
Sampai di dalam rumah, aku langsung merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah. Tercium aroma masakan yang menyeruak ke rongga hidungku. Pasti mamah sedang masak, pikirku. Mau menghampirinya di dapur tapi agak malas.
Tak lama kemudian, terlihat mamah sedang menuruni anak tangga secara perlahan.
"Kalian sudah pulang?" Tanya mamah yang sedang berjalan ke arahku.
"Iya mah, mamah masak apa hari ini" Tanya Arka sangat bersemangat.
"Mamah tidak masak" Jawab mamah.
" Terus itu..?" Tanyaku heran karena sejak aku datang aku mencium aroma masakan, dan terdengar orang sedang masak.
" Oh itu, asisten rumah tangganya, tadi pagi sudah datang dan langsung bekerja hari ini. Sama halnya dengan security." Jelas mamah.
"Kenapa nggak cerita?" Aku menatap tajam ke arah Arka.
"Iya sayang, tadi aku mau cerita tapi kamu lagi banyak pikiran, makanya aku nggak berani cerita" Arka menjelaskan padaku. Aku berusaha mengerti, karna memang benar yang di katakan Arka, tadi waktu di rumah mama aku memang sedang banyak pikiran.
Tak lama kemudian, dua bapak paruh baya yang jadi security tadi masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.
"Permisi tuan, ada perlu apa memanggil kita kesini?" Tanya salah satu dari security itu pada Arka.
"Oh iya pak, sebentar lagi jam makan siang. Kita makan siang bersama disini." Jawab Arka dengan ramah.
"Oh tidak perlu tuan, kita makan di pos saja" Jawab security itu.
"Nggak apa-apa pak, sekalian perkenalan." Aku melihat wajah kedua bapak itu memerah, mungkin mereka malu dengan tawaran Arka. Aku menyalakan TV dan membiarkan mereka mengobrol.
"Sayang, itu makan siangnya sudah siap. Ayo kita makan siang." Ajak mamah mertuaku.
"Masih kenyang mah" Jawabku. Karna jujur saja aku belum pernah makan satu meja dengan orang asing.
"Sayang, ayo kita makan bersama mereka" Ajak Arka. Dengan terpaksa aku berdiri dan berjalan menuju meja makan.
Di sana sudah ada dua bapak security dan mamah uang sedang menunggu di meja makan. Sedangkan dua wanita berdiri di samping kursi Arka. Yang satu mungkin sekitar usia lima puluh tahunan, dan yang satu lagi masih muda sekitar tiga puluh tahunan.
Seperti biasa Arka menarikkan kursi untukku. Dan kemudian dia sendiri duduk di kursi yang paling ujung.
"Kenapa berdiri saja ayo silahkan duduk, kita makan bersama" Arka menyuruh kedua wanita itu untuk ikut duduk bersama. Aku sempat melirik mereka yang saling senggol sikunya. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya.
"Baiklah. Kita sudah kumpul disini. Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Arka Wijaya, ini istri saya, Natasya tapi panggilannya Caca. Dan itu mamah saya. Mulai hari ini kalian kerja disini, saya minta kerja samanya dan kejujurannya. Semoga semuanya betah kerja disini ya" Mereka juga menyebutkan nama mereka satu persatu.
Aku tidak terlalu menggubrisnya, hanya sesekali tersenyum saja saat ada yang melihat ke arahku.
Setelah selesai berkenalan kami pun melanjutkan makan. Meskipun baru bertemu hari ini tapi Arka cepat akrab dengan mereka. Mereka berbicara, bercanda sampai tertawa bersama.
"Aku ke atas dulu ya, aku nggak enak badan" Pamitku pada Arka.
__ADS_1
"Aku antar ya?" Pinta Arka, sambil memegang lenganku.
"Nggak usah, aku bisa sendiri" Aku pun melepaskan tangannya dari lenganku.
"Baiklah, hati-hati ya" Arka terus menatapku. Aku raih handbag yang tadi aku letakkan di sofa.
Dengan malas aku menaiki anak tangga menuju kamarku. Sampai di kamar aku langsung ke kamar mandi dan mengganti bajuku dengan baju santai.
Setelah itu aku mencari sesuatu di dalam handbag-ku. Mencari keberadaan rokok mentolku. Masih utuh, karena sejak beli aku belum membukanya. Setelah ketemu aku membawanya ke balkon. Disana aku menyalakan rokokku, dan menghisapnya secara perlahan, kemudian menghembuskannya.
