
"Assalamualaikum" Terdengar suara Arka mengucap salam. Aku letakkan sendok sayur di atas panci, dan segera berlari menyambutnya.
"Waalaikumsalam" Sahutku sambil berlari kecil menuju ruang tengah.
"Sayang, kok udah pulang?" Ucapku manja sambil mencium tangannya.
"Kangen sama istri ku yang cantik ini" Godanya sambil menarik ujung hidungku.
"Aku juga kangen" Arka menarik tubuhku, Aku pun memeluk tubuhnya.
"Hemmm.. masa sih"
"Iya sayangku" jawabku.
"Kamu pakai apa ini? pakai celemek? memangnya kamu habis ngapain?" Tanya Arka dengan rasa herannya.
"Aku masak buat kamu" Jawabku dengan sedikit malu.
"Masak? kamu masak?" Arka tidak percaya dengan yang aku katakan.
"Iya sayang, aku masak buat kamu" Aku pun mengulangi perkataanku lagi.
"Memangnya kamu masak apa?"
"Masak makanan kesukaanmu" Jawabku
"Memangnya kamu tahu apa kesukaanku?" Tanya Arka lagi.
"Tau lah" Jawabku singkat.
"Ya sudah aku mau makan siang sekarang" Arka seperti tidak sabar ingin merasakan masakanku.
"Tunggu dulu, belum selesai semuanya. Kamu tunggu sepuluh menit lagi ya"
"Oke tuan putri, kalau gitu aku ke atas dulu ya"
"Siap bos" Aku angkat tanganku memberi hormat padanya.
Aku pun kembali lagi ke dapur, melanjutkan kegiatan memasak ku. Sebagian perabotan kotor sudah di cuci dan menempati letaknya masing-masing. Ini pasti pekerjaan buk Mar, batinku.
"Mah, kira-kira ini rasanya kurang apa ya, coba cicipin dulu" Tanyaku pada mamah
"Coba aja kamu sendiri yang cicipi, ini masakan pertama kamu, jadi harus kamu sendiri yang menentukan rasanya"
"Gitu ya mah, ya udah deh" Aku pun kembali menambahkan garam dan penyedap rasa ke dalam masakanku karena menurutku rasanya masih kurang pas.
"Mamah siapkan peralatan makan ya" Aku mengangguk dan mamah meninggalkanku sendiri di dapur.
"Sayang, usah selesai? Udah lapar nih, nggak sabar mau makan masakan kamu" Tiba-tiba Arka menghampiriku yang masih berdiri di depan kompor.
"Belum, sebentar lagi. Kamu tunggu di meja makan aja ya. Biar aku siapkan makanannya" Arka masih saja berdiri di belakangku. Segera aku matikan kompornya.
Tiba-tiba tangannya melingkari pinggang kecilku. "Mau di bantu?"
"Nggak usah sayang, aku bisa sendiri kok" Jawabku mencoba melepaskan tangannya. Tapi semakin aku berusaha melepasnya, tangannya semakin kuat memelukku. Di ciumnya leherku dari belakang dengan lembut. Yang membuatku bergidik geli dengan tingkahnya.
"Sayang, jangan gini ah. Aku bau dan berkeringat nih. Kamu kesana dulu ya"
"Aku nggak peduli, itu membuatku semakin cinta dan sayang sama kamu" Ucapnya.
"Udah mulai pinter ngegombal ya" Protesku.
"Aku nggak ngegombal sayang, aku bicara jujur" Bibirnya menyentuh telingaku saat dia mengatakan itu. Dan berhasil membuat jantungku berdegup tidak karuan karena sentuhannya.
"Sayang, sudah ahh jangan kayak gini. Katanya mau makan. Biar aku selesaikan dulu semuanya ya" Pintaku padanya. Tapi Arka masih memelukku dari belakang.
Tiba-tiba terdengar teriakan mamah "Ya ampuuunnn.. Arka... kamu ini masih sempat-sempatnya meluk istri kamu yang sedang masak." Tegur mamah dengan suara terkejutnya melihat Arka memelukku.
"Maaahh... aku kangen sama istriku ini, masa nggak boleh meluk siihh" Ucapnya dengan manja.
"Kangen ya kangen tapi nggak gini juga. Ayo sana biar istrimu menyelesaikan pekerjaannya" Mamah menarik tangan Arka agar segera pergi dari dapur ini. Aku hanya terkekeh melihat raut wajah Arka yang berubah lesu.
