
"Vilia?"
Kak Bayu sedikit terkejut saat menyadari wanita cantik ini adalah Vilia, mantan kekasihnya sewaktu remaja.
"Dok, kalian bicara dulu ya. Aku mau lihat Rani, kasihan dia. Sepertinya dia mencariku" Aku serahkan ponselku yang masih terhubung dengan kak Bayu. Dokter Vilia sedikit gugup saat menerimanya.
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera berdiri dan meninggalkannya. Bagaimana pun juga itu ranah pribadi mereka. Aku tidak berhak untuk mencampuri lebih jauh. Biarkan mereka berbicara dan menyelesaikan semuanya.
Sebagai sesama wanita, aku tahu apa yang dirasakan dokter Vilia. Meskipun aku sendiri tidak pernah ada di posisinya.
Keluar dari kantin aku bingung harus berjalan kemana lagi. Mau menghubungi Rani, tapi ponselku ada sama dokter Vilia. Terpaksa aku duduk di kursi tunggu yang ada di lorong Rumah Sakit. Untungnya ada satu kursi yang masih kosong.
Aku tersenyum dengan orang yang duduk di sampingku.
"Nunggu antrian mbak?" Tanya seorang perempuan yang usianya lebih tua dariku.
"Ah, enggak. Ini saya cuman numpang duduk saja. Saya nunggu teman" Jawabku.
"Oohh" Bibirnya membulat.
"Firna Larasati" Terdengar seorang perawat menyebut nama yang tidak asing di telingaku.
Aku pun menoleh dan melihat orang yang di panggil memasuki ruangan dokter. Itu benar Firna sahabatku. Dia sedang disini, untuk apa? apa dia sakit? Dia sakit apa? Tapi kenapa dia tidak bercerita?
Aku baca papan nama yang ada di pintu, tertulis nama Dr. Samuel SpKK. Aku sedikit terkejut saat membacanya.
Aku rogoh tasku, mencari benda pipih di dalamnya. Tapi yang aku cari tidak di temukan. Lagi-lagi aku melupakannya kalau ponselku masih ada sama dokter Vilia.
Aku mencoba menepis pikiran buruk dan berusaha berpikir positif. Mungkin Firna kesini karena dia alergi makanan yang menyebabkan kulitnya gatal-gatal. Ini kan dokter kulit dan kelamin, jadi yang datang kesini tidak mungkin hanya bermasalah dengan kelaminnya.
Pintu ruangan dokter itu kembali terbuka. Dan Firna-ku keluar dari ruangan dokter dengan membawa amplop panjang berwarna putih. Itu pasti hasil pemeriksaanya.
Setelah menutup kembali pintu ruangan dokter ,Firna berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Aku berdiri berniat untuk menghampirinya. Ingin menanyakan apa yang terjadi dengannya.
Tapi baru dua langkah kakiku berjalan, ada yang menarik tanganku. Aku pun menoleh, dokter Vilia berdiri dengan menggenggam ponsel milikku. Matanya tampak sembab , terlihat jelas jika dia habis menangis.
"Oh dokter ,sudah selesai?" Tanyaku sedikit terkejut, lalu dia menyerahkan ponsel milikku.
"Sudah, kita kembali ke ruangan saya ya" Ucapnya datar.
"Iya dok" Dokter Vilia berjalan mendahuluiku.
__ADS_1
Aku kembali menoleh ke arah Firna, mencoba mencari sosok Firna. Tapi bayangannya sudah tidak ada lagi. Ingin mengejarnya, tapi urusanku belum selesai. Mungkin dia sudah berjalan jauh. Akhirnya aku berjalan mengikuti dokter Vilia yang sudah berjarak agak jauh dariku.
Di dalam ruangan dokter Vilia sudah ada Rani yang menunggu. Dan terlihat dokter Vilia sedang membaca kertas hasil laboratorium milik Rani. Aku pun langsung duduk di samping Rani.
"Gimana dok hasilnya?" Tanyaku saat sudah terduduk.
"Menurut hasilnya, Rani terkena demam berdarah. Saya sarankan untuk melakukan rawat inap supaya bisa di tangani dengan baik"
Rani menggenggam erat tanganku. Terlihat dia sangat cemas sekali. Aku pun mengusap punggung tangannya berusaha menenangkannya.
"Baik dok, lakukan yang terbaik. Supaya adikku bisa sembuh" Ucapku mantap.
Aku tatap Rani, terlihat matanya sedang menjatuhkan bulir-bulir bening tanpa di minta.
"Tenang ya, semua akan baik-baik saja" Aku paksakan senyuman untuknya. Supaya dia tidak terlalu sedih .
***
Saat ini Rani sudah terbaring dengan selang infus yang sudah terpasang di tangannya.
"Teh, bagaimana dengan mamah?" Tanya Rani.
"Teteh juga bingung harus bagaimana cara menyampaikannya. Untung saja mamah belum menelpon kita"
Terdengar suara handle pintu terbuka
"Assalamualaikum " Suara lelaki yang aku tunggu kedatangannya.
"Waalaikumsalam " Jawabku dan Rani serempak.
Aku dan Rani bergantian menyalaminya secara takzim.
"A'....." Rani hanya memanggil dan tidak meneruskan kata-katanya. Rani terisak. Lalu Arka memeluk adik satu-satunya itu.
"Sudah nggak apa-apa. Biar cepat sehat kembali" Arka menenangkan adik perempuannya.
Setelah sedikit tenang, Arka melepaskan pelukannya. Lalu duduk di sampingku.
"Nanti, kamu yang bilang ke mamah ya. Tapi pelan-pelan saja, biar mamah nggak kaget" Ucapku.
"Iya, sebentar lagi aku pulang untuk bicara sama mamah. sekalian pulang untuk mandi."
__ADS_1
Sekarang sudah pukul enam sore. Arka segera pamit pulang. Dan nanti dia akan kembali lagi untuk menjaga adik perempuannya.
Setelah Arka pergi dokter Vilia memasuki ruangan tempat Rani dirawat tetapi dia sudah tidak memakai baju dinasnya. Mungkin sudah waktunya untuk pulang.
"Malam Nat" Sapa dokter Vilia dengan ramah.
"Malam dok"
"Gimana keadaan Rani?" Dokter Vilia menatap Rani yang tengah tertidur.
"Sudah lebih baik sih dok, sudah tidak pucat seperti tadi waktu pertama kesini" Jawabku.
"Syukurlah kalau begitu. Hmm...Nat, bisa kita bicara?"
"Hmm bisa" Jawabku "Kita duduk disana saja dok" Aku menunjuk sofa yang ada di ruangan ini, sedikit jauh dari ranjang Rani.
"Nat, apa benar Bayu akan menikah?" Tanya dokter Vilia tanpa basa basi lagi.
"Hah?" Aku hanya melongo
"Tadi Bayu mengatakan kalau tidak lama lagi dia akan menikah dengan perempuan asal Turki. Apa itu benar?" Dokter Vilia kembali bertanya.
"I-itu..."
"Katakan saja Nat"
"Maaf Dok, sebenarnya.... sebenarnya kak Bayu sudah pernah mengatakan itu pada papa dan mama. Tapi sampai saat ini kak Bayu belum memperkenalkan perempuan itu pada papa dan mama. Jadi aku masih meragukannya. Untuk itu lah aku tidak berani mengatakannya saat diawal pembicaraan kita tadi siang. Aku minta maaf" Ucapku merasa tidak enak dengan dokter Vilia.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tenang saja, saya tidak marah kok sama kamu. Apapun yang di katakan Bayu saya mempercayainya. Tapi selama dia belum resmi menikah, saya masih tetap menunggunya" Ujarnya lirih.
Terlihat jelas rasa kecewa di wajahnya. Hanya saja dokter Vilia terlalu pintar untuk tidak mengakui kekecewaannya.
"Dok, apa dokter tidak marah, penantian selama ini ternyata sia-sia?" Tanyaku.
"Marah?... Kepada siapa saya harus marah?" Dokter Vilia tersenyum miring.
"Saya hanya kecewa. Kalau pun marah, itu hanya marah kepada diri sendiri. Kenapa sampai sejauh ini saya masih mengharapkan Bayu. Sedangkan sedikitpun Bayu tidak pernah menaruh rasa kepada saya." Ucapnya lagi.
Aku hanya diam menatapnya.
"Baiklah Nat, saya pamit dulu. Terima kasih karena kamu sudah bersedia mendengarkan keluh kesah saya hari ini."
__ADS_1
"Iya dok, sama-sama. Maaf ya dok kalau ada kata2 yang menyinggung perasaan dokter Vilia" Dokter Vilia tersenyum mendengar ucapan ku.
Dokter Vilia pun keluar dari ruangan ini. Aku hanya mengantarkan sampai di depan ruangan saja. Aku kembali masuk dan duduk di sofa, mataku terasa berat sekali.