Rasa nyaman dan tenang aku rasakan. Sudah beberapa hari ini aku tidak menyentuh rokokku. Tidak merasakan kenikmatannya. Mungkin bagi penikmat rokok sepertiku akan melampiaskan masalah dengan merokok. Menganggap masalah itu akan lenyap terbakar seperti rokok dan hilang seperti asap. Meskipun pada kenyataannya masalah itu tetap ada. Hanya perasaan kita saja yang sedikit tenang.
Entah kenapa pikiranku menjadi tidak karuan begini. Memikirkan hal yang tidak bisa aku pecahkan sendiri. Dari masalah keinginanku kembali kuliah, belajar bisnis, dan tentang mempunyai anak.
Aku perhatikan ujung rokok yang aku selipkan diantara dua jariku, sudah hampir habis aku matikan rokok itu dan kembali menyulut lagi. Pikiranku masih tidak bisa lepas dari ketiga hal itu. Aku terus mengulangi kegiatanku sampai aku sudah tidak bisa menghitung berapa jumlah batang rokok yang sudah aku nikmati.
Merasa lelah, aku rebahkan kepalaku di sandaran kursi rotan yang aku duduki. Aku pejamkan mataku. Semilir angin yang lembut membuatku merasa tenang, dan ingin terlelap dan bermimpi di siang hari.
Tapi tidak sesuai harapan, mimpi yang hampir datang tiba-tiba menjauh, saat aku merasakan sentuhan tangan di pipiku. Perlahan aku buka mataku, wajah Arka sudah berada tepat di hadapanku.
"Kenapa tidak tidur di dalam saja, disini anginnya tidak menentu. Kadang pelan kadang juga kencang. Nanti kamu masuk angin." Bisik Arka pelan.
Aku sentuh tangannya yang menyentuh pipiku. "Aku ketiduran" jawabku tak kalah pelan.
"Kita sholat dulu ya" Ajaknya.
"Aku ngantuk" Jawabku dengan malas.
Dengan sekali gerakan Arka sudah mengangkat tubuhku. Aku terkejut dan melotot kepadanya. Tapi dia malah menyunggingkan bibirnya. Dan aku pun tidak punya keinginan untuk dilepaskan. Malah aku kalungkan tanganku ke lehernya.
Arka terus berjalan menuju kamar mandi dan menurunkanku di samping kran tempat biasanya dia mengambil air wudhu. Arka masih mengajariku cara mengambil air wudhu. Setelah selesai kamipun melanjutkan untuk sholat.
---
Malam harinya kami makan malam bersama seperti biasanya. Bertiga, aku ,Arka dan mamah. Sedangkan para security dan asisten rumah tanggaku menolak untuk di ajak makan satu meja. Mungkin mereka merasa canggung menerima kebaikan dan kehormatan seperti ini.
Setelah makan malam usai, kami pun berbincang di ruang tengah.
"Sayang, aku akan membangun mushalla kecil di halaman rumah. Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Arka saat aku sedang serius nonton TV.
Aku pun menoleh ke arahnya dan menggenggam tangannya. "Tentu saja boleh sayang. Itu kan untuk kebaikan kita juga" Jawabku sambil tersenyum manis, semanis-manisnya.
"Makasih ya" Kecupan kilas aku dapat di keningku.
"Mamah bahagia lihat hubungan kalian seperti ini. Jadi jika suatu saat mamah tiada mamah bisa pergi dengan tenang" Ucap mamah tiba-tiba yang membuatku tersentak kaget.
Aku pun berpindah duduk di sebelahnya. Meraih tangannya yang mulai keriput itu dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Mamah jangan bilang gitu, mamah akan terus bersama kita" Ucapku. Dan aku cium tangan itu.
"Mamah sudah tua, dan juga mamah sakit-sakitan. Maafkan mamah, mamah berfikir terlalu jauh. Makanya sebelum mamah pergi, mamah juga ingin melihat cucu dari kalian" Ucap mamah lagi.
Anak lagi, ya anak lagi yang di bahas. Tapi demi mamah aku berusaha mencairkan suasana agar perasaanku tetap tenang.
"Mamah ingin cucu berapa?" Tanyaku tiba-tiba.
"Tiga sepertinya lebih baik" Arka menyahut sambil tertawa, aku menoleh ke arahnya dan melotot padanya.
"Sepertinya benar yang dikatakan Arka" Mamah malah menyetujui pendapat Arka, itu berarti aku harus hamil tiga kali, dan melahirkan tiga kali.
