang aku suka tanpa aku memintanya. Aku bahagia punya suami sepertimu" Ucapku dengan lirih.


Arka membalas genggaman tanganku.


"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Aku akan terus berusaha membuatmu bahagia. Dan aku janji nggak akan pernah mengkhianati kamu" Arka menegaskan.

__ADS_1


Semua kata-kata yang dia ucapkan mampu membuat pikiranku melayang bahagia. Semua perlakuannya terhadapku benar-benar membuatku bahagia. Kenapa bukan dia lelaki yang aku cintai sejak dulu. Justru lelaki yang aku cintai tega menyakitiku.


__ADS_2