Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Yang benar selalu menang


__ADS_3

Arka kembali memasuki ruangan pak Hendra. Dia merasa bingung karena telah mengecewakan papa mertuanya. Arka yang menjadi kepercayaan dan kebanggaan mertuanya kini telah membuat kecewa.


'Apapun resikonya, akan aku terima karena telah mengecewakan papa' batin Arka.


Tidak mau berpikir lebih lama lagi, Arka menghubungi papa mertuanya.


"Assalamualaikum pa" Sapa Arka ketika panggilannya telah terhubung.


"Waalaikumsalam, Ada apa Arka? Bagaimana meetingnya? berjalan lancar kan? Papa yakin pasti semua akan berhasil. Kamu memang benar-benar menantu kebanggaan papa"


Pak Hendra memberikan pertanyaan random, belum sempat Arka menjawabnya, pak Hendra justru memberikan pujian. Karena pak Hendra belum tahu apa yang terjadi saat meeting tadi.


"Hmm.. maaf pa, papa hari ini kembali ke kantor atau langsung pulang?" Tanya Arka dengan perasaan cemas.


"Hari ini papa sepertinya tidak bisa kembali ke kantor. Karena masih ada pertemuan di Bandung. Ini saja papa masih dalam perjalanan ke sana. Ada apa, apa ada yang mau kamu sampaikan?" Pak Hendra merasa ada yang aneh dengan cara bicara Arka.


"Hmm iya pa. Ini masalah penting. Lebih baik kita bicara secara langsung saja. Tidak enak kalau bicara lewat telepon"


"Apa ini ada kaitannya dengan hasil meeting tadi?" Pak Hendra mencoba menerka yang telah terjadi.


"Iya pa"


"Nanti kita bahas setelah papa pulang dari Bandung"


"Baik pa, Assalamualaikum "


Arka mengakhiri panggilan telepon nya sesaat setelah pak Hendra menjawab salamnya. Di lihatnya jam di layar ponsel. Sudah hampir jam tiga sore. Terlalu cepat jika dia pulang sekarang. Ini bukan contoh yang baik untuk karyawan yang lainnya. Meskipun Arka bukan pekerja tetap di kantor ini.


Setelah di pikirnya lagi, tidak ada yang dia lakukan lagi di kantor ini, tugasnya sudah selesai meskipun berakhir dengan hasil yang mengecewakan. Arka segera berkemas dan bersiap untuk pulang.


Melihat Arka keluar ruangan, Santi segera menghampirinya.


"Pak, pak Arka mau kemana?" Tanya Santi


"Pulang" Jawabnya singkat


"Pak, ada yang mau saya bicarakan dengan pak Arka"


"Bicaralah" Arka memalingkan pandangannya.


"Nggak enak kalau bicara sambil berdiri begini pak. Gimana kalau kita bicara sambil minum kopi di kantin?" Santi memberi tawaran yang sudah jelas Arka akan menolaknya.


"Saya tidak bisa, saya tidak punya banyak waktu. Bicara disini saja, kalau kamu merasa keberatan, lebih baik saya segera pulang" Arka mulai kesal dengan tingkah Santi yang selalu mengukur waktu.


"Jangan pulang dulu pak. Baiklah pak, saya akan bicara disini. Saya mau tanya pak soal kontrak kerjasama tadi, Kenapa pak Arka membatalkan kontrak kerjasamanya?"


Arka menautkan alisnya. Tapi dia enggan menjawab pertanyaan Santi dengan jujur.


"Pak Arka tahu kan kalau pak Hendra sangat mengharapkan bisa kerjasama dengan Bu Sarah. Kalau kerjasamanya gagal, Pak Hendra akan marah besar pak. Dan ini akan berdampak pada bawahannya, termasuk saya. Pak Hendra akan menganggap kalau kami tidak bisa bekerja dengan baik. Kami bisa di pecat pak"


Kini raut wajah Santi terlihat memelas. Dia takut akan kehilangan pekerjaannya.