__ADS_1
"Udah sana, tunggu saja di meja makan" Ucapku menimpali.
"Biar mamah bantu ya sayang" Mamah berbicara lembut denganku. Dan dengan sigap tangan mamah menuang masakanku ke dalam mangkok saji.
Semua makanan sudah tersaji di meja makan. Dan saatnya untuk mulai makan siang.
"Mamah, ayo kita makan" Ajakku
"Kalian saja yang makan ya, mamah mau istirahat kepala mamah mendadak pusing." Ucap mamah.
"Mamah mau di panggilkan dokter?" Ucapku menawari mamah.
"Nggak perlu, mamah nggak apa-apa. mamah cuma butuh istirahat" Tolak mamah, dan mamah segera beranjak menuju kamarnya.
Tinggal aku dan Arka di meja makan, Aku isi piringnya dengan nasi dan aku biarkan dia memilih lauknya sendiri.
"Hmmm... ini makanan kesukaanku, semur jengkol sama tumis kangkung. Ini beneran kamu yang masak?" Tanya Arka saat mengambil beberapa jengkol kepiringnya.
"Iya, cobain deh" Jawabku dengan girang.
Arka mulai menyuapkan nasi dengan jengkol ke mulutnya, aku hanya memandanginya. Tampak terdiam sejenak saat dia mengunyah makanan itu.
"Kenapa ? nggak enak ya jengkolnya?" Tanyaku heran.
"Enak kok, enak banget malah. Biar aku habisin ya semurnya, kamu nggak boleh minta. Soalnya aku suka banget apalagi ini masakan istriku." Ucap Arka.
Diambilnya mangkok yang berisi semur jengkol itu mendekat dengannya. Aku merasa senang banget ternyata suamiku suka dengan masakanku, apalagi ini masakan pertamaku untuknya.
"Kan ini banyak, masa mau di habisin semua"
"Ada kotak bekal nggak sayang, biar aku bawa ke kantor, nanti di sela-sela kerja biar aku makan."
"Buk Mar" Teriakku memanggil asisten rumah tanggaku.
"Iya non ada apa?"
"Ada kotak bekal nggak buk, ini mau dibawa ke kantor" Ucapku dengan penuh senyum.
"Kamu makan pakai sayur aja ya" Ucap Arka lagi.
"Aku makan buah aja, nanti biar buk Mar yang masakin buat aku. Aku seneng banget lho sayang kalau kamu suka sama masakan aku. Nanti aku masakin lagi buat kamu ya" Ucapku dengan penuh rasa bahagia.
"Iya sayang, apapun yang kamu masak pasti aku habiskan. Karna kamu masaknya pakai cinta kan. Jadi rasanya enak banget."
"Kamu bisa aja" Lirihku dengan malu-malu.
Arka makan dengan lahapnya, dan sisa semur jengkol aku masukkan semuanya ke dalam kotak bekal, karna dia mau membawanya ke kantor.
"Oh iya sayang, di depan itu mobil siapa?" Tanya Arka.
"Itu mobil Joy" Jawabku.
"Terus mereka kemana?" Tanya Arka lagi.
"Mereka sedang tidur di kamar tamu, habis pulang dugem di dekat sini. Nggak apa-apa kan mereka disini?" Tanyaku dengan hati-hati takut membuat Arka marah.
"Iya nggak apa-apa. Mereka kan temanmu. Daripada mereka ngantuk di jalan kan bahaya" Arka menimpali lagi, lega mendengar perkataannya.
"Ya udah sayang, aku berangkat ke kantor dulu ya, soalnya masih ada pekerjaan di kantor" Arka mengelap bibirnya menggunakan tisu yang tersedia di meja makan sebelum dia berdiri.
Aku pun ikut berdiri dengan kotak bekal di tanganku. Lalu memberikannya padanya. Mengantarnya sampai di teras depan rumah.
"Aku berangkat ya, baik-baik di rumah" Aku cium punggung tangannya dan di balas dengan kecupan di keningku.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam.. hati-hati ya" Aku perhatikan dia sampai mobilnya menghilang.
"Eeheemmm, mesranyaaaa" Suara Joy mengagetkanku. Kepalanya menyembul dari kaca mobil
"Kamu ini bikin kaget aja."
__ADS_1
"Mana yang lain?" Tanya dia, yang kemudian keluar dari mobil.
"Ada di dalam masih tidur. Ayo masuk" Ajakku.
"Ca, gue lapar. Lu punya makanan?" Tanya Joy sambil mengusap-usap perutnya.
