Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Merasa bahagia


__ADS_3

Arka kembali mendekatiku yang masih di dalam selimut. Perlahan dia ikut masuk dalam selimut.


"Eh mau ngapain?" Tegurku.


"Lanjutin sesuatu yang tertunda" Jawabnya diiringi tawa. Dan tangannya mulai mendekapku.


"Nggak.... nggak ada episode lanjutan ya. Aku mau mandi terus turun buat bantuin mamah" Ucapku dengan sedikit kesal.


"Kan tadi aku dah bilang kalau kamu lagi sakit, jadi nggak perlu bantuin mamah" Rayunya sambil menciumi pipiku.


"Iihhh lepasin.." Aku berusaha melepas dekapan Arka. Tapi tangannya malah semakin erat mendekapku.


"Nggak boleh kemana-mana"


Aku pun tak lagi memberontak karna percuma saja, tenagaku bukan tandingannya. Bisa-bisa malah patah tulangku.


"Sayang, boleh nanya?" Tanyaku.


"hmm"


"Apa dulu mamah kayak gitu juga waktu kamu sama Aisyah?" Tanyaku.


"Enggak juga" jawabnya dengan enteng.


"Kok gitu?" Tanyaku penasaran.


Arka mulai merenggangkan dekapan tangannya.


Aku berhasil melepaskan tanganku. Tapi tidak untuk kabur darinya, aku malah mendekap lengan yang ada di atas tubuhku.


"Kamu tahu, mamah lah satu-satunya orang yang tidak merestui hubunganku dengannya. Bahkan saat mamah sakit, dan Aisyah yang merawatnya, mamah tetap dengan pendiriannya"


"Jadi mamah tidak merestui hubungan kalian?" Aku sangat terkejut mendengar pengakuan Arka.


"Iya" jawabnya singkat .


"Tapi sepertinya mamah dan Aisyah baik-baik saja. Nggak mungkin kalau mamah tidak merestuinya. Kamu bohong ya?" tuduhku.


"Buat apa aku membohongimu. Itulah keadaanya, kamu tahu apa alasan mamah ajak dia kesini?"


"Enggak" aku menggeleng.


"Supaya Aisyah sadar diri, membuka mata dan hatinya bahwa aku sudah menikah dan mempunyai istri yang bisa aku cintai"


Aku hanya terdiam mendengar penjelasan Arka. Merasa tidak yakin dengan ceritanya.


"Masih nggak percaya?" Ternyata Arka tau yang aku pikirkan. Tapi aku tidak menjawabnya.


"Sudahlah nggak usah di bahas lagi. Kamu nggak akan bisa ngerti" Ucap Arka lagi.


"Tapi kan Aisyah wanita baik-baik, berhijab, bicara sopan, rajin ibadah dan aku rasa dia jauh lebih baik dariku"


"Itu pendapat kamu yang sama denganku, tapi entahlah kenapa mamah tidak mau merestui hubunganku dengannya" suara kekecewaan terdengar dalam ucapan Arka.


🎶 we say goodbye 🎵


🎶 But never let go


🎶 we live, we die


🎶 'cuz you can't save every soul


🎶 Gotta take every chance to


Terdengar suara handphone ku yang aku simpan di handbag-ku. Aku merogohnya dan yang ku cari ketemu, tertulis nama Alda di layar ponsel. Aku geser tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Halo, ada apa?" Tanyaku membuka pembicaraan.


"Lu dimana?"


"Di rumah, ada apa?" Tanyaku


"Kita hangout yuk, dah lama nih kita nggak hangout, sepi tau nggak ada lu".


Aku lirik Arka, merasa nggak enak. karna suara dari handphone ku sudah pasti terdengar jelas di telinga Arka.

__ADS_1


"Maaf Alda, bukannya nggak mau, tapi aku lagi nggak pengen keluar, aku lagi nggak enak badan" Tolakku secara halus.


"Lu sakit?" Alda terdengar terkejut mendengarku sakit.


"I..iya.."Terpaksa deh aku jawab bohong.


"ya udah gue kesana sekarang sama yang lain ya" Dan Alda mematikan panggilannya sepihak.


Aku pun menghela nafas kasar. Aku letakkan handphone ku di atas meja yang ada di samping ranjangku.


"Kenapa kamu nolak ajakan teman-temanmu?"


"Lagi nggak pengen keluar" Jawabku


"Terus pengennya ngapain?" Tanya Arka menarik tubuhku lagi ke dalam dekapannya.


"Pengennya di peluk sama suamiku yang nyebelin ini" aku pun menarik hidung mancungnya.


"Hemm... nyebelin apa ngangenin?" Godanya.


"Nyebelin...nyebelin...nyebelin"


Aku sandarkan kepalaku di tangannya. Tidur menyamping berhadapan dengannya. Arka kembali mengeratkan pelukannya dan menciumi pipiku. Bibirku pun tak luput dari ciuman hangatnya. Ciumannya berpindah menuruni leherku. Di kecupnya leherku berulang-ulang, hingga tak ada satu inci pun yang terlewati.


Arka menarik tubuhku agar berada di posisi atas. Tangannya mulai meraba kait bra yang ada di belakang punggungku. Dan...


Tookk...


Tookk..


Tookk..


Terdengar lagi ketukan pintu kamarku. Arka tampak gusar dan meracau tak karuan. Aku hanya menahan tawa, agar dia tidak tambah marah.


Dengan sangat kesal Arka terpaksa turun dari ranjang dan membuka pintu.


"Ada apa?" Terdengar nada kesal Arka dari kejauhan.


"Makan malam sudah siap, mamah nyuruh Aa' sama teteh segera turun." Dan itu terdengar suara Rani.


Arka kembali dengan raut wajah yang sangat kesal. Dia tampak mengacak rambut cepaknya secara kasar.


Aku pun segera memakai kemejaku kembali. "Sudahlah, kita makan malam dulu. Kasihan mamah sudah capek masak buat kita semua" Ajakku.


Arka menghembuskan nafasnya kasar. Menghempaskan tubuhnya di sofa. Aku abaikan tingkahnya. Kembali aku rapikan kemejaku. Mendekat ke meja rias dan menyisir rambutku supaya rapi.


Aku tarik tangannya supaya bangun dari duduknya. Dia berdiri dengan terpaksa. Aku pun sedikit menggodanya.


"Sudah nggak usah di pikirkan. Anda belum beruntung harap di coba lagi" Godaku berbisik di samping telinganya.


"Awas ya nanti malam. Jangan minta ampun" Ancamnya dengan senyum liciknya. Aku hanya tertawa cekikikan mendengarnya..


"Sayang, gendong dong sampai di meja makan" Pintaku dengan manja.


Arka tak menjawab satu kata pun. Tapi membungkukkan tubuhnya sedikit rendah agar aku bisa naik ke punggungnya.


Tanpa bertanya lagi aku langsung naik ke punggungnya. Dan Arka kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang ada di lantai bawah.


Selama dia menggendongku aku terus menggodanya, yang berhasil membuatnya kembali tertawa. Aku juga minta agar setiap kali menuruni tangga aku minta agar di gendong olehnya. Dia pun menyetujui permintaanku. Hmm bener-bener suami yang baik., batinku.


Mamah dan Rani sudah menunggu di meja makan.


"Maaf ya mah, jadinya mamah nungguin kami" Ucapku karena merasa nggak enak dengan mamah.


"Nggak apa-apa, masih pusing nggak?" Tanya mamah masih dengan nada khawatir.


"Udah enggak mah, tadi udah di pijit sama Arka. Jadinya sekarang udah enakan" Jawabku dengan senyum ceria.


"oh syukurlah kalau begitu. Kalau gitu ayo kita makan. Mamah masak rendang, udang bakar, juga ada cumi bakar. Caca mau makan yang mana?" Tanya mamah.


"Kayaknya semua bakal Caca cobain deh." Mamah tertawa mendengar perkataanku.


Arka mengambil piringku. Dan meletakkan satu persatu lauk yang ada, dan tentunya tanpa nasi. Lalu dia menyodorkannya padaku. Aku menerimanya, dan sebelum aku menyantapnya, piring itu aku angkat mendekat ke hidungku. Untuk aku hirup aromanya. Aroma khas udang dan cumi menyeruak ke rongga hidungku.


"Hemmm... wangi banget. Sepertinya malam ini bakal kekenyangan nih" Ucapku.

__ADS_1


"Jangan terlalu kenyang, nanti tidurnya ngorok" Seru Arka.


"Siapa yang ngorok, aku kan nggak pernah ngorok kalau tidur" Bantahku.


"Sudah Arka, biarkan istrimu makan sepuasnya jangan mengganggunya." Tegur mamah.


Seketika Arka langsung diam. Sedangkan Rani hanya memandang kami secara bergantian. Dia tetap melanjutkan makannya dengan lahap.


"Rani besok jadi pulang?" Aku menanyai Rani karna dari tadi Rani seperti di cuekin.


"Iya teh, besok pagi. Tapi Rani minta antar sama Aa' sampai di stasiun bolehkan?" Ijinnya.


"Tentu saja boleh, kalau bisa sampai rumah juga nggak apa-apa" Jawabku.


"Nggak perlu sampai rumah. Cukup sampai stasiun aja" Mamah pun menyahut. Aku lupa akan hal Aisyah.


Saat aku lihat raut wajah mamah seketika berubah terhadap aku.


"Iya teh, sampai stasiun aja" Rani pun menimpali.


Karna tidak mau merusak suasana, aku memilih mengangguk dan kembali diam. Kembali aku menyuapkan makanan yang ada di hadapanku ke dalam mulutku.


Tidak ada perbincangan lagi setelah kami selesai makan. Aku membantu Rani membereskan piring dan gelas kotor yang tadi kami gunakan untuk makan. Sedangkan mamah sendiri langsung naik ke atas.


"Biar aku bantu ya nyuci piringnya?" pintaku pada Rani.


"Nggak usah teh biar Rani aja. Teteh istirahat aja, tadi mamah bilang teteh lagi sakit" Ucap Rani. Aku pun mengangguk. Aku tinggalkan Rani yang sibuk nyuci piring.


Arka sudah tidak ada di ruang makan, mungkin dia sudah ke kamar. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kamar. Aku naiki anak tangga satu persatu. Dan sebelum masuk ke kamar aku melihat Arka sedang berbincang di ruangan tengah dengan mamah.


Arka memintaku untuk mendekat.


"Mamah minta maaf ya, atas sikap mamah tadi. Tidak sepantasnya bersikap seperti itu sama kamu." Lirih mamah.


"Iya mah Caca juga minta maaf." Aku pun memeluk mamah. Sentuhan lembut tangan mamah aku rasakan di punggungku.


"Teteeehhh.... ada temannya di bawah" Terdengar teriakan Rani dari lantai bawah.


Aku mendekat ke pagar pembatas dan melongok Rani dari atas "Iya tunggu sebentar" Aku pun juga ikut berteriak tapi tak sekencang teriakan Rani.


Aku kembali mendekati Arka.


"Sayang, sepertinya teman-temanku beneran datang deh" Ucapku padanya.


"Ya sudah temui saja mereka" Ucap Arka sambil mengusap puncak kepalaku.


"Aku ke bawah dulu ya, mah Caca mau ke bawah ya" Pamitku pada Arka dan juga mamah. Mereka pun mengangguk. Dan aku langsung berlari kecil menuruni anak tangga.


Benar saja, sampai di ruang tamu aku melihat Alda, Joy, dan Firna menungguku.


"Hai.. kalian beneran kesini, aku kirain kalian bercanda" Seruku sambil memeluk satu persatu tubuh mereka.


"Ya elah elu, kan gue dah bilang mau kesini. Lu gimana, sakit apa?" Tanya Alda dengan panik, dan tangannya pun langsung ia tempelkan di keningku.


"Apaan sih, lebay benget deh kamu" Aku tepis tangannya.


"Lu sakit apa sih?" Dia mengulangi pertanyaannya.


"Sini aku bisikin" Alda mendekatkan kepalanya , dan aku mendekatkan bibirku ke telinganya.


Aku pun menceritakan padanya kejadian tadi sore waktu di kamar. Setelah bercerita. Alda langsung berkata.


"Wah parah banget laki lu, ngerjain orang tua. Dan bukan hanya orang tua lu jadiin korban. Tapi gue sama mereka" Alda tampak kesal tapi dia juga tertawa.


"Kok gue sama Joy di anggurin sih. Gue kan juga pengen tau ada apaan." Firna menimpali dan Joy mengangguk, yang artinya sependapat dengan Firna.


"Biar gue yang ngasih tau mereka" Ucap Alda. Dia pun menceritakan apa yang aku katakan padanya.


Saat Alda mengakhiri cerita, mereka pun tertawa. Aku pun ikut tertawa karena mengingat kejadian antara aku dan Arka.


Selain itu kami pun berbincang banyak tentang hari-hari yang terlewati saat tidak bersama. Mereka juga menanyakan kenapa aku sudah nggak pernah balas chat grup.


Aku katakan saja pada mereka kalau aku sedang menikmati kebahagiaan bersama keluarga baruku.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2