"Kamu tenang saja, saya yang akan menanggung resikonya. Tidak akan ada satupun karyawan yang di pecat gara-gara gagal bekerjasama dengan Bu Sarah. Saya bisa jamin itu"

__ADS_1


Arka mencoba memberi ketenangan pada Santi, bukan karena dia tertarik dengan Santi, tapi lebih ke rasa bertanggung Jawabnya karena telah membuat kesalahan, yang akan berimbas pada orang lain.


Arka segera pergi meninggalkan kantor milik papa mertuanya menuju arah pulang.


Sementara itu di tempat lain, Sarah telah menghubungi pak Hendra. Sarah mengatakan kepada pak Hendra kalau dia lah yang memutuskan hubungan kerjasama. Tidak hanya itu Sarah juga menceritakan kejadian tadi siang tapi dengan cerita yang berbeda. Sarah mengatakan kalau Arka telah melakukan tindakan asusila.


Awalnya pak Hendra hanya mengira gagalnya kerjasama karena faktor kerja dari bawahannya yang kurang maksimal. Sehingga pihak Sarah membatalkan kerja sama. Tapi setelah Sarah bercerita dan menjatuhkan nama baik Arka, Pak Hendra meyakini apa yang di sampaikan Sarah tidaklah benar.


"Kalau Pak Hendra masih berkenan untuk melanjutkan kerjasama dengan saya, saya minta dengan hormat supaya Pak Hendra memecat Arka. Karena saya tidak suka dengan karyawan utusan Pak Hendra itu"


Itulah permintaan Sarah kepada pak Hendra saat terhubung melalui sambungan telepon.


"Saya tidak bisa memecat Arka. Tanpa saya bertanya pun saya sudah tahu apa yang anda ucapkan itu tidaklah benar. Saya sangat mempercayai Arka. Dia tidak hanya seorang utusan, tapi dia adalah menantu saya yang akan meneruskan semua usaha saya"


Jawaban pak Hendra membuat sarah terkejut. Bagaimana tidak, Sarah mengira Arka hanya seorang suruhan yang di percaya. Tapi ternyata Arka adalah menantu yang akan mewarisi semua usaha pak Hendra.


Pak Hendra merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi saat Arka dan Sarah sedang meeting. Pak Hendra mengambil ponsel miliknya yang khusus untuk memantau cctv yang ada di kantornya.


Pak Hendra memutar di jam sebelas siang tidak ada kejadian yang mencurigakan. Pak Hendra mendengar ucapan Sarah yang meminta Arka agar melanjutkan meeting hanya berdua.


Rekaman cctv di skip beberapa waktu sampai terlihat Arka dan Sarah berduaan di dalam ruang meeting.


Dugaan pak Hendra benar. Arka tidak mungkin melakukan hal yang buruk. Di putarnya rekaman cctv itu sampai selesai. Senyum lebar menghiasi bibirnya. Ternyata Arka rela mengorbankan hal besar demi tetap setia kepada anak perempuannya.


Pak Hendra tidak marah jika Arka menolak bekerja sama dengan Sarah. Justru dia akan marah jika sampai Arka menyetujui permintaan Sarah.


***


"Kamu kenapa sih?" Caca merasa kesal.


Caca sudah memanggil-manggil namanya berulang kali tapi tidak di dengarnya.


"Kenapa, aku nggak kenapa-napa kok?" Arka berusaha bersikap biasa. Namun kegugupan terlihat jelas.


"Kamu ada masalah apa sih, dari tadi aku perhatiin kamu itu kayak ada masalah gitu. Coba cerita sama aku"


"Nggak ada apa-apa sayang. Aku hanya capek saja"


Arka mengurut pelipisnya.


Buk Mar yang dari arah ruang tamu menghampiri mereka.


"Maaf non, ada bapak datang"


"Hah papa? ada apa kok tumben kesini?" Caca nampak terkejut.


"Saya kurang tahu non. Permisi ya non saya mau ke belakang, mau buat minum dulu. "


Arka dan Caca segera bangkit untuk menuju pak Hendra.


"Papa? Kok tumben papa kesini? Tanya Caca yang masih tampak heran dengan kedatangan papanya.


"Papa mau bicara sama Arka" Pak Hendra menunjukkan raut wajah yang sulit di baca.

__ADS_1


Pak Hendra ingin mendengar seperti apa pengakuan Arka. Meskipun dia sendiri sudah tahu apa yang terjadi.


"Iya pa, silahkan duduk dulu"


"Kalau gitu Caca mau ke atas dulu ya. Kalian bicara saja dulu, pasti soal pekerjaan kan?"


Pak Hendra menahan Caca ketika dia akan pergi.


"Kamu bisa mendengarkan apa yang akan papa sampaikan"


Caca langsung duduk di samping Arka. Buk Mar datang membawakan minum untuk mereka bertiga.


"Bagaimana hasil meeting tadi siang?" Tanpa basa basi pak Hendra langsung bertanya pad Arka.


"Pa, sebelumnya saya minta maaf. Kerja sama yang papa inginkan gagal pa. Karena Bu Sarah tidak mau menandatangani surat perjanjian kontrak. Ini salah saya pa, saya siap menerima segala konsekuensinya. Tapi saya minta supaya papa tidak memecat karyawan yang terlibat untuk pengajuan kontrak ini. Mereka sudah bekerja dengan maksimal. Tapi saya yang telah menghancurkannya"


Arka berucap panjang lebar. Berharap kesalahannya di maafkan.


"Tadi Bu Sarah menghubungi papa. Dia bilang dia memutus kerja sama dan tidak mau melakukan kerja sama lagi. Dia bilang karna kamu telah melakukan tindakan asusila terhadap Bu Sarah"


"Astaghfirullah Al Adzim" Arka terkejut dengan apa yang disampaikan mertuanya. Sama hal nya dengan Caca, seketika dia menutup mulutnya. Dan kedua matanya mulai berembun.


"Maka dari itu dia meminta papa untuk tidak mempekerjakan kamu lagi. Dengan begitu kontrak kerjasama ini akan dilanjutkan lagi"


Pak Hendra masih melanjutkan kata-katanya.


"Tega sekali kamu sama aku. Kamu bilang kamu akan tetap setia, kamu bilang kamu akan menutup mata saat melihat perempuan lain. Tapi nyatanya apa, kamu tega mengkhianati ku. Aku benci kamu..."


Caca menangis histeris, dia terus memukuli Arka. Arka kuwalahan menghadapi Caca yang sudah mengamuk. Sedangkan pak Hendra hanya diam dengan santainya. Seperti sedang menyaksikan drama percintaan.


"Tenang dulu sayang, aku bisa jelasin" Arka memegang kedua tangan istrinya, di tatapnya mata istrinya lekat-lekat. Lalu dia menoleh ke arah mertuanya " Pa, ini salah paham. Bu Sarah...."


Ucapan Arka terhenti karena pak Hendra langsung berbicara lagi.


"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Semua sudah jelas kalau apa yang diucapkan Sarah tidaklah benar"


Caca yang tadinya menangis histeris seketika berhenti saat mendengar ucapan papanya.


"Maksud papa?" Arka dan Caca serempak bertanya.


"Papa tahu kalau kamu tidak akan melakukan hal seperti yang di katakan Sarah. Papa juga punya bukti kuat yaitu cctv. Tapi tanpa cctv pun papa akan tetap percaya sama kamu"


"Jadi papa..." Arka menggantungkan kata-katanya.


"Papa percaya sama kamu. Papa tidak marah kamu menolak kerja sama ini. Justru papa akan marah jika kamu menyetujui apa yang di minta Sarah. Tidak salah papa menjadikanmu menantu"


"Terima kasih pa, sudah memberikan kepercayaan kepadaku"


"Dan kamu ca, jangan di biasakan menerima berita yang belum tentu kebenarannya. Itu tandanya kamu mudah sekali di hasut. Jangan kamu ulangi lagi. Karena bisa merugikan diri kamu dan juga keluargamu. Percayalah pada suamimu. Dia lelaki yang baik."


Pak Hendra menasehati anaknya. Supaya kedepannya lagi Caca lebih berhati-hati jika menerima berita.


Caca pun mengangguk mengerti dan dia juga minta maaf kepada suaminya. Karena telah berburuk sangka tanpa mendengar penjelasannya terlebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2