Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Pagi hari saat aku bangun, mama sudah tidak ada di sebelahku. Aku merasa kebingungan, takut ada apa-apa dengan mama. Aku segera bangun, mataku tertuju di sofa tempat Arka tidur semalam. Arka juga sudah tidak ada. Hanya tinggal selimut yang sudah di lipat rapi.


Aku segera keluar dari kamar mama.


"Ma...mamaaaa" Tidak ada jawaban dari teriakanku.


Aku berlari kecil menuruni anak tangga, dengan terus memanggil-manggil mama.


"Sayang, kamu sudah bangun" Aku menoleh ke arah sumber suara. Arka, dia sedang membawakan segelas air putih dan memberikannya padaku.


"Mama mana?" Tanyaku dengan panik.


"Mama lagi di halaman belakang" Jawab Arka.


Aku minum sampai habis air pemberian Arka. Dan aku berjalan meninggalkan Arka. Aku menuju ke halaman belakang.


Disana terlihat mama sedang menyiram tanaman anggreknya. Mama memang suka sama bunga anggrek. Mungkin karena mama menyukai anggrek, jadi aku pun juga ikut menyukainya. Sangat banyak sekali tanaman anggrek mama. Sampai-sampai mama membuat tempat khusus buat bunga-bunga ini.


Aku menghampiri mama dan memeluknya Sri belakang. "Mama.... Aku khawatir sama mama" Lirihku.


Mama tampak terkejut dengan kedatanganku yang secara tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Sayang, makasih ya, kamu sudah nemenin mama" tangan mama pun menyentuh punggung tanganku dan mengusapnya perlahan.


Aku sandarkan daguku ke pundak mama. Sesekali aku cium pundak mama. Mataku mulai berkaca, terharu dengan hal ini. Karena cukup lama aku tidak sedekat ini dengan mama.


"Maaa.. maafkan aku ya ma. Selama ini belum bisa bahagiakan mama, Aku hanya bisa menyusahkan papa dan mama" Lirihku di samping telinganya.


"Enggak sayang, mama dan papa tidak pernah merasa kamu menyusahkan. Kamu anak mama yang baik. Apa yang kamu lakukan dulu itu, semua adalah kesalahan mama dan papa karena tidak bisa mendidik kamu dengan baik. Tapi sekarang kamu sudah berubah."


"Ma, ini semua karena suamiku selalu sabar menghadapi semua sikap dan sifat burukku. Dia tidak pernah mengeluh. Dia adalah imanku yang baik. Bahkan lebih baik dari papa"


"Kamu ini" Mama memukul tanganku yang dari tadi di usapnya. Dan kami pun tertawa bersama.


"Maaf nyonya, sarapannya sudah siap" Tiba-tiba mbok Imah datang dan susah berdiri di belakangku. Aku melepaskan pelukan mama perlahan dan menoleh ke arah mbok Imah.


"Iya, mbok. Sebentar lagi kita sarapan. Makasih ya" Ucapku sambil menyentuh lengannya.


Mbok Imah pamit untuk kembali masuk ke rumah. Aku melihat Arka berdiri memperhatikanku dari kejauhan. Aku hanya tersenyum kilas padanya . Aku lebih fokus sama mama.


"Ma, kita sarapan dulu ya, habis sarapan Mama minum obat." Aku pun menggandeng lengan mama kembali memasuki rumah. Arka masih berdiri di depan pintu dan terus menatapku.


"Arka, ayo kita sarapan" Ajak mama pada Arka.


"Iya ma"


Dengan sengaja aku menyenggol lengannya saat melewatinya. Aku tertawa mengejeknya.


"Nyonya, ini ada telpon dari Tuan" Mbok Imah memberikan telepon itu pada mama.


Mama melepas tangan yang aku gandeng. "Kalian tunggu di meja makan ya, mama mau bicara sama papa"Aku mengangguk, dan Mama segera berbicara dengan papa di telepon.


Arka menarik kursi untukku dan juga untuknya, duduk bersebelahan. Tak lama mama ikut bergabung dengan kami.


"Papa titip salam buat kalian" Ucap mama sambil menarik kursinya.

__ADS_1


"Kapan papa pulang ma?" Tanyaku.


"Dua hari lagi" Jawabnya.


Tidak ada lagi pembicaraan yang di bahas. Aku mengambil piring Arka dan menyendokkan nasi ke piringnya, lengkap dengan lauknya. Kami pun makan dalam keheningan, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu di atas piring.


