Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Emosi tidak stabil


__ADS_3

POV Caca


Saat perjalanan pulang aku meminta Arka untuk membeli kue brownies kesukaanku.


"Kok tumben minta beli brownies?"


"Lagi pengen ngemil aja. Makanya beli" Jawabku.


"Biasanya kan kamu suka bikin sendiri, kenapa sekarang nggak bikin?" Tanya Arka lagi.


"Lagi malas bikin. Lagian entar kalau aku bikin ada yang ragu sama hasil keringatku, padahal udah capek-capek bikin malah nggak di hargai" Ucapku yang sengaja menyindir Arka.


"Aku nggak ragu sayang, iya aku percaya kok kalau kamu sekarang sudah pintar bikin kue, sudah pintar masak juga" Ucap Arka.


"Aku kan nggak bilang kalau kamu meragukanku, merasa ya" Ucapku agak ketus.


"Tapi aku tersinggung sayang. Aku pernah meragukan kalau kamu bisa buat kue. Padahal waktu itu aku hanya bercanda. Kenapa di masukkan ke dalam hati?"


Enak saja Arka mengatakan kalau itu hanya bercanda, apa dia tidak tahu kalau ucapannya membuatku sakit hati. ?


Mobil pun berhenti di depan toko kue langgananku. Tapi mood ku sudah berubah. Sudah nggak pengen lagi untuk beli brownies.


"Nggak usah turun, kita langsung pulang saja" Ucapku kala Arka akan membuka pintu mobil.


"Lho" Arka melongo mendengar ucapanku.


"Katanya mau beli brownies, ini sudah sampai lho sayang, kok malah minta pulang" Tanya Arka dengan heran.


"Udah nggak mood. Kita langsung pulang saja. Perkara brownies saja harus berdebat. Kalau memang nggak mau antar ya sudah bilang saja dari awal. Aku kan bisa pergi sendiri"


Arka tampak menarik nafas panjang saat aku mengomelinya. Entah kenapa belakangan ini aku selalu merasa kalau dia seperti sengaja membuatku marah. Masalah sepele selalu menjadi bahan perdebatan.


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku nggak bermaksud seperti itu. Kamu jangan marah ya. Sekarang kita turun aku belikan kue kesukaan kamu. Mau berapa? lima? sepuluh? atau bila perlu aku borong semua yang ada di etalasenya, asalkan jangan marah lagi ya" Arka terlihat panik ketika melihatku benar-benar marah.


"Kalau aku bilang pulang ya pulang, Nggak usah banyak omong lagi" Teriakku sampai tak terasa mataku mengeluarkan tetes-tetes bening.

__ADS_1


Dengan cepat Arka mencoba memeluk untuk menenangkanku. Dan itu malah membuatku semakin tergugu.


"Kenapa sih kamu nggak bisa ngertiin aku? Kenapa kamu nggak pernah menghargai apa yang aku lakukan? Kenapa sekarang kamu berubah? " Ucapku kala aku terisak dalam pelukannya.


"Sssttt... aku nggak berubah sayang, aku minta maaf kalau aku nggak bisa ngertiin kamu. Mulai sekarang aku akan lebih mengerti kamu, aku juga akan lebih menghargai apapun yang kamu lakukan. Sudah ya jangan marah lagi. Maafin aku ya"


Arka memelukku erat, Tangannya mengusap punggungku dengan lembut. Perlahan aku sudah mulai agak tenang.


Entahlah akhir-akhir ini aku juga merasa kalau emosiku tidak stabil, aku merasa aku juga sering sekali cepat marah. Tapi tidak butuh waktu lama kemarahanku mereda. Ya seperti saat ini, setelah marah-marah sampai nangis. Aku pun merasa biasa lagi. Apa mungkin karena sudah terlampiaskan , kemarahanku langsung mereda. Atau mungkin ini karena bawaan bayi. Kata dokter hormon kehamilan.


"Sekarang kita pulang ya?" Arka melepaskan pelukannya dan mengusap air mataku yang membahasi sebagian wajahku. Lalu dia merapikan rambutku yang sedikit berantakan.


"Aku nggak mau pulang" Jawabku


"Baiklah kalau nggak mau pulang. Sekarang maunya kemana, biar aku antar. Apa mau ke rumah papa? Atau mau jemput mamah di kampung?"


"Aku mau beli brownies" Jawabku sedikit manja.


"Oke. Mau ikut masuk apa mau nunggu disini saja?" Tanya Arka lagi.