"Tenang aja, mandi aja dulu sana, sekalian bangunin yang lain gih, aku siapin makanannya dulu"
Joy masuk ke kamar tamu sedangkan aku memanggil buk Mar. Agar dia membuat makanan buat teman-temanku.
"Non, seneng banget hari ini" Kata buk Mar yang ternyata dia memperhatikanku.
"Iya buk Mar, ternyata Arka menyukai masakanku. Padahal ini masakan pertamaku untuknya. Dia berkali-kali memujiku."
"Kalau namanya cinta ya gitu non, mau enak atau nggak enak, pasti di bilang enak, supaya usaha orang yang di cinta itu tidak sia-sia" Ucap buk Mar.
Aku tidak paham dengan ucapan buk Mar, dan tidak mau memikirkannya. Aku senyum-senyum sendiri saat mengingat pujian-pujian yang keluar dari mulut Arka saat makan siang tadi.
"Buk Mar, lanjutin sendiri ya masaknya. Aku mau ke temen-temen ku dulu" Aku letakkan pisau itu di meja dapur. Dan beranjak menghampiri teman-temanku di kamar tamu.
"Kalian sudah mandi?" Tanyaku saat aku melihat mereka terduduk santai di pinggiran ranjang.
"Sudahlah" Jawab Joy.
"Firna mana?"
"Masih mandi"
Alda menyenggol lenganku "Joy bilang, sekarang lu ma Abang mesra banget. Emang bener ya?" Tanya Alda
"Apaan sih?" Mungkin saat ini wajahku merah merona.
"Iya bener, tadi gue lihat Caca cium tangan ,udah gitu lakinya langsung cium tuh jidat. Pokoknya mesra banget?" Joy bercerita apa yang di lihatnya tadi.
"Tapi lu sadar kan ngelakuinnya? Kalau lu sadar berarti lu hebat banget. Bisa jadi istri yang Solehah buat Abang" Jawab Alda
"Nggak kayak itu tuh" Bibir Joy mengerucut menunjuk ke arah Firna yang baru keluar dari kamar mandi.
"Apa sih, gue baru keluar udah di tunjuk-tunjuk." Protes Firna.
"Liat nih si Caca, Nggak kayak elu.. Yang nggak puas sama satu laki, dengan mudah gonta ganti laki kayak ganti baju" Gerutu Joy.
"Gue kayak gitu karna gue butuh duit nggak butuh cinta. Cinta gue cukup cinta seranjang, Asal dapat duit. Lu sih enak pingin duit tinggal telpon, duit sudah masuk ke rekening. Sedangkan gue, apa harus bangunin nyokap bokap gue yang tidur di kuburan," Ucap Firna penuh kekesalan.
"Ssssttt... udah nggak usah bahas itu. Kenapa sih jadi ribut gini. Ayo cepet keluar. Kayaknya makanannya susah siap, kalian lapar kan." Kataku menengahi mereka.
Mereka saling diam, Aku tatap wajah mereka satu persatu. "Sudahlah ayo kita makan" Ajakku.
Mereka pun berdiri dan mengikutiku menuju ruang makan. Buk Mar menata semua makanan di meja.
Selama makan pun tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Saling diam menahan ego masing-masing. Sibuk memainkan sendok dan garpu di atas piring.
"Setelah ini kalian mau kemana?" Satu pun tak ada yang menjawab pertanyaanku. Semua tenggelam dengan pikiran masing-masing.
"Eeheemm" Aku mengeluarkan deheman menyadarkan mereka.
"Kenapa Ca?, lu tadi bilang apa?" Tanya Alda.
"Setelah ini kalian mau kemana? Kalau kalian mau menginap lagi disini, itu nggak masalah, aku malah senang?" Ucapku pada mereka.
Mereka menoleh saling pandang, sorot mata mereka seolah berbicara.
"Tapi gue nggak enak ma laki lu, apalagi ada mertua lu disini" Ucap Alda setengah berbisik.
"Tenang aja, suami dan mertuaku orang yang baik"
"Kapan-kapan aja deh kita nginep sini, bikin acara buat happy fun" Sahut Firna.
"Iya bener kata Firna, kita bikin acara disini, karena kita dah lama banget nggak hangout bareng lu" Joy menimpali.
Tanpa mereka sadari, mereka saling bicara memberi dukungan. Hubungan kami memang begini, sebentar musuhan sebentar juga akur. Setelah tersadar mereka pun tertawa dan saling peluk meminta maaf satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung.