
Aku kesulitan menggerakkan tubuhku. Saat aku coba untuk membuka mataku, aku terkejut karena di hadapanku terpampang dada bidang Arka. Tangannya melingkar di pinggangku sehingga menyebabkan sulit menggerakkan tubuhku.
Aku mengangkat sedikit kepalaku, melihat wajah Arka. Memperhatikan dengan seksama setiap inci bagian-bagian wajahnya. wajah yang begitu teduh dan tenang.
Matanya masih terpejam, perlahan aku raba pipinya, hidungnya, dagunya, dahinya, bahkan sampai telinganya pun tak luput dari sentuhan ku. Mungkin besok wajah ini tidak bisa untuk aku sentuh lagi. Aku tempelkan telapak tanganku ke pipinya. Aku terus memandangi wajahnya. Sampai-sampai air mataku menetes dari sudut mataku.
Seketika langsung aku benamkan wajahku ke dada bidangnya, dan memeluk erat tubuhnya. Ya, aku benar-benar berat untuk melepaskannya. Tapi aku juga nggak boleh egois. Dengan menghancurkan perasaan orang lain.
Tiba-tiba Arka mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggangku "Jangan memaksaku untuk menjauh darimu jika itu menyakiti perasaanmu" Ucapnya tiba-tiba.
Aku sangat terkejut dengan ucapannya, seketika aku lepaskan pelukanku. Dan berusaha untuk menjauh darinya. Tapi nihil Arka malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Minggir, aku mau bangun" Ucapku berusaha memberontak. Tapi Arka tak menghiraukanku.
"Katakan jika kamu tidak mau melepasku" Ucapnya lirih.
Aku terdiam, berusaha mengontrol emosiku, agar suaraku bisa normal.
"Aku tidak menyukaimu, buat apa aku tidak bisa melepaskanmu. Sekarang juga aku akan melepaskanmu, dan membiarkanmu kembali pada Aisyah." Ucapku, tapi tak berani memandang wajahnya.
"Lalu untuk apa kamu menutupi air matamu" Arka menarik daguku agar wajahku bisa berhadapan dengannya.
"Nggak usah sok tahu, lagian buat apa aku harus menangisimu" Aku bersikeras melakukan perlawanan.
"Karena sebenarnya kamu nggak mau kan kehilangan aku" Arka mencoba menerka yang ada di hatiku. Memang benar sekali ucapannya.
"Nggak usah ngawur kalau bicara" Tegasku
"Terus buat apa tadi meraba-raba wajahku, terus meluk-meluk" ledeknya. Aku pun seperti tercekik mendengar ucapannya.
"Jadi tadi itu kamu sudah bangun?" Tanyaku dengan rasa malu.
"Aku nggak bangun, tapi aku memang belum tidur" Lirihnya sambil tersenyum.
Saling diam untuk beberapa saat tangan Arka mengusap rambutku, merapikannya dengan jari-jarinya, agar tidak menutupi wajahku.
Arka menatap wajahku tajam, matanya pun tampak berkaca-kaca.
"Jangan pernah lagi kamu meminta untuk di tinggalkan. Sampai kapan pun aku nggak akan pernah meninggalkanmu apalagi pergi demi perempuan lain." Arka pun memelukku. Aku terisak dalam dekapannya.
"Aku akan berusaha untuk terus mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Asalkan jangan pernah lagi mengatakan untuk di tinggalkan." Aku tak sanggup bicara lagi, aku anggukkan kepalaku berulang-ulang.
Aku kembali terisak di dalam dekapannya, mendekapnya sangat erat sekali. Rasanya aku benar-benar tidak mau di tinggalkan.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanyaku di sela tangisanku.
Arka mengecup puncak kepalaku. "Iya, aku mencintaimu. Aku minta maaf jika aku belum bisa mencintai dengan sepenuhnya." Ucapannya aku sambut dengan anggukan kepalaku.
"Aku juga minta maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu" Ucapku.
"Itu tugasku untuk bimbing kamu. Aku sebagai imam kamu, berhak atas dirimu" ucapnya. Bahagia rasanya mendengar ucapannya yang penuh tanggung jawab.
Kemudian kami saling memeluk. Aku usap-usap punggungnya dengan telapak tanganku. Aku pandangi lagi wajahnya. Matanya terpejam. Mungkin memang benar kalau dia belum tidur. Aku lirik jam dinding, jarum pendek menunjuk ke angka tiga. Masih dini hari.
"Sayang" Lirihku
"Hemm" Sahutnya tanpa membuka mata.
"Kamu sudah tidur?" Tanyaku.
"Hemm, ngantuk" Lirihnya hampir tak terdengar.
"Ya sudah, tidurlah pasti kamu sudah sangat lelah sekali" Telapak tanganku aku tempelkan di sebelah pipinya.
Arka sudah tidak bergeming. Hanya terdengar suara nafasnya yang terdengar sangat berat.
Setelah dia benar- benar terlelap, aku angkat tangannya yang memelukku. Aku geser tubuhku sedikit, meraih guling yang ada di sebelahku. Lalu meletakkannya di tempatku berbaring tadi. Menggantikan posisiku.
Aku letakkan tangannya dia atas guling, Tepatnya seperti memeluk guling.
Pelan-pelan aku turun dari kasur, menuju kamar mandi. Aku isi bathup ku dengan air hangat. Aku tuangkan beberapa cairan ke dalamnya. Setelah merasa airnya cukup untuk berendam, aku matikan airnya. Aku mulai berendam di air hangat. Aroma wangi yang keluar dari uap air membuatku lebih rileks.
Aku pejamkan mataku mencoba menikmati rasa dingin yang di serap tubuhku.
Paginya...
"Sayang..." Sayup-sayup terdengar suara Arka memanggilku.
__ADS_1
"Sayang,..." Suara itu kembali terdengar, dan aku merasakan pundakku di sentuh.
Saat aku buka mata, wajah Arka berada di hadapanku. Aku kedip-kedipkan mataku untuk memastikan kalau memang ini Arka. Dia berjongkok di samping bathup.
"Sayang kamu tidur disini?" Arka menanyaiku. Aku memberi jawaban dengan menganggukkan kepala.
Arka langsung berdiri dan mengambil handuk yang menggantung dekat pintu kamar mandi.
"Cepat bilas badanmu, dan pakai ini. Bisa-bisanya berendam sampai ketiduran, nanti masuk angin." Gerutunya sambil menyerahkan handuk padaku.
Arka memang belum tahu tentang kebiasaan ku yang satu ini. Daridulu jika aku merasa pikiran dan hatiku kacau, aku selalu berendam sampai tertidur di bathup selama berjam-jam, bahkan di tengah malam pun.
"Jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Jam lima lewat, Nih handuknya " Sialan, gerutuku dalam hati merasa kesal, padahal aku berniat untuk menggodanya. Tapi sepertinya dia mau sholat subuh.
"Taruh saja di situ" Aku menunjuk gantungan di dekat shower.
Arka pun menuruti perintahku, dan tanpa bicara lagi dia keluar dari kamar mandi. Sedangkan aku langsung keluar dari bathup dan membilasnya dengan shower. Setelah selesai mandi akupun langsung keluar hanya dengan lilitan handuk di tubuhku.
Tampak Arka sedang membereskan sajadahnya. Rupanya dia baru selesai sholat.
Perlahan Aku mendekatinya. "Kenapa tadi langsung keluar?" Bisikku
"Tadi buru-buru mau sholat subuh, kesiangan gara-gara kurang tidur." Jawabnya sambil meletakkan sajadah di dalam lemarinya. Kemudian dia membuka tirai yang menutupi jendela kaca.
Aku mendekatinya, lalu memeluknya dari belakang. "Jangan pernah tinggalkan aku" Lirihku.
Arka menghentikan gerakannya, diam tanpa gerakan dan juga tanpa suara. Perlahan tangannya meraih tanganku, dan mengecupnya.
"Sudah aku katakan berulang kali, aku nggak akan pernah meninggalkan kamu" Ucapnya tak kalah lirihnya.
Arka membalikkan badannya, menatap kedua mataku, lalu mengecup keningku.
"Aku juga nggak akan mengkhianatimu, percayalah" Ucapnya lagi kembali menegaskan.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum bahagia mendengarnya.
"Cepat pakai bajumu, nanti kamu masuk angin"
"Iya"
"Aku ikut ya kalau mau beli sarapan?" Pintaku.
"Kita nggak beli, tapi mamah yang masak." Ucap Arka dengan santai.
"Mamah masak?" tanyaku heran.
"iya, kenapa?"
"Kok di suruh masak kenapa nggak beli aja, kasian kan. Aku juga nggak enak sendiri kalau kayak gini." Ucapku merasa sedih.
"Kamu tenang aja Mamah sendiri yang maksa buat masak, lagipula kalau di kampung mamah sudah biasa kok kayak gini." Arka berusaha membuatku tenang.
"Tapi tetep aja aku nggak enak sendiri"
"Makanya cepet pakai baju, terus kita bantuin mamah masak ya" Ucapnya.
"Tapi aku kan nggak bisa"
"Tenang aja, nanti aku ajarin" Jawabnya enteng.
"Emang bisa?" Ledekku
"Bisa dong, nanti aku buktikan" Jawabnya sambil mengambil handuk yang di gantung dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai....
"Ayo kita turun" Ajaknya.
"Ayo" Aku pun langsung berdiri dan menggandeng tangannya. Lalu berjalan berdampingan.
"Sayang, emang kamu beneran bisa masak?" Tanyaku masih tidak percaya.
"Bisa"
"Masak apa?" tanyaku lagi
__ADS_1
"Masak air" Jawabnya di iringi tawa yang terbahak-bahak.
Spontan aku pukul lengannya, dan dia berlari berusaha menghindariku. Aku pun mengejarnya.
Begitu kena "Sialan kamu ngerjain aku ya" Gerutuku sambil memukulinya.
"Ampun ..ampun..." Ocehnya.
Mamah Arka keluar dari dapur melihat kami "Ada apa ini kok kejar-kejaran seperti anak kecil" Ucapnya sambil tertawa.
"Ini mah Arka ngeselin" Aku pun mengadu pada mertuaku.
"Arka, kamu ini senang sekali ya godain orang. Kalau di rumah godain adiknya, sekarang disini godain istrinya. Jangan gitu ah" Ucap mamahnya.
"Kan cuma bercanda mah" Jawabnya.
Mamahnya pun menyentil telinganya. "Aaww.. mamah kok di sentil sih?" Arka mengusap telinganya yang di sentil mamahnya. Aku pun merasa puas karna ada yang membela. Aku julurkan lidahku untuk meledeknya.
"Awas ya nanti kamu" Aku pun terkekeh melihatnya yang mulai gemas denganku.
"Sudah ah, mamah mau masak nih" Mamah mengibaskan tangannya dan tertawa geli. Mamah pun kembali masuk ke dapur mengaduk masakannya di atas kompor.
Sedangkan Arka menyiapkan secangkir kopi, untuk dirinya sendiri. Aku mengambil sebuah majalah, lalu duduk di sofa dan membacanya. Arka menghampiriku.
"Mah, mau masak apa? menantu mamah mau bantuin masak katanya" Teriaknya sambil menyeruput kopi yang ada di tangannya.
Spontan aku langsung mencubitnya lengannya " Iihh kamu ini ya" Protesku.
Tiba-tiba mamah keluar dengan membawa mangkuk berisikan makanan di tangannya.
"Beneran mau bantuin? Tapi Mamah sudah selesai masaknya. Sebentar lagi kita sarapan ya." untung saja kalimat itu yang di katakan mamahnya.
"Nanti biar dia saja yang nyuci piringnya ma" Arka sengaja menggodaku.
"I..iya mah, biar nanti aku yang nyuci piringnya" Jawabku terpaksa.
"Makasih ya ternyata kamu memang baik sekali" Mamahnya mengusap ujung kepalaku.
Aku melihat Aisyah menuruni tangga dengan meenggendong tas ranselnya.
"Aisyah.. mau kemana?" Tanyaku.
"Teh, saya mau pamit ya teh. Terima kasih banyak sudah di ijinkan menginap disini" Ucapnya sambil menyalamiku.
"Kenapa kamu buru-buru pulang? Kita belum sempat jalan-jalan. Disini saja dulu" Pintaku
Ku genggam erat tangannya "Maaf teh hari ini saya mulai kerja lagi. Dan kebetulan masuk sore"
"Oh gitu, tapi lain kali kamu kesini lagi ya kalau libur"
"InsyaAllah teh, saya pasti kesini lagi" Jawabnya.
"Oh ya Aisyah kamu mau naik apa?" Tanyaku.
"Mau naik bus aja teh"
Aku langsung mendekati Arka dan berbisik "Sayang, kamu bisa kan antar Aisyah ke terminal"
"Nggak usah teh, biar naik taksi aja" Tolaknya ketika mendengar yang aku katakan pada Arka
"Nggak apa-apa kok Aisyah, aku nggak akan marah." Aku kembangkan senyum di bibirku agar dia mau di antar Arka.
"Tapi kamu ikut kan sayang?" Tanya Arka.
"Enggak lah, kan kamu yang nyuruh aku buat nyuci piring, iya kan mah?" Aku melirik mamah sekilas.
"I..iya ... kamu antar saja Aisyah" Jawab mamah.
Aku bernafas lega mamah mendukung ucapanku.
"Aku mau antar Aisyah dulu ya?" Arka memberikan tangannya agar aku mencium tangannya. Kemudian dia berpamitan sama mamah.
"Hati-hati ya" Dia mengecup kilas keningku.
Aku langsung balikkan badan menggandeng tangan mamah.
"Ayo mah, nanti sekalian ajarin masak ya"
__ADS_1
Mamah mengangguk " Ayo" mamah tampak tersenyum.