"Ikut"


"Buat apa aku pakai kacamata?" Tanyaku heran


Arka kembali mengambil sesuatu dari laci, ternyata dia mengambil cermin rias, lalu memberikannya padaku. Dan seperti menyuruhku untuk berkaca "Biar tambah cantik sayang" Aku ambil cermin itu dan menatap wajahku sendiri yang ada di cermin. Mataku terlihat sembab dan memerah.


Aku pun paham maksudnya. Dia memberikan kacamata hitam supaya menutupi mataku yang sembab karena habis nangis. Tanpa banyak bicara lagi aku segera mengenakan kacamata hitam, dan menyimpan kembali cermin rias ke tempat semula.


"Nah udah cantikkan, sekarang kita turun ya"


Tangan Arka menarik tuas handrem sebelum keluar. Kami berdua pun memasuki toko langgananku ini.


Aku pun mulai memilih berbagai kue yang ada. Setelah merasa cukup aku pun memanggil Arka supaya segera melakukan pembayaran.


"Sudah?" tanya Arka, aku pun mengangguk.

__ADS_1


Setelah membeli berbagai macam kue, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pulang. Karena aku ingin segera istirahat.


"Sayang, kapan mamah balik lagi kesini?" Tanyaku pada Arka yang sedang fokus menyetir.


"Kemaren sih mama bilangnya minta di jemput karena Rani sudah baikan. Tapi aku bilang ke mamah kalau aku masih sibuk dan masih belum bisa menjemput kesana. Ayah juga masih belum bisa jemput mamah. Nanti kalau ada waktu luang aku akan menjemputnya"


Saat ini mamah mertuaku memang sedang ada di kampungnya. Dua hari sebelum aku pulang dari Surabaya, mamah pulang kampung karena Rani sedang sakit. Mamah pulang di antarkan Alda dan juga Firna. Mereka berdua juga masih sempat menginap disana selama tiga hari. Setelah itu mereka pamit pulang. Karena Alda sendiri juga harus bekerja.


"Lebih baik pindahkan sekolah Rani disini saja, daripada jauh kayak gini. Kalau ada apa-apa juga kan repot kalau harus bolak balik" Aku mencoba memberi saran pada Arka.


Padahal sudah sering sekali aku meminta agar Rani pindah sekolah dan tinggal bersamaku. Tapi Rani selalu menolak bilangnya nggak mau merepotkan aku dan juga Arka.


"Kan kamu tahu sendiri kalau Rani yang tidak mau tinggal sama kita"


"Nanti coba bicarakan lagi dengan Rani. Siapa tahu dia berubah pikiran dan mau tinggal bareng kita disini" Aku kembali memberi saran pada Arka.


"Iya nanti akan aku coba lagi. Semoga saja kali ini dia mau ya"


Arka pun juga berharap supaya Rani bersedia tinggal bersama kami disini. Meskipun awalnya Arka menolak keluarganya tinggal bersama kami. Bukan tanpa alasan, Arka tidak mau kalau keluarganya di bilang matrealiatis dan menumpang hidup denganku.


Padahal aku dan keluargaku sendiri sama sekali tidak keberatan, jika ibu dan adiknya tinggal bersamaku. Justru papa dan mama juga punya keinginan yang sama denganku. Supaya aku tidak merasa kesepian. Supaya aku betah di rumah karena banyak yang menemani.


Bahkan mamah yang awalnya sakit-sakitan kini sudah berangsur membaik setelah tinggal bersamaku disini. Karena disini mamah bisa berobat dan rutin cek kesehatan di rumah sakit ternama Yang ada di Jakarta ini.


Mamah sudah tidak bergantung pada obat-obatan yang harus di konsumsi setiap harinya. Kini mamah hanya mengkonsumsi vitamin untuk menguatkan daya tahan tubuhnya saja. Dulu tubuh kurus keringnya yang tampak pucat, kini sudah mulai berisi dan terlihat lebih segar.


"Sayang, kalau kita minta bantuan Firna untuk menjemput mamah, gimana?" Tanyaku pada Arka.


"Aduh sayang, nggak usah deh. Nggak enak kalau harus merepotkan mereka lagi, biar aku saja yang jemput" Arka menolak saranku.


"Tapi kapan? Kamu kan selalu sibuk belakangan ini?" Ucapku menegaskan.


"Besok aku akan nyuruh Pak Faisal untuk menjemput mamah. Besok dia sudah mulai bekerja lagi kok"


"Beneran ya, mamah di jemput. Awas saja kalau bohong. Kamu akan aku kasih hukuman" Ancamku pada Arka.

__ADS_1


"Iya sayang iya. Besok mamah di jemput" Jawabnya memastikan.


Lega mendapat jawaban dari Arka. Karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan mamah mertuaku yang sudah hampir satu bulan tidak bertemu.


__ADS_2