Setelah selesai makan, aku membantu mbok Imah membersihkan meja makan.


"Biar mbok aja non yang beresin" Tolak mbok Imah yang merasa canggung.


"nggak apa mbok, aku bantuin sedikit" Aku angkat peralatan makan yang kotor dan membawanya ke tempat cucian piring. Setelah selesai aku bergabung dengan mama dan Arka di ruang tengah.


Aku mengambil duduk di sebelah Arka, Arka menjulurkan tangannya di atas sandaran sofa di belakangku. Sedangkan aku membaca majalah yang aku ambil sebelum duduk.


"Rencana kalian selanjutnya apa?" Tanya mama membuka pembicaraan.


"Maksud mama?" Tanyaku karena masih kurang paham dengan maksud mama.


"Rencananya saya akan ngurus pabrik dan kebun mulai lusa. Dan Caca akan melanjutkan kuliah ma" Jawab Arka.


"Bagus, kalau kamu segera mengurus pabrik. berarti nanti nunggu papa pulang. Biar papa perkenalkan kamu ke seluruh staf disana. Kamu nggak perlu khawatir, Nanti papa akan menyuruh orang untuk membantu kinerja kamu disana. Dan untuk Caca, kenapa harus kuliah lagi?" Tanya mama menatapku di akhir kalimatnya.


"Caca, kan kesepian ma kalau Arka kerja, terus nanti biar Caca bisa bantu papa mengurus perusahaan" jawabku. Aku tutup majalah yang ada di tanganku, dan meletakkannya di atas meja.


"Apa kalian nggak berfikir untuk punya anak?" Deg, pertanyaan mama sama dengan mertuaku. Tentang anak. Aku nggak tau harus menjawab apa lagi.


"Ma, saya tidak pernah memaksa, jika Caca harus melanjutkan kuliah atau pun harus diam di rumah. Itu terserah Caca, apapun keputusannya saya akan mendukungnya. Bagaimana sebaiknya menurut mama?" Jawab Arka sambil menggenggam erat tanganku.


"Kalau menurut mama, istrimu tidak perlu kuliah lagi. Kalau dia ingin punya kesibukan seperti wanita karir lainnya, kenapa nggak di coba usaha lain. Cari partner bisnis, misalnya" Mama memberikan ide pada Arka.


"Sayang, kamu ingat nggak teman kamu yang di butik tempo hari?" Tanya Arka.


"Hmm, kenapa?" Tanyaku


"Kenapa kamu tidak belajar bisnis dengan dia. Dia ibu rumah tangga juga kan?" Arka mengingatkanku pada Tiara, teman sekolahku.


"Iya terus gimana caranya?" tanyaku lagi. karena jujur saja aku tidak mengerti sama sekali tentang bisnis.


"Kamu bisa minta di ajarin bisnis sama dia" Ucap Arka lagi.


"Arka benar, sekarang sudah saatnya kamu memulai memikirkan hidupmu, jangan bergantung pada orang lain. Kalau kamu terjun ke perusahaan, apa kamu mau anak-anakmu akan merasakan hal yang sama dengan kamu. Kurang kasih sayang dari orang tua" Ucapan mama ada benarnya juga. Aku nggak mau anak-anakku kelak akan seperti aku.


"Nanti akan aku bicarakan dengan Arka di rumah" Jawabku lirih.


" Itu saran mama, tapi semua kembali lagi ke kamu, keputusan ada di tangan kamu" Tambah mama lagi.


Setelah lama berbincang, aku dan Arka segera pamit pulang. Mama tampak sedih saat aku berpamitan.


"Mama jaga diri baik-baik ya. Setiap weekend aku akan kesini untuk mengunjungi mama" Mama tidak menjawab ucapanku. Mama hanya mengangguk ,Aku tau mama sedang menahan tangisnya. Untuk kesekian kalinya aku kembali memeluk mama.


"Sudah kalian pulang saja hati-hati di jalan" Mama berkata sambil melepas pelukanku, dan mama juga tidak mau lagi menatap ke arahku,mama memalingkan wajahnya.


"Maaa..." Aku menghambur ke pelukan mama.


Tangis mama pun meledak saat aku memeluknya.

__ADS_1


"Aku nggak jadi pulang ma, aku akan temani mama disini" Ucapku.


"Enggak, kamu nggak boleh gitu. Kamu sudah punya keluarga sendiri. Kamu nggak boleh tinggal disini, kamu harus mandiri. Biarkan saja mama disini bersama dengan papa. Menghabiskan masa tua berdua." Senyum mama terlihat di paksakan.


Jadi bingung harus bagaimana, aku nggak tega lihat mama sedih kayak gini. Meskipun hubunganku nggak pernah baik dengan mama, tapi aku tau jelas apa yang dirasakan mama.


"Ma, maafkan aku ya ma, aku nggak bisa jaga mama." Mama hanya mengangguk saja.


Setelah mama agak tenang akhirnya aku dan Arka pamit pulang. Kali ini mama sudah tidak menangis lagi. Jadi aku bisa meninggalkan mama dengan tenang.


Arka mengeluarkan mobil dari garasi, dan kami pun pergi meninggalkan rumah mama. Dalam perjalanan aku hanya terdiam, menerawang jauh ke luar jendela.


"Sayang, kamu kenapa, masih mikirin mama?" Arka menyentuh pundakku, sehingga membuatku menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis padanya.


"Aku baik-baik saja, aku hanya ngantuk" Jawabku tak bersemangat.


Arka meminggirkan mobilnya, dan berhenti tanpa mematikan mesin mobil.


"Kenapa berhenti" Tanyaku dengan heran.


Tuas kursiku di tarik sedikit ke belakang, sehingga posisiku lebih nyaman untuk tidur.


"Tidurlah" Arka mengusap pipiku. Aku hanya menurut saja dengan apa yang di ucapkannya.


Mobil kembali melaju secara perlahan, Aku memang sedikit ngantuk, karna waktu di rumah mama aku kurang tidur. Perlahan aku pejamkan mataku sampai aku benar-benar terlelap.



Aku mengerjapkan mataku, berulang-ulang. Melihat sekitarku, masih di dalam mobil, dan tubuhku di tutupi menggunakan kemeja yang tadi Arka pakai. Tapi Arka tidak ada di sampingku. Aku edarkan pandanganku ke luar mobil. Ternyata mobil berada di depan mini market dekat rumah.


Tak lama kemudian aku melihat Arka keluar dari mini market membawa dua kantong belanja yang lumayan besar. Di letakkannya belanjaan itu di bagasi belakang. Lalu dia kembali masuk dan duduk di bangku depan.


"Sudah bangun?" Tanya dia saat melihatku sedang menatapnya. Aku pun mengedipkan mataku sebagai jawaban.


Kemudian Arka mengambil botol air mineral yang tersimpan di belakang jok nya. Memberikannya padaku, aku pun menerimanya dan meneguknya sampai tersisa setengah botol.


"Masih ngantuk?" Tanya Arka sambil mengeluarkan senyum khasnya. Tangannya menyentuh tanganku.


Aku membalas senyumannya dan menggeleng.


"Habis belanja apa?" Tanyaku.


"Beli camilan sama minuman kopi botol" Aku mengernyitkan dahiku mendengar jawabannya. Bukannya kemarin saat belanja aku memintanya untuk membeli semua itu, tapi dia menolak. Hanya mengambil sebagian aja, sekarang malah belanja sendiri.


Mesin mobil kembali menyala, perlahan Arka menginjak pedal gas dan melajukan mobil ke luar area parkiran. Dan tak lama kemudian memasuki kompleks perumahan.


Sampai di depan gerbang Arka membunyikan klakson, beberapa detik kemudian gerbang besi terbuka lebar. Tampak seorang lelaki paruh baya sedang mendorong pagar besi.


"Sayang, itu...." Jariku menunjuk ke arah lelaki paruh baya tadi.


"Iya itu security baru" Arka menghentikan mobil di depan pos jaga.


Dia turun dari mobil dan membuka bagasi mengambil kantong belanja yang tadi sempat dia beli. Dari pos jaga keluar lagi seorang lelaki yang mungkin seumuran dengan bapak paruh baya itu. Kemudian Arka memberikan kantong belanja kepada lelaki paruh baya tadi. Mereka berbincang dan sesekali lelaki paruh baya tadi mengangguk pada Arka, menunjukkan rasa hormatnya.


Arka kembali memasuki mobil dan memarkirnya di dalam bagasi. Aku dan Arka pun turun dan berjalan menuju rumah. Tangan Arka merangkul pundakku, dan sesekali mengusap pipiku. Aku hanya tersenyum menoleh ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2