"Baiklah kalau itu yang kalian mau, aku setuju. Tapi mamah harus janji ya, harus sehat terus dan jangan berfikir yang aneh-aneh" Ucapku.
"Selama mamah tinggal di sini mamah jauh lebih baik. Sudah dua hari ini mamah coba berhenti minum obat tapi mamah tidak merasakan sakit seperti dulu"
"Itu bagus dong mah, makanya mamah tinggal disini aja ya. Nanti Rani biar pindah sekolah disini aja. Disini banyak sekolah yang bagus mah, jadi Rani bisa belajar dengan baik." Dengan semangat aku kembali membujuk mamah.
"Sekolah disini membutuhkan biaya yang sangat besar. Ayah tidak sanggup untuk membiayai Rani sekolah disini. karena selama ini saja yang ayah habis untuk berobat mamah, mamah nggak tega lihat ayah terus bekerja kera tanpa mengenal lelah" Bulir air mata jatuh di sudut mata mamah saat mamah bercerita.
"Mamah jangan khawatirkan itu, biar semua di urus Arka. Semua biaya berobat mamah dan sekolah Rani bahkan sampai Rani kuliah itu akan di tanggung sama Arka. Mamah jangan khawatir tentang ayah lagi. Ayah tidak perlu bekerja lebih keras lagi" Ucapku sambil melihat ke arah Arka.
"Enggak sayang, biar mamah dan Rani menjadi tanggung jawab ayah. Kalian tidak perlu repot-repot melakukan itu. Kalian sudah berumah tangga, lebih baik kalian lebih fokus mengurus rumah tangga kalian sendiri. Mamah nggak mau keluarga mamah jadi beban untuk keluarga kalian." Mamah berusaha untuk menolak niatanku.
"Mah, yang di katakan Caca ada benarnya, aku anak laki-laki mamah satu-satunya. Sudah kewajibanku untuk melakukan itu. Mamah jangan khawatir ya. Sekarang aku sudah bekerja, bukan lagi jadi buruh pabrik ataupun pengumpul getah karet. Tapi sebagai pengurus pabrik dan kebun. Jadi mamah jangan khawatir." Jelas Arka.
"Ah.. apa benar yang di katakan Arka" Mamah tidak percaya dengan yang di katakan Arka.
Aku pun mengangguk mengiyakan. "Iya mah, itu benar. Papa yang meminta Arka melanjutkan sebagian usaha papa. Karena papa sudah merasa lelah dan ingin punya banyak waktu untuk istirahat." Aku pun menjelaskan pada mamah.
Mungkin selama ini Arka memang tidak bercerita pada mamah kalau dia di beri kepercayaan sama papaku. Mungkin juga yang mamah tau Arka hanya akan bekerja seperti dulu, sama seperti waktu di kampung.
"Kalau itu memang benar, dan kamu menyetujuinya, mamah tidak punya alasan lagi untuk menolak" Jawaban mamah membuatku tersenyum lebar. Dan memeluk tubuh kurus mamah.
"Makasih ya mah." Ucapku saat memeluknya.
"Mamah yang seharusnya terima kasih. Kamu sudah menerima semua keluarga Arka masuk dalam hidup kamu" Ucap mamah.
Aku lepaskan pelukan mamah "Kelurga Arka keluargaku juga kan mah"
Mamah mengangguk dan tersenyum bahagia. Belum pernah aku melihat senyum mamah seperti ini. Selama ini mamah memang sering tersenyum tapi seperti senyum yang di paksakan.
"Sayang, besok kan kamu belum kerja, kita bawa mamah ceck up ya ke rumah sakit" Pintaku.
"Nggak usah, mamah sehat kok" Sahut mamah.
"Mah, kita kesana untuk ceck kesehatan mamah sejauh mana. Dan kalau mamah sudah mendingan mamah akan di beri vitamin, bukan lagi obat-obatan" Jelasku.
__ADS_1
"Baiklah, mamah nurut saja kalau gitu" Mamah pun mengalah.
Perbincangan kami malam ini terus berlanjut, tidak hanya tentang yang di bahas tadi, tapi juga tentang cerita-cerita masa kecil Arka. Sehingga aku lebih mengenal suamiku ini. Sesekali aku pun tertawa saat mamah bercerita tentang kenakalan dan kepolosan Arka kecil. Dan itu membuat wajah Arka memerah